NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Mahkota Sang Alpha dan Makar Sang Betina

​Angin malam yang berhembus menuruni lereng Gunung Marapi terasa sebeku es, namun di halaman belakang rumah panggung Kakek Danu, sebuah kehangatan yang rapuh sedang berjuang untuk tetap menyala.

​Indra Bagaskara, sang pewaris takhta Cindaku yang selalu memancarkan keangkuhan absolut, masih bersandar berat di bahu Dara Kirana. Napas pemuda itu yang tadinya memburu liar dan beraroma pinus terbakar, kini mulai melambat dan teratur.

​Dara memejamkan matanya, perlahan-lahan menarik kembali energi Napas Akar yang memancar dari telapak tangannya. Pendar biru yang menyejukkan malam itu berangsur-angsur meredup, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya bintang yang menembus celah-celah awan.

​Begitu energi Pawang itu berhenti mengalir, Indra perlahan menarik dirinya menjauh.

​Pemuda itu menundukkan wajahnya, membiarkan poni rambut hitamnya jatuh menutupi mata hazelnya. Tangan besarnya bertumpu pada lututnya sendiri, mencengkeram kain celananya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa malu dan kebencian pada diri sendiri memancar begitu pekat dari postur tubuhnya.

​Bagi seorang predator puncak sepertinya, memohon dan merangkak mencari penawar adalah sebuah kelemahan yang meremukkan harga diri.

​"Kau seharusnya membiarkanku terbakar," suara Indra memecah keheningan, parau dan sangat rendah, lebih mirip sebuah rutukan daripada sebuah kalimat. "Jika harimau ini sudah tidak bisa kurantai sendiri, aku tidak layak memimpin klan Bagaskara. Aku hanya akan menjadi beban bagimu, Dara."

​Dara merasakan hatinya mencelos mendengar keputusasaan itu. Ia menggeser posisinya, duduk bersimpuh di atas tanah berbatu, mengabaikan dingin yang menusuk kulitnya. Ia menangkup kedua pipi Indra dengan tangannya yang masih memancarkan sisa-sisa embun energi murni, memaksa pemuda itu mengangkat wajah dan menatapnya.

​"Dengarkan aku, Indra Bagaskara," ucap Dara tegas, suaranya tidak bergetar sedikit pun. "Kutukan ini bukan kesalahanmu. Harimau itu adalah bagian dari dirimu yang sedang terluka, dan kau berjuang melawannya setiap hari tanpa ada yang tahu. Mencari sandaran saat kau kehabisan napas bukanlah sebuah kelemahan. Itu membuktikan bahwa kau masih memiliki sisi manusia yang ingin dipertahankan."

​Mata hazel Indra yang biasanya setajam belati kini berkaca-kaca, memancarkan kerentanan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun seumur hidupnya. Pemuda itu menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun. Ia menyandarkan sebelah pipinya pada telapak tangan Dara, memejamkan mata dan menikmati ketenangan yang diberikan gadis fana tersebut.

​Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

​Krek.

​Suara dahan pinus yang terinjak dengan sengaja memecah keheningan malam.

​Indra refleks membuka matanya. Urat-urat di lehernya langsung menegang, namun kali ini ia tidak meledak dalam Nafsu Rimba. Sentuhan Dara telah mengunci kewarasannya. Pemuda itu dengan sigap berdiri, menarik Dara ke belakang tubuhnya dalam sebuah gerakan defensif yang murni.

​Dari balik bayang-bayang pepohonan yang membatasi halaman belakang rumah, sesosok siluet melangkah keluar.

​Bumi Arka.

​Penampilan Sang Alpha muda malam ini jauh dari kata rapi. Kaus hitamnya sobek di bagian lengan, memperlihatkan goresan-goresan panjang yang sudah mulai mengering berkat kecepatan regenerasinya. Ujung bibirnya sobek dan masih menyisakan noda darah. Pakaian pemuda itu berbau lumpur, tanah basah, dan bau anyir darah yang sangat pekat.

​Indra menyipitkan matanya, mengendus udara. Darah yang menempel di baju Bumi bukanlah darah sang Alpha, melainkan campuran darah Cindaku dan Ajag.

​"Raka..." geram Indra tertahan, menyadari siapa pemilik aroma darah Cindaku itu.

​Bumi menghentikan langkahnya tiga meter dari mereka. Pemuda itu tidak memasang kuda-kuda menyerang. Matanya yang berwarna cokelat terang tampak sangat lelah.

​"Dia masih hidup," ujar Bumi dengan suara serak, menjawab kekhawatiran yang tak terucap dari Indra. "Raka, Tio, dan Adi... mereka baru saja kembali dari neraka. Noni Anneliese menjebak mereka di dalam kubah darah di atas proyek itu."

