Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.
Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.
Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Sebab-Akibat 10.000 Tahun
Gema dari hancurnya tubuh Tetua Agung Ao Tian masih melayang di udara, namun keheningan yang mencekik kini sepenuhnya menguasai rongga tenggorokan fosil naga purba itu.
Lima ratus elit Klan Pil Emas menahan napas. Senjata mereka terarah ke tanah. Semangat juang mereka telah dihancurkan oleh satu pukulan tangan kosong yang memusnahkan seorang Ascendant Tahap Menengah berfisik naga. Di dunia kultivasi, kekuatan adalah satu-satunya hukum yang dihormati.
Di atas tungku alkimia raksasanya, Patriark Yan Zun bergetar hebat. Wajah tuanya yang beberapa saat lalu dipenuhi arogansi dan Niat Membunuh, kini memucat seputih kertas. Api karma di tungkunya padam seketika.
Zeng Niu melangkah perlahan ke depan, jubah hitamnya bergesekan dengan udara yang dipenuhi bau anyir darah. Tulang Emas Asura-nya tidak memancarkan cahaya menyilaukan, namun setiap langkahnya membawa tekanan gravitasi yang membuat ruang itu sendiri merintih.
"Aku bertanya padamu, Pak Tua," suara Zeng Niu rendah dan menggema. "Cincinmu, atau nyawamu?"
Yan Zun menggertakkan giginya hingga berdarah. Ia adalah penguasa Klan Pil Emas! Selama ribuan tahun, klannya memonopoli perdagangan pil di Langit Selatan. Bahkan utusan keluarga kerajaan dan organisasi pembunuh bayaran harus tunduk pada koneksinya. Namun, di hadapan pemuda barbar ini, status ribuan tahun itu terasa seperti gelembung.
"Tunggu!" Yan Zun tiba-tiba mengangkat tangannya, suaranya parau. Ia tidak menyerang. Insting monster tuanya yang telah hidup lebih dari lima ribu tahun menjeritkan satu kebenaran: Jika dia menyerang, dia akan mati detik ini juga.
"Zeng Niu! Jika kau membunuhku sekarang, kau tidak akan pernah keluar dari alam rahasia ini hidup-hidup!" Yan Zun menelan ludah, mencoba mencari posisi tawar. "Kau pikir lempengan tembaga yang kau beli di pelelangan itu adalah peta harta karun? Kau pikir Istana Naga Primal ini adalah makam warisan?!"
Langkah Zeng Niu terhenti. Matanya menyipit.
Melihat reaksi Zeng Niu, Yan Zun buru-buru melanjutkan, memuntahkan rahasia yang selama ini hanya diketahui oleh petinggi faksi puncak.
"Di dunia kultivasi yang luas ini, tidak ada warisan yang turun dari langit tanpa harga," ucap Yan Zun dengan napas memburu. "Semakin tinggi kultivasi seseorang, semakin besar umur yang dipertaruhkan, semakin berat karma yang ditanggung, dan semakin banyak jaring sebab-akibat yang menjerat! Kau pikir Paviliun Harta Semesta, organisasi informasi terbesar di Tiga Benua, dengan bodohnya menjual kunci warisan ini begitu saja?"
Zhao Ying melangkah ke samping Zeng Niu, alisnya berkerut. "Lanjutkan bicaramu, Yan Zun. Jangan berbelit-belit."
Yan Zun tersenyum pahit, menatap ke arah langit-langit rongga naga yang memfosil.
"Dunia ini jauh lebih gelap dari yang kalian kira. Lempengan tembaga itu... benda yang selama ini dicari-cari oleh para pemburu harta, kultivator pengembara, hingga klan iblis laut... bukanlah kunci untuk membuka harta. Itu adalah Batu Penarik Takdir! Benda itu sengaja disebar untuk memancing para kultivator kuat masuk ke tempat ini."
Di dalam Lautan Kesadaran Zeng Niu, Lei Ling terdiam sejenak sebelum mengutuk keras. "Niu! Mungkinkah... bajingan tua ini benar! Rasakan aliran Qi di sekitar kita!"
Zeng Niu memejamkan matanya, memadatkan Niat Ketiadaannya ke seluruh penjuru dimensi naga purba.
Seketika, ia bisa "melihat" apa yang sebenarnya terjadi di seluruh alam rahasia ini.
Skala dunia ini begitu masif. Puluhan ribu kultivator dari berbagai latar belakang telah masuk. Di berbagai area fosil naga, pertumpahan darah sedang terjadi secara serentak.
Zeng Niu melihat konflik antar murid dari sekte yang sama saling tikam demi setangkai rumput roh berusia ribuan tahun. Ia melihat perebutan posisi tetua yang diselesaikan dengan pengkhianatan di tengah reruntuhan kuno. Klan iblis dari Laut Utara sedang berperang melawan pasukan utusan keluarga kerajaan Langit Selatan di area paru-paru naga. Organisasi pembunuh bayaran, kultivator asing dari benua lain, hingga keluarga kuno... semuanya sibuk membunuh, menjebak, dan berebut warisan.
Tidak ada yang benar-benar bekerja sama. Jebakan demi jebakan kuno dipicu. Monster penjaga dan jiwa leluhur yang tersisa merobek daging para penyusup.
Namun, ada satu hal yang janggal. Setiap tetes darah yang tumpah, setiap jiwa Nascent Soul yang hancur, tidak menguap atau meresap ke tanah begitu saja. Mereka ditarik oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, mengalir melalui pembuluh darah fosil menuju satu titik: Kepala Naga Primal!
Zeng Niu membuka matanya. Keringat dingin untuk pertama kalinya menetes dari pelipisnya.
"Seluruh makam naga ini... adalah sebuah Formasi Pengorbanan Darah raksasa," gumam Zeng Niu, nada suaranya berubah sangat serius. "Dan setiap kultivator yang masuk dan saling bunuh... sebenarnya sedang membantu mengaktifkannya."
Yan Zun mengangguk dengan wajah muram. "Benar! Makam ini dirancang lebih dari sepuluh ribu tahun yang lalu. Sejarah dunia kultivasi kita telah dimanipulasi! Leluhur keluarga kuno dan tokoh-tokoh arena hidup-mati tahu tentang hal ini, tapi mereka tetap mengirim utusan mereka demi secuil keuntungan, berharap bisa kabur sebelum formasi ini sepenuhnya bangkit."
"Dan siapa yang akan dibangkitkan oleh formasi ini?" tanya Zhao Ying, hawa dinginnya mulai tidak stabil.
Yan Zun menatap keduanya dengan pandangan penuh keputusasaan. "Kalian masih belum paham? Tidak ada warisan di sini. Orang yang membangun makam ini... Kaisar Naga Primal itu sendiri... masih hidup! Dia menggunakan tubuh raksasanya sendiri sebagai formasi untuk tidur selama jutaan tahun, menunggu darah ribuan ahli ranah Ascendant dan jutaan Nascent Soul untuk mematahkan Segel Surgawi yang menahan umurnya!"
Fakta itu jatuh seperti palu godam. Rencana yang luar biasa gila ini meruntuhkan seluruh asumsi para pemburu harta! Mereka mengira mereka datang untuk menjarah mayat dewa, namun ternyata, mereka adalah makanan yang berjalan sendiri ke dalam mulut dewa yang sedang kelaparan!
"Kau," Zeng Niu menunjuk Yan Zun, matanya berkilat dengan cahaya emas. "Kenapa kau memberitahuku semua ini? Kenapa kau tidak membiarkanku membunuhmu, yang justru akan menyumbang darah Ascendant Akhir untuk membangkitkannya?"
Yan Zun mendengus getir. "Karena aku tidak ingin mati menjadi pupuk bagi naga purba! Aku datang ke sini awalnya hanya untuk membalas dendam padamu. Tapi setelah melihat kekuatan fisikmu... kau menelan Sumsum Emas di Jantungnya, bukan? Itu berarti, kau baru saja mencuri sebagian dari fondasi kebangkitannya!"
