NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Umpan Yang Terpasang

​Pagi itu, suasana di kantor pusat Winata Group terasa sangat sibuk. Siska Winata melangkah keluar dari lift dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidungnya. Dia merasa hidupnya baru saja dimulai kembali setelah membuang Arga. Baginya, Arga cuma beban yang bikin citranya di kalangan sosialita Jakarta jadi kurang bergengsi.

​"Pagi, Bu Siska. Pak Surya sudah menunggu di ruang rapat," kata sekretarisnya sambil tergopoh-gopoh mengikuti langkah Siska.

​Siska masuk ke ruangan ayahnya. Di sana, Surya Winata sedang menatap layar monitor dengan dahi berkerut. "Siska, duduk. Kita ada sedikit masalah kecil dengan Bank Capital Asia."

​Siska meletakkan tas mahalnya di meja. "Masalah apa, Pa? Bukannya proyek pelabuhan itu sudah cukup buat jadi jaminan?"

​"Secara lisan memang iya. Tapi Hendrawan tiba-tiba sulit dihubungi. Katanya berkas kita masih ada di bagian audit. Masalahnya, kita sudah telanjur pesan material dari kontraktor Jerman pakai sisa kas kita. Kalau pinjaman ini nggak cair dalam dua minggu, kita nggak bisa bayar sisa terminnya," keluh Surya sambil memijat pelipisnya.

​Siska mendengus. "Paling juga mereka cuma mau minta komisi lebih. Nanti Siska yang urus asistennya Pak Hendrawan."

​Sementara itu, di sebuah kafe mewah yang privat tidak jauh dari sana, Arga sedang duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya. Di depannya ada laptop yang menampilkan grafik arus kas Winata Group. Hendrawan memang tidak main-main memberikan akses informasi padanya.

​"Mereka sudah mulai menarik sisa uang tunai dari anak perusahaan lain untuk menutupi DP material di proyek pelabuhan," ucap seorang pria muda berkacamata yang duduk di samping Arga. Dia adalah tim analis yang disiapkan Hendrawan untuk Arga.

​Arga tersenyum tipis. "Bagus. Biarkan mereka merasa terjepit. Begitu mereka mulai panik, kita masukkan penawaran dari PT Cakrawala."

​"Tapi Tuan Arga, mereka pasti curiga kalau ada perusahaan baru yang tiba-tiba mau bantu," tanya si analis.

​"Mereka nggak bakal curiga kalau mereka pikir itu satu-satunya jalan keluar. Orang yang hampir tenggelam bakal pegangan sama apa saja, sekalipun itu pedang yang tajam," jawab Arga tenang.

​Arga melirik ponselnya. Ada pesan dari Elina di Praha.

​Ga, tadi aku lihat berita ekonomi di internet. Katanya Winata Group lagi ada isu finansial ya? Kamu nggak apa-apa kan di sana? Pekerjaanmu aman?

​Arga menghela napas. Elina memang terlalu perhatian. Dia segera mengetik balasan.

​Aku aman, El. Justru karena itu aku ditarik sama investor baru untuk urusan lain. Pekerjaanku malah makin stabil sekarang. Kamu fokus ujian saja ya, jangan baca berita yang nggak penting.

​Begitu selesai membalas pesan Elina, ponsel Arga berdering. Nama "Siska" muncul di layar. Arga menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya. Dia ingin tahu seberapa rendah mantan istrinya itu akan bicara sekarang.

​"Halo?" suara Arga datar sekali.

​"Arga! Akhirnya diangkat juga. Kamu di mana?!" suara Siska terdengar melengking dan penuh tuntutan seperti biasa.

​"Kenapa? Ada barang saya yang tertinggal?" tanya Arga santai.

​"Nggak usah sok suci ya! Kamu sengaja kan nggak kasih password server proyek pelabuhan itu ke tim IT Papa? Mereka nggak bisa akses data klien utama! Gara-gara kamu, proses administrasi di bank jadi macet!" tuduh Siska tanpa basa-basi.

​Arga tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat asing bagi Siska. "Siska, saya sudah dipecat secara tidak hormat. Semua akses saya sudah diputus oleh orang-orang cerdas di kantor Papa kamu. Kalau mereka nggak bisa buka, ya itu masalah kompetensi mereka, bukan urusan saya lagi."

​"Kurang ajar kamu ya! Cepat kasih tahu password-nya atau aku lapor polisi karena sabotase!"

​"Silakan lapor. Tapi sebelum itu, coba cek lagi surat pemecatan saya. Di situ tertulis kalau saya dilarang menyentuh atau mencampuri urusan perusahaan sejak menit saya keluar. Jadi, saya cuma menjalankan perintah Papa kamu," ucap Arga tenang lalu langsung mematikan sambungan telepon.

​Dia memblokir nomor Siska saat itu juga. Ada rasa puas yang aneh saat mendengar nada panik di suara perempuan itu. Selama tiga tahun, Arga selalu menjadi orang yang membereskan semua kekacauan Siska. Sekarang, dia akan menjadi orang yang menciptakan kekacauan itu.

​"Tuan Arga, ada telepon dari Pak Hendrawan," lapor si analis.

​Arga mengambil ponsel kantornya. "Ya, Pak?"

​"Arga, Siska baru saja menelepon asisten saya. Dia minta pertemuan darurat. Saya akan atur pertemuan itu besok sore di kantor saya. Tapi, saya mau kamu yang duduk di kursi utama sebagai perwakilan PT Cakrawala. Kita pakai masker atau ruangannya dibuat agak gelap?" tanya Hendrawan dengan nada bercanda.

​"Jangan, Pak. Jangan sekarang. Biarkan mereka makin stres selama seminggu ini. Tolak saja dulu pertemuannya dengan alasan jadwal Bapak penuh. Biar mereka tahu rasanya diabaikan," jawab Arga.

​"Ide bagus. Saya suka gaya bicaramu sekarang. Lebih tegas," puji Hendrawan.

​Setelah menutup telepon, Arga berdiri dan berjalan menuju jendela besar kafe yang menghadap langsung ke jalanan Jakarta. Dia melihat gedung Winata Tower dari kejauhan. Dulu dia merasa bangga bisa bekerja di sana, tapi sekarang dia sadar kalau itu cuma penjara berlapis emas.

​Malamnya, Arga kembali ke hotel. Dia memesan makan malam mewah ke kamarnya. Sambil makan, dia membuka laptop dan melihat foto-foto apartemen di Praha yang baru saja dikirimkan agen properti padanya melalui email.

​Dia sudah memutuskan. Begitu urusan dengan Winata selesai, dia akan membeli apartemen terbaik di samping sungai Vltava di Praha. Dia ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Elina. Kehidupan yang tidak perlu diisi dengan kebohongan lagi.

​Arga mematikan lampu kamarnya, tapi pikirannya masih bekerja. Besok adalah hari di mana tagihan pertama material Winata Group jatuh tempo. Dia membayangkan wajah Surya Winata yang pasti sedang kelimpungan mencari pinjaman sana-sini.

​Ini baru permulaan, Pa, batin Arga sebelum terlelap. Dulu saya membangun gedung kalian batu demi batu. Sekarang, saya akan melihatnya runtuh, lantai demi lantai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!