Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Ketenangan Palsu di Perpustakaan Kematian
Chapter 9: Ketenangan Palsu di Perpustakaan Kematian
Suasana di dalam toko buku terasa seperti kuburan. Rak-rak kayu yang menjulang tinggi, dipenuhi buku-buku berdebu, menciptakan bayangan aneh yang menari-nari di dinding karena cahaya senter ponselku. Udara dingin dan lembap membawa aroma kertas tua, bercampur dengan bau anyir yang samar dari luar. Aku bisa mendengar deru napas Kurumi yang masih tersengal-sengal di sampingku.
“Kita aman untuk sementara,” bisikku, mengamankan balok kayu yang ku gunakan untuk mengganjal pintu kaca yang sudah retak. Aku tidak punya waktu untuk mencari grendel.
Kurumi hanya mengangguk, lalu ambruk di lantai, bersandar pada rak buku. Wajahnya pucat pasi dan dia tampak sangat kelelahan. “Aku… aku tidak tahu kita bisa sejauh ini, Zidan.”
“Kita tidak akan sejauh ini kalau kamu terlalu memikirkan moralitas,” balasku dingin. Aku mengambil sebuah buku tebal dari rak, memeriksanya. Percuma. Semua informasi di dalamnya sudah tidak relevan lagi di dunia yang baru ini.
Aku mulai berjalan perlahan, menyisir setiap sudut ruangan. Prioritasku adalah mencari potensi ancaman atau jalur evakuasi lain. Toko buku ini lumayan besar, dengan area membaca di bagian depan dan tangga ke lantai dua di belakang.
“Jangan bergerak sampai aku selesai memeriksa lantai satu,” perintahku pada Kurumi. “Jika ada suara aneh, bersembunyi di balik konter kasir dan siapkan sekopmu.”
Kurumi hanya mengangguk, matanya menatapku dengan tatapan campuran rasa takut dan kelelahan. Dia tidak lagi memprotes logika dinginku. Mungkin dia mulai terbiasa, atau mungkin dia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Bagus. Itu akan membuat kerjaku lebih mudah.
Aku menyusuri rak demi rak, shotgun di tanganku siap kapan saja. Aku membuka setiap pintu gudang kecil dan kamar mandi, memastikan tidak ada zombi yang bersembunyi. Bau apak dan pengap selalu menjadi petunjuk. Logikaku mengatakan, zombi yang terperangkap di ruangan tertutup biasanya akan membuat bau busuk yang lebih pekat.
Setelah memastikan lantai satu aman, aku berbalik ke arah Kurumi. “Lantai satu bersih. Kita naik ke atas.”
Kami menaiki tangga kayu yang berderit pelan. Di lantai dua, suasana tidak jauh berbeda. Lebih banyak rak buku, area baca yang lebih luas, dan beberapa sofa usang. Aku memeriksa setiap sudut, hingga akhirnya aku menemukan sebuah pintu di bagian belakang, kemungkinan besar itu adalah kantor atau ruang penyimpanan.
“Kita akan bermalam di sini,” kataku, mencoba membuka pintu. Pintu itu terkunci.
Aku menembak kuncinya dengan shotgun. DOR! Suara tembakan itu bergema keras, membuat telingaku berdenging. Ini adalah suara yang sengaja kucari. Suara yang akan menarik perhatian zombi-zombi di luar dan menjauhkan mereka dari area depan toko buku. Mereka akan berkerumun di sekitar pintu utama, bukan di sekitar kantor ini.
“Zidan! Kamu gila! Suara itu akan menarik mereka semua!” Kurumi berteriak, memegangi telinganya.
“Memang itu tujuanku,” aku mendorong pintu yang sudah jebol kuncinya. Ruangan itu adalah kantor kecil, dengan meja, kursi, dan beberapa lemari arsip. Di sudut ruangan, ada jendela yang tertutup rapat oleh teralis besi. “Mereka akan tertarik ke pintu depan, dan kita akan aman di sini. Ini logikaku, Kurumi.”
Kurumi menatapku dengan mata melotot. “Kamu… kamu benar-benar membuat keputusan yang tidak masuk akal!”
“Tidak ada yang tidak masuk akal jika itu bisa menjaga kita tetap hidup,” balasku dingin. Aku segera menggeser lemari arsip untuk menutupi pintu kantor, lalu menyalakan senter ponselku untuk memeriksa ruangan.
Ruangan ini lebih bersih daripada area bawah. Ada beberapa botol air mineral yang belum dibuka, dan beberapa biskuit kemasan di laci meja. Sebuah keberuntungan yang layak.
“Duduklah. Kita bisa makan dan istirahat di sini. Pintu dan jendela ini aman,” kataku, melemparkan satu botol air mineral dan satu bungkus biskuit ke arahnya.
Kurumi mengambilnya dengan ragu. Dia mulai makan biskuit itu perlahan, masih dengan tatapan kesal padaku. Tapi aku bisa melihat, dia makan dengan lahap. Rasa takut dan kelelahan telah menguras energinya.
Aku duduk di lantai, bersandar pada tembok, shotgun tergeletak di sampingku. Aku mulai membersihkan noda darah dan debu dari tangan dan bajuku. Luka melepuh di telapak tanganku terasa sedikit perih, tapi sudah kubalut dengan perban.
“Zidan,” panggil Kurumi pelan, setelah dia selesai makan.
“Apa?”sahut zidan
“Kenapa kamu… kenapa kamu begitu tenang melakukan semua itu? Menembak zombi, membakar gudang, membiarkan orang lain mati… apa kamu tidak punya perasaan?”
Aku menatapnya. Mataku yang dingin menembus kegelapan ruangan. “Perasaan tidak akan menyelamatkanmu, Kurumi. Ketika dunia ini hancur, yang tersisa hanyalah naluri untuk bertahan hidup. Semakin cepat kamu menerimanya, semakin besar peluangmu untuk melihat matahari esok hari.”
“Tapi… ada batasnya, Zidan. Kita masih manusia,” dia mencoba membantah.
“Batas itu sudah hilang bersama dengan peradaban. Sekarang, yang ada hanya pemangsa dan mangsa. Aku memilih untuk menjadi pemangsa, bukan mangsa.” Aku menutup mata, mencoba mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang. “Istirahatlah. Kita punya banyak waktu sampai pagi.”
Kurumi terdiam. Aku bisa merasakan tatapan matanya yang masih memperhatikanku dalam kegelapan. Aku tahu dia tidak setuju dengan caraku, tapi dia juga tahu bahwa tanpa aku, dia mungkin sudah menjadi salah satu mayat hidup di luar sana. Ini adalah logika yang sederhana, namun sulit diterima oleh hati manusia yang masih utuh.
Di tengah keheningan itu, aku bisa mendengar suara erangan zombi dari luar toko buku, jauh di bawah sana. Mereka mungkin sedang mengerumuni pintu depan, tertarik oleh suara tembakan tadi. Biarkan saja. Itu akan memberi kami waktu dan kesempatan untuk merencanakan langkah selanjutnya.
Ketenangan ini hanyalah ketenangan palsu. Ini adalah jeda singkat sebelum badai berikutnya. Dan aku, Zidan, siap menghadapi apa pun yang datang.
Catatan Penulis:
Zidan dan Kurumi akhirnya mendapatkan tempat istirahat sementara, tapi ketenangan itu hanya fatamorgana. Dengan sifat dinginnya, Zidan terus membuat rencana. Bagaimana kelanjutan petualangan mereka di kota yang hancur ini? Jangan lupa Like, Favorit, dan Komentar kalian ya! Dukungan kalian sangat berharga!