NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Rasa Sakit Yang Sama.

Sagara tersenyum. Singkat. Bukan senyum lega karena info didapat. Bukan pula senyum puas akan kinerja sahabatnya.

Senyum seperti ini biasanya hanya muncul sebelum sesuatu dihantamkan.

"Data medis Ariana di AMC, bocor?"

Raka diam. Agam juga bungkam.

Mereka tahu sedang berada di area lampu kuning jika Sagara sudah mengulang pertanyaan. Itu bukan karena tidak paham topik pembicaraan--justru sebaliknya, ia sedang mempertanyakan kemampuan. Integritas.

"Pelakunya sudah ditemukan," kata Agam.

"Cukup?"

Raka menggeleng. "Sistem keamanan di AMC sudah ditingkatkan. Beberapa staf diganti. Dan yang berpotensi ikut berperan--meski sekedar melihat--sudah diberhentikan."

Dokter Raka memang sudah membersihkan internal Adinata Medical Center, sejak kebocoran data medis Ariana ditemukan.

Sagara mengangguk. Singkat. Tidak terlihat puas, tapi itu, cukup.

"Dan pelakunya?"

“Analis lab AMC,” jawab Agam datar.

“Mantan pacar Ariana.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Tapi dia mengundurkan diri dua hari sebelum jejak kebocoran data ditemukan.”

Sagara tidak menyela. Fokusnya tak bergeser dari Agam.

"Tak hanya itu," lanjut Agam. "Dia kabur ke LN. Orang-orangku menemukan jejaknya di bandara. Negara tujuan-- Taiwan."

Ekspresi wajah Sagara tak berubah. Tetap datar. Meski info yang didapat sudah mengarah pada hal yang besar. Ia tahu ada tangan berkuasa yang bermain di balik semuanya.

"Aku berhenti mengejar," kata Agam. "karena aku sudah mendapatkan poinnya."

"Apa?"

Agam bangkit. Ia menyerahkan tab ke Sagara, menggeser layarnya sedikit dan sebuah rekaman gambar terlihat.

Rekaman itu diambil dari kamera gerbang samping Adinata Residence.

Waktu menunjukkan lewat tengah malam.

Seorang perempuan keluar dari area Residence 1. Langkahnya cepat. Wajahnya tidak benar-benar terlihat jelas.

Tapi postur tubuhnya… sangat mirip Ariana.

"Dia, Ariana?" tanya Sagara yang memang belum pernah bertatap muka langsung dengan perempuan itu.

"Sembilan puluh lima persen, bisa dipastikan."

Agam menunjuk metadata rekaman di pojok bawah layar. "Tanggal ini, malam sebelum kejadian Ariana mengalami kecelakaan."

Agam berhenti sejenak.

“Tapi ada satu hal lagi.”

Sagara menunggu.

“Tidak ada rekaman yang menunjukkan Ariana masuk ke area Adinata Residence. Aku sudah memeriksa seluruh CCTV.”

Artinya hanya satu kemungkinan.

Ariana sudah berada di dalam Residence 1.

Entah sejak kapan.

Dan entah bagaimana ia masuk.

Dipanggil. Dibawa, atau dipaksa.

Adinata Residence 1. Mereka semua tahu siapa yang tinggal di rumah itu.

Ravendra Adinata.

"Cukup." Sagara mengembalikan tab itu lagi ke Agam. "Selebihnya, bagianku."

Ia berdiri, merapikan manset kemejanya dengan gerakan tenang.

“Dan jika benar Ariana keluar dari rumah Ravendra malam itu…”

Sagara berhenti sejenak.

“Berarti ada seseorang di dalam keluargaku yang sedang bermain terlalu jauh.”

...

...

Malam yang turun tidak mengubah apapun. Keheningan sudah ada, bahkan sejak pagi dimulai.

Ketukan itu terdengar pelan. Dua kali.

