Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian yang Tak Terduga
Matahari mulai mengintip malu-malu dari balik cakrawala, menggantikan kegelapan malam dengan cahaya keemasan yang hangat. Suara burung berkicau mulai terdengar, bercampur dengan suara mesin kendaraan yang mulai ramai berlalu lalang.
Clara membuka matanya perlahan. Cahaya yang masuk melalui celah jendela kecil membuatnya sedikit menyipitkan mata. Ia menatap sekeliling dengan bingung sejenak, sebelum ingatan semalam kembali menerpa pikirannya.
Ia ada di bengkel. Bersama pria asing bernama Arga.
Wanita itu duduk tegak, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari-jemarinya. Hatinya masih berdebar kencang mengingat apa yang hampir terjadi padanya. Jika bukan karena Arga, mungkin saat ini ia sudah berada di tangan orang-orang ayahnya dan terpaksa menikah dengan pria tua yang tidak dikenalnya.
"Kau sudah bangun?"
Suara berat dan datar terdengar dari arah pintu. Clara mendongak, melihat Arga berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah berganti pakaian, kini mengenakan kaos hitam polos dan celana jeans yang membuat tubuh atletisnya semakin terlihat jelas. Wajahnya masih terlihat sama dinginnya, namun ada sedikit kelembutan di sorot matanya.
"Iya... Mas Arga," jawab Clara pelan, suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur. "Makasih ya udah nampung aku semalam."
Arga mengangguk singkat, lalu meletakkan segelas air putih dan sepotong roti tawar di atas meja kecil di hadapan Clara. "Makan dulu. Kau pasti lapar."
Clara menatap makanan itu dengan haru. Sesederhana itu, tapi bagi wanita yang biasa hidup mewah ini, perhatian kecil itu terasa jauh lebih berharga daripada hidangan mewah di restoran bintang lima.
"Mas Arga belum makan?" tanyanya hati-hati.
"Sudah. Aku makan lebih awal," jawab Arga singkat, lalu ia bersandar di dinding, menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapannya tajam menatap Clara, membuat wanita itu merasa seperti sedang diperiksa.
"Dan sekarang... ceritakan semuanya. Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa kau sampai harus lari malam-malam begini?" tanya Arga langsung pada intinya.
Clara menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan segalanya. Tentang dirinya yang merupakan anak tunggal pemilik Grup Perusahaan Wijaya. Tentang ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan Tuan Hendra, seorang pengusaha kaya raya namun sudah berusia lanjut dan terkenal kejam, demi menyelamatkan perusahaan mereka dari kebangkrutan.
"Aku tidak mau, Mas. Aku masih muda, aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Aku tidak mau dijual seperti barang dagangan," air mata Clara mulai menggenang lagi. "Jadi aku kabur. Tapi mereka terus mengejarku ke mana-mana."
Arga mendengarkan dengan seksama. Ia tidak menyangka wanita di hadapannya ini ternyata berasal dari dunia yang begitu jauh berbeda dengannya. Dunia uang, kekuasaan, dan intrik bisnis yang kotor.
"Dan kau pikir dengan bersembunyi di sini masalah akan selesai? Mereka pasti akan terus mencarimu," ucap Arga realistis.
"Aku tahu... Aku benar-benar buntu," Clara menunduk lemas. "Aku tidak punya tempat tujuan, tidak punya uang, dan tidak punya siapa-siapa."
Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di benak Clara. Ia mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan tatapan serius.
"Mas Arga... bagaimana kalau kita buat perjanjian?"
Arga mengerutkan kening. "Perjanjian apa?"
"Kau bilang bengkel kau sedang kesulitan ekonomi kan? Dan aku butuh tempat bersembunyi serta perlindungan," Clara menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Bagaimana kalau kita menikah... secara kontrak?"
BERSAMBUNG... ➡️