“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas dan Bayang-bayang Obsesi yang muncul
Ceisya menatapnya tanpa berkedip, ia bisa mencium aroma sandalwood yang kuat dari tubuh pria itu. "Kenapa? Nggak boleh? Apa perusahaannya Tuan Virelion juga mengurusi standar berpakaian wanita?" tanyanya balik dengan nada sinis.
Kaelthas menyipitkan mata, suaranya kini terdengar seperti bisikan yang berbahaya. "Bukan itu dirimu." lanjutnya dengan nada mengintimidasi.
Ceisya kembali terkekeh, kali ini dengan nada yang meremehkan. "Kamu kenal aku? Atau cuma kenal dari tumpukan kertas laporan yang isinya sampah semua? Jangan sok tahu tentang jiwaku, Kaelthas. Kamu bahkan nggak tahu apa yang aku rasakan saat cambuk itu merobek kulitku." lanjutnya dengan nada santai namun terdengar dingin.
Kalimat itu membuat Kaelthas terdiam sesaat. Ada kilatan aneh yang muncul di matanya—sebuah rasa penasaran yang berubah menjadi obsesi yang gelap.
Senyum tipis yang jarang terlihat kini muncul di bibir pria itu. "Sekarang aku sedang mengenalnya langsung. Tanpa perantara laporan," jawabnya rendah, suaranya terdengar seperti janji yang mengerikan.
Ceisya memalingkan wajah, ia merasa atmosfer di sekelilingnya menjadi terlalu intim dan menekan. "Kalau gitu lihat yang jelas. Jangan setengah-setengah kalau menilai orang, nanti kamu bisa tersesat di dalam labirinmu sendiri," gumam Ceisya pelan.
Kaelthas tidak melepaskan pandangannya, ia justru maju selangkah lagi hingga ujung sepatu mereka bersentuhan.
"Aku tidak suka sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan," ucap Kaelthas, tangannya kini benar-benar menyentuh helai kain jilbab Ceisya, mengelusnya dengan gerakan posesif yang membuat bulu kuduk Ceisya berdiri.
Ceisya kembali menatapnya, ia tidak membiarkan rasa takut menguasainya. "Sayangnya, aku bukan sesuatu. Aku adalah seseorang yang punya kendali penuh atas diriku sendiri." jawabnya santai.
Kaelthas tertawa rendah, suara tawa yang terdengar sangat gelap. "Kamu tahu posisi kamu sekarang, Ceisyra? Kamu berada di wilayahku."
Ceisya tidak bergeming. "Di depanmu?" jawabnya santai.
Kaelthas mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Ceisya. "Di bawahku. Selamanya akan tetap di bawah kendaliku," koreksinya dengan suara yang penuh ancaman sekaligus gairah yang tersembunyi.
Ceisya langsung tertawa pelan, ia mendorong dada Kaelthas dengan telapak tangannya, mencoba menciptakan jarak. "Wah... percaya diri banget ya Tuan Muda ini. Padahal kamu saja belum tentu mengerti apa isi kepalaku. Jangan terlalu yakin, Kaelthas. Kamu bisa jatuh terperosok ke dalam lubang yang kamu gali sendiri." Kalimat itu menarik sesuatu yang jauh lebih dalam di diri Kaelthas.
Ketertarikan yang tadinya hanya sekadar penasaran, kini mulai bermutasi menjadi keinginan untuk memiliki secara absolut. "Kalau begitu... aku akan mencari tahu setiap inci dari rahasiamu," gumamnya pelan.
Ceisya menyimpitkan matanya, ia memberikan tatapan paling tengil yang ia miliki. "Silakan. Tapi hati-hati." lanjutnya dengan nada penuh teka-teki.
"Kenapa?" tanya Kaelthas singkat namun terdengar tegaa.
Ceisya tersenyum misterius. "Kamu bisa nyesel. Karena sekali kamu tahu siapa aku, kamu nggak akan bisa tidur tenang lagi." Jawabnya dengan nada tenang dan menantang.
Hening menyelimuti mereka selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Udara sore yang hangat mendadak berubah menjadi dingin dan berat.
Namun, suasana intim yang berbahaya itu tiba-tiba hancur saat seorang pelayan berlari tergesa-gesa ke arah mereka dengan wajah pucat pasi. "Tuan! Nona Clarisse pingsan di aula! Tuan dan Nyonya panik!" ucap pelayan itu terbata-bata.
Kaelthas menoleh sekilas, namun anehnya, ia tidak langsung bergerak pergi. Tatapannya justru kembali ke arah Ceisya, seolah sedang menimbang mana yang lebih penting: tunangan pilihannya atau pengacau di depannya ini.
Ceisya mengangkat alis, ia tersenyum mengejek. "Gak nyusul? Calon tunangan idamanmu lagi butuh napas buatan tuh. Pergi sana, pahlawan kesiangan," ucapnya santai sambil mengibaskan tangan.
Kaelthas menatapnya selama beberapa detik dengan intensitas yang mengerikan sebelum akhirnya ia berbalik. "Ini belum selesai, Ceisyra. Kita baru saja mulai," ucapnya dingin sebelum melangkah pergi dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Ceisya hanya menatap punggung itu menjauh, ia menyunggingkan senyum tipis. "Memang baru mulai, Tuan Logistik. Siapkan jantungmu." Jawabnya tersenyum menyeringai.
Di dalam mansion, suasana menjadi kacau. Clarisse terbaring lemah di atas tempat tidur mewahnya, dikelilingi oleh kedua orang tuanya yang panik. Matanya perlahan terbuka, ia terlihat sangat rapuh dengan bibir yang pucat. "Kaelthas... dia... di mana...?" bisiknya lirih, air matanya mulai menggenang.
Namun, saat ia menyadari bahwa Kaelthas tidak langsung ada di sampingnya saat ia membuka mata, ada sesuatu yang berubah di dalam pupil matanya. Di balik mata yang tampak rapuh itu, muncul sebuah kegelapan yang pekat. Tangannya mengepal kuat di bawah selimut, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. "Kenapa dia tidak langsung datang padaku? Kenapa dia masih bersamanya?" batin Clarisse penuh amarah. Matanya menyipit perlahan, memancarkan kebencian yang mendalam. "Ceisyra... jangan berani-berani menyentuh milikku. Aku akan memastikan kamu kembali ke lubang penyiksaanmu." batinnya kembali berbisik penuh rencana jahat dan licik.
Sementara itu, di luar mansion, Ceisya masih berdiri sendirian di tengah taman yang mulai gelap. Ia menatap langit yang kini berubah menjadi warna ungu kelam, mencerminkan misteri yang menyelimuti takdirnya. Ia tidak menyadari bahwa dari jendela lantai atas yang gelap, sepasang mata tajam milik Kaelthas sedang mengawasinya dengan intensitas yang tidak wajar.
Kaelthas berdiri di sana, mengamati setiap gerak-gerik Ceisya di bawah sana. Tangannya memutar-mutar sebuah jam tangan mewah dengan ritme yang konstan. Tatapan itu bukan lagi sekadar penasaran. Itu adalah tatapan seorang kolektor yang baru saja menemukan barang antik paling berharga yang pernah ada—dan ia tidak akan membiarkan barang itu lepas, bahkan jika ia harus menghancurkan seluruh dunia untuk memilikinya.
Tiba-tiba, ponsel di saku Ceisya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. 'Nikmati soremu, Malaikat Kecil. Tapi ingat, sangkar emasmu sudah aku siapkan.' Ceisya terdiam, ia melihat ke sekeliling taman yang sunyi. Bulu kuduknya meremang saat ia menyadari bahwa Kaelthas benar-benar tidak akan membiarkannya lari secepat itu. Permainan ini jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan, dan di tengah kegelapan yang mulai turun, sebuah bayangan besar seolah sedang bersiap untuk menelannya bulat-bulat.
Ceisya tersenyum, namun kali ini senyumnya penuh dengan kewaspadaan. "Sangkar emas ya? Kita lihat saja, siapa yang akan terkurung di dalamnya nanti." lanjutnya berbisik pelan.
Ceisya langsung melangkahkan ke dalam kamarnya. Dia ingin beristirahat, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terkena cambukan yang lumayan di tubuhnya.
Klek... Pintu terbuka
Ceisya langsung merebahkan dirinya di kasur besarnya. Hmm, si pulu-pulu sedang membuat drama. Aku sudah duga terlihat lembut dan lemah ternyata semuanya topeng, feelingku ternyata benar sebelum jiwaku bertransmigrasi menjadi Ceisyara. " Gumamnya menatap langit-langit kamarnya.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca