NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambang

"Siapa kau?" suara itu menggema di area gerbang yang sunyi.

Dua penjaga Istana Valemira berdiri kaku di depan gerbang sisi istana yang megah. Zirah pelat mereka dipoles hingga berkilauan seperti cermin di pagi hari, memantulkan cahaya matahari musim dingin yang pucat dan dingin dengan sempurna.

Di atas zirah yang mengilap itu, terpasang surcoat beludru biru tua dengan tepian bulu cerpelai putih yang mahal. Lambang kerajaan yang suci—mahkota emas di atas dua pedang bersilang—terpampang jelas di dada mereka. Helm-helm tertutup mereka ada jambul berwarna merah dan biru yang menjulang tinggi.

Dan di hadapan dinding baja yang mengancam ini, berdiri satu sosok yang kontras sekali: seorang lelaki berjubah cokelat lusuh dan basah oleh salju yang meleleh, dengan rambut perak yang tersembul sedikit dari balik tudungnya, dan topeng kelinci berwarna putih porselen menutupi separuh wajahnya dengan senyum beku yang aneh.

"Namaku Steve," jawabnya, suaranya tenang. "Bisakah aku diizinkan menemui Putri Stella Valemira? Ada urusan penting yang harus kusampaikan langsung kepadanya."

Mendengar itu, para penjaga saling bertukar pandang cepat melalui celah helm mereka. Dari sela-sela mereka, terdengar bisikan-bisikan samar, "Steve? Siapa itu? Nama asing," dan "Yang pakai topeng kelinci itu? Sangat mencurigakan."

Jelas sekali, kedatangan seorang lelaki asing dan aneh di depan gerbang istana, apalagi memakai topeng, adalah resep utama untuk kecurigaan tingkat tinggi.

Kemudian, salah satu penjaga yang posturnya lebih tegap dan berwibawa, dengan janggut yang sudah mulai memutih di dagunya, melangkah maju selangkah. Wajahnya yang keriput di bawah helm berat itu menawarkan senyum tipis. "Dia adalah orang yang mengantar Tuan Putri pulang malam itu, saat badai salju dahsyat melanda," ucapnya. "Apa kalian ingat? Yang rambutnya perak?"

Mata-mata di balik helm para penjaga bergeser serempak, kini mengamati pria bertopeng kelinci itu dengan lebih teliti dan curiga. Salah satu penjaga yang lebih muda—yang memang bertugas di gerbang malam itu—mengangguk perlahan setelah beberapa saat mengingat. "Iya... mungkin dia. Tapi waktu itu dia tidak memakai topeng aneh itu."

"Apa Putri Stella ada di dalam istana saat ini?" tanya Otto dengan sabar, memotong perbincangan mereka dengan sopan.

"Iya, dia ada di dalam, di sayap timur," jawab penjaga tua itu, kini menghadap Otto sepenuhnya, badannya yang besar menghalangi jalan. "Tapi sebelum kami mengizinkanmu melangkah lebih jauh masuk, ada beberapa pertanyaan yang harus kau jawab, nak."

"Silakan, Tuan." Otto mengangguk.

Penjaga tua itu melangkah lebih dekat, sangat dekat. "Siapa kau sebenarnya, Steve? Kenapa kau selalu memakai topeng itu? Dan apa tujuanmu sebenarnya menemui Tuan Putri? Jangan coba-coba berbohong padaku."

"Tujuanku sederhana, Tuan." jawab Otto, tak gentar sedikit pun. "Aku ingin menyampaikan informasi yang sangat rahasia, informasi yang hanya bisa didengar olehnya langsung. Informasi mengenai... stabilitas dan masa depan kerajaan ini."

"Bisa kau beritahu aku apa itu informasinya, setidaknya garis besarnya?" Mata penjaga tua itu menyipit tajam.

Suasana hening sejenak, hanya diiringi desiran angin dingin yang bertiup kencang, menggerakkan ujung surcoat para penjaga dan menggoda rambut perak Otto yang tersembul dari balik tudung. Di kejauhan, samar-samar terdengar suara lonceng kota berbunyi berat, menandakan tengah hari telah tiba.

"Bagaimana jika aku menjawab 'tidak'?" tanya Otto dengan nada santai.

"Oi, kau pikir ini pasar loak?! Berani sekali kau melawan dan main-main di sini?!" Salah satu penjaga muda yang berdiri di belakang tak tahan mendengar jawaban santai itu, suaranya meninggi. Tangannya yang bersarung besi sudah meraih gagang pedang di pinggangnya, siap ditarik.

Namun, penjaga tua itu hanya mengangkat tangannya dengan tenang, sebuah isyarat tegas yang cukup untuk menahan rekan mudanya yang gegabah. Kemudian, yang mengejutkan, sebuah tawa pendek dan kering keluar dari balik helmnya.

