NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaget nikah

"Buk... Ibu...!" teriak Laras kencang begitu masuk rumah.

"Nduk... Kok ya teriak-teriak. Mbok salam dulu kalau mau masuk rumah itu," sahut perempuan paruh baya yang dipanggil Ibu oleh Laras. Ia keluar setelah mendengar anak gadisnya memanggil.

"Ibu nggak apa-apa?" tanya Laras sambil berhambur memeluk erat ibunya.

"Lah... Memangnya Ibu kenapa?" ibunya balik bertanya.

"Ibu nggak sakit, kan?"

"Kata siapa Ibu sakit? Orang sehat begini kok."

"Terus kalau nggak sakit, kenapa Ibu nyuruh aku cepet-cepet pulang?" tanya Laras lagi.

"Jadi kalau Ibu nggak sakit, kamu nggak mau pulang, begitu?"

"Ya... Bukan begitu, Bu. Hanya saja kan nggak biasanya Ibu nyuruh aku pulang mendadak begini."

"Ya sudah, kamu taruh barang-barang kamu dulu di kamar. Makan dulu, biar Ibu siapin. Kamu pasti belum makan, kan? Nanti Ibu jelasin kenapa Ibu nyuruh kamu pulang," kata Ibu.

"Kok feeling aku nggak enak ya, Bu... Jangan-jangan... Hmm," ucap Laras, penuh curiga.

"Jangan-jangan kenapa? Jangan ngawur. Sudah, sana beresin dulu barang-barang kamu, Nduk," kata Ibu sambil melangkah pergi dari hadapan Laras.

Laras membawa tas dan beberapa barangnya masuk ke kamar. Dia terus berpikir. Ada apa sebenarnya? Sikap Ibu terlihat mencurigakan. Jangan-jangan apa yang dipikirkan Laras benar. Mungkin Ibu ingin menjodohkannya... lagi. Seperti yang sudah-sudah. Ibu dan semua anggota keluarga memang rajin sekali mencarikan jodoh untuk Laras. Entah itu anak teman arisan, anak Pak Lurah, anak Pak RT, bahkan anak tetangga, semua dikenalkan kepada Laras dengan harapan Laras segera menemukan jodohnya.

Di umur yang terbilang sudah cukup dewasa, nyatanya Laras belum juga memikirkan untuk menikah. Bahkan pacar saja dia tidak punya. Dan itu cukup membuat ibunya resah. Pasalnya, Ibu Laras meyakini bahwa jika seorang perempuan sudah berumur lebih dari 20 tahun dan belum menikah, akan sulit mendapatkan jodoh nantinya. Ibu takut Laras akan menjadi perawan tua.

Maklum saja, karena Ibu dibesarkan di lingkungan yang sedikit kuno. Jadi pola pikir seperti itu sudah ke-setting dari dulu: anak gadis harus dinikahkan sesegera mungkin, biar tidak jadi perawan tua, katanya. Berkaca dari cerita hidup Ibu sendiri, di umur 18 tahun Ibu sudah menikah, dan di umur 20 tahun sudah memiliki anak pertama, yaitu Laras.

Dari situlah Ibu merasa cemas. Sebab saat ini Laras telah berusia 25 tahun, tapi dia belum menunjukkan tanda-tanda ingin menikah sama sekali. Itu juga alasan mengapa Ibu selalu mempromosikan Laras di antara teman-temannya. Baik teman arisan, bahkan siapa pun yang dikenalnya yang sekiranya memiliki anak laki-laki. Dengan harapan bisa menemukan jodoh untuk anak gadisnya ini.

Dan satu lagi yang membuat cemas: Laras sekali pun belum pernah mengenalkan teman laki-lakinya kepada keluarga. Jadi Ibu berpikir Laras kelewat santai dengan masa depannya. Dan sepertinya jika orang tuanya tidak ikut bertindak, Laras akan sulit menemukan pendamping hidupnya kelak.

Selesai membereskan barang, Laras bergegas menemui ibunya. Dia sudah tidak sabar ingin segera membuktikan kecurigaannya tadi. Tanpa basa-basi, Laras pun langsung mengatakan:

"Kalau Ibu mau ngomongin soal perjodohan, aku tetap seperti yang sudah-sudah. Tidak mau dan tidak tertarik," ungkapnya terus terang.

"Tapi yang kali ini beda, Ras. Ibu sudah beberapa kali ketemu sama Samudra. Anaknya baik sekali, rajin, dan saleh."

"Tuh... Kan bener, lagi-lagi Ibu mau jodohin aku. Pokoknya nggak mau. Lagian aku kayak nggak laku aja sampai harus dijodoh-jodohin segala."

