Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Alergi tongkol??
Anye ketakutan melihat wajah Bang Rinto yang memerah, angin kencang semakin menambah rasa gelisahnya.
"Abang mau apa??" Anye terus menolak Bang Rinto tapi tangannya terus menarik pakaian pria di hadapannya itu seolah tak ingin jauh dan berpisah darinya.
"Kamu yang mau apa?? Sekarang Abang masih berusaha sadar menghadapimu, tapi bagaimana jika sampai Abang khilaf dan melakukannya?? Abang hanya manusia biasa, sayang." Ujarnya lembut.
Anye mendengar ucapan Bang Rinto tapi dirinya tidak sanggup berkata apapun, mengerti akan apa yang terjadi, diri ingin menolak tapi hati kecil menginginkannya. Entah sadar atau tidak, ia mengecup bibir Bang Rinto.
Melihat respon Anye, Bang Rinto pun membalasnya. Kepalanya sudah terlalu pening, nafas tersengal, dalam dadanya sudah tak karuan begitu menginginkan si cantik Anyelir.
"Abaaaang....." Rengekan lirih Anye membuat Bang Rinto serasa lupa diri, ia menahan tangan Anye yang mulai bergerilya kesana kemari. "Anye tidak cantik?? Banyak laki-laki yang mau sama Anye, kenapa Abang tidak??"
Ucapan Anye semakin memanaskan ubun-ubun kepala Bang Rinto, ia melonggarkan cengkeramannya, membiarkan Anye sendiri yang mencarinya. Kini tangannya yang mulai nakal mencari Anye, keduanya pun saling berbalas sayang.
"Dek, kalau Abang melakukannya.. Cita-cita mu pasti tertunda..........."
Anye bagai tak peduli, ia membuka cardigannya, memperlihatkan dress tali satu dan langsung duduk di pangkuan Bang Rinto.
Paham situasi sudah tak terkendali, di sela sisa kesadarannya, Bang Rinto mematikan lampu ruang tamu dan menutup gorden rumahnya. Degub jantungnya tak terkendali, ia mengigit tali dress Anye.
'Resiko di tanggung nanti.'
Pikirnya.
"Aaaaa..."
Jerit lirih Anye saat Bang Rinto pertama kali menyentuhnya sebagai seorang suami, cakarnya pun menancap di punggung Bang Rinto.
"Riiinn...!!!!"
tok.. tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu, kian lama kian kencang.
"Riiinn.. Ada genk bawa senjata tajam tawuran di depan Kompi. Bantu sebentar..!!"
Seketika emosi Bang Rinto meledak, ia menendang meja ruang tamu dengan kesal. Mulutnya mengumpat geram. Kepalanya pening apalagi saat ini Anye terus 'mengejarnya'. Ia bersandar mengurut pelipisnya.
Secepatnya Bang Rinto menyudahi semuanya dan memindahkan Anye ke dalam kamar lalu membenahi pakaiannya.
Cckkllkk..
"Ayo, Bang." Bang Rinto berjalan mendahului para senior dan Bang Ronald yang terus menatapnya.
"Rin.. kau nggak mabok, kan?" Tanya Bang Ronald yang melihat wajah sahabatnya memerah. Kancing kaos polo nya salah lubang dan krahnya pun berantakan.
"Nggak." Jawab Bang Rinto tenang tapi raut wajahnya.
"Kenapa, Ron?" Bang Rama baru menyadari ada yang berbeda sedangkan Bang Rico sibuk dengan HTnya.
"Sepertinya Rinto mabuk, Bang." Jawab Bang Ronald.
Belum sempat Bang Rama memberi arahan, tapi Bang Rinto sudah masuk di tengah tawuran genk bersenjata tajam. Tak hanya itu, Bang Rinto menarik kaos salah seorang di antaranya, ia merampas senjata tajam tersebut dan menyeretnya masuk ke dalam pos kemudian menghajarnya tanpa ampun.
"Ikat dia..!!" Perintah Bang Rinto lalu keluar lagi mengambil salah seorang genk lawan.