"Dengar, nak," ucapnya di sela-sela tawa yang aneh itu, suaranya kembali merendah. "Kau mungkin merasa seperti pahlawan karena sudah mengantar Tuan Putri pulang dengan selamat dari badai salju yang mematikan. Itu tindakan yang mulia, aku akui." Dia berhenti sejenak. "Tapi jangan kira bisa seenaknya masuk ke dalam istana dengan sikap santai seperti ini. Ini bukan kedai minum kelas bawah tempat kau biasa nongkrong."

Merasa frustasi dengan prosedur yang berbelit-belit dan penuh kecurigaan ini, Otto menghela napas panjang. "Aku mengerti, Tuan. Aku tahu penampilanku memang mencurigakan, terutama topeng ini." Dia mengangkat kedua tangannya ke samping, telapak tangan terbuka. "Tapi lihat, Tuan. Aku tidak membawa senjata. Aku tidak berniat jahat sedikit pun. Hanya ingin menyampaikan pesan penting yang akan menentukan banyak hal."

"Bagaimana jika kau menyembunyikannya di balik jubah, atau di dalam sepatu botmu, atau di celana dalammu?!" teriak penjaga muda tadi lagi, masih belum bisa mengendalikan diri dan emosinya.

"Bagaimana jika," balas Otto dengan cepat, "kalian menggeledahku sekarang juga? Secara menyeluruh, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tidak akan melawan."

Saran yang tidak terduga itu membuat mereka semua terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung dan tidak percaya. Ini bukan reaksi yang mereka harapkan. Kebanyakan orang yang mereka hadapi akan marah, takut, atau mencoba mundur. Tapi orang ini justru menantang mereka untuk menggeledahnya dengan sukarela.

Keheningan yang tegang dan canggung terbentang panjang di antara mereka. Udara musim dingin masih menusuk tulang, meski matahari sudah mencapai puncaknya di langit. Suara burung-burung pipit berkicau di atap gerbang terdengar samar, satu-satunya suara selain deru angin.

Setelah pertimbangan yang terasa seperti satu jam penuh, penjaga tua itu akhirnya berbalik tanpa sepatah kata pun. Dengan langkah mantap, dia mulai berjalan menuju pintu gerbang kecil yang tersembunyi di samping gerbang utama yang megah.

"T-tunggu, Komandan!" seru penjaga muda dengan panik, suaranya hampir menjerit. "Bagaimana dengan orang mencurigakan ini? Kita biarkan begitu saja?"

"Ikuti aku, bocah topeng kelinci yang keras kepala," ucap penjaga tua itu tanpa menoleh, terus berjalan.

Otto, tanpa ragu sedetik pun, melangkah mengikuti pria tua yang dipanggil Komandan itu. Dia melewati penjaga muda yang masih ternganga, mengabaikan tatapan campur aduk dari penjaga lainnya—panik, kesal, bingung, dan mungkin sedikit terkesan dengan keberaniannya. Dia melangkah masuk ke dalam mulut gerbang kecil yang terbuka, meninggalkan dunia luar yang dingin.

Melalui gerbang marmer setinggi raksasa yang diukir dengan relief rumit, dunia di sekitarnya berubah secara drastis dan total. Keributan pasar, bau tanah dan kotoran, serta hiruk-pikuk kehidupan kota lenyap seketika.

Lorong yang mereka masuki lebih lebar dari jalan utama kota terluar. Langit-langitnya yang menjulang berupa kubah tinggi yang bertatahkan mosaik kaca berwarna-warni impor, menyaring cahaya matahari yang masuk menjadi tarian cahaya berwarna-warni.

Pilar-pilar raksasa dari batu pualam putih bersih menjulang tinggi, masing-masing diikat oleh pita-pita logam berlapis emas dan diapit oleh patung-patung kesatria batu dalam sikap siaga abadi.

Mereka berjalan dalam diam, langkah Otto yang ringan hampir tak bersuara sama sekali di atas karpet tebal berwarna biru yang membentang sepanjang lorong. Penjaga tua itu memimpin di depan, tanpa pernah menoleh ke belakang sedikit pun.

Akhirnya, setelah berjalan melewati beberapa lorong dan pintu, mereka sampai di depan sebuah pintu kayu gelap berukir rumit dengan motif bunga. Penjaga itu mengetuk dengan pola tertentu—dua kali pendek, satu kali panjang—lalu membuka pintu dengan hati-hati.

"Ini ruang tunggu tamu pribadi Tuan Putri," ucapnya pelan. "Tunggu di sini, nak. Silakan duduk dan buat dirimu nyaman. Dia akan segera datang menemuimu."

