Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang Tidak Bisa Ditunda
Pagi itu suasana di kafe Kopi dan Tawa terasa sedikit berbeda.
Raka duduk di kursinya yang biasa, menatap secangkir kopi panas yang masih mengepul. Biasanya kopi itu akan dibiarkan dingin sampai barista mengeluh. Tapi kali ini… ia langsung meminumnya.
Barista yang melihat dari balik meja bahkan terlihat terkejut.
“Ini pertama kalinya kamu minum kopi sebelum dingin,” kata barista.
Raka mengangguk pelan.
“Aku sedang mencoba tidak menunda.”
Barista menatapnya curiga.
“Siapa yang mempengaruhi kamu?”
Raka berpikir sebentar.
“Nina.”
Barista tersenyum kecil.
“Ah… cinta.”
Raka hampir tersedak kopi.
“Bukan!”
Barista mengangkat bahu.
“Ya mungkin.”
Raka menghela napas panjang.
Ia menatap pintu kafe, menunggu Nina datang seperti biasanya.
Namun lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Nina tidak datang.
Raka mengambil ponselnya.
Ia membuka chat Nina.
Ia ingin mengetik sesuatu.
Tapi seperti biasa… ia ragu.
Ia mulai mengetik.
"Kamu di mana?"
Ia berhenti.
Menghapus.
Mengetik lagi.
"Aku di kafe."
Hapus lagi.
Akhirnya ia hanya menatap layar.
“Ya mungkin nanti saja,” gumamnya.
Sementara itu, di kantor Nina.
Nina sedang berdiri di ruang meeting kecil bersama Arman.
Arman terlihat santai seperti seseorang yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Aku tahu kamu masih marah,” kata Arman.
Nina menyilangkan tangan.
“Aku tidak marah.”
Arman tersenyum.
“Kamu hanya belum memaafkanku.”
Nina menatapnya datar.
“Arman, kamu meninggalkan aku dua tahun lalu tanpa penjelasan.”
Arman menghela napas.
“Aku mengejar karier.”
“Kamu bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal.”
Arman tidak langsung menjawab.
Ia menatap Nina dengan serius.
“Dan sekarang aku kembali.”
Nina menatapnya.
“Kenapa?”
Arman berkata pelan,
“Karena aku sadar aku membuat kesalahan.”
Suasana ruangan itu menjadi hening.
Namun di dalam pikiran Nina, ada satu wajah lain yang muncul.
Raka.
Dengan senyum santainya.
Dengan kalimat khasnya yang selalu sama.
Ya mungkin besok.
Nina menggeleng kecil.
“Aku sudah berubah, Arman.”
Arman mendekat sedikit.
“Berubah bagaimana?”
Nina menjawab pelan,
“Aku tidak ingin kembali ke masa lalu.”
Sore hari.
Raka masih duduk di kafe.
Ia sudah memesan tiga kopi.
Dua di antaranya sudah dingin.
Barista datang mendekat.
“Kamu menunggu Nina?”
Raka mengangguk.
“Ya.”
“Dia belum datang.”
“Iya.”
Barista melihat jam.
“Kamu sudah menunggu hampir dua jam.”
Raka mengangkat bahu.
“Ya mungkin dia sibuk.”
Tiba-tiba pintu kafe terbuka.
Raka langsung menoleh.
Nina masuk.
Ia terlihat sedikit lelah, tapi ketika melihat Raka masih duduk di sana, wajahnya sedikit berubah.
“Kamu masih di sini?”
Raka tersenyum.
“Ya.”
Nina duduk di kursi seberangnya.
“Kamu menunggu aku?”
Raka berpikir sebentar.
“Ya mungkin.”
Nina melihat tiga gelas kopi di meja.
“Kamu minum semua ini?”
“Sebagian.”
Nina tertawa kecil.
Lalu ia berkata pelan,
“Arman datang ke kantor tadi.”
Raka terdiam.
“Oh.”
Nina menatapnya.
“Kamu tidak mau bertanya?”
Raka mengangkat bahu.
“Kalau kamu ingin cerita, kamu akan cerita.”
Nina tersenyum tipis.
“Dia ingin kembali.”
Raka menatap kopinya.
“Lalu?”
Nina tidak langsung menjawab.
Ia balik bertanya,
“Menurut kamu?”
Raka berpikir lama.
Biasanya ia akan menjawab dengan santai.
Atau menunda.
Tapi kali ini berbeda.
Ia menatap Nina dengan serius.
“Menurut aku… kamu harus memilih yang membuat kamu bahagia.”
Nina memperhatikannya.
“Dan menurut kamu siapa itu?”
Raka membuka mulut.
Ia ingin berkata sesuatu.
Sesuatu yang sebenarnya sudah lama ia rasakan.
Tapi tentu saja…
Ia ragu.
Ia menggaruk kepalanya.
Dan berkata,
“Ya mungkin kamu sudah tahu jawabannya.”
Nina menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Kamu benar-benar suka menunda.”
Raka mengangguk.
“Spesialis.”
Nina berdiri.
“Aku harus kembali ke kantor.”
Raka ikut berdiri.
“Kerja lagi?”
“Iya.”
Sebelum pergi, Nina berkata pelan,
“Raka.”
“Iya?”
“Kadang… ada hal yang tidak boleh ditunda terlalu lama.”
Raka menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa kata-kata itu bukan tentang pekerjaan.
Itu tentang perasaan.
Nina berjalan keluar dari kafe.
Raka berdiri di tempatnya.
Menatap pintu yang tertutup.
Lalu ia bergumam pelan,
“Ya mungkin… kali ini aku tidak boleh menunda.”