Lei Ling kembali bersuara di benak Zeng Niu dengan nada panik. "Hukum Sebab-Akibat (Karma)! Niu, kau telah mengambil Sumsum Emasnya! Kau telah mengikat karma dengan Kaisar Naga Primal! Begitu dia terbangun, orang pertama yang akan dia cari untuk dikunyah adalah kau!"
Zeng Niu terdiam. Ia menatap tangannya yang memiliki Tulang Emas Asura. Benar saja, ia merasakan ada seutas benang tak kasat mata berwarna emas merah yang menghubungkan jantungnya ke arah Kepala Naga di ujung alam rahasia ini. Semakin tinggi kultivasi, semakin tidak bisa lari dari karma.
Melihat Zeng Niu terdiam, Yan Zun melihat peluang.
"Zeng Niu! Kita adalah musuh! Kau menghancurkan anakku, dan aku ingin membunuhmu! Tapi saat ini, kita memiliki musuh yang jauh lebih mengerikan," Yan Zun melemparkan sebuah cincin giok emas tua ke arah Zeng Niu. "Ini adalah separuh perbendaharaan Klan Pil Emas dan sebuah giok pelacak milik Istana Pusat. Jadikan aku sekutumu sementara. Jika kita tidak bekerja sama untuk menghancurkan inti formasi di Kepala Naga sebelum dia terbangun, kita semua akan mati di sini!"
Zeng Niu menangkap cincin itu. Niat asuranya memindai isinya: jutaan pil langka, artefak tingkat surga, dan sumber daya yang tak ternilai. Ini cukup untuk membiayai Sekte Angin Merah selama seribu tahun!
Di dunia fana, pahlawan akan membunuh musuh bebuyutannya. Tapi di dunia kultivasi, Zeng Niu adalah algojo yang pragmatis. Musuh hari ini bisa menjadi batu loncatan esok hari. Yan Zun bisa menjadi tameng yang sempurna, pengkhianat di masa depan, atau orang yang bisa ia korbankan untuk lari.
"Menarik," senyum kembali menghiasi wajah Zeng Niu. Ia membuang Niat Membunuhnya terhadap Yan Zun.
"Baiklah, Patriark Yan Zun. Aku menerima upeti-mu. Mulai detik ini, kita adalah sekutu... setidaknya sampai kita keluar dari makam sialan ini. Tapi ingat," Zeng Niu menatap lima ratus pasukan elit di belakang Yan Zun. "Jika ada salah satu dari anjingmu yang mencoba menusukku dari belakang, aku tidak akan membunuh kalian. Aku akan melumpuhkan seluruh kultivasi kalian dan membuang kalian langsung ke depan mulut Kaisar Naga itu."
Yan Zun menelan ludah, mengangguk kaku. Dendamnya harus ditunda. Di benaknya, ia sudah merancang rencana licik: ia akan membiarkan Zeng Niu bertarung melawan monster kuno itu di pusat formasi, dan ketika keduanya terluka parah, ia akan merampas Sumsum Emas dari mayat Zeng Niu dan melarikan diri!
Tentu saja, Zeng Niu tahu persis apa yang dipikirkan rubah tua itu. Mereka berdua adalah kultivator yang terbentuk oleh kekejaman dunia, saling memanfaatkan dalam senyum palsu.
"Ying'er," Zeng Niu menoleh pada Zhao Ying, menyelaraskan kembali fokusnya. "Kita tidak lagi mencari harta karun. Kita pergi ke Kepala Naga."
Zhao Ying mengerutkan kening. "Untuk menghancurkan formasinya?"
"Tidak," Zeng Niu tertawa pelan, tawa yang membuat Yan Zun dan lima ratus pasukannya merinding ngeri. "Jika orang yang membangun makam ini masih hidup... dan dia telah mengumpulkan kekayaan dari puluhan ribu kultivator yang mati di sini... bayangkan betapa penuhnya cincin penyimpanan yang ia kenakan."