​Mendengar nama adiknya dan si kembar disebut bersamaan, Dara terkesiap, melangkah keluar dari balik punggung Indra. "Bumi! Apa yang terjadi? Apakah mereka terluka parah?"

​Bumi menatap Dara, senyum tipis dan getir terbentuk di bibirnya yang terluka. "Mereka nyaris menjadi abu. Tapi kau tahu apa yang menyelamatkan mereka, Ratu Penengah? Kucing bengal yang berdiri di depanmu ini memiliki sepupu yang sama gilanya. Raka dan si kembar bekerja sama. Mereka meledakkan kubah itu dari dalam dengan menggabungkan gelombang panas dan lolongan kawanan."

​Indra membeku. Raka... bekerja sama dengan Ajag? Bagi seorang bangsawan Harimau, bertarung berdampingan dengan Serigala adalah pelanggaran kode etik terbesar, kedua setelah membocorkan rahasia klan pada manusia. Namun, fakta bahwa kerja sama itu terjadi membuktikan bahwa ancaman Willem jauh lebih mematikan dari segala peraturan adat.

​Bumi memindahkan tatapannya dari Dara kepada Indra. Sang Alpha Serigala melihat dengan jelas bagaimana Indra berdiri dengan sisa-sisa kelemahan pasca-sindrom, dan bagaimana Dara secara naluriah menempel padanya untuk menyalurkan ketenangan.

​Dada Bumi bergemuruh. Insting serigalanya melolong marah, cemburu melihat mangsa pelindungnya berada dalam pelukan predator lain. Serigala itu ingin merobek tenggorokan Indra sekarang juga dan mengklaim Dara kembali.

​Namun, Bumi Arka bukan sekadar serigala liar. Ia adalah seorang Alpha. Seorang pemimpin dituntut untuk meletakkan kelangsungan hidup kawanannya di atas ego pribadinya.

​Bumi menarik napas panjang, menekan amarah liarnya paksa ke dalam relung jiwa terdalamnya. Ia mengatupkan rahangnya keras-keras, lalu menatap Indra dengan sebuah pandangan yang dipenuhi oleh kedewasaan yang menyayat hati.

​"Raka ada di perbatasan Hutan Utara sekarang. Maya sudah menjemputnya," lanjut Bumi, suaranya sangat tenang, sebuah ketenangan yang terasa menyakitkan. "Dan aku melihatmu dari kejauhan, Indra. Aku melihat bagaimana monster di dalam dirimu nyaris mengoyak kewarasanmu karena menahan Nafsu Rimba."

​Indra mengencangkan rahangnya, bersiap menerima ejekan. "Jika kau datang ke sini untuk menertawakan kelemahanku, lakukanlah."

​Bumi menggeleng pelan. Ia melangkah maju, sangat dekat, menembus zona aman sang Cindaku.

​"Aku tidak menertawakanmu. Aku merasa kasihan padamu," ucap Bumi, matanya memancarkan rasa hormat yang tumbuh dari tragedi.

​Bumi menoleh pada Dara, menatap gadis yang memegang seluruh hatinya itu dengan tatapan yang sangat lembut. "Harimau ini... dia membutuhkanmu lebih dari kawananku membutuhkanmu, Dara. Jika dia kehilangan akal sehatnya, Sutan Agung akan mengeksekusinya, dan pertahanan lembah ini akan kehilangan salah satu jenderal terbaiknya. Dan jika itu terjadi... Willem akan membantai kita semua."

​Bumi kembali menatap Indra, menunjuk tepat ke ulu hati pemuda Cindaku itu dengan telunjuknya. "Dengarkan aku baik-baik, Bagaskara. Aku membencimu. Sampai kapan pun, darahku akan selalu mendidih jika mencium baumu. Tapi malam ini, aku menelan egoku. Gunakan sang Ratu Penengah untuk menyembuhkan kewarasanmu. Jadikan dia penawarmu."

​Udara di antara mereka terasa sangat berat. Sebuah pengakuan mutlak telah dilontarkan. Sang Alpha mengalah.

​"Tapi," suara Bumi mendadak berubah menjadi geraman mematikan yang menggetarkan udara. Mata cokelatnya berkilat. "Jika kau membiarkan sehelai saja rambut di kepala gadis ini terluka... jika insting liarmu berani menyakitinya walau hanya segores... aku akan mengumpulkan seluruh kawananku untuk menghabisi klanmu hingga tak bersisa."

​Indra menatap mata Bumi tanpa berkedip. Ia bisa melihat besarnya pengorbanan yang sedang dilakukan pemuda ini. Mengalah dalam urusan pasangan adalah hal yang paling mustahil dilakukan oleh seekor Alpha Serigala, namun Bumi melakukannya demi perang yang lebih besar.

​Indra menegakkan punggungnya, memancarkan wibawa penuh sebagai calon Raja Hutan. Ia menumbukkan kepalan tangan kanannya ke dada kirinya sendiri—sebuah gestur sumpah prajurit Cindaku yang sangat kuno.

​"Harimau ini tidak akan melukainya. Itu adalah sumpah darahku, Arka," jawab Indra absolut.

​Sebuah perjanjian tak kasat mata kembali terjalin. Bukan lagi sekadar gencatan senjata sementara, melainkan sebuah pakta persaudaraan aneh yang lahir dari putus asa.

​Bumi memaksakan seulas senyum tipis, lalu berbalik. "Kawananku harus menyembuhkan luka si kembar malam ini. Sembunyikan auramu baik-baik, Anak Kota. Lintah-lintah itu sudah mulai merayap naik ke permukaan."

​Tanpa menunggu balasan, Sang Alpha muda itu melesat ke dalam kegelapan, berlari membelah malam kembali menuju teritorinya di Lereng Timur.

​Dara menatap kepergian Bumi dengan mata berkaca-kaca, hatinya diremas oleh rasa bersalah dan kekaguman yang luar biasa pada pemuda tersebut.

​Lereng Timur Lembah Marapi. Wilayah teritori klan Ajag.

​Tersembunyi di balik rimbunnya hutan bambu dan tebing kapur yang terjal, terdapat sebuah kompleks pemukiman rahasia yang jauh dari sentuhan modernitas. Rumah-rumah panjang berbahan kayu ulin dan atap ijuk berdiri melingkar, membentuk sebuah area komunal yang sangat erat. Aroma daging bakar, kayu pinus, dan getah damar selalu menguar di udara.

​Di salah satu rumah panjang terbesar yang berfungsi sebagai balai pengobatan kawanan, suasana terasa sangat tegang.

​Tio dan Adi terbaring di atas dipan bambu. Dada dan lengan mereka dipenuhi oleh perban yang terbuat dari lumut penyembuh dan tumbukan daun binahong. Keduanya mengerang pelan saat beberapa tetua Ajag membacakan mantra untuk menetralisir sisa racun gaib dari bayangan Marsose.

​Gendis berlutut di samping dipan Tio, tangannya yang cekatan sedang membersihkan luka di bahu pemuda itu dengan air hangat. Namun, kelembutan gerakannya sangat bertolak belakang dengan amarah yang mendidih di matanya.

​Langkah kaki berat terdengar menaiki tangga kayu rumah panjang tersebut.

​Bumi Arka melangkah masuk. Aura Alpha-nya yang menekan membuat seluruh anggota kawanan yang ada di dalam ruangan itu serempak menundukkan kepala. Bumi berjalan menghampiri dipan, menatap kondisi dua prajurit mudanya dengan rahang terkatup rapat.

​"Mereka akan pulih, Bumi," salah satu tetua bersuara pelan. "Racun ilusi lintah itu tidak sempat mencapai jantung berkat ketahanan fisik mereka."

​"Bagus. Berikan mereka waktu untuk istirahat," perintah Bumi, suaranya terdengar lelah.

​Pemuda itu membalikkan badan, berniat pergi ke ruangannya sendiri. Namun, Gendis tiba-tiba berdiri, menghalangi jalan Sang Alpha. Gadis berkulit eksotis itu menatap Bumi dengan mata yang memancarkan kekecewaan tajam. Bau darah Tio di tangannya memicu insting keibuan serigala betina yang sangat agresif.

​"Kau pergi menemuinya," desis Gendis, suaranya tidak terlalu keras namun memotong keheningan ruangan layaknya silet. "Anggotamu sendiri kembali dengan tubuh nyaris hancur setelah mempertaruhkan nyawa mengintai musuh... dan kau justru pergi menemui gadis manusia sialan itu?"

​Anggota kawanan lainnya menahan napas. Menentang seorang Alpha di hadapan kawanan adalah sebuah penghinaan besar.

​Mata Bumi menyipit. Pendar merah kecokelatan menyala, memancarkan dominasi yang membuat udara di sekitar Gendis terasa seberat batu.

​"Jaga nada bicaramu padaku, Gendis," geram Bumi rendah. Suara Alpha-nya beresonansi, memaksa insting serigala Gendis untuk menunduk, namun kemarahan gadis itu membuatnya tetap berdiri tegak dengan gemetar.

​"Aku mencium bau Cindaku menempel di bajumu, Bumi!" Gendis tak peduli pada peringatan itu, menunjuk dada pemuda tersebut. "Kau membiarkan Harimau Putih itu bersama Dara? Kau mengalah padanya? Kau membiarkan kelemahan kita memegang kendali atas sang Pawang?!"

​"Itu adalah taktik bertahan hidup, bukan kelemahan!" bentak Bumi, suaranya akhirnya meninggi, menggetarkan atap ijuk rumah panjang tersebut.