Winda menatap Shafiya sejenak, sebelum melangkah membukakan pintu.

Ratri berdiri di depan pintu.

"Nona Shafiya."

"Silakan masuk." Shafiya bangkit dari sofa--tempat yang hampir seharian ini ia duduki. Tepat di depan jendela.

Ratri hanya masuk tiga langkah. Berhenti.

"Dokter sudah datang."

"Dokter?" Shafiya heran.

"Dokter untuk memeriksa, Anda."

"Saya tidak panggil dokter," kata Shafiya cepat, tapi suaranya tetap lembut.

"Anda sakit perut dua kali dalam sehari ini," kata Ratri. "Kami memanggil dokter spesialis dari AMC untuk memeriksa."

Shafiya terhenyak. Tatapannya berpindah ke Winda. Perempuan itu menggeleng.

Shafiya memang hampir tak pernah keluar kamar. Dan benar, dalam sehari ini sudah dua kali ia merasa nyeri di area perut. Hanya Winda yang tahu. Dan perempuan itu tidak memberitahukan siapa pun--atas permintaan Shafiya.

Pertanyaannya, kenapa Ratri bisa tahu?

Shafiya belum sempat berpikir terlalu jauh, suara Ratri terdengar.

"Dokter sudah menunggu. Silakan."

Mau tidak mau, Shafiya mengikuti Ratri keluar kamar. Winda mengekor. Mereka melewati koridor panjang menuju ke ruangan samping yang menghadap ke taman.

Seorang dokter sudah menunggu.

Pria, sekitar empat puluh tahun. Sopan. Profesional.

Ia memeriksa Shafiya dengan cepat. Beberapa pertanyaan. Beberapa catatan.

Setelah itu ia menuliskan resep dan memberi beberapa anjuran singkat.

Setelah semua prosedur selesai. Dokter pamit, seorang asisten pria mengantar. Ratri memberikan resep pada asisten yang lain. Setelah itu ia siaga untuk mengantar Shafiya kembali ke kamar.

Shafiya bangkit, maju dua langkah ke Ratri. "Kamu tau, saya nyeri perut tadi?"

Ia langsung memulai pertanyaan.

Ratri menganggu. "Iya."

"Tahu dari mana?" kejar Shafiya.

"Bukan Winda."

"Lalu?"

"Saya tau." Hanya itu jawaban Ratri, ia menolak memberitahukan sumbernya.

"Di kamar saya ada kamera pengawas?"

Shafiya sudah menyimpulkan itu sejak tadi. Sejak tiba-tiba Ratri tahu kalau ia menahan nyeri.

Ratri diam. Untuk hal-hal yang tak perlu diungkapkan, ia selalu memilih diam.

Dan Shafiya paham kalau itu jawaban.

"Jika kamar itu memang untuk saya, seharusnya itu hanya menjadi ranah privasi saya."

"Itu sudah peraturan," kata Ratri. Ia tidak menatap Shafiya, juga tak menundukkan pandangan.

"Saya harus diawasi?" Raut wajah Shafiya mulai menunjukkan ketidaknyamanan.

"Semua ruangan dalam rumah ini dilengkapi kamera pengawas."

"Bisa dikecualikan kamar saya?" Permintaan yang halus. "Saya tidak ingin aktifitas saya, terutama yang sangat pribadi, diakses orang lain," kata Shafiya tegas.

"Kami hanya memantau apa yang boleh," ujar Ratri. Memegang teguh aturan yang sudah ia lewati sekian tahun di sana.

"Tetap saja saya merasa tidak nyaman."

Ratri diam. Ia tak akan bisa merubah aturan.

"Dan ketidaknyamanan saya," lanjut Shafiya. "Akan berakibat ke kesehatan saya."

Ratri mengangguk. "Saya paham." Diam sejenak. "Hanya tuan yang bisa mengubah aturan."

"Berarti saya harus meminta langsung padanya?"