Otto mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu ternyata lebih kecil dari yang ia bayangkan untuk ukuran istana, tapi penuh dengan kemewahan yang tersirat. "Terima kasih banyak. Saya hargai itu." Tapi sebelum penjaga tua itu benar-benar pergi, Otto bertanya, "Kenapa... kenapa Tuan akhirnya mengizinkan saya masuk?"

Penjaga tua itu berhenti di ambang pintu, lalu menoleh perlahan. Wajahnya yang keriput kini diterangi oleh cahaya dari lampu gantung kristal di langit-langit. "Yah," gumamnya pelan, matanya memandang ke arah jendela besar. "Setelah kau mengantarnya pulang dengan selamat malam itu, dia terlihat... berbeda. Lebih tertekan dari biasanya. Aku sudah melayani keluarga kerajaan ini sejak dia masih kecil mungil. Aku tahu betul ketika ada sesuatu yang berat mengganggu pikirannya." Dia menatap Otto. "Dan jika informasi penting yang kau bawa ini bisa meringankan beban di pundaknya, maka risiko yang kuambil hari ini adalah sesuatu yang sepadan. Tapi, jika kau berani mengkhianati kepercayaan yang baru saja kuberikan... aku sendiri akan menjadi orang pertama yang menyeretmu ke ruang bawah tanah. Paham?"

"Dimengerti, Komandan." jawab Otto, menunduk sedikit. "Sekali lagi, terima kasih atas kepercayaan dan kesempatan ini. Saya tidak akan menyia-nyiakannya."

"Ya."

Setelah pintu tertutup rapat di belakang komandan, Otto baru benar-benar bisa melihat sekeliling ruangan dengan leluasa.

Udara di sini hangat, diresapi oleh aroma kayu cedar alami dari panel-panel dinding dan wewangian amber yang samar-samar menenangkan dari pembakar dupa perunggu antik di sudut ruangan.

Langit-langitnya lebih rendah dari lorong tadi, dipenuhi oleh lukisan fresko yang indah, menggambarkan pemandangan perdagangan damai, kapal-kapal berlayar di lautan, dan silsilah keluarga kerajaan yang rumit penuh dengan simbol.

Cahaya hangat masuk dari jendela-jendela kaca tinggi yang menjulang, menyinari dan menyoroti partikel-partikel debu halus yang berputar-putar malas di udara, menari-nari dengan lambat.

"Istana ini... benar-benar mewah," gumam Otto pelan pada dirinya sendiri. "Dan ini baru ruang tunggu pribadi seorang putri. Aku bahkan belum melihat kamar tidurnya."

"Senang kau menyukainya, Steve."

Suara yang dikenalnya itu tiba-tiba datang dari belakangnya. Otto menoleh dengan cepat. Di sana, berdiri dengan anggun di dekat sebuah pintu tersembunyi yang baru saja terbuka dari balik panel kayu. Dia baru saja masuk, dan kini sedang menutup pintu rahasia itu dengan gerakan yang halus dan tanpa suara.

"Ruang tamu pribadi juga harus dibuat senyaman dan semenarik mungkin untuk tamu-tamu penting, kan?" lanjutnya sambil berjalan mendekat dengan langkah ringan, senyum tipis terukir di bibirnya yang merah. Gaun velvet biru kelam yang dikenakannya sederhana dalam potongan namun sangat elegan, sulaman perak halus di bagian kerah dan ujung lengan berkilauan lembut saat terkena cahaya dari jendela. Rambut pirangnya yang indah diikat rapi ke belakang dengan pita beludru hitam, memperlihatkan lehernya.

"Sejak kapan anda sudah berada di sini, Tuan Putri?" tanya Otto, sedikit terkejut dan merasa tertangkap basah sedang bergumam sendiri.

"Sejak kau mulai melamun sambil mengamati lukisan-lukisan," jawab Stella sambil tersenyum, lalu duduk di kursi tunggu empuk yang berseberangan dengannya. "Jadi, informasi penting apa hingga kau harus datang kemari dengan risiko besar digeledah paksa oleh penjaga gerbang?"

"Sebelum saya menjawab itu, Tuan Putri," Otto melipat tangannya dengan tenang di pangkuan, "ada satu hal yang ingin kutanyakan terlebih dahulu. Apa anda sudah melaporkan masalah Gereja Cahaya kepada ayahanda Raja?"

Alis Stella sedikit terangkat. "Belum. Aku masih dalam proses mengumpulkan lebih banyak bukti dan saksi yang lebih kuat. Kenapa kau menanyakan itu? Ada hubungannya dengan informasi yang kau bawa?"

"Begini, Tuan Putri." Otto mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya merendah. "Bagaimana jika... anda tidak usah melaporkannya sama sekali? Setidaknya, tidak secara langsung ke hadapan Raja?"

Stella memicingkan matanya yang tajam. "Huh? Kenapa aku harus melakukan itu? Jelaskan maksudmu."

