Aura, seorang sekretaris teladan, dan Arkan, CEO dingin yang perfeksionis, terpaksa menikah setelah dijebak dalam sebuah skandal memalukan saat perjalanan bisnis di Bali. Pernikahan paksa ini memaksa mereka menjalani peran sebagai atasan-bawahan di kantor sekaligus suami-istri di rumah. Di balik kerumitan perasaan yang mulai tumbuh, keduanya harus bersatu memburu dalang konspirasi yang sengaja menjebak mereka sebelum karier dan nyawa mereka menjadi taruhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sabotase Proyek
Pagi itu, suasana di kantor pusat Mahendra Group tidak lagi hangat seperti malam kepulangan mereka dari Charity Gala. Jika malam sebelumnya Arkan dan Aura pulang dengan tangan yang saling bertautan, pagi ini atmosfer di lantai 45 terasa seperti padang es yang mematikan.
Arkan berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap kemacetan Jakarta dengan tatapan kosong. Di atas meja jati mahalnya, sebuah laporan audit digital tergeletak terbuka. Isinya adalah berita duka bagi perusahaan: penawaran harga untuk proyek infrastruktur pemerintah di Kalimantan—proyek yang sudah dikerjakan Arkan selama enam bulan terakhir—telah bocor ke tangan kompetitor utama mereka, Wijaya Kusuma Corp.
Selisih penawaran mereka hanya terpaut beberapa juta rupiah, sebuah tanda jelas bahwa seseorang telah melihat angka final sebelum dokumen itu diunggah ke sistem lelang negara.
Pintu ruangan terbanting terbuka. Oma Widya masuk dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh beberapa dewan komisaris yang wajahnya merah padam.
"Arkan! Apa maksudnya ini?" Oma Widya melemparkan koran bisnis ke meja. "Kita kalah lelang? Bagaimana mungkin data confidential itu bisa jatuh ke tangan lawan?"
Arkan berbalik perlahan. Wajahnya tampak lebih tua beberapa tahun. "Data itu keluar dari server internal semalam, pukul sebelas malam. Seseorang menggunakan akses level eksekutif untuk mengunduhnya."
"Akses siapa?" tanya Pak Hermawan, salah satu komisaris, dengan nada menuntut.
Arkan terdiam cukup lama. Matanya melirik ke arah pintu kaca di mana Aura biasanya duduk. "Akses milik... sekretaris eksekutif saya. Aura."
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
"Aura?" Oma Widya mengerutkan kening. "Bukankah dia istrimu sekarang? Kenapa dia harus mengkhianati suaminya sendiri?"
"Mungkin dia bukan istri, Oma. Mungkin dia masih merasa sebagai sekretaris yang sakit hati karena dipaksa menikah," celetuk sebuah suara dari ambang pintu. Danu Wijaya melangkah masuk dengan wajah yang dipasang seolah-olah prihatin, padahal matanya berkilat senang. "Saya sudah bilang sejak awal, Arkan. Menaruh kepercayaan pada seseorang yang memiliki motif finansial adalah kesalahan fatal."
"Tutup mulutmu, Danu!" bentak Arkan.
"Saya punya buktinya," Danu melemparkan sebuah amplop cokelat. "CCTV di ruang server menunjukkan seseorang dengan postur tubuh dan pakaian yang sama dengan yang dikenakan Aura semalam masuk ke area terlarang. Dan jangan lupa, rekening pribadi Aura baru saja menerima transferan sebesar lima miliar rupiah dari bank di Singapura pagi ini."
Arkan merampas laporan itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin meneriakkan bahwa ini semua bohong, tapi angka-angka dan rekaman itu terlalu nyata.
"Panggil Aura ke sini," perintah Oma Widya dengan suara yang tidak bisa dibantah.
Beberapa menit kemudian, Aura masuk. Ia tampak bingung melihat kerumunan orang penting di ruangan itu. Ia masih mengenakan setelan kantor yang rapi, namun saat matanya bertemu dengan mata Arkan yang penuh dengan kecurigaan dan rasa sakit, langkahnya terhenti.
"Ada apa, Pak? Maksud saya... Arkan?" tanya Aura lirih.
Arkan tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan laporan audit itu kepada Aura.
Aura membaca dokumen itu dengan cepat. Tangannya mulai gemetar. "Ini... ini tidak benar. Saya tidak pernah mengunduh data ini. Semalam saya ada di rumah bersama Anda, Arkan!"
"Kamu pergi ke dapur pukul sebelas malam untuk mengambil air, bukan?" suara Arkan terdengar serak. "Kamu tidak kembali ke kamar selama hampir empat puluh menit."
Aura terbelalak. "Saya... saya hanya duduk di ruang tengah karena tidak bisa tidur! Saya tidak pergi ke kantor, apalagi ke ruang server!"
"Tapi akses ID milikmu digunakan, Aura," Danu menyela dengan nada mengejek. "Dan uang lima miliar itu? Apakah itu bonus karena telah memberikan data kami kepada Wijaya Kusuma?"
Aura menatap Danu, lalu beralih ke Arkan. "Uang apa? Saya tidak tahu soal uang itu! Arkan, tolong dengarkan saya. Ini sabotase. Seseorang menjebak saya!"