"Tuan belum pulang dari kantor."

"Saya tunggu."

"Baik."

Ratri sedikit menunduk, kemudian berlalu.

"Ning Shafiya yakin, mau bicara dengan tuan Sagara?" Pertanyaan Winda disertai dengan raut wajah khawatir.

Shafiya mengangguk. Terlihat tenang. Tapi justru Winda yang merasa takut.

Hampir satu jam menunggu. Dalam hening. Hanya diisi beberapa pembicaraan kecil dengan Winda, ketika langkah kaki itu mendekat.

Yang datang bukan Sagara. Tapi seorang asisten pria seusia Winda.

Ia mengangguk singkat.

"Tuan sudah datang."

Shafiya bangkit

"Di mana saya bisa menemuinya?"

Asisten itu ragu sejenak sebelum menjawab. "Tuan langsung beristirahat."

Ia menambahkan dengan nada hati-hati.

"Kondisi beliau sedang kurang sehat."

Shafiya diam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Baik.”

Ia baru saja berbalik hendak kembali ke kamar, ketika suara keras terdengar dari ujung koridor.

Prang.

Seperti sesuatu jatuh--lalu pecah.

Asisten di depan Shafiya langsung menoleh. Wajahnya berubah tegang.

“Dari ruang kerja tuan.”

Ia bergegas ke arah sana.

Shafiya sempat diam setengah detik.

Lalu tanpa berkata apa-apa, ia ikut melangkah.

Pintu ruang kerja tertutup. Asisten mengetuk pelan. Setelah terdengar perintah masuk dari dalam, ia membuka pintu. Tidak pelan. Tidak keras. Cukup lebar. Cukup untuk Shafiya melihat kondisi di dalam ruangan.

Sagara berdiri di depan jendela. Membelakangi. Masih memakai baju kerja yang bagian lengannya dilipat sampai siku.

Posisi tubuhnya tegak, kokoh, berbanding terbalik dengan wajahnya yang pucat.

Di lantai marmer ada pecahan gelas yang berserakan.

"Bersihkan." Perintah singkat.

Asisten patuh mengumpulkan pecahan gelas keramik kwalitas tinggi itu dengan cekatan.

Meski tetap menghadap jendela, Sagara tahu saat asisten itu bergerak keluar membawa pecahan gelasnya.

"Tutup pintunya."

Asisten diam sesaat, sedikit ragu.

"Ada nona Shafiya." Ia mengucapkan itu dengan suara sedikit ditahan.

Sagara diam, sedetik. Berbalik. Tatap mata elangnya menemukan Shafiya berdiri hampir di ambang. Ia melangkah mendekat. Dan berhenti pada jarak tertentu.

Dari jarak itu Shafiya melihat tangan Sagara sempat menekan perutnya sebentar.

Gerakan kecil. Hampir tidak terlihat.

Tatapan Sagara turun sekilas ke wajah Shafiya. Mengamati.

“Kamu belum tidur.”

Bukan pertanyaan. Lebih seperti pernyataan.

“Saya menunggu, Anda,” jawab Shafiya.

“Ada yang penting?”

Nada suara Sagara tetap datar.

Shafiya tidak langsung menjawab. Matanya sempat bergerak ke lantai--ke arah pecahan gelas yang tadi dibersihkan.

“Kondisi Anda baik?”

Pertanyaan itu keluar lebih dulu.

Alis Sagara sedikit terangkat. Seolah tidak menyangka arah pembicaraan itu.

“Kamu datang untuk menanyakan itu?”

“Tidak.”

Shafiya menggeleng pelan. "Ada hal yang ingin saya sampaikan."

Sagara mengangguk. Lalu sesaat menahan napas, rasa tak nyaman kembali datang.

Rasa nyeri yang sama, seperti yang tadi Shafiya rasakan.

Gerakan samar itu terbaca oleh Shafiya.

"Jