Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dominic berdiri di ambang pintu kamar sambil memperhatikan Vivienne dari kejauhan. Ia belum mengatakan apa-apa sejak masuk ke kamar. Pandangannya hanya tertuju pada istrinya yang sedang duduk nyaman di sofa dekat jendela.
Vivienne memegang sebuah buku parenting di tangannya. Sesekali ia membalik halaman, lalu berhenti untuk membaca bagian tertentu dengan lebih teliti. Tangan kirinya tidak pernah jauh dari perut yang sudah semakin membuncit. Jemarinya bergerak perlahan, mengusap permukaan perut tersebut dengan penuh kasih.
"Sayang, kamu sudah bangun?" bisik Vivienne dengan lembut.
Wanita itu menundukkan kepala. Senyum kecil muncul di wajahnya. Dia tidak perduli bayi itu dari benih siapa, karena dirinya yang mengandung dan menjaganya sepenuh hati.
"Mama sedang belajar supaya nanti bisa merawat kamu dengan baik. Kamu harus tumbuh sehat, ya."
Dominic yang mendengar ucapan itu tanpa sadar ikut tersenyum. Pemandangan tersebut membuat hatinya terasa hangat.
Selama ini Vivienne memang selalu menginginkan seorang anak. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan, kehamilan kali ini menjadi sesuatu yang sangat dijaganya.
Dominic berjalan mendekat. "Kamu sudah membaca buku itu sejak tadi?" tanyanya sambil menunjuk buku di tangan istrinya.
Vivienne mengangkat wajah dan tersenyum. "Iya. Banyak sekali yang harus dipelajari."
Wanita itu menepuk tempat kosong di sampingnya. "Duduklah."
Dominic menurut. Ia duduk di sebelah Vivienne dan ikut melirik halaman yang sedang dibacanya.
"Sepertinya kamu sangat memperhatikan kandunganmu," ujar Dominic sambil tersenyum.
Vivienne mengusap perutnya. "Tentu saja. Aku ingin bayi kita lahir sehat."
Dominic mengangguk. "Aku juga."
Untuk beberapa saat, keduanya menikmati suasana tenang. Namun, Dominic kemudian teringat sesuatu. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya membuka pembicaraan.
"Vivi."
"Hm?" jawab Vivienne sambil tetap menatap buku.
"Menurutmu, apa tidak bisa memberi sedikit uang bulanan untuk Mom dan Grace?"
Gerakan tangan Vivienne berhenti. Ia perlahan mengangkat wajah.
Dominic segera melanjutkan, "Tidak perlu banyak-banyak. Beri saja mereka sepuluh ribu dolar."
Vivienne menatap suaminya beberapa detik. Lalu, ekspresinya berubah. Bibirnya sedikit bergetar. Matanya tampak mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kamu meminta itu kepadaku?" tanya Vivienne dengan suara pelan.
Dominic terlihat sedikit terkejut melihat reaksinya. "Vivi, aku hanya meminta sedikit."
Vivienne menundukkan wajah. "Tidak bisa, Dominic."
Dominic mengerutkan kening. "Kenapa?"
Vivienne mengusap perutnya perlahan. "Aku dengar keuangan perusahaan sedang goyah."
Dominic terdiam.
Vivienne melanjutkan dengan suara lembut, "Aku sendiri sekarang harus mengurangi banyak pengeluaran."
Ia menunjuk buku parenting di tangannya. "Aku tidak lagi pergi ke spa."
Jarinya kemudian menyentuh rambutnya. "Aku juga jarang ke salon."
Ia menggeleng pelan. "Bahkan membeli barang yang tidak terlalu penting atau mendesak pun aku hentikan."
Dominic hanya mendengarkan.
"Aku harus menyimpan uang untuk pemeriksaan ke dokter kandungan," lanjut Vivienne. "Belum lagi susu, vitamin, makanan yang lebih sehat, dan kebutuhan bayi kita nanti. Belum lagi untuk biaya persalinan nanti."
Vivienne menatap Dominic dengan mata yang tampak penuh kekhawatiran. "Aku tidak mau mengambil risiko hanya karena ingin mempertahankan gaya hidup."
Dominic langsung terdiam. Ia tidak menemukan alasan untuk membantah. Semua perkataan Vivienne terdengar masuk akal.
"Sepuluh ribu dolar saja," ujar Dominic sekali lagi, kali ini dengan suara lebih pelan.
Vivienne menggeleng. Ia meraih tangan Dominic.
"Maaf. Aku juga tidak ingin membuat keluargamu kesulitan. Tapi sekarang aku harus memprioritaskan bayi kita."
Dominic menatap tangan istrinya yang menggenggam tangannya. Senyum Vivienne tampak begitu lembut dan begitu tulus.
Namun, entah mengapa, kalimat Giselle kembali terngiang di kepalanya. "Perubahan seperti ini tidak mungkin terjadi tanpa alasan. Menurutku ada sesuatu yang membuat istrimu marah."
Dominic menarik tangannya perlahan. Vivienne tidak menunjukkan keberatan.
"Aku mengerti," jawab Dominic akhirnya.
Vivienne tersenyum. "Terima kasih sudah mengerti."
Dominic mengangguk. Namun, pikirannya sudah tidak lagi berada di kamar itu. Ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Jika Vivienne memang sedang menghemat uang karena kehamilannya, kenapa perubahan itu terjadi begitu mendadak?
Sebelumnya, wanita itu tidak pernah mempersoalkan uang. Bahkan dua bulan ketika Victoria dan Grace meminta dalam jumlah besar, Vivienne selalu memberikannya.
Dominic menatap wajah istrinya diam-diam. "Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Vivi," batinnya.
Jari pria itu mengepal. "Aku harus mencari tahu."
Malam harinya, setelah memastikan Vivienne sudah tertidur, Dominic keluar dari kamar. Ia berjalan menuju ruang keamanan rumah.
Seorang petugas keamanan langsung berdiri ketika melihatnya. "Tuan Dominic."
"Putar rekaman CCTV beberapa hari terakhir," ujar Dominic sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Bagian mana, Tuan?"
"Semua kamera yang mengarah ke pintu utama."
Petugas itu segera menjalankan perintahnya. Layar besar di hadapan Dominic menampilkan rekaman beberapa hari terakhir.
Dominic memperhatikan dengan saksama. Pagi, Vivienne masih berada di rumah. Kemudian ia melihat dirinya sendiri keluar menuju kantor. Beberapa saat kemudian, Vivienne keluar dari rumah.
Dominic langsung mengerutkan kening. "Berhenti."
Petugas keamanan menghentikan rekaman.
Dominic mendekat ke layar. "Putar lagi."
Rekaman kembali berjalan. Vivienne terlihat keluar rumah seorang diri. Tidak membawa banyak barang dan tidak ditemani siapa pun.
Dominic menyipitkan mata. "Dia pergi ke mana?"
Petugas keamanan hanya diam. Rekaman dilanjutkan. Beberapa jam kemudian, Vivienne kembali ke rumah. Waktu kepulangannya tidak terlalu lama sebelum Dominic sendiri tiba.
Dominic menatap layar dengan wajah semakin serius. Ia melihat pola yang sama pada beberapa hari berikutnya. Vivienne selalu pergi setelah dirinya berangkat kerja. Dan hampir selalu pulang sebelum dirinya kembali.
Vivienne tidak pernah mengatakan apa-apa. Istrinya tidak pernah bercerita bahwa dirinya pergi.
Dominic menyandarkan kedua tangannya pada meja. "Kenapa dia tidak pernah bilang kalau pergi keluar?"
Pria itu menatap rekaman tersebut tanpa berkedip. Ada rasa tidak nyaman yang semakin besar di dadanya.
"Dia pergi ke mana?"
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Dominic akhirnya berdiri tegak. "Aku harus mencari tahu Vivi pergi ke mana."
Keesokan harinya, Dominic mengambil keputusan yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan dilakukan kepada istrinya sendiri. Ia menyewa seseorang untuk mengawasi Vivienne. Orang itu diminta mengikuti Vivienne dari kejauhan dan melaporkan semua kegiatannya.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