"Lalu jelaskan rekaman CCTV ini!" Arkan memutar video di tabletnya. Di sana terlihat sesosok wanita yang mengenakan blus krem—persis seperti yang dikenakan Aura semalam—masuk ke ruang server dengan menutupi wajahnya dari kamera.
"Itu bukan saya! Banyak orang punya baju seperti itu!" Aura mulai terisak. Rasa sakit dikhianati oleh sistem adalah satu hal, tapi melihat ketidakpercayaan di mata Arkan adalah hal lain yang menghancurkan jiwanya.
"Oma, saya minta maaf," Arkan berkata tanpa menatap Aura. "Sesuai protokol perusahaan, setiap karyawan yang terlibat dalam kebocoran data strategis harus dinonaktifkan dan diproses secara hukum."
"Arkan, kamu tidak serius kan?" Aura melangkah maju, mencoba meraih tangan Arkan. "Setelah apa yang kita lalui? Kamu benar-benar percaya saya melakukan ini?"
Arkan menarik tangannya. "Bukti-bukti ini terlalu kuat, Aura. Dan transferan itu... itu adalah bukti konklusif. Saya tidak bisa membela kamu di depan dewan direksi tanpa penjelasan yang masuk akal."
"Penjelasannya adalah saya tidak melakukannya!" jerit Aura.
Oma Widya menghela napas panjang. "Aura, untuk sementara, kamu dilarang masuk ke gedung Mahendra Group. Tim legal kami akan melakukan investigasi mendalam. Jika terbukti bersalah, pernikahan ini tidak akan bisa menyelamatkanmu dari penjara."
Aura merasa dunianya runtuh. Ia menatap Arkan sekali lagi, berharap menemukan secercah keyakinan, namun Arkan justru memalingkan wajah. Ia kembali menatap jendela, seolah-olah sosok Aura sudah tidak ada lagi di sana.
Dengan hati yang hancur, Aura berbalik dan keluar dari ruangan itu. Di luar, bisik-bisik karyawan sudah mulai terdengar. "Si sekretaris pengkhianat," "Sudah kuduga dia hanya mengincar harta," kata-kata itu menusuk telinganya.
Aura lari menuju lift, mengabaikan Sari yang mencoba memanggilnya. Ia terus berlari hingga mencapai lobi dan keluar ke jalanan Jakarta yang terik. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia kehilangan pekerjaannya, reputasinya, dan yang paling menyakitkan—ia kehilangan pria yang baru saja mulai ia cintai.
Namun, di dalam ruang kerja CEO, Danu Wijaya berpura-pura menenangkan Arkan sambil mengirim pesan singkat di bawah meja: Tahap pertama sukses. Dia sudah hancur. Sekarang waktunya untuk mendorong Arkan ke tepi jurang.
Aura berhenti di sebuah taman kota, mencoba mengatur napasnya yang sesak. Ia teringat kata-kata Arkan di Bali: "Angka tidak pernah berbohong." Tapi hari ini, Aura belajar bahwa angka bisa dimanipulasi, dan teknologi bisa digunakan untuk membunuh karakter seseorang.
Ia mengepalkan tangannya. "Saya tidak akan membiarkan kalian menang," bisiknya pada diri sendiri. Sebagai sekretaris yang telah mengabdi selama bertahun-tahun, Aura tahu celah-celah sistem Mahendra Group lebih baik daripada siapa pun, bahkan mungkin lebih baik daripada Arkan.
Jika Arkan tidak mau mempercayainya, maka ia akan membuktikannya sendiri. Aura tahu bahwa jika seseorang menggunakan ID-nya, pasti ada jejak alamat IP yang tidak bisa dihapus dengan mudah dari server cadangan. Ia juga ingat melihat Danu berbisik dengan kepala IT dua hari yang lalu.
Malam itu, Aura tidak pulang ke rumah Mahendra. Ia menyewa kamar hotel murah di pinggiran kota, menggunakan laptop cadangan yang selalu ia simpan untuk keadaan darurat. Ia mulai meretas masuk ke sistem yang dulu ia jaga dengan sepenuh hati.
Di sisi lain, Arkan duduk sendirian di meja makan rumah mereka yang besar. Makanan yang disiapkan pelayan mendingin di depannya. Ia menatap kursi kosong di seberangnya. Hatinya terbelah. Logikanya mengatakan Aura bersalah, namun instingnya—dan getaran di tangannya saat melihat Aura menangis tadi—mengatakan ada sesuatu yang sangat salah.
Ia meraih ponselnya, hendak menghubungi Aura, namun ia teringat wajah dewan komisaris dan tanggung jawabnya pada ribuan karyawan. Arkan meletakkan kembali ponselnya dengan kasar.
"Kenapa, Aura? Kenapa harus kamu?" gumamnya lirih.
Sabotase ini bukan sekadar soal proyek Kalimantan. Ini adalah serangan jantung bagi hubungan mereka yang baru saja tumbuh. Dan saat hujan mulai turun membasahi Jakarta, dua orang yang seharusnya menjadi satu itu kini berada di sisi yang berlawanan dari sebuah jurang konspirasi yang sangat gelap, menunggu siapa yang akan jatuh terlebih dahulu.