NovelToon NovelToon
DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

DAO TERLARANG KAISAR SEGALA ELEMEN

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Abai Shaden

Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.

​Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.

​Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Amukan Sang Penghancur dan Segel Dewa yang Terbuka

Kabut ungu yang menyelimuti Puncak Langit Tertinggi bukan sekadar awan; itu adalah Napas Kematian Void yang mampu membusukkan daging dan mematikan saraf spiritual dalam sekejap. Di tengah kabut itu, Wang Tian berdiri tegak. Rambut peraknya berpendar terang, menciptakan lingkaran pelindung kecil yang menjaga Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora dari korosi energi dimensi lain.

Di depannya, Wang Shu tertawa kecil. Paman kandung Wang Tian itu memainkan rantai hitam yang melilit leher naga Long Wei. Setiap kali rantai itu ditarik, Long Wei meraung kesakitan, sisik emas hitamnya memercikkan darah yang langsung menguap menjadi asap hitam.

"Lihatlah dirimu, keponakanku sayang," Wang Shu melangkah maju, jubah emasnya yang compang-camping berkibar pelan. "Kau memiliki kekuatan penciptaan di tanganmu, namun kau menggunakannya untuk melindungi serangga-serangga lemah dan naga cacat ini. Wang Zen memang bodoh karena terobsesi dengan darah ibumu, tapi dia benar tentang satu hal: kau adalah ancaman bagi tatanan yang kami bangun selama ribuan tahun."

Wang Tian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat Dragon's Wrath. Bilah pedangnya yang retak akibat pertempuran di samudra utara kini mulai beregenerasi sendiri, menyerap energi primordial dari inti tubuh Wang Tian.

"Kau bicara tentang tatanan?" suara Wang Tian terdengar seperti es yang pecah. "Tatanan yang dibangun di atas pengkhianatan keluarga sendiri? Tatanan yang menyembah monster dari dimensi lain? Itu bukan tatanan, Wang Shu. Itu adalah perbudakan jiwa."

Pertempuran Dua Primordial: Cahaya vs Bayangan

Tanpa peringatan, Wang Tian melesat. Kecepatannya melampaui batas penglihatan manusia. Namun, Wang Shu bukan sekadar kultivator biasa. Ia adalah pemimpin Klan Bayangan Langit yang telah mempelajari cara membelah diri menjadi ribuan bayangan nyata.

CLANG!

Pedang Wang Tian tertahan oleh sebuah belati hitam yang muncul dari balik bayangan punggungnya sendiri. Wang Shu tidak bergerak dari tempatnya, namun bayangannya telah memanjang dan membentuk entitas fisik yang menyerang Wang Tian dari segala arah.

"Teknik Bayangan Langit: Seribu Rebah!"

Ribuan bayangan Wang Shu menyerang secara simultan. Setiap tebasan bayangan tersebut membawa efek korosif Void. Wang Tian terdesak mundur, jubah hitamnya mulai robek oleh sayatan-sayatan gelap.

"Xuelan, Sui Ren, Mora! Jangan bantu aku!" teriak Wang Tian saat melihat istri-istrinya hendak maju. "Fokuslah pada rantai itu! Bebaskan Long Wei atau gunung ini akan runtuh karena amukannya!"

Mora memahami instruksi itu dalam sekejap. Ia menggunakan Langkah Bayangan Kematian untuk menyelinap di antara bayangan-bayangan Wang Shu, menuju titik tumpu rantai tersebut. Lin Xuelan dan Sui Ren memberikan perlindungan dari jauh, menciptakan badai es dan angin untuk mengalihkan perhatian para prajurit bertopeng perak yang menjaga Long Wei.

Ledakan Kehampaan: Amukan Wang Tian

Wang Tian menyadari bahwa ia tidak bisa mengalahkan bayangan dengan teknik pedang biasa. Ia harus menghancurkan sumber cahaya yang menciptakan bayangan itu—atau dalam hal ini, menghancurkan realitas di sekitarnya.