​Bumi melangkah maju, menjulang di hadapan Gendis. "Indra nyaris kehilangan akal sehatnya akibat Withdrawal Syndrome. Jika dia berubah menjadi monster di tengah desa, seluruh dunia manusia akan tahu tentang kita. Willem akan memanfaatkannya. Aku mengizinkan Dara menenangkannya agar kita tidak kehilangan Cindaku sebagai garis pertahanan depan melawan pasukan Marsose yang baru bangkit itu! Ini soal memenangkan perang, Gendis, bukan soal memuaskan ego kawanan!"

​Gendis terdiam. Logika Bumi tidak bisa dibantah, namun hati liarnya menolak untuk menerimanya. Di matanya, Bumi sedang merasionalisasi kekalahannya demi melindungi gadis manusia itu.

​Bumi menatap Gendis dengan dingin. "Aku adalah Alpha-mu. Kau akan menuruti strategiku, atau kau bisa keluar dari kawananku malam ini juga."

​Mendengar ancaman pengusiran mutlak itu, pertahanan Gendis runtuh. Gadis itu menundukkan pandangannya, mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Aku... mengerti, Alpha," bisiknya dengan suara tercekat.

​Bumi memalingkan wajahnya, lalu berjalan keluar dari balai pengobatan, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di belakangnya.

​Gendis menatap punggung Bumi yang menjauh dengan dada yang naik turun dengan cepat. Rasa cinta yang tak terbalas dan loyalitas fanatik pada kawanannya kini bercampur menjadi sebuah racun yang sangat berbahaya.

​"Kau mungkin Alpha kami, Bumi," bisik Gendis dalam hati, air mata kemarahan menetes di pipinya. "Tapi kau sedang dibutakan. Gadis manusia itu bukan Ratu Penengah; dia adalah parasit yang membuatmu rela membagikan pusaka kita dengan Harimau sialan itu. Aku tidak akan membiarkannya. Aku yang akan menyelamatkanmu dari kebutaan ini."

​Keesokan paginya, matahari masih malu-malu bersembunyi di balik kabut tebal Marapi.

​Gendis menyelinap keluar dari teritori Ajag sebelum ayam jantan berkokok. Gadis serigala itu mengenakan pakaian berburu berwarna gelap. Ia tidak pergi ke arah sekolah atau desa manusia. Ia bergerak mendaki lebih jauh ke dalam Hutan Terlarang—bagian hutan yang bahkan dihindari oleh Cindaku dan Ajag karena dihuni oleh makhluk-makhluk rendah yang tak memiliki akal.

​Gendis berhenti di depan sebuah gua tanah yang gelap dan lembap. Bau bangkai dan kotoran kelelawar menyengat hidungnya.

​Di dalam kegelapan gua itu, terdengar suara geraman-geraman kecil dan decakan gigi yang mengerikan. Ratusan mata berwarna kuning pucat menyala satu per satu. Mereka adalah Begu—siluman-siluman rendahan berbentuk primata cacat yang hanya digerakkan oleh insting lapar dan rasa takut.

​Gendis mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam saku celananya. Itu adalah sapu tangan yang diam-diam ia ambil dari loker Dara saat di sekolah kemarin. Sapu tangan itu masih menyimpan sisa aroma keringat dan wangi vanila khas milik gadis manusia tersebut.

​Gendis merobek sedikit telapak tangannya sendiri dengan taring, meneteskan darah segarnya ke atas sapu tangan itu. Darah serigala yang mendidih akan memicu nafsu buas para Begu, dan mereka akan mengejar aroma apa pun yang tercampur di dalamnya.

​"Aku tidak akan membunuhmu, Gadis Kota. Bumi tidak akan pernah memaafkanku jika kau mati," bisik Gendis mematikan, menatap sapu tangan di tangannya. Ia mengikatkan kain itu ke sebuah dahan kayu.

​"Tapi aku akan membuatmu ketakutan hingga ke sumsum tulangmu. Aku akan membuatmu sadar bahwa Lembah Marapi adalah neraka, dan satu-satunya cara bagimu untuk selamat adalah dengan berlari sejauh mungkin kembali ke Jakartamu yang aman."

​Gendis melemparkan dahan berbalut sapu tangan berdarah itu jauh ke arah jalan setapak yang biasa dilalui Dara saat pulang dari sekolah, lalu mengaum pendek untuk memicu para siluman rendahan itu keluar dari sarangnya.

​Rencana sabotase Sang Betina telah dimulai. Gendis tidak tahu bahwa tindakannya yang egois ini, bukannya mengusir Dara, justru akan memicu sebuah rantai bencana yang akan menyeret seluruh lembah ke dalam pertumpahan darah sebelum waktunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!