"Memang begitu, kok. Buktinya sampai sekarang kamu belum juga punya pacar. Ibu kan jadi khawatir, takut kamu susah dapet jodoh kalau lama-lama seperti ini. Mana adik kamu, Inggar, sudah ada keinginan untuk menikah juga."

"Ya sudah, biar saja kalau Inggar mau menikah lebih dulu. Aku nggak keberatan, kok, Bu," jawabnya santai.

"Sepertinya yang dibilang Budhe kamu benar. Kamu itu memang seharusnya Ibu bawa ke Mbah Dukun, biar dijampi-jampi, dimandiin kembang tujuh rupa atau apa gitu biar kebuka... apa namanya... auranya atau apa ya, Ibu kok lupa," jelasnya.

"Aura Kasih kali, Bu," ucapnya sambil tertawa ringan. "Lagian, Bu, aku itu cuma memang belum kepikiran aja mau nikah. Karena trust issue, akibat sekarang banyaknya konflik rumah tangga yang bikin ngeri. Bukannya ketempelan jin sampai-sampai mesti dibawa ke dukun. Ibu lihat sendiri kan berapa banyak kasus perselingkuhan, KDRT, dan perceraian. Makanya aku nggak mau buru-buru mutusin. Aku takut, Bu," jelasnya lagi.

"Kamu itu terlalu banyak nonton sinetron ikan terbang sepertinya. Jadinya belum apa-apa udah overthinking duluan."

"Nggak salah? Bukannya Ibu yang suka nonton begituan," jawabnya sambil terkekeh.

"Pokoknya Ibu nggak mau tahu. Kamu harus segera menikah. Ibu nggak mau sampai kamu dilangkahi adikmu."

"Biar deh kalau Inggar mau menikah duluan. Aku nggak masalah, Bu," sahutnya.

"Ehh... Mana boleh seperti itu. Pamali. Ibu tidak mau sampai kamu dilangkahi."

"Memangnya kenapa, Bu?"

"Pokoknya tidak boleh. Kamu harus menikah dulu, baru Inggar boleh menikah. Titik," tegasnya.

"Iya, Bu, aku mau menikah. Tapi tidak sekarang. Aku belum siap. Aku bahkan belum kepikiran untuk menikah untuk saat ini."

"Ibu mohon, setidaknya kamu bersedia bertemu dengan Samudra terlebih dahulu. Kamu berusaha mengenalnya lebih dekat. Siapa tahu yang ini cocok untuk kamu, Ras."

"Ibu yakin sama si... siapa tadi?" tanya Laras sambil mengernyitkan dahi.

"Samudra."

"Iya, itu Samudra. Ibu yakin kalau dia baik untuk aku?" tanya Laras dengan perasaan ragu.

"Insyaallah, Ras. Ibu ada keyakinan kalau Samudra ini baik untuk kamu. Makanya Ibu ingin kamu mengenalnya terlebih dahulu. Karena entah bagaimana menjelaskannya, tapi Ibu seperti sudah sreg sekali dengan anak ini. Mau ya, Ras?" kata Ibu dengan nada yang sedikit memohon.

"Bagaimana kalau aku nggak suka nantinya, Bu?" tanya Laras mencoba mencari alasan.

"Dicoba saja dulu, Ras. Mau ya ketemu sama Samudra?" tanya Ibu lagi. Kali ini, Laras cuma mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.

Laras berpikir, percuma saja membantah. Pasti Ibu akan tetap memaksa. Jadi dengan berat hati, Laras mengiyakan permintaan ibunya tersebut.

Mendapat persetujuan dari Laras, tentu saja ini membuat Ibu Laras bahagia. Setidaknya dia sudah berhasil membujuk Laras untuk bertemu dengan Samudra. Itu yang terpenting untuk sekarang. Sebab Ibu yakin sekali, setelah mereka saling bertemu, kemungkinan besar Laras akan setuju untuk dijodohkan dengan Samudra.

Melihat Laras yang diam tanpa kata dan tanpa ekspresi, Ibu tahu Laras tengah memikirkan banyak hal. Ibu meraih tangan Laras dan menggenggamnya, kemudian berkata:

"Ras, menikah itu tidak semata-mata untuk mencari kebahagiaan. Tapi lebih dari itu, menikah itu ibadah, ladang pahala untuk seorang istri. Dan tentu saja untuk mencari ketenangan lahir dan batin juga. Ibu yakin, setelah menikah, kamu akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan itu sekaligus. Kamu harus yakin."

"Bagaimana kalau tidak, Bu?" tanya Laras datar.

Ibu hanya tersenyum mendengar ucapan Laras, kemudian berkata:

"Bismillah, Ras. Diniati dengan baik, insyaallah semua akan berjalan dengan baik," jawabnya lembut namun yakin.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!