Para anggota sampai kelabakan melihat Danton masuk ke tengah pertikaian, bukan karena tidak berani bertindak tapi malah ternganga dengan nyali petarung Danton satu itu.
"Astaghfirullah.. Ayo turun..!!! Bantu Danton mu..!!!" Perintah Bang Rama saat dirinya mulai tersadar dalam situasi genting.
:
Bagghh.. Buugghh.. Baagghh.. Buugghh..
Bang Rinto tak peduli lagi, ia menghajar habis-habisan seluruh anggota genk yang terlibat tawuran. Bibirnya memang diam tapi emosinya sungguh gila.
"Kesurupan di jamban nih bocah." Gumam Bang Rama.
"Mabok beneran kah?? Bingung saya." Imbuh Bang Rico. "Atau jangan-jangan........ Obatmu tadi, Ron."
"Obat saya nggak bahaya, Bang. Nggak mungkin juga sampai seperti ini." Jawab Bang Ronald.
Tapi kemudian nampak Bang Rinto nyaris menginjak salah seorang perusuh, terang saja para sahabat kocar-kacir menenangkan Danton satu.
"Astaghfirullah, Rintooooo..!!" Bentak Bang Rico sambil menyergap juniornya hingga akhirnya oleng. "Kamu ini kenapa???"
"Dada saya sesak, Bang." Jawab Bang Rinto seakan menahan nyeri sampai meremas dadanya. Sekuatnya ia menggigit bibirnya hingga menggelinjang dalam dekapan Bang Rico. "Anyeee.....!! Dimana, Anye??" Tanyanya lirih.
:
Nada, Dinda dan Kinan saling lirik sambil menemani Anye duduk di ruang tamu, sedangkan Bang Rinto masih meremas dadanya, nafasnya sesekali terengah, kepalanya juga terasa berat.
"Ijin, Danki. Memang Pak Rinto mendadak nge-drop. Kalau Bu Rinto, sepertinya salah makan." Kata petugas kesehatan lapangan yang memeriksa kondisi Bang Rinto dan Anye.
Anye memang membuka mata tapi antara nyawa dan raga seolah tidak tersambung. Berbeda dengan Bang Rinto yang keadaannya sulit di jelaskan. Danton satu sadar, sekujur tubuhnya menegang tapi lemas untuk di gerakkan.
:
Beberapa saat setelah semua keadaan tenang, Anye pun mulai sadar berkat air kelapa dari Dinda.
"Setelah pulang dari Kompi tadi siang, kalian lanjut kemana??? Apa yang terjadi sampai seperti ini??" Tanya Dinda.
"Iya lho dek, lehermu sampai ada lebamnya. Bang Rinto juga sama, lebamnya sampai dada." Imbuh Kinan.
Sontak saja para sahabat langsung mengevaluasi hal tersebut, mata mereka serentak memicing memperhatikannya.
"Usai dari Kompi ya makan. Terus Anye pulang, mandi, buat teh sambil nunggu Abang Rinto pulang, setelah itu Anye nggak ingat apa-apa. Hanya saja waktu Anye bangun, Anye masih ngantuk, baju Anye talinya putus......"
Seketika Bang Rinto terbatuk, membuyarkan keseriusan investigasi di ruang tamu.
"Jadi intinya bagaimana??" Tanya Nada sembari menggendong bayinya.
"Mungkin........ Anye alergi tongkol." Jawab Anye serius.
Para istri pun serius namun tatapan tidak yakin Danki, Danki sebelah dan Bang Ronald langsung melirik Bang Rinto.
"Ini yang jadi pertanyaan. Tongkol jenis apa yang buat keracunan sampai begini??" Celetuk Bang Rama pelan.
Bang Rinto mengambil gelas di hadapannya dan menghabiskan air kelapa tersebut.
"Pantes berantakan amat." Gumam Bang Ronald.
"Jangan sampai perkara tongkol ini buat masalah lanjutan. Abang tidak berniat ikut campur tapi kalian belum 'sah' juga, kan." Kata Bang Rico sambil mengurut pangkal hidungnya.
Bang Ronald hanya bisa diam tanpa jawaban. Jujur sikap diam Bang Rinto sangat membingungkan bagi semua.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu