Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Target ( Uang)
Udara di dalam ruang rapat yang tadinya tenang seketika membeku saat Julian membanting dokumen di tangannya, dipicu oleh laporan singkat namun mencekam dari pengawal pribadinya yang dia perintahkan menjaga keamanan kamar rawat inap sang putri.
Kabar bahwa Claire yang telah berani menerobos keamanan dan melumpuhkan dua penjaga terlatih hanya untuk masuk ke dalam kamar rawat sang putri, menyulut api kemarahan yang membakar nadi Julian. Tanpa sepatah kata pun pada para kolega yang tertegun, Julian melesat keluar dengan langkah lebar yang mematikan, detak jantungnya berpacu melawan rasa cemas yang menggerogoti logika.
Di balik kemudi, ia menjelma menjadi iblis jalanan--- deru mesin mobilnya meraung membelah kemacetan, meliuk-liuk di antara kendaraan lain dengan kecepatan gila yang mempertaruhkan nyawa. Pikirannya hanya tertuju pada satu titik--- jika Claire berani menyentuh sehelai rambut pun dari putrinya, maka ia tidak akan segan-segan mengubah drama ini menjadi tragedi berdarah yang sesungguhnya bagi wanita itu.
BRAK!
Pintu jati ruangan VVIP itu menghantam dinding dengan keras. Julian berdiri di ambang pintu, napasnya memburu, jas mahalnya berantakan, dan matanya menyisir ruangan dengan kilat amarah yang siap meledak.
Di dalam sana, suasana justru tampak kontras. Claire duduk dengan tenang di sisi tempat tidur, memegang mangkuk bubur kecil.
"Apa kau tidak bisa membuka pintu dengan lembut, Tuan Julian?" tanya Claire tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa nada melengking penuh kecemburuan yang biasanya menyiksa telinga Julian.
Julian mengabaikannya. Dia melangkah lebar, nyaris berlari menghampiri Liora yang berdiri kaku di sudut ruangan. Dia mencengkeram bahu Liora, memutar tubuh wanita itu untuk memeriksa setiap jengkal kulitnya.
"Kau baik-baik saja, Liora? Apa dia menyentuhmu? Apa dia melukaimu?!" cecar Julian dengan suara serak karena cemas.
Claire mendengus pelan, meletakkan sendok ke dalam mangkuk dengan dentingan yang elegan. "Aku bukan monster yang akan mencakar wajahnya, Julian. Tenang saja, kekasihmu itu masih utuh. Tidak ada satu pun kukuku yang mendarat di kulit mulusnya yang berharga itu."
Julian tertegun. Dia menoleh ke arah Claire, mencari-cari api kemarahan atau histeria yang biasanya muncul saat dia memprioritaskan Liora. Namun, yang dia temukan hanyalah tatapan kosong yang dingin.
"Kamu... kamu memukul dua bodyguard di depan pintu," desis Julian, suaranya rendah dan mengancam. "Bagaimana aku bisa percaya kau tidak melakukan hal gila di dalam sini?"
Claire bangkit perlahan, merapikan pakaian nya. "Mereka menghalangi seorang ibu yang ingin melihat anaknya yang sakit. Itu disebut pertahanan diri, bukan kegilaan. Lagi pula, mereka adalah bodyguard pilihan mu? Ternyata mereka cukup lemah jika bisa ditumbangkan oleh seorang wanita gila sepertiku."
"Mommy..." suara kecil Michel memecah ketegangan. " Cabal, janan telpoluci, nanti Mommy dalah tinggi, telus malah - malah..."
Claire memutar bola mata malas." Terprovokasi, Michel.. bukan polusi," Claire membenarkan.
" Ohw.. cudah ganti lupana, "
Mikael, saudara kembarnya yang lebih pendiam, berdiri di sisi tempat tidur, menatap Julian dengan tatapan yang sulit diartikan oleh anak seusianya.
Julian mendekati ranjang, hendak mengusap kepala Michel, namun Michel justru sedikit menyampingkan kepalanya, menghindar.
"Padahal yang cakit Micel," celetuk Michel dengan suara serak, " Tapi yang dikawatilkan Daddy malah Tante Pelakol."
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Wajah Liora memucat pasi, sementara Julian membeku di tempatnya.
"Michel! Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?!" bentak Julian, membuat Michel berjengit ketakutan.
"Jangan membentaknya, Julian," potong Claire tajam. Dia melangkah maju, menghalangi pandangan Julian dari putrinya. "Anak-anak tidak butuh diajari untuk melihat kenyataan. Mereka punya mata. Mereka melihat ayahnya masuk dan langsung mencari wanita lain saat anaknya terbaring lemas dengan infus di tangan."
" Kau, " Julian menunjuk wajah Claire penuh kemarahan. " Pasti kau yang mengajarinya, kan? Kau sengaja membuat kedua anak ku membenci Liora agar aku tidak bisa menikahinya.. kau sangat licik, Claire!? " tuding Julian, wajah nya mengeras.
Claire tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. " Aku?" Claire menunjuk dirinya sendiri. " Sepertinya waktuku terlalu berharga untuk di isi untuk melakukan itu. Hasutan? Kau terlalu jauh berpikir, Tuan Julian... jika kau ingin menikah, maka menikah saja, tidak akan ada yang menghalangi mu." Julian kembali tertegun, Claire-- yang biasanya selalu mengamuk kini bersikap sangat tenang. Tidak ada kemarahan di wajah nya.
Dan.. Julian tidak suka itu.
"Sayang! Mommy pergi dulu ya, nanti Mommy akan kembali kesini dan membawa makanan yang kau inginkan, " Cup! Kalimat yang di akhiri oleh kecupan di kening membuat tubuh Michel tertegun, matanya membelalak. Sentuhan hangat bibir Ibunya menempel di kening nya. Tidak hanya Michel yang terkejut, semua yang ada di ruangan itupun terkejut.
Wanita yang selalu bersikap kasar dan memukuli anak nya demi melampiaskan kemarahan nya-- baru saja melakukan hal yang tidak terduga. Mata Michel berkaca - kaca menatap sang Ibu, jemari kecil nya menyentuh kulit yang baru saja di cium Claire." Akhilnya... aku bica melacakan hangat na ciuman Mommy.. aku ndak akan mandi celama cetahun,"
Claire menyambar tasnya, berjalan melewati Julian tanpa menoleh sedikit pun.
"Claire! Kita belum selesai bicara!" seru Julian.
Claire berhenti sejenak di dekat pintu, memberikan kerlingan dingin melalui bahunya. " Bagiku.. pembicaraan itu tidak ada gunanya..."
•
•
Claire duduk di balik kemudi mobil sport-nya. Alih-alih menginjak gas, dia menyandarkan punggungnya dan mengetukkan jari-jarinya ke setir secara ritmis. Matanya menatap kosong ke arah lobi rumah sakit melalui kaca depan.
"Dunia ini benar-benar kacau," gumamnya pada diri sendiri.
Dia bukan sang Antagonis yang haus akan cinta Julian. Dia adalah Claire Sophia, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang di dunianya dikenal sebagai 'si jenius yang malas'. Di sana, dia memiliki segalanya tanpa harus mengangkat jari. Namun di sini? Dia hanyalah istri yang dibenci dan terancam didepak tanpa harta sepeser pun jika perceraian terjadi.
"Jika aku harus bercerai, aku tidak akan keluar dari rumah mewah itu dan menjadi gembel. Itu penghinaan bagi namaku."
Otaknya mulai berputar cepat, menghitung aset, saham, dan celah hukum yang mungkin ada dalam drama picisan ini. Dia teringat pada keahlian tersembunyi yang membuatnya ditakuti di dunia asalnya—kemampuannya dalam manipulasi pasar saham dan peretasan data tingkat tinggi. Tak hanya itu--- Claire yang di kenal sebagai pewaris yang setiap hari hanya bersantai sebenarnya memiliki banyak bakat tersembunyi.
Senyum licik, yang lebih menyerupai seringai predator, tersungging di bibirnya.
"Julian berpikir dia adalah raja bisnis di kota ini? Lucu sekali." Claire menyalakan mesin mobil, deru mesinnya terdengar seperti peringatan. "Apakah aku harus menggunakan kemampuanku yang sebenarnya di dunia ini? Mari kita lihat seberapa lama kerajaanmu bertahan saat istrimu yang 'bodoh' ini mulai bermain."
Begitu sampai di mansion, Claire langsung menuju kamar utama. Dia mengunci pintu dari dalam. Matanya mencari sesuatu di atas meja kerja yang berdebu. Sebuah laptop tipis keluaran terbaru.
Dia membukanya, jarinya bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Layar yang tadinya menampilkan wallpaper bunga-bunga cantik segera berubah menjadi barisan kode hijau yang bergerak cepat di atas latar belakang hitam.
"Mari kita lihat..." gumamnya. "Siapa target yang punya cukup banyak uang untuk aku miliki di dunia drama ini."
Suasana kamar yang sunyi hanya diisi oleh suara ketikan keyboard yang ritmis dan cepat. Claire tidak lagi terlihat seperti wanita Antagonis yang gila karena cinta--- dia terlihat seperti seorang dewi kehancuran di balik layar digital.
"Julian, kau boleh memiliki Liora. Tapi dunia ini? Aku yang akan menguasai ekonominya."
•
•
•
BERSAMBUNG