Di masa lalu, dunia pernah diselamatkan oleh para Grandmaster penyihir terkuat dari berbagai kerajaan yang menguasai elemen alam.
Di antara mereka, satu nama berdiri di puncak: Shiranui Akihara, Grandmaster Api dari Kerajaan Solvaria.
Setelah memimpin perang besar melawan pasukan iblis dan membawa kemenangan bagi umat manusia, ia tiba-tiba menghilang. Dunia percaya sang legenda telah gugur.
Namun kenyataannya, Akihara masih hidup.
Kini ia bersembunyi di sebuah desa terpencil, menjalani kehidupan damai sebagai orang biasa, berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh perang dan kehilangan.
Tetapi kedamaian itu mulai runtuh ketika legenda tentang Neraka Iblis kembali muncul.
Raja Iblis Argiel Lucifer dikabarkan bangkit kembali, ditemani oleh sosok misterius bernama Railer Zernaldha.
Bersamaan dengan kebangkitan Tujuh Dosa Besar, dunia kembali berada di ambang kehancuran.
Kini Akihara harus memilih:
tetap hidup sebagai manusia biasa…
atau kembali menjadi legenda yang pernah menyelamatkan 🌏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Absonen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 [Jejak yang Tertinggal]
Pagi datang… namun tidak membawa kedamaian.
Cahaya matahari perlahan menyinari Hinomura, menyentuh atap rumah-rumah kecil, jalan tanah yang sederhana… dan retakan-retakan yang tersisa dari malam sebelumnya.
Retakan itu tidak besar.
Namun cukup untuk mengingatkan semua orang
Bahwa sesuatu yang tidak seharusnya ada… telah menginjak desa ini.
Warga berkumpul.
Tidak ramai.
Tidak panik.
Namun… diam.
Beberapa memperbaiki pagar yang rusak.
Beberapa hanya berdiri.
Menatap tanah.
Seolah berharap semua itu hanyalah mimpi buruk.
Namun mereka tahu
Itu nyata.
Di pinggir desa…
Shiranui Akihara berdiri sendirian.
Tangannya di saku.
Tatapannya mengarah ke tanah yang retak.
Matanya tenang.
Namun dalam
Berat.
“…aku yang membawa ini ke sini.”
Kalimat itu tidak keluar dari mulutnya.
Namun jelas terdengar… dalam dirinya.
Ia mengingat kembali malam itu.
Aura itu.
Tekanan itu.
Dan sosok itu
Acedia.
Makhluk yang bahkan tidak bisa ia pahami.
Makhluk yang bisa membunuhnya…
Namun memilih tidak.
Akihara mengepalkan tangannya.
Api kecil muncul di telapak tangannya.
Namun ia memadamkannya kembali.
“…aku tidak cukup.”
Suaranya pelan.
Hampir seperti bisikan.
“Masih ngomong sendiri?”
Suara itu datang dari belakang.
Liora Raizen berjalan mendekat.
Tangannya menyilang.
Tatapannya serius.
Tidak ada senyum kali ini.
“Aku kira kamu bakal tidur setelah semalam.”
Akihara tidak menoleh.
“Gak bisa.”
Jawaban singkat.
Liora berdiri di sampingnya.
Melihat ke arah desa.
Ke arah retakan.
Ke arah warga.
“…ini bukan level kita dulu.”
Akihara diam.
Tidak membantah.
“Yang semalam itu…”
Liora melanjutkan.
“…itu bukan monster.”
Ia menoleh ke arah Akihara.
Matanya tajam.
“…itu sesuatu yang lain.”
Hening.
Beberapa detik.
Akihara akhirnya bicara.
“…aku tahu.”
Suaranya datar.
Namun dalam.
Liora menghela napas.
Lalu
Masuk ke topik yang sebenarnya.
“…dan dia cari bayi itu.”
Sunyi.
Udara terasa lebih berat.
Akihara akhirnya menoleh.
Tatapannya bertemu dengan Liora.
Untuk pertama kalinya
Ada sesuatu di matanya.
Bukan ketakutan.
Namun…
Kebingungan.
“…aku juga gak ngerti.”
Jawaban jujur.
Tanpa ditutup-tutupi.
Liora mengernyit.
“…Akihara.”
Nada suaranya berubah.
Lebih serius.
Lebih dalam.
“…Noa itu sebenarnya siapa?”
Pertanyaan itu…
Akhirnya keluar.
Akihara tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke arah rumahnya.
Seolah melihat sesuatu dari kejauhan.
“Dia… cuma bayi.”
Jawaban sederhana.
Namun
Tidak cukup.
Liora menatapnya.
Tidak puas.
“Bayi biasa gak bikin makhluk kayak itu datang ke sini.”
Akihara diam.
Ia tahu itu.
Ia merasakannya.
Namun…
Ia tidak punya jawaban.
“…aku nemuin dia di belakang rumah.”
Ia akhirnya bicara.
Pelan.
“…sendirian.”
Liora menatapnya beberapa detik.
Lalu
Menghela napas panjang.
“…kamu sadar kan?”
Akihara tidak menjawab.
“Kalau itu satu…”
Liora melanjutkan.
“…berarti ada yang lain.”
Angin pelan mulai berhembus.
Namun tidak membawa ketenangan.
“Makhluk kayak gitu…”
“…gak mungkin cuma satu.”
Akihara menatap langit.
“…Tujuh…”
Ia bergumam.
Liora menoleh.
“…apa?”
Akihara mengingat.
Aura itu.
Tekanan itu.
Struktur kekuatan itu.
“…kalau itu sistem…”
“…biasanya gak sendiri.”
Ia menghela napas.
“…kemungkinan besar…”
“…ada tujuh.”
Liora terdiam.
Matanya sedikit membesar.
“…Tujuh…”
Ia mengulang pelan.
“…Tujuh Dosa Besar.”
Nama itu…
Terasa pas.
Dan berat.
Hening.
Di dalam rumah…
Noa mulai bergerak.
Matanya terbuka.
Ia menguap kecil.
Lalu
Tertawa pelan.
Suara kecil.
Polos.
Tidak berdosa.
Akihara masuk.
Melihatnya.
Dan untuk sesaat
Semua beban itu… berhenti.
“…kamu…”
Ia mengangkat Noa perlahan.
Menggendongnya.
Noa tertawa.
Menarik baju Akihara.
Seolah tidak peduli dengan dunia luar.
Akihara menatapnya.
Lama.
“…kenapa…”
Suaranya pelan.
“…kenapa kamu ada di sini…”
Tidak ada jawaban.
Hanya tawa kecil.
Dan itu…
Menyakitkan.
Di luar
Liora melihat ke dalam.
Melihat pemandangan itu.
Ia menghela napas.
Pelan.
“…kamu udah terlalu dalam sekarang, Akihara.”
Akihara tidak menjawab.
Namun…
Ia tahu.
Jauh di selatan…
Tanah mulai bergetar.
Bukan gempa.
Namun tekanan.
Di tengah lapangan latihan
Seorang pria berdiri tegap.
Tubuh besar.
Kokoh.
Seperti batu itu sendiri.
Dia adalah
Galdros Varnheim.
Grandmaster Batu dari Kerajaan Mushaf.
Ia sedang melatih murid-muridnya.
Namun
Tiba-tiba berhenti.
Kakinya menapak tanah.
Dan untuk pertama kalinya
Ia merasakan sesuatu.
“…ini…”
Matanya menyipit.
Tanah di bawahnya…
Bergetar.
Bukan karena sihir.
“…bukan mana.”
Murid-muridnya saling melihat.
Bingung.
Namun Galdros
Sudah tahu.
“…sesuatu sedang datang.”
Ia menatap ke arah horizon.
Selatan.
Jauh.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama—
Ia merasa…
Tertantang.
Kembali ke Hinomura.
Sore mulai turun.
Namun suasana masih berat.
Seorang warga mendekat ke rumah Akihara.
Ragu.
Namun akhirnya bicara.
“…Akira…”
Akihara menoleh.
Warga itu terlihat gelisah.
Takut.
“…yang semalam itu…”
“…itu karena kamu…?”
Pertanyaan itu
Sederhana.
Namun…
Menusuk.
Akihara tidak menjawab.
Warga itu menggenggam tangannya.
“…kami cuma mau hidup tenang…”
Suaranya gemetar.
“…tolong… jangan bawa bencana ke sini lagi…”
Hening.
Liora melihat itu dari samping.
Matanya menyipit.
Akihara berdiri diam.
Tidak marah.
Tidak membela diri.
Namun
Dalam hatinya…
Sesuatu runtuh.
“…aku ngerti.”
Suaranya pelan.
Warga itu menunduk.
Lalu pergi.
Liora mendekat.
“…itu bukan salahmu.”
Akihara menggeleng pelan.
“…tapi akibatnya tetap ke mereka.”
Hening.
Matahari mulai tenggelam.
Liora menatapnya.
“…kita harus pergi.”
Akhirnya
Kalimat itu keluar.
Akihara tidak langsung menjawab.
“Kalau kita tetap di sini…”
“…desa ini bakal jadi target lagi.”
Logis.
Masuk akal.
Tidak bisa dibantah.
“…dan aku gak akan biarin itu.”
Akihara menatap tanah.
Ia ingin hidup tenang.
Ia sudah memilih itu.
Ia sudah meninggalkan semua.
Namun
Dunia tidak membiarkannya.
Ia menatap Noa.
Yang tertidur di dalam.
Lalu…
Ia menutup matanya.
“…baik.”
Liora sedikit terkejut.
“…kita pergi.”
Keputusan itu…
Akhirnya diambil.
Namun bukan untuk melarikan diri.
Untuk melindungi.
Akihara membuka matanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama
Ada api di dalamnya.
Bukan api kemarahan.
Namun api tekad.
Jauh di selatan…
Langit berubah warna.
Di perbatasan Kerajaan Mushaf…
Sosok itu berjalan.
Santai.
Tenang.
Acedia.
Setiap langkahnya
Membuat tanah mati.
Rumput menghitam.
Udara membeku.
Ia menatap ke depan.
Ke arah tembok kerajaan.
“…mari kita lihat…”
Matanya sedikit terbuka.
“…seberapa kuat dunia ini sekarang.”
Dan tanpa ragu
Ia melangkah maju.
Menuju…
Kehancuran berikutnya