NovelToon NovelToon
Sistem Check-in Tiada Tanding

Sistem Check-in Tiada Tanding

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.

Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".

Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.

Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".

Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.

Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Chen Mo memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana dengan santai.

Dia berjalan menyusuri jalan setapak akademi menuju Asrama Menara Bintang di bawah terik matahari siang.

Sesampainya di lobi asrama, suasana elit yang biasanya tenang kini terasa sangat kacau dan tegang.

Belasan penjaga berseragam putih dengan lambang pedang bersilang berdiri memblokir semua akses jalan keluar.

Mereka adalah utusan dari Asosiasi Kultivator Pusat yang bertindak sebagai polisi faksi di wilayah ini.

Brak!

"Geledah semua kamar VIP di lantai atas tanpa terkecuali, temukan barang buktinya!" teriak seorang pria paruh baya berwajah angkuh.

Pria itu adalah Kepala Utusan bernama Ma, seorang kultivator tingkat puncak Rank A yang terkenal kejam.

Para murid elit Asrama Menara Bintang hanya bisa berdiri menepi di sudut lobi dengan wajah pucat ketakutan.

Chen Mo melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis tanpa mempedulikan ketegangan tersebut.

Utusan Ma langsung menoleh dan menatap Chen Mo dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan.

Lencana Rank F di kerah seragam Chen Mo terlihat sangat tidak pantas berada di lobi asrama elit ini.

"Berhenti di sana, Bocah! Apa yang dilakukan seekor tikus got di tempat berkelas seperti ini?" bentak Utusan Ma kasar.

Chen Mo menghentikan langkahnya dan membalas tatapan pria itu dengan wajah datar.

"Aku tinggal di sini. Memangnya ada masalah dengan itu, Paman?" jawab Chen Mo bosan.

Mendengar nada bicara yang tidak memiliki rasa hormat itu, urat di dahi Utusan Ma langsung menonjol keluar.

"Tutup mulutmu yang kotor itu, dasar sampah!"

"Kami sedang mencari pembunuh keji yang membantai Penatua Sekte Besi Berdarah semalam," ucap Utusan Ma dengan suara menggelegar.

"Dan kau terlihat sangat mencurigakan karena berkeliaran di luar asrama saat jam inspeksi."

Chen Mo hampir saja tertawa mendengar logika cacat dari utusan asosiasi tersebut.

"Kalian pasti sedang bercanda, atau standar kecerdasan asosiasi memang serendah ini sekarang?" balas Chen Mo tajam.

"Seorang murid Rank F dituduh membantai penatua sekte tingkat elit dan sepuluh pembunuh bayarannya?"

"Jika aku sehebat itu, aku pasti sudah duduk di kursi Ketua Asosiasi kalian saat ini."

Beberapa murid elit di lobi harus menahan tawa mereka rapat-rapat mendengar sindiran mematikan tersebut.

Utusan Ma merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang bocah ingusan di depan umum.

Wuuush!

Utusan Ma melepaskan tekanan energi spiritual tingkat Rank A miliknya langsung ke arah Chen Mo.

Dia berniat membuat pemuda itu berlutut memuntahkan darah sebagai hukuman atas kelancangannya.

Namun, gelombang energi itu hanya menerpa tubuh Chen Mo seperti hembusan angin sepoi-sepoi di pagi hari.

Tubuh Emas Naga Primal milik Chen Mo membatalkan semua tekanan itu tanpa perlu mengeluarkan keringat sedikit pun.

Chen Mo bahkan sempat menguap pelan sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan.

"Apakah kau sudah selesai buang angin, Paman?" ejek Chen Mo dengan ekspresi tanpa dosa.

Mata Utusan Ma membelalak lebar, dia tidak percaya serangannya sama sekali tidak berdampak pada murid Rank F ini.

"K-kau... kau pasti menyembunyikan artefak pelindung tingkat tinggi di balik bajumu!" tuduh Utusan Ma kebingungan.

"Geledah tubuh anak ini! Periksa apakah dia menyembunyikan Cincin Ruang berisi darah naga purba curian itu!"

Dua orang penjaga berseragam putih segera melangkah maju untuk menangkap Chen Mo.

"Tunggu dulu," potong Chen Mo dengan suara pelan yang entah bagaimana membuat langkah kedua penjaga itu terhenti.

Chen Mo mengaktifkan sedikit Tekanan Penakluk Jiwa miliknya ke dalam suaranya.

"Jika kalian mencari darah naga purba, bukankah kalian sedang membuang waktu menggeledah asrama murid?"

"Siapa di akademi ini yang memiliki kekuatan untuk membunuh penatua itu dan punya cukup uang untuk masuk ke Balai Lelang?"

Chen Mo melemparkan pertanyaan itu dengan senyum penuh arti di wajahnya.

Utusan Ma mengerutkan keningnya, otaknya mulai memproses petunjuk yang sangat masuk akal tersebut.

"Wakil Kepala Sekolah Liu," sebut Chen Mo perlahan, menyiramkan bensin ke atas api kecurigaan.

"Beliau memberiku akses ke asrama ini pagi tadi, dan kudengar beliau sangat kesal karena gagal mendapatkan darah naga itu semalam."

"Bukankah membunuh saingan lelang di jalanan gelap adalah cara termudah untuk menghemat ratusan juta koin bintang?"

Mendengar analisis tajam itu, wajah Utusan Ma berubah menjadi sangat pucat pasi.

Logika itu terlalu sempurna, hanya kultivator tingkat puncak seperti Liu yang bisa meremukkan tubuh para pembunuh itu dengan tangan kosong.

"Astaga! Wakil Kepala Sekolah Liu memang hadir di pelelangan semalam menurut informan kita!" bisik salah satu bawahan Utusan Ma.

Utusan Ma mengepalkan tangannya dengan marah, merasa telah ditipu oleh pihak akademi.

"Tarik semua pasukan dari asrama ini sekarang juga!" perintah Utusan Ma dengan suara lantang.

"Kita pergi ke ruang komite! Wakil Kepala Sekolah Liu harus memberikan penjelasan atas kejahatan ini!"

Belasan utusan asosiasi itu segera berbalik dan berlari keluar dari lobi Asrama Menara Bintang dengan tergesa-gesa.

Mereka meninggalkan lobi yang kini dilanda keheningan luar biasa kikuk.

Chen Mo merapikan kerah seragamnya yang sama sekali tidak kusut dengan santai.

"Taktik adu domba memang tidak pernah gagal jika digunakan pada orang-orang serakah," batin Chen Mo puas.

Dia kemudian berjalan melintasi lobi dan masuk ke dalam lift VIP seolah tidak terjadi apa-apa.

Sesampainya di lantai tujuh, Chen Mo masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.

Wang Bo sudah menunggunya di dalam kamar dengan wajah penuh kecemasan.

"Saudara Chen, apakah para utusan itu menyusahkanmu di bawah tadi?" tanya murid kurus itu panik.

"Tidak, aku hanya memberi mereka sedikit petunjuk arah. Mereka sudah pergi mencari sasaran yang tepat," jawab Chen Mo tenang.

"Kembalilah ke kamarmu, Wang Bo. Aku akan melakukan kultivasi tertutup malam ini dan tidak ingin diganggu."

Wang Bo mengangguk patuh dan segera kembali ke kamarnya sendiri di sebelah.

Malam perlahan turun menyelimuti Akademi Naga Bintang, menyembunyikan badai politik yang sedang memanas di gedung komite.

Wakil Kepala Sekolah Liu pasti sedang sibuk setengah mati membela dirinya dari tuduhan pembunuhan yang tidak pernah dia lakukan.

Chen Mo duduk bersila di tengah ruang kultivasi pribadinya yang kedap suara.

Lampu ruangan dimatikan, hanya menyisakan cahaya rembulan yang masuk melalui jendela kaca besar.

Chen Mo merentangkan telapak tangannya dan sebuah pil berwarna perak yang memancarkan cahaya redup muncul dari Cincin Ruang.

Itu adalah Pil Penempa Jiwa Tingkat Dewa yang dia dapatkan dari ruang rahasia pendiri akademi.

Aroma pil itu sangat menenangkan, seolah mampu menghapus segala bentuk kelelahan mental hanya dengan menciumnya.

Glek.

Tanpa membuang waktu, Chen Mo langsung menelan pil perak tersebut.

Berbeda dengan darah naga yang membakar tubuh fisiknya, pil ini memberikan sensasi dingin yang sangat tajam ke pusat otaknya.

Syuuut!

Pikiran Chen Mo tiba-tiba ditarik ke dalam sebuah dimensi ruang kosong yang tidak berujung.

Di sekelilingnya, ribuan ilusi pedang, monster buas, dan iblis masa lalu bermunculan mencoba merobek kewarasannya.

Ini adalah proses penempaan jiwa, di mana mental seorang kultivator akan dihancurkan dan dibentuk kembali menjadi lebih kuat.

"Hanya ilusi rendahan, kalian pikir bisa menaklukkan pikiranku?" gumam Chen Mo di dalam dimensi mental tersebut.

Chen Mo memusatkan tekadnya, Niat Membunuh Darah Besi miliknya meledak keluar menyapu seluruh ilusi itu.

Proses penempaan ini berlangsung selama berjam-jam dalam keheningan malam yang panjang.

Bagi orang luar, Chen Mo hanya terlihat sedang duduk diam seperti patung batu yang tak bernyawa.

Namun di dalam benaknya, peperangan mental berskala dewa sedang terjadi dengan sangat dahsyat.

Menjelang fajar menyingsing, cahaya perak yang menyelimuti tubuh Chen Mo akhirnya perlahan memudar.

Chen Mo membuka matanya, dan sebuah gelombang kejut tak kasat mata langsung menyapu seluruh isi kamar VIP tersebut.

Prang!

Beberapa gelas kaca di atas meja retak dan pecah hanya karena terkena hembusan napas spiritualnya.

Ding!

Suara sistem terdengar sangat jernih menyambut kebangkitannya.

[Penempaan Jiwa Tingkat Dewa berhasil diselesaikan.]

[Batas Lautan Spiritual Anda telah meluas hingga ke tahap Tak Terbatas.]

[Mendapatkan: Poin Spiritual x100.]

[Skill Pasif Tekanan Penakluk Jiwa naik menjadi Level Maksimal.]

Chen Mo tersenyum lebar merasakan pikiran dan inderanya yang kini menjadi sangat absolut.

Nilai spiritualnya telah menembus angka dua ratus lima belas, sebuah pencapaian yang mustahil bagi pemuda seusianya.

Kini, dia bahkan bisa mendengarkan detak jantung semut dari jarak seratus meter tanpa perlu berkonsentrasi.

"Dengan kapasitas spiritual sebesar ini, manipulasi Hukum Gravitasi akan menjadi jauh lebih mudah dan presisi," batin Chen Mo.

Pemuda itu berdiri dan merenggangkan tubuhnya, merasakan kesegaran yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Hari ini adalah hari ujian pertarungan sesama murid di arena, tahap kedua dari latihan praktik resmi akademi.

"Waktunya keluar dan bermain-main sedikit dengan para elit yang masih belum sadar dengan diri mereka," gumam Chen Mo sambil mengambil seragamnya.

1
Naga Hitam
Chen Mo kaleee...
Yui: nama marganya sama soalnya/Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
bantai💪💪💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
bantai💪💪
$umb@k
mantap👍👍👍💪💪💪
pecinta karya orang
lanjutkan karyamu thor💪💪💪👍
Hadi Hadi
lanjut💪💪😍
Hadi Hadi
mantap💪💪
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
up😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
lanjutkan😍😍💪
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
lanjut😍
Hadi Hadi
is good😍😍💪
Hadi Hadi
kenapa lembek banget menjekelkan
Hadi Hadi
siy💪💪
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
selamat😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!