Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Tamu yang Tak Terlihat
Truk proyek itu berhenti di halaman belakang rumah mewah keluarga Wijaya. Rumah itu masih tampak megah, namun Arjuna bisa merasakan hawa dingin yang tidak wajar menyelimuti atapnya. Ada aura hitam pekat—kiriman dukun saingan bisnis ayahnya—yang sedang mengincar nyawa penghuni rumah itu.
.
"Ayo turun! Jangan lelet!" bentak mandor proyek suruhan Guntur. "Kamu, Gembel! Panggul semen-semen ini ke gudang belakang. Jangan sekali-kali berani masuk ke rumah utama, paham?"
.
Arjuna hanya mengangguk pelan. "Nggih, Pak. (Iya, Pak.)"
.
Arjuna mulai memanggul karung semen seberat 50 kg di pundaknya. Setiap langkahnya yang berat di atas tanah rumah itu, ia barengi dengan Zikir Sirri. Tanpa ada yang tahu, setiap jejak kaki Arjuna meninggalkan bekas cahaya yang mulai memicu peperangan gaib dengan jin-jin penjaga kiriman dukun tersebut.
.
Kyai Loreng sudah melompat ke atas atap rumah, menggeram rendah. Harimau putih itu melihat ada sosok genderuwo bermata merah yang sedang duduk di atas kamar Pak Wijaya.
.
"Sabar, Kyai... urung wektune (Sabar, Kyai... belum waktunya,)" batin Arjuna menenangkan khodamnya.
.
Di balkon lantai dua, Bunda Siti—ibu kandung Arjuna—sedang duduk melamun. Wajahnya pucat dan tubuhnya makin kurus karena rindu pada putra sulungnya. Ia melihat ke arah halaman belakang, menatap sosok kuli bersarung hijau yang sedang kepayahan memanggul semen.
.
"Guntur, siapa orang itu? Kenapa dia pakai sarung hijau?" tanya Bunda Siti dengan suara lemah saat Guntur menghampirinya.
.
Guntur tertawa remeh sambil menyesap kopinya. "Oalah, Bun. Itu cuma kuli gelandangan yang saya ambil dari penjara. Dia bodoh, tapi tenaganya lumayan. Jangan dilihat, nanti Bunda malah mual."
.
Hati Bunda Siti tiba-tiba berdesir hebat. Ia merasa ada ikatan batin yang sangat kuat dengan kuli itu. "Tapi Guntur... punggungnya... mirip sekali dengan kakakmu, Juna..."
.
"Halah! Bunda ini mimpi terus!" bentak Guntur kasar. "Si Juna itu paling sekarang sudah mati kelaparan di jalanan. Mana mungkin dia jadi kuli dekil begitu. Juna itu sombong, dia tidak akan mau kerja kasar begini!"
.
Arjuna mendengar percakapan itu dari bawah. Hatinya perih, bukan karena hinaan Guntur, tapi karena melihat ibunya yang semakin menderita. Ia merogoh tas kusamnya, mengambil selembar Lontar Gaib, dan mengukir doa Syafa (kesembuhan).
.
Malam harinya, saat semua pekerja sudah tidur di bedeng kayu yang sempit, Arjuna keluar. Ia berjalan tanpa alas kaki menuju tembok rumah utama. Di sana, ia menanamkan daun lontar itu di pojok pondasi rumah.
.
Tiba-tiba, petir menyambar di langit yang cerah! Duar!
.
Sosok genderuwo di atas atap menjerit kesakitan karena terkena pancaran zikir Arjuna. Jin kiriman itu terpental jauh. Di sebuah rumah gelap di pinggiran kota, seorang dukun sewaan saingan Pak Wijaya mendadak muntah darah dan matanya buta seketika. "S-siapa... siapa orang suci di rumah Wijaya?!" teriak dukun itu ketakutan.
.
Arjuna kembali ke bedengnya dengan tenang. Namun, saat ia berbalik, ia melihat Bunda Siti sedang berdiri di pintu dapur belakang, memegang lampu senter.
.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Bunda Siti dengan suara gemetar. Senter itu diarahkan tepat ke wajah Arjuna yang penuh debu dan keringat.
.
Arjuna terdiam. Ia ingin memeluk ibunya, tapi ia teringat laku Malamatiyah-nya. Ia harus tetap menjadi orang asing agar kesombongan keluarganya benar-benar hancur oleh takdir.
.
Arjuna sengaja merendahkan suaranya dan bersikap seperti orang idiot. "Nyuwun sewu, Ndoro... kulo namung pados sisa sekul. (Mohon maaf, Nyonya... saya cuma cari sisa nasi.)"
.
Bunda Siti tertegun. Suara itu tidak mirip Juna, tapi tatapan mata di balik debu itu... begitu teduh. Bunda Siti memberikan sebungkus nasi miliknya. "Makanlah, Nak. Besok jangan kerja terlalu berat ya."
.
Arjuna menerima nasi itu dengan tangan gemetar. Saat Bunda Siti berbalik masuk, Arjuna mencium bekas telapak kaki ibunya di lantai tanah.
.
"Sabar nggih, Bunda... Juna dereng saged ngetokke jati diri. (Sabar ya, Bunda... Juna belum bisa menunjukkan jati diri.)"
.
Keesokan harinya, Pak Wijaya bangun dengan tubuh yang sangat segar. Penyakit jantungnya yang biasanya kumat di pagi hari tiba-tiba hilang total. Ia tidak tahu, bahwa "sampah" yang ia buang dulu, sekarang sedang menjaganya dari balik tumpukan karung semen.
Pagi itu, suasana di rumah mewah Keluarga Wijaya mendadak geger. Ki Samber Nyowo, dukun sakti kepercayaan saingan bisnis Pak Wijaya, dikabarkan tewas mengenaskan dengan tubuh hangus. Hal ini membuat Guntur panik karena ia diam-diam juga memakai jasa dukun itu untuk "mengamankan" hartanya agar tidak jatuh ke tangan kerabat lain.
.
"Sial! Kenapa semua jimat di rumah ini mendadak pecah?!" teriak Guntur di ruang tengah. Ia melihat guci antik tempat ia menyimpan keris penglaris retak seribu.
.
Guntur melangkah keluar dengan emosi meluap. Ia melihat Arjuna sedang memindahkan tumpukan batu bata di bawah terik matahari. Keringat membanjiri tubuh Arjuna, membuat sarung hijaunya lengket dan kotor.
.
"Heh, Gembel! Kemari kamu!" bentak Guntur. Ia menarik kerah kaos oblong Arjuna hingga hampir tercekik.
.
Arjuna hanya diam, tatapannya kosong ke bawah. "Nggih, Den. Wonten menopo? (Iya, Tuan. Ada apa?)"
.
"Kamu tadi malam keluyuran di belakang rumah, kan? Saya lihat di CCTV kamu menanam sesuatu di pojok pondasi!" Guntur menampar wajah Arjuna dengan keras. Plak!
.
Sudut bibir Arjuna pecah, darah segar mengalir. Namun, Arjuna tidak meringis sedikit pun. Di dunia gaib, Kyai Loreng sudah berdiri tepat di belakang Guntur, cakarnya yang sebesar parang sudah menempel di leher Guntur. Satu gerakan saja, kepala Guntur bisa lepas.
.
"Sabar, Kyai... iki dudu wayahe mateni menungso. (Sabar, Kyai... ini bukan waktunya membunuh manusia,)" batin Arjuna menenangkan khodamnya yang mengamuk.
.
"Saya tanya jawab! Kamu menanam santet, ya?! Kamu mau mencuri harta keluarga kami?!" Guntur menendang perut Arjuna hingga Arjuna tersungkur di atas tumpukan batu bata.
.
Arjuna merangkak bangun, ia tidak melawan. "Kulo mboten nanam menopo-nopo, Den. Namung ngresiki sampah. (Saya tidak menanam apa-apa, Tuan. Cuma membersihkan sampah.)"
.
"Alah, bohong! Mandor, seret dia ke gudang! Jangan kasih makan tiga hari!" perintah Guntur dengan kejam.
.
