Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 – Naya
Bab 25 – Naya
Sore itu mendung terlihat bergelayut di langit Jakarta. Dengan baju seperti pergi ke mall, atasan blouse putih, celana bahan coklat, dan kerudung salem, aku berdiri di depan pintu kafe. Aku bisa merasakan Risa dan Bayu yang ada di dalam kafe memperhatikan dari dalam.
Pintu kafe terbuka, kepala Risa menongol keluar dari dalam, “Nunggu di dalam aja, mau ujan?”
“Nggak. Udah deket, kok,” kataku sambil menunjukkan share location yang diberikan Bima di WA ku.
“Oh, oke,” kata Risa lalu masuk ke dalam kafe.
Tak lama kemudian, sebuah mobil BMW putih dengan plat nomor B 3122 NAY berhenti di hadapanku.
Mobil siapa sih, nggak tahu diri, malah parkir di depan pintu masuk! Kataku dalam hati dengan kesal.
Tiba-tiba jendela mobil itu terbuka. Bima yang sedang menyetir, tersenyum lebar, “Ayo, masuk!”
Aku bengong, melihat mobil dan Bima.
“Ayo, mau ujan nih!” Bima teriak lagi.
Aku bergegas membuka pintu mobil yang tampak baru itu, lalu masuk ke dalamnya. Jendela perlahan tertutup. Aku bisa melihat Risa dan Bayu memperhatikan kami.
Bima menjalankan mobilnya keluar dari kafe. Di tengah dashboard ada layar GPS. Tampak mengarah ke sebuah kafe di sekitar Senopati. Senopati adalah daerah di mana restoran mahal banyak ada di sana. Aku sering lewat daerah itu, tapi tidak pernah berani untuk mencoba masuk ke restoran yang ada di sana. Selain takut karena harganya mahal, aku takut nggak bisa memesan. Yang ada nanti malah malu-maluin.
“Kok diem,” kata Bima memecah keheningan di tengah kemacetan Jakarta.
“Ini mobil siapa?” tanyaku. Setahu aku, mobil sedan yang biasa Bima pakai waktu itu, adalah mobilnya Sekar, adik sepupunya.
“Kita!” kata Bima dengan bangga.
“Kita?” tanyaku heran.
“Yah aku sih. Atas nama aku. Tadinya mau atas nama kamu, tapi kita kan belum nikah. Jadi nggak bisa pake atas nama kamu.”
“Tapi, ngapain kamu beli mobil baru?”
“Kan biar bisa anter jemput kamu. Biar gampang ke rumah kamu. Aku bakalan sering bolak balik rumah kamu. Kita belum ngurus gedung dan yang lainnya. Menurut kamu…,”
Naya menyela, “Tunggu!”
“Ya?”
“Kamu beli mobil ini?”
“Iya.”
“BMW banget?”
“Oh, maunya apa? Lexus? Mercy? Apa kamu maunya mobil listrik?” Bima bertanya seperti memang ingin tahu saja.
“Astaga…,” aku menahan diri untuk tidak menyebut namanya begitu saja.
“Kenapa? Nggak suka ya?” Bima menoleh ke arahku lalu melihat ke arah jalanan.
Aku terdiam.
“Aku salah ya?”
“Nggak sih. Emang sih uang kamu banyak. Tapi nggak perlu sampai beli yang semewah ini juga, kan?”
Bima terdiam.
Aku jadi merasa bersalah telah membuatnya bersalah.
Selama beberapa waktu, kami berdua terdiam. Tidak ada lagu atau radio yang diputar di mobil. Hanya terdengar suara keramaian lalu lintas. Klakson. Bima menyetir dengan tenang, tidak marah, tidak membunyikan klakson. Sabar dan teratur. Aku agak sedikit kagum padanya. Sampai akhirnya tiba di depan kafe.
“Mas?” aku menoleh ke arahnya.
“Ya?”
“Kita makan di sini?” Aku kaget melihat restoran fine dining yang terletak di Senopati.
“Iya, kenapa?”
“Bukannya harus reservasi jauh-jauh hari?” tanyaku heran. Aku tahu kalau mau makan di sini harus reservasi dulu.
“Iya. Udah. Aku kenal sama chefnya,” jawab Bima membuka sabuk pengaman.
“Chef yang menang penghargaan chef terbaik di acara kuliner award internasional?”
“Betul! Chef Agus!” teriak Bima senang. “Kamu tahu ternyata?”
“Ya, aku tahu karena aku memang harus update pengetahuan kuliner. Kadang ada klien yang minta katering dari chef mahal.”
“Oh gitu. Apa katering kita nanti sama chef Agus aja, ya?” tanya Bima menatapku.
“Nggak!”
Bima terdiam, mendengar aku teriak.
“Sori,” kataku pelan. “Kita pakai katering biasa aja ya, Mas?”
Bima mencibir, lalu membuka pintu, “Oke. Ayo turun. Aku udah laper.”
Hujan turun deras begitu aku dan Bima masuk ke dalam restoran. Bima yang memakai baju kemeja dan celana bahan biasa, tampak sangat seperti terlihat memakai baju mewah. Jadi terlihat seperti anak orang kaya. Sementara aku, sudah effort pakai baju sebaik mungkin, malah jadi kayak mbak-mbak corporate.
Sial! Kataku dalam hati. Kenapa Bima nggak bilang sih, mau makan di tempat kaya gini. Suasana remang-remang. Meja dan kursi mahal. Lampu kristal!
Pelayan memberikan menu yang cuma terdiri dari dua lembar kertas. Kertas pertama paket menu set A. Kertas kedua paket menu set B. Setiap set sudah lengkap dari mulai appetizer sampai dessert.
Sial dua kali! Kataku dalam hati. Semoga aku nggak salah cara makannya.
“Mau set A atau B?” tanya Bima.
Aku menutup menu sambil berkata, “Apa aja, asal halal.”
Bima terkekeh, “Tenang di sini halal semua kok. Set A, mbak.”
Pelayan pergi.
Aku melihat ke sekeliling. Hanya ada sekitar 10 meja dan baru terisi dua meja.
“Aku kira bakal makan malam di tempat biasa,” kataku sambil berusaha membuka sarung tangan dan menyimpannya di pangkuanku, mengikut apa yang Bima lakukan.
“Ini tempat biasa,” kata Bima.
Aku memutar bola mataku, “Untuk kamu. Bukan untuk aku.”
“Oh. Jadi? Kamu nggak suka?” Bima tampak khawatir.
Baru kali ini aku berhadapan dengan Bima tanpa ada kupu-kupu di perutku. Apakah ini sesuatu yang baik, atau tidak, aku tidak tahu.
“Bukan suka atau nggak suka. Harusnya kamu tanya dulu, aku mau apa nggak di sini?”
“Jadi kamu nggak mau di sini?” tanya Bima lagi.
“Kok kamu ngeselin sih!” kataku bete.
Bima menghela napas, “Jadi harusnya aku gimana?”
Aku terdiam. Aku salah terlalu memojokkannya. Padahal dia sudah berusaha membuatku senang malam ini.
“Besok kita makan malam di tempat aku biasa makan, gimana?”
“Oke.”
Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan minuman dan appetizer. Aku makan sesuai petunjuk Bima. Ketika main course, chef Agus datang ke meja kami. Aku hanya bisa tersenyum memperhatikan Bima berinteraksi dengan temannya itu.
Bima bicara dengan sangat sopan dan benar-benar menujukkan apresiasi atas makanan yang dibuat oleh chef.
“Gimana makanannya?” tanya Bima ketika aku baru saja memakan sesendok dessert sudah disajikan. Sepotong tiramisu dingin dengan plating elegan.
“Heeeemmm….,” aku memejamkan mata sambil berdeham keenakan. “Enak banget,” kataku sambil membuka mata dan menjilat bibirku. Aku langsung terpaku melihat Bima bengong. Kedua matanya menatap bibirku. Aku jadi salah tingkah.
Mungkin aku mengeluarkan suara yang berlebihan? Bima masih menatapku. Aku harus gimana?
Tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang.
Aku menelan ludah di tenggorokkanku. Berusaha untuk tidak terlihat malu. Perlahan aku tatap mata Bima, “Bim?”
“Eh, iya,” Bima menundukkan kepala, lalu bangkit. “Sori, aku ke toilet dulu!”
“Oh.”
Bima pergi ke toilet.
Bodoh, bodoh, bodoh! Kataku dalam hati. Malu-maluin!
Aku ambil ponselku, melihat beberapa pesan. Devi, Risa, dan Shanaz yang kepo banget soal aku makan malam di mana berdua Bima. Begitu aku mau balas pesan mereka, Bima datang. Sudah tidak ada merah di pipinya.
“Udah nggak ujan,” katanya mengalihkan pembicaraan.
“Oh, bagus lah,” kataku sambil melanjutkan makan.
Makannya biasa aja, Nay! Kataku dalam hati sambil menyendok tiramisu dengan perlahan dan makan dengan normal.
“Jadi besok kita makan malem bareng lagi?” tanya Bima sambil mencicipi tiramisu miliknya.
“Kamu ada acara?”
“Nggak. Bisa diatur.”
“Oke.”
“Aku jemput kaya tadi lagi ya?” tanya Bima sambil makan tiramisu dengan normal. Ingat Naya, NORMAL! Kataku dalam hati.
“Iya.”
“Mau makan di mana kita?”
Aku berpikir sejenak, “Besok aku kasih tau.” Kataku sambil tersenyum.
“Oke,” Bima ikut tersenyum.
Tiba-tiba masuk sebuah pesan di ponselku. Aku meliriknya sekilas. Ternyata dari Alfian lagi.
“Siapa?” tanya Bima.
“Shanaz! Kepo dia, aku sama kamu makan di mana,” jawabku dengan tenang.