Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: AMORE DI POSITANO
Pernikahan yang disebut-sebut sebagai "Pernikahan Abad Ini" telah usai dengan segala kemegahannya. Namun, bagi Ian dan Rhea, kebahagiaan sejati justru dimulai saat jet pribadi Diningrat Grub membelah awan menuju benua biru. Ian memilih Italia—bukan sekadar karena ia pernah tinggal di sana, tetapi karena baginya, Italia adalah tempat di mana waktu seolah berhenti, dan keindahan ditemukan dalam setiap sudut jalanan batu yang tua.
Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tidak memilih Roma yang bising atau Milan yang penuh kenangan pahit. Ian membawa Rhea ke Positano, sebuah kota vertikal di pesisir Amalfi yang bangunan-bangunannya berwarna pastel seolah menempel di tebing yang langsung menghadap ke Laut Tirrenia yang biru pekat.
Matahari Amalfi dan Debar Jantung
Pagi pertama mereka di Italia disambut oleh aroma lemon segar yang masuk melalui jendela balkon vila pribadi mereka. Rhea terbangun dengan sinar matahari yang menyentuh wajahnya. Saat ia menoleh, Ian sudah berdiri di balkon, hanya mengenakan kemeja linen putih yang tidak dikancingkan sepenuhnya, membelakangi laut.
"Selamat pagi, Nyonya Diningrat," ucap Ian dengan suara serak khas bangun tidur yang membuat jantung Rhea berdegup kencang, meski mereka sudah resmi menikah.
Rhea berjalan mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Ian dari belakang. "Sejak kapan kamu bangun?"
"Sejak aku menyadari bahwa pemandangan di sampingku jauh lebih indah daripada pemandangan laut ini," goda Ian sambil memutar tubuhnya dan mengecup kening Rhea. "Ayo bersiap. Aku ingin membawamu berkeliling dengan cara yang paling autentik."
Cara "autentik" yang dimaksud Ian ternyata bukan menggunakan limusin antipeluru atau kapal pesiar mewah. Di depan vila, sudah terparkir sebuah Vespa tua berwarna krem produksi tahun 1960-an yang sangat terawat.
"Kamu bercanda? Kita akan naik ini?" tanya Rhea dengan mata membelalak.
"Di Italia, kita harus hidup seperti orang Italia, Amore," jawab Ian sambil menyodorkan helm retro pada Rhea.
Ian menyalakan mesin Vespa yang berbunyi khas, lalu Rhea naik di belakang, memeluk pinggang Ian dengan erat. Mereka membelah jalanan pesisir yang berkelok-kelok tajam. Angin laut menerpa wajah mereka, membawa aroma pinus dan kebebasan. Rhea tertawa lepas saat Ian sengaja menambah kecepatan di jalanan lurus, sementara di sisi kiri mereka, tebing curam menjulang dan di sisi kanan, hamparan laut tak berujung menyapa mata.
Komedi Jarak Jauh: Teror Panggilan Video
Saat mereka sedang menikmati gelato di sebuah kafe kecil di pinggir jalan, ponsel Ian bergetar. Sebuah panggilan video dari Jakarta. Nama yang muncul: Yusuf.
Ian menghela napas, namun tetap mengangkatnya. Layar menampilkan wajah Yusuf yang tampak sangat menderita, dengan Mbok Yem yang terlihat sedang mengomel di latar belakang.
"Tuan Muda, mohon maaf mengganggu bulan madu Anda," ucap Yusuf dengan nada datar yang mengandung keputusasaan.
"Ada apa, Yusuf? Apa ada serangan siber lagi?" tanya Ian siaga.
"Bukan, Tuan Muda. Ini masalah... Pak Totok," Yusuf mengarahkan kamera ke arah taman. Terlihat Pak Totok sedang mencoba memanjat pohon beringin besar dengan membawa bendera bertuliskan "Selamat Bulan Madu Ian & Rhea".
"Pak Totok ingin memasang bendera itu di puncak pohon agar bisa dilihat dari satelit, katanya supaya Tuan Muda tahu kalau kami di sini mendukung Anda," lapor Yusuf. "Dan Mbok Yem sekarang sedang mengejarnya dengan sapu karena Pak Totok tidak sengaja menjatuhkan pot bunga kesayangan Mbok."
Dari latar belakang terdengar suara melengking Mbok Yem, "TOTOK! TURUN KAMU! ITU POT BELI DI AMERIKA ITU! MAS YUSUF, JANGAN CUMA LIHAT, TANGKEP ITU ORANG!"
Rhea yang ikut mengintip ke layar ponsel tertawa sampai hampir menjatuhkan gelatonya. "Bilang pada Pak Totok, aku sudah bisa melihat cintanya dari sini tanpa perlu pasang bendera!"
Ian memijat keningnya. "Yusuf, amankan mereka berdua. Jika mansion itu rata dengan tanah saat aku pulang, kamu yang akan aku kirim ke kutub utara untuk menjaga beruang kutub."
"Dimengerti, Tuan Muda. Selamat menikmati Italia," jawab Yusuf sebelum menutup telepon dengan terburu-buru karena terdengar suara benda pecah.
Ian menatap Rhea sambil menggelengkan kepala. "Ternyata membawa mereka ke kehidupan normal adalah tantangan terbesar dalam hidupku."
Malam di Atas Yacht dan Bayang-Bayang Milan
Malam harinya, Ian menyewa sebuah kapal kayu tradisional Italia (gozzo) yang telah disulap menjadi tempat makan malam romantis di tengah laut. Hanya ada mereka berdua, ditemani ribuan lampu Positano yang terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi dari kejauhan.
Sambil menikmati pasta vongole dan anggur putih lokal, suasana menjadi lebih melankolis.
"Ian," panggil Rhea. "Kita ada di Italia. Apakah kamu... terpikir untuk mencari tahu di mana Cansu sekarang?"
Ian meletakkan gelas anggurnya. Ia menatap Rhea dengan tatapan yang sangat jujur. "Jujur, terlintas di pikiranku. Tapi hanya sebatas rasa ingin tahu apakah dia baik-baik saja. Aku tidak punya niat untuk mencarinya, Rhea. Kita di sini untuk merayakan masa depan kita, bukan menggali makam masa lalu."
Rhea tersenyum, merasa tenang. "Aku hanya ingin dia tahu bahwa kita tidak membencinya. Tapi kamu benar, biarlah dia menemukan dunianya sendiri."
Tiba-tiba, Ian berdiri dan mengulurkan tangannya pada Rhea. Di atas kapal yang bergoyang pelan oleh ombak, Ian menyalakan musik dari ponselnya—sebuah lagu klasik Italia, "Senza Fine".
"Maukah Anda berdansa dengan pria yang sangat mencintai Anda ini, Nyonya?"
Rhea menyambut tangan Ian. Mereka berdansa di bawah siraman cahaya bulan. Di momen itu, segala beban sebagai seorang Diningrat seolah luruh. Ian bukan lagi CEO yang dingin, dan Rhea bukan lagi dokter yang sibuk. Mereka hanyalah dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan setelah badai yang panjang.
Kejutan Tak Terduga
Keesokan harinya, saat mereka sedang berjalan-jalan di sebuah butik tua di area Sorrento, Rhea melihat sebuah lukisan kecil di sudut toko. Lukisan itu menggambarkan sebuah mawar putih yang sedang mekar di tengah-tengah kebun teh.
Rhea terpaku. Gaya lukisannya sangat mirip dengan... Nara.
Ia melihat ke arah label harga, dan di sana tertulis nama pelukisnya: N.V. (Nara Valentina). Rupanya, Vier diam-diam telah mengirimkan karya Nara ke pameran-pameran kecil di Eropa sebagai kejutan untuk Nara nanti.
"Lihat, Ian. Adikmu benar-benar sedang berjuang untuk Nara," ucap Rhea terharu.
Ian melihat lukisan itu dan tersenyum bangga. "Vier memang punya cara sendiri untuk menunjukkan cintanya. Dia lebih berani daripada aku dulu."
Namun, saat mereka hendak keluar dari toko tersebut, seorang wanita dengan topi lebar dan kacamata hitam besar berjalan masuk, berpapasan dengan mereka. Wangi parfumnya sangat khas—aroma mawar dan cendana.
Wanita itu berhenti sejenak, melirik ke arah Ian dan Rhea. Detik itu terasa seperti waktu yang membeku. Meskipun wajahnya tertutup kacamata, Ian tahu siapa itu. Begitu juga Rhea.
Wanita itu tidak menyapa. Ia hanya memberikan sedikit anggukan kepala yang sangat anggun—sebuah tanda penghormatan—lalu berjalan terus masuk ke dalam toko tanpa menoleh lagi.
Itu adalah Cansu.
Ia terlihat cantik, tenang, dan hidup secara anonim di kota kecil ini. Tidak ada pengawal, tidak ada protokoler, hanya seorang wanita bebas yang sedang menikmati sorenya.
Ian tidak mengejarnya. Ia hanya menggenggam tangan Rhea lebih erat.
"Dia baik-baik saja," bisik Ian.
"Iya, dia sudah bahagia dengan caranya sendiri," jawab Rhea.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju tepi pantai, meninggalkan sisa-sisa masa lalu di butik tua itu. Bulan madu di Italia ini bukan hanya tentang keindahan pemandangan, tapi tentang penegasan bahwa setiap orang telah menemukan tempatnya masing-masing.
Di bawah langit Italia yang biru, Ian dan Rhea berjanji untuk terus saling menjaga. Di Jakarta, Mbok Yem mungkin masih mengomeli Pak Totok, dan Yusuf mungkin masih pusing dengan urusan kantor, tapi di sini, di Positano, yang ada hanya cinta yang tulus dan murni.
"Aku mencintaimu, Rhea," ucap Ian saat mereka duduk di tepi tebing menyaksikan matahari terbenam.
"Aku lebih mencintaimu, Adrian," balas Rhea, menyandarkan kepalanya di bahu Ian.
Masa lalu telah menjadi sejarah, dan masa depan adalah kanvas kosong yang siap mereka lukis bersama. Tanpa kontrak, tanpa duri, hanya kebahagiaan yang abadi.