Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Mencurigakan
Bayu melangkah keluar, dan membuka pintu.
Kreeeek
Pintu terbuka. Ia dikagetkan oleh dua orang yang sangat di carinya saat ini, yaitu Ratih dan juga Bagas.
"Si Mbok? Mas Bagas?"
Bayu seakan tak percaya saat melihat keduanya. Ia berdiri mematung sejenak, memandang keduanya.
Ia tidak tahu sudah entah berapa lama tak sadarkan diri, tetapi jika dihitung dari saat kepergiannya meninggalkan Alawiyah— yang berusia enam bulan, maka ia sudah tiga bulan lamanya.
Sedangkan Ratih dan Bagas Palsu saling pandang. Mereka berbicara melalui telepati.
"Aduh, Sun .... Aku kok jadi deg-deg'an, ya."
"Emangnya kenapa, Kun?"
"Ya, gak bisa aja liat yang bening-bening,"
"Ah, ganjen banget, Lu. Kita harus fokus pada tujuan kita." Sundel Bolong memgingatkan.
"Mbok, kemana saja? Ayo masuk!" Bayu menarik tangan Ratih palsu yang merupakan jelmaan dari Kuntilanak.
Kuntilanak Putih semakin gugup, saat tangannya di genggam oleh Bayu dan di bawa menuju kamar, untuk di beri kejutan, jika mendapatkan cucu.
"Istrimu dimana? Dan juga bayimu?" Kuntilanak mencoba menguasai emosinya yang terlalu grogi.
"Lho, kok si Mbok—tau kalau istriku sudah melahirkan? Kan Bayu belum cerita tentang hal ini."
Bayu melelaskan genggaman tangannya, dan perasaannya mulai tak nyaman.
Kuntilanak Putih sedang mencari cara, agar Bayu tidak curiga.
"Si Mbok bisa merasakannya, sebab istrimu kan sudah bulannya, maka si Mbok buru-buru pulang,"
"Oh, gitu. Emangnya si Mbok baru pulang darimana." Bayu berusaha mempercayai apa yang diucapkan oleh Ratih palsu.m, meskipun hatinya benar-bemar menolak.
"Jangan banyak tanya dulu, Bayu. Kita lihat anak dan istrimu, untuk memastikan keselamatannya," sangkal Ratih palsu.
Bayu mengaggukkan kepalanya. "Iya, si Mbok pasti gak sabar mau liat cucu laki-laki yang tampan."
Bayu membawa Ratih palsu memasuki kamar.
"Bayu, kamu menyimpan ari-arinya dimana?" tiba-tiba Bagas palsu menghentikan langkah mereka.
Bayu menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Bagas yang berdiri dibelakang mereka.
"Di dapur, Mas. Dalam baskom. Bantu bersihkan—ya, Mas, sekalian kubur di depan teras," pintanya.
"Iya. Mas ke dapur dulu." sosok itu seolah tak sabar ingin segera menuju buruannya.
Sesat Bayu mengendus aroma anyir darah yang sangat kuat, dan sangat dekat. "Mas, kamu kenapa bau anyir darah—ya?"
Bayu menutup hidungnya, sebab aroma anyir darahnya bukan darah segar, melainkan sedikit busuk, seperti nanah.
"Ah, itu cuma perasaan kamu saja. Mas Ke belakang dulu." Bagas Palsu menepis prasangka Bayu padanya.
Sedangkan Bayu sendiri, mendadak merasa sangat merinding, ia bergidik ngeri.
Tangannya menyapu tengkuk yang mana bulu kuduknya meremang.
Namun, sosok Bagas tak peduli dengan apa yang dirasakan oleh pria tersebut. Ia terus berjalan menuju dapur.
"Udah, kita ke kamar saja." Ratih palsu tak sabar, bahkan ia berjalan terlebih dahulu, dan Bayu mengekorinya dari arah belakang.
"Kenapa ini jadi bau bunga melati—Ya?" Bayu mengendus aroma yang berbeda saat berdekatan dengan si Mbok-nya.
Ia merasakan, semakin tak nyaman dengan situasinya, ada firasat yang cukup buruk.
Saat Ratih Palsu mendekati ranjang, tatapannya lansung tertuju pada bayi mungil yang cukup tampan, dan membuat Ratih Palsu serasa tak sabar ingin segera melahapnya.
Hal ini, tentunya—karena bayi mungil itu lahir pada Rabu Pahing, ia terlihat sangat begitu manis, jiwanya cukup menggiurkan, dan merupakan energi yang akan menjadi rebutan bagi para makhluk ghaib lainnya.