Saat Arjuna diseret, Pak Wijaya keluar dari pintu utama. Ia melihat kuli itu disiksa, tapi anehnya, Pak Wijaya merasa dadanya yang biasanya sesak mendadak plong setiap kali melihat kuli bersarung hijau itu.
.
"Guntur, sudah! Jangan main hakim sendiri," tegur Pak Wijaya. "Biarkan dia kerja lagi. Papa merasa rumah ini lebih adem sejak ada kuli-kuli ini."
.
Guntur mendengus kesal. "Papa terlalu baik! Gembel kayak dia itu cuma parasit!"
.
Arjuna kembali memanggul batu bata. Di sela-sela rasa sakit di perutnya, ia terus menggetarkan Zikir Sirri. Tanpa disadari Guntur, setiap pukulan dan tendangan yang mendarat di tubuh Arjuna, justru memindahkan "sial" dan "bala" dari tubuh Pak Wijaya ke tubuh Arjuna. Inilah rahasia ilmu Malamatiyah.
.
Sore harinya, Arjuna duduk di pojok bedeng. Ia mengambil selembar Lontar Gaib dan mengukir nama "Siti" dan "Wijaya". Ia ingin memastikan kedua orang tuanya selamat dari serangan balik dukun-dukun hitam yang mulai berdatangan karena merasa tertantang oleh "pagar gaib" rumah itu.
.
Tiba-tiba, seorang kuli lain mendekat. Namanya Slamet, pria paruh baya yang paling kasihan pada Arjuna. "Le, iki ono sisa sega kucing. Panganan, ben kowe mboten mati. (Nak, ini ada sisa nasi kucing. Makanlah, supaya kamu tidak mati.)"
.
Arjuna menerima nasi itu. "Matur nuwun, Pak Slamet. Mugo-mugo rejeki sampeyan jembar. (Terima kasih, Pak Slamet. Semoga rezeki Anda luas.)"
.
"Le... kowe niku sejatine sopo? (Nak... kamu itu sebenarnya siapa?)" tanya Pak Slamet berbisik. "Aku wingi weruh, pas kowe disiksa Mas Guntur, mburimu ono cahya putih raseksa. (Aku kemarin melihat, saat kamu disiksa Mas Guntur, di belakangmu ada cahaya putih raksasa.)"
.
Arjuna hanya tersenyum tipis, menaruh telunjuk di bibirnya. "Kulo namung debu, Pak. (Saya hanya debu, Pak.)"
.
Malam itu, serangan besar datang. Langit di atas rumah Wijaya berubah menjadi merah darah. Puluhan banaspati (bola api gaib) meluncur menuju atap kamar Pak Wijaya. Arjuna bangkit dari tempat tidurnya, ia melepas ikat kepalanya, dan bersiap melakukan perlawanan gaib yang sesungguhnya.
Malam jumat kliwon itu, langit di atas rumah mewah keluarga Wijaya mendadak pekat seolah tertutup tirai hitam. Suara burung gagak bersahut-sahutan di atas pohon beringin depan gerbang. Puluhan bola api gaib (Banaspati) meluncur deras dari arah hutan, mengincar nyawa Pak Wijaya yang sedang tertidur lelap.
.
Arjuna bangkit dari dipan bambunya di bedeng kuli. Ia melepas kaos kusamnya, menyisakan sarung hijau yang diikat kuat di pinggang. Dadanya yang bidang bergetar, selaras dengan detak bumi.
.
"Kyai... jaga pintu depan. Jangan biarkan satu pun setan masuk ke kamar Bunda," perintah Arjuna lewat batin.
.
Kyai Loreng mengaum tanpa suara, namun getarannya membuat kaca-kaca rumah mewah itu bergetar hebat. Harimau putih itu melompat ke udara, menerkam bola-bola api yang meluncur. Setiap terkaman Kyai Loreng menghancurkan serangan dukun-dukun hitam di kejauhan.
.
Di dalam kamar, Pak Wijaya terbangun dengan keringat dingin. Ia merasa dadanya sesak luar biasa, seolah ada tangan raksasa yang meremas jantungnya. "Siti... tolong... sesak..." rintihnya.
.
Bunda Siti panik. Ia mencoba mencari obat, namun pintu kamar mendadak terkunci secara gaib. Di luar jendela, wajah-wajah menyeramkan mulai mengintip. "Mati kalian! Keluarga Wijaya harus hancur!" bisik suara-suara parau dari alam lain.
.
Di halaman belakang, Arjuna duduk bersila di atas tanah. Ia mengambil tujuh lembar Lontar Gaib sekaligus. Tangannya bergerak secepat kilat, mengukir ayat-ayat pembakar jin di atas daun tersebut.
.
"Gusti... kulo nyuwun pepadhang kagem griya niki! (Tuhan... saya minta cahaya buat rumah ini!)" teriak Arjuna dalam hati.
.
Seketika, dari tubuh Arjuna terpancar cahaya keemasan yang membubung tinggi ke langit. Cahaya itu membentuk kubah raksasa yang menyelimuti seluruh area rumah Wijaya. Ledakan-ledakan gaib terdengar di udara saat serangan dukun-dukun itu menghantam perisai zikir Arjuna.
.
DUARRRR!
.
Di sebuah gubuk tua di pinggiran kota, tujuh orang dukun bayaran serentak terpental dan muntah darah segar. Keris-keris mereka patah, dan cermin-cermin mistis mereka pecah berkeping-keping. "Ampun! Ada Wali yang menjaga rumah itu!" teriak mereka ketakutan sebelum akhirnya pingsan.
.
Begitu serangan reda, Arjuna segera berdiri. Ia merasa tubuhnya sangat lemas karena seluruh energinya terkuras. Ia batuk kecil, ada sedikit darah yang keluar, tanda ia baru saja memenangkan perang batin yang dahsyat.
.
Tiba-tiba, Guntur keluar dari rumah dengan membawa pistol angin, wajahnya pucat pasi. Ia melihat Arjuna berdiri di tengah halaman belakang yang masih berasap tipis.
.
"Heh, Gembel! Kamu ngapain di sini malam-malam?!" bentak Guntur, suaranya gemetar menahan takut. "Tadi ada suara ledakan! Kamu pasti sabotase proyek saya, ya?!"
.
Arjuna segera menunduk, kembali berpura-pura bodoh. "Mboten, Den. Wonten kucing berantem neng atap, kulo namung mriksa. (Tidak, Tuan. Ada kucing berantem di atap, saya cuma periksa.)"
.
"Halah! Kucing kok suaranya kayak bom! Pergi sana ke bedeng! Besok kalau ada yang rusak, kamu saya penjarakan lagi!" ancam Guntur tanpa tahu kalau nyawanya baru saja diselamatkan oleh kakaknya.
.
Arjuna berjalan perlahan menuju bedengnya. Namun, di balik jendela lantai dua, Bunda Siti berdiri membeku. Ia melihat dengan jelas bagaimana tadi tubuh kuli itu bercahaya terang sebelum cahaya itu menghilang.
.
"Juna... itu pasti kamu, Nak..." bisik Bunda Siti dengan air mata mengalir. Ia mengenali cara berdiri kuli itu, cara ia menunduk, dan aroma melati yang tertinggal di udara.
.
Malam itu, rumah Wijaya kembali tenang. Pak Wijaya tidur dengan sangat nyenyak tanpa sesak napas sedikit pun. Arjuna duduk di pojok bedeng, memutar tasbihnya kembali.
.
"Tugas kulo neng mriki sampun meh rampung, Kyai... (Tugas saya di sini sudah hampir selesai, Kyai...)" bisik Arjuna. "Sesok, kulo kudu lunga sakdurunge Bunda ngerti sopo kulo sejatine. (Besok, saya harus pergi sebelum Bunda tahu siapa saya sebenarnya.)"
.
Arjuna bersiap meninggalkan rumah itu besok pagi. Namun, takdir berkata lain. Pak Wijaya akan mengumpulkan semua kuli besok pagi untuk memberikan "bonus", dan di sanalah identitas Arjuna akan benar-benar dipertaruhkan.