Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Lebih sadar
Gulungan giok hitam itu terasa seolah menyedot panas dari tangan kanan Yan Bingchen dan membekukan tangan kirinya.
Kata-kata “pengorbanan salah satu kutub untuk menghidupkan yang lain” berdenyut di dalam benaknya, memicu kilas balik memori yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Ia teringat wajah ayahnya, Yan Lie, yang selalu tampak lelah dan frustrasi, serta ibunya, Xue Qinghan, yang menepis tangannya saat ia ingin menyentuh perut yang mengandung Yan Xue.
Selama ini, Yan Bingchen menganggap itu adalah kebencian.
Namun, di bawah cahaya redup Menara Pustaka Naga, sebuah kebenaran pahit mulai terkuak.
Yan Bingchen membaca baris-baris berikutnya dengan napas tertahan.
Gulungan itu menjelaskan bahwa janin dengan dua elemen yang berlawanan seharusnya meledak bahkan sebelum dilahirkan.
Satu-satunya cara agar bayi itu selamat adalah jika kedua orang tuanya menyalurkan seluruh "Sari Inti" mereka untuk membentuk segel hidup di dalam rahim.
Catatan Kuno:
"Orang tua dari sang pembawa anomali tidak hanya kehilangan teknik beladiri mereka karena hukuman klan, tetapi karena mereka secara sukarela menghancurkan Fondasi Kultivasi mereka sendiri demi menstabilkan badai di dalam tubuh sang anak."
Mata dualitas Yan Bingchen bergetar. Jadi, kemelaratan mereka, hilangnya ingatan teknik beladiri mereka, dan ketidakberdayaan mereka di wilayah perbatasan bukan hanya karena hukuman klan—tetapi karena mereka telah menukar masa depan mereka sebagai pendekar hebat demi nyawanya.
Bentakan ibunya, isolasi ayahnya ... itu bukan karena mereka menganggapnya monster, melainkan karena mereka ketakutan.
Mereka tahu, satu sentuhan salah dari Yan Bingchen bisa menghancurkan apa pun yang mereka cintai, termasuk diri mereka sendiri yang sudah kehilangan perlindungan energi.
"Jadi ... selama ini aku adalah beban yang mereka pikul dengan sisa hidup mereka," bisik Yan Bingchen, suaranya parau.
TUK. TUK. TUK.
Suara langkah kaki yang berat dan berirama terdengar dari balik rak-rak buku yang melayang.
Yan Bingchen segera menutup gulungan giok itu dan menyembunyikannya di balik jubah.
Ia merasakan aura yang sangat tenang namun masif—seorang pendekar yang setidaknya berada di Ranah ke-6: Manifestasi Rohani.
Seorang pria paruh baya dengan jubah panjang bersulam naga perak muncul dari balik bayang-bayang. Ia adalah Penatua Wei, sang Pengawas Pustaka.
"Membaca rahasia terlarang di lantai empat memerlukan lebih dari sekadar emas, Anak Muda," ujar Penatua Wei.
Matanya tertuju langsung pada rambut dualitas Yan Bingchen. "Terutama rahasia tentang 'Anak yang Tak Seharusnya Lahir'."
Yan Bingchen berdiri tegak, memulihkan ketenangannya dalam sekejap. Tata kramanya kembali muncul sebagai benteng pertahanan. "Hamba hanya mencari jawaban atas keberadaan hamba sendiri, Penatua. Hamba tidak berniat mencuri pengetahuan Ordo LONG."
Penatua Wei tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. "Jawaban yang kau pegang itu adalah api yang bisa membakar seluruh benua. Kau membawa garis darah yang seharusnya punah. Jika Ordo LONG membiarkanmu lewat, itu karena kami ingin melihat: apakah kau akan menjadi naga yang melindungi, atau bencana yang menghancurkan?"
Yan Bingchen turun kembali ke lantai dasar dengan pikiran yang berkecamuk.
Di sana, ia menemukan Mo Ran sedang tertidur pulas sambil memeluk kantong emasnya, sementara Si Hitam duduk siaga, telinganya langsung tegak saat mencium aroma Yan Bingchen.
"Bangun, Mo Ran. Kita pergi sekarang," ujar Yan Bingchen singkat.
Mo Ran tersentak bangun, hampir terjatuh dari bangkunya. "Eh? Sudah selesai, Kak? Dapat apa? Rahasia menjadi abadi? Atau cara membuat emas dari air?"
"Kita mendapatkan kebenaran," jawab Yan Bingchen sambil melangkah menuju pintu keluar. "Dan kebenaran itu jauh lebih berat daripada gada di punggungku."
Begitu mereka keluar dari tirai air Menara Pustaka, Yan Bingchen berhenti sejenak dan menatap langit Ordo LONG.
Ia menyadari satu hal: dendam yang ia bawa dari rumah kini terasa berbeda.
Orang tuanya tidak mengkhianatinya; mereka hanya manusia biasa yang hancur oleh beban takdir yang terlalu besar.
Namun, itu tidak mengubah kenyataan bahwa Klan Api dan Klan Es di Benua Binghuo adalah pihak yang memaksa orang tuanya menderita.
Jika ia ingin membebaskan keluarganya, ia tidak boleh hanya menjadi kuat—ia harus menguasai Ordo LONG untuk mendapatkan pengaruh politik dan kekuatan yang cukup guna menekan kedua klan besar tersebut.
"Mo Ran, kita tidak akan hanya menjadi pengembara," ujar Yan Bingchen tiba-tiba.
"Lalu?" tanya Mo Ran bingung.
"Kita akan mendaftar ke Akademi Naga Surgawi di pusat kota ini. Aku butuh panggung yang lebih besar untuk menunjukkan kepada dunia ... bahwa 'Anak Terkutuk' ini adalah tuan mereka yang baru."