Ratih tersenyum sumringah. Tatapan matanya berbinar, seolah melihat makanan terlezat yang jarang ia temui.
Ia tak peduli dengan kondisi Alawiyah yang belum sadar, sebab bayi itu adalah tujuannya.
Saat ia akan menyentuh sang bayi, tiba-tiba saja diluar jendela ada suara seperti angsa yang sangat berisik.
Bayu semakin merasakan bulu kuduknya meremang, dan tiba-tiba bayi itu menangis dengan kejer, sedangkan tadi tertidur pulas.
Tak hanya itu, Dalli juga terbangun, karena suara tangisan bayi mungil tersebut.
Bayu semakin mersa curiga. Karena menurut mitos warga lokal, jika ada suara seperti angsa yang memutari rumah saat bayi baru lahir, biasanya ada makhluk kiriman yang sedang mengintai
"Tatapan si Mbok, kenapa sangat menyeramkan?"
Ia seperti mendapat insting untuk menggendong bayinya.
"Biar saya gendong saja, Mbok. Istirahat saja dulu, atau tangannya di panggang di atas api, soalnya baru pulang malam." Bayu dengan cepat mengangkat bayinya, dan membuat sosok itu sangat kecewa.
Ia menatap Bayu dengan kesal dan penuh amarah.
"Kau ingin jadi anak durhaka? Kau sudah membuat si Mbok sakit hati! Si mbok tidak akan memaafkanmu!" tiba-tiba saja, suaranya menjadi serak, dan wajahnya memucat.
"Bukan begitu, Mbok. Hanya saja, mungkin kalau ayahnya yang menggendong, ia akan lebih tenang."
Bayu mencari jawaban yang lebih tepat, berusaha tidak menyinggung perasaan si Mbok nya. Meski sebenarnya, ia mulai mencurigai sosok tersebut.
Saat bersamaan, Dalli semakin histeris— saat melihat wajah Ratih, ia sangat ketakutan.
Bayu terpaksa menyambar tubuh mungil Dalli, dan berusaha menenangkannya.
Kuntilanak Putih semakin kesal, sebab Bayu seperti tak mempercayainya, jika Ratih yang bersamanya di kamarnya saat ini adalah ibunya.
"Berikan bayi itu, dan kau tenangkan saja si Dalli." sosok itu mencoba merayu Bayu dengan segala tipu dayanya.
Bayu menatap wajah Ratih sekali lagi, dan suara angsa di luar rumah yang masih berkeliling rumah semakin berisik.
Ratih palsu semakin gelisah, sebab itu sosok yang ada diluar sana adalah Wewe Gombel yang juga berusaha untuk masuk.
"Aduh, aku kenapa jadi grogi gini, sih? Mana dia cakep lagi." Ratih palsu membuang pandangannya, dan tak tahan saat ditatap sedalam itu oleh Bayu.
Bayu yang terus saja di paksa, membuat ia terpaksa menyerahkan bayinya.
"Ya, sudah, si Mbok tenangkan bayi saya, dan saya mau nenangin si Dalli."
Bayu menyodorkan bayinya yang masih di bedong.
Dan dengan senang hati, Ratih palsu menyambutnya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja ...,
Traaaang
Suara seperti dentingan diatas atap rumah, dan itu terdengar sangat nyaring, bersama menghilangnya suara angsa yang tadi begitu berisik.
Trang
Trang
"Suara apa itu, seperti ada kegaduhan." Ratih berguman dalam hatinya.
"Si Mbok liat dulu apa yang terjadi diatas, kamu disini saja."
Ratih bergegas pergi keluar, lalu melesat ke atas atap rumah.
"Hey, apa yang kalian lakukan disini?" tegur Ratih, yang sudah berubah wujud menjadi Kuntilanak Putih.
Ia melihat Sundel Bolong dan juga Wewe Gombel saling jambak-jambakan, dan tidak ada yang mau mengalah.
"Diam, Kau! Dasar pengangguran!" hardik Wewe Gombel.
"Ini juga mau training, tapi udah keganggu sama ulah kalian!" sahutnya, sembari melipat kedua tangannya.
"Kun, bantuin, dong. Dia mau menggagalkan rencana kita!" teriak Sundel Bolong, dan itu disetujui oleh Kuntilanak.
"Bentar." Kuntilanak Putih menyisir rambutnya yang berantakan saat tertiup angin barusan, menggunakan jemari tangannya yang panjang dan keriting.
waduhhh gaaas jagan itu istri adik mu lho
Ya allah, kasihan banget keluarganya mbok Ratih.. 😓