"Menurut saya," lanjut Otto, berhati-hati memilih setiap kata yang keluar dari mulutnya, "jika anda melaporkan masalah ini secara resmi ke tahta, itu hanya akan memicu reaksi berantai yang sangat berbahaya dan tak terkendali. Pertama, tindakan itu akan dianggap oleh Gereja sebagai deklarasi ketidakpercayaan terbuka dari pihak kerajaan terhadap lembaga suci mereka. Itu bisa memicu perpecahan yang lebih dalam. Kedua, ini terlalu berisiko tinggi—khususnya untuk anda pribadi, Tuan Putri."

"Tunggu sebentar, Steve." Stella menyela dengan nada kesal, senyum hangatnya menghilang seketika. "Apa mungkin kau sudah termakan hasutan mereka? Apa mereka sudah memberimu tawaran yang menggiurkan?"

"Bukan begitu, Tuan Putri." bantah Otto dengan tenang. "Coba pikirkan sejenak. Anda sendiri sudah tahu betapa egois mereka. Jika mereka ditegur secara langsung oleh Raja, mereka pasti akan segera mencari tahu siapa sumber dari teguran itu. Dan sumber itu tidak lain adalah anda. Dan orang-orang seperti mereka," dia berhenti sejenak, "akan melakukan apa saja untuk melindungi diri mereka sendiri dari ancaman. Bisa jadi anda, atau orang-orang terdekat anda, akan diincar secara diam-diam. Atau skenario yang paling mengerikan, rakyat biasa akan dijadikan sasaran pelampiasan kemarahan."

Stella terdiam. Bibirnya yang indah mengeras menjadi garis tipis. "Aku... aku tidak tahu sejak kapan kau jadi banyak bicara seperti ini. Tapi... ada benarnya juga apa yang kau katakan. Lalu, Apa rencanamu?"

"Menyusup ke dalam Gereja Cahaya," jawab Otto.

"Menyusup? Ke dalam jantung Gereja Cahaya?" Stella tersentak. "Itu gila, Steve! Sangat berbahaya! Dan bagaimana caranya? Mereka sangat tertutup untuk orang luar, apalagi orang aneh sepertimu!"

"Lebih tepatnya, saya akan berpura-pura bergabung dengan mereka secara sukarela." perjelas Otto. "Mereka, para petinggi itu, menawarkanku posisi yang nyaman, perlindungan penuh, kemewahan hidup... dengan satu syarat utama: saya harus tutup mulut tentang kejadian Lavernus dan menjadi saksi palsu jika diperlukan. Saya bisa 'menerima' tawaran itu sekarang."

Mulut Stella sedikit terbuka, tidak percaya. "Mereka... para tetua itu benar-benar melakukan hal sekeji itu? Menyuap saksi mata secara terang-terangan?" suaranya bergetar hebat oleh kemarahan yang ditahan.

"Dan juga," lanjut Otto, "ini tidak akan terlalu berisiko jika aktingku berjalan sempurna. Aku akan menjadi mata-mata anda yang berada di dalam jantung Gereja Cahaya. Memberikan informasi rahasia tentang setiap gerakan mereka. Anda akan memiliki senjata informasi yang jauh lebih ampuh dan berbahaya dari laporan resmi yang bisa mereka bantah."

Stella menatapnya lama. Matanya yang biru menelusuri setiap inci dari topeng kelinci yang retak itu. Dia sedang menimbang dengan saksama. Menimbang semua risiko yang mungkin terjadi, semua kemungkinan yang bisa muncul, dan yang terpenting, motivasi sebenarnya dari pria aneh dan misterius di depannya ini.

"Kenapa?" tanyanya akhirnya. "Kenapa kau rela mengambil risiko yang begitu besar seperti ini untukku? Untuk kerajaan ini? Kita ini hampir tidak saling mengenal, Steve. Kita baru bertemu beberapa kali."

"Karena... saya percaya pada keadilan yang selama ini anda perjuangkan, Tuan Putri." jawab Otto. "Dan karena... saya membenci orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan mereka. Persis seperti yang Lavernus lakukan pada pria tua itu." Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Dan... sejujurnya, saya merasa berhutang budi pada anda. Anda mempercayaiku saat itu, saat kau lebih memilih untuk mendengarkanku daripada Lavernus."

Stella menarik napas panjang dan dalam, memenuhi paru-parunya, lalu menghembuskannya perlahan. Dia memalingkan wajahnya sejenak ke arah jendela besar, memandangi taman istana yang luas dan sunyi, yang kini seluruhnya diselimuti oleh lapisan salju putih yang bersih dan masih perawan.

Dunia di luar sana tampak begitu tenang, begitu damai, begitu murni.

"Baiklah, Steve. Aku setuju dengan rencanamu ini," ucapnya akhirnya setelah hening yang panjang, menatap kembali Otto.

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!