"Hukum Primordial: Kehampaan Mutlak!"

Wang Tian menancapkan pedangnya ke tanah. Seketika, area dalam radius seratus meter di sekelilingnya menjadi vakum total. Tidak ada udara, tidak ada cahaya, bahkan tidak ada gravitasi. Semua bayangan Wang Shu yang bergantung pada cahaya dan medium ruang mendadak lenyap.

Wang Shu terbatuk darah, tubuh aslinya terseret paksa keluar dari persembunyian dimensi. "Kau... kau berani menghancurkan ruang di gunung suci ini?!"

"Gunung ini sudah tidak suci sejak kau menginjakkan kakinya di sini," balas Wang Tian.

Ia muncul tepat di depan Wang Shu, tangannya yang dilapisi Logam Primordial mencengkeram wajah pamannya. Dengan kekuatan yang sanggup meremukkan gunung, Wang Tian menghantamkan kepala Wang Shu ke lantai marmer yang membeku.

BUMMM!

Seluruh Puncak Langit bergetar. Getaran itu merambat hingga ke dasar laut utara, memicu gempa bawah laut yang dahsyat. Namun, Wang Shu belum kalah. Tubuhnya mencair menjadi cairan hitam Void dan muncul kembali sepuluh meter di belakang.

"Cukup bermain-mainnya!" Wang Shu mengangkat tangannya ke langit. "Void, berikan aku kekuatan untuk menelan bintang ini!"

Pusaran di langit, Gerbang Kesunyian Abadi, merespons. Sebuah pilar energi ungu gelap menyambar turun, masuk langsung ke tubuh Wang Shu. Otot-ototnya membesar secara tidak wajar, kulitnya pecah dan mengeluarkan tentakel-tentakel hitam. Ia kini bukan lagi manusia; ia telah menjadi Avatar Void.

Pembebasan Sang Naga

Di sisi lain medan tempur, Mora berhasil mencapai mekanisme pengunci rantai. Dengan satu tebasan sabit yang dilapisi Hukum Takdir, ia memotong koneksi spiritual antara rantai itu dan energi Void.

"Long Wei, bangun!" teriak Mora.

Mata Long Wei yang tadinya merah karena pengaruh Void mendadak kembali menjadi emas hitam yang jernih. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di lehernya, namun rasa marah di jiwanya jauh lebih besar.

ROOOOOAAAAAARRRRRR!

Long Wei melepaskan wujud manusianya sepenuhnya. Tubuh naganya yang kini sepanjang tiga ratus meter meledak keluar dari ikatan. Dengan satu ayunan ekor, ia menyapu seluruh armada kapal perang bayangan yang melayang di dekat puncak.

"Kakak! Biarkan aku menangani kroco-kroco ini! Habisi pengkhianat itu!" raung Long Wei dari langit, suaranya seperti guntur yang membelah kabut.

Gudang Senjata Dewa: Pembukaan Segel

Wang Tian menatap pamannya yang kini telah berubah menjadi monster raksasa. Ia tahu, dengan kekuatannya saat ini di Ranah Spirit Severing, ia tidak bisa mengalahkan Avatar Void yang didukung langsung oleh dimensi asalnya. Ia butuh sesuatu yang lebih kuat. Ia butuh Kunci Gerbang Primordial yang ia ambil dari dasar laut.

"Ibuku bilang... kunci ini untuk membuka Gudang Senjata Dewa," bisik Wang Tian.

Ia melihat ke arah lantai aula utama. Di sana terdapat lambang bintang sembilan yang identik dengan altar di dasar laut. Tanpa ragu, Wang Tian menusukkan Kunci berbentuk keris itu ke pusat bintang di lantai marmer tersebut.

KREEEEEEK...

Seluruh gunung Puncak Langit Tertinggi terbelah menjadi dua bagian yang sangat rapi. Dari kedalaman perut gunung, muncul sebuah cahaya putih murni yang begitu terang hingga kabut ungu Void lenyap seketika. Sebuah menara kuno yang terbuat dari emas putih dan kristal waktu perlahan naik ke permukaan.

Inilah Gudang Senjata Dewa: Arsenal Primordial.

Di dalamnya tersimpan ribuan senjata yang pernah digunakan oleh para Kaisar Langit sebelum Perang Dewa sepuluh ribu tahun lalu. Namun, Wang Tian tidak tertarik pada pedang atau tombak biasa. Matanya tertuju pada sebuah busur tanpa tali yang melayang di tengah ruangan.

"Busur Penghancur Bintang: Sirius," suara Lin Xia terdengar bergetar. "Legenda mengatakan busur itu tidak membutuhkan anak panah, melainkan menggunakan jiwa penggunanya sebagai amunisi."

Eksekusi Bayangan

Wang Shu, dalam wujud monsternya, merasa terancam. Ia melompat ke arah Wang Tian, ribuan tentakelnya siap mencabik-cabik pemuda itu.

Wang Tian meraih busur Sirius. Saat tangannya menyentuh busur itu, ia merasa jiwanya ditarik dengan kecepatan yang mengerikan. Seluruh memori tentang ibunya, tentang penderitaannya di sekte, tentang cintanya pada istri-istrinya, seolah-olah dipadatkan menjadi satu titik cahaya.

Ia menarik tali busur imajiner tersebut. Sebuah anak panah cahaya abu-abu terbentuk.

"Untuk ibu," bisik Wang Tian.

SWUUUUSSSHHHH!

Anak panah itu melesat. Tidak ada ledakan besar. Hanya sebuah garis cahaya tipis yang menembus jantung Avatar Void Wang Shu. Seketika, gerakan monster itu berhenti. Cairan hitam yang membentuk tubuhnya mulai menguap menjadi cahaya putih.

"Tidak... ini tidak mungkin... Kehampaan tidak bisa dikalahkan..." rintih Wang Shu saat wajah manusianya muncul sesaat di tengah tubuh monster yang sedang hancur.

"Kehampaan tidak dikalahkan oleh cahaya," ucap Wang Tian, berdiri tegak meskipun tubuhnya bergetar karena kelelahan. "Kehampaan dikalahkan oleh keberadaan yang memiliki tujuan. Dan kau... kau tidak memiliki apa pun."

Wang Shu lenyap sepenuhnya. Tidak ada abu, tidak ada debu. Pengkhianat terbesar dalam keluarga Wang itu telah dihapus dari siklus reinkarnasi selamanya.

Konsolidasi Kekuatan: Persiapan Perang Akhir

Setelah kematian Wang Shu, pasukan Klan Bayangan Langit yang tersisa segera melarikan diri ke dalam kegelapan. Namun, kemenangan ini harus dibayar mahal. Puncak Langit Tertinggi kini terbelah, dan Long Wei terluka parah di sekujur tubuhnya. Wang Tian sendiri merasa basis kultivasinya menjadi sangat tidak stabil karena penggunaan busur Sirius.

"Kita tidak punya banyak waktu," ucap Wang Tian sambil bersandar pada pedangnya. "Wang Shu hanyalah pion. Gerbang di atas sana... ia masih terbuka. Dan aku bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih besar sedang menatap kita dari sisi lain."

Ia memanggil para penatua klan yang masih hidup dan selamat dari pertempuran tersebut.

"Ambil senjata-senjata dari Arsenal Primordial ini," perintah Wang Tian. "Bagikan kepada setiap murid yang memiliki hati yang murni. Kita akan membangun formasi pertahanan terakhir di sekeliling Benua Tengah. Kita tidak akan menunggu mereka datang; kita akan menjemput mereka di gerbang."

Lin Xuelan mendekati Wang Tian, mengobati lukanya dengan air penyembuhan primordial. "Kau sudah melakukan cukup untuk hari ini, Tian-er. Istirahatlah."

"Tidak ada istirahat bagi mereka yang memikul beban dunia, Xuelan," jawab Wang Tian, menatap ke arah Gerbang Kesunyian Abadi yang kini mulai mengeluarkan petir merah. "Tapi ada satu hal yang harus kulakukan sebelum perang akhir dimulai."

Wang Tian menoleh ke arah Long Wei yang sudah kembali ke bentuk manusia, meski berjalan tertatih. "Saudaraku, kau bilang kau tahu cara menuju Dunia Naga Tersembunyi? Kita butuh bantuan dari sisa-sisa rasmu jika kita ingin menutup gerbang itu selamanya."

Long Wei mengangguk mantap. "Aku akan membawamu ke sana, Kakak. Tapi bersiaplah... para tetua naga tidak menyukai manusia, bahkan manusia primordial sekalipun."

Malam Terakhir Kedamaian

Malam itu, di antara reruntuhan istana dan gunung yang terbelah, Wang Tian duduk bersama ketiga istrinya dan Long Wei. Mereka menikmati arak terakhir di bawah langit yang retak. Tidak ada pembicaraan tentang perang, tidak ada pembicaraan tentang klan. Mereka hanya saling berbagi kehangatan di tengah dunia yang semakin dingin.

Wang Tian menatap satu per satu wajah orang-orang yang dicintainya. Ia tahu bahwa beberapa dari mereka mungkin tidak akan selamat dari perang yang akan datang. Namun, di dalam hatinya, ia merasa tenang. Ia bukan lagi pelayan perpustakaan yang kesepian. Ia adalah seorang pria yang memiliki sesuatu untuk diperjuangkan.

"Jika aku harus menjadi debu untuk memastikan kalian tetap hidup," batin Wang Tian, "maka aku akan menjadi debu yang paling bahagia di alam semesta ini."

Di kejauhan, dari dalam Gerbang Kesunyian, sebuah terompet purba ditiupkan. Suaranya menandakan bahwa The High Sovereigns of Void (Para Penguasa Tinggi Void) telah memulai perjalanan mereka menuju Benua Tengah. Perang antara penciptaan dan kehampaan telah mencapai babak finalnya.

Statistik Bab 27:

Karakter: Wang Tian, Long Wei (Selamat), Lin Xuelan, Sui Ren, Mora, Wang Shu (Tewas), Lin Xia.

Pencapaian: Membunuh Wang Shu, Membuka Arsenal Primordial, Menguasai Busur Sirius.

Status Kultivasi: Wang Tian (Mencapai batas Ranah Spirit Severing, butuh terobosan ke Dao Seeking).

Lokasi: Puncak Langit Tertinggi (Telah Terbelah).

Konsekuensi: Akses ke senjata-senjata dewa terbuka; rencana perjalanan ke Dunia Naga dimulai.

Bab 28 akan menceritakan perjalanan Wang Tian ke Dunia Naga dan upayanya meyakinkan Dewa Naga Kuno untuk bergabung dalam perang akhir.

Kita lanjut bro,,?

1
septian arista
ke mana lin sia?
septian arista
cerita pertemuannya dengan naga kok berbeda sama bab yang sebelumnya
Abai Shaden: author lagi pusing,,maaf ya,,,
kurang ngopi
total 2 replies
septian arista
Baru kali ini ada cultivator yang melakukan terobosan di penginapan yang dan menghancurkan penginapan itu karena terobosannya
septian arista
selalu saja ada tuan muda sebuah klan yang bersikap arogan dan sangat angkuh
Abai Shaden
terimakasih masukkan nya
Abai Shaden
nanti di season II nya,,,
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah
Joe Maggot Curvanord
terlalu cepat op thor ga ada ber darah2nya
Abai Shaden: kita bikin berdarah nanti di NEW SAGA WARISAN PRIMORDIAL
total 1 replies
Nanik S
Mantap
Nanik S
ikut Tes Lagi
septian arista: cepat banget kenaikan kultivasinya
total 1 replies
Nanik S
Sama sama bermarga Lin
Nanik S
Pertemuan awal
Nanik S
Oky Lanjut
Nanik S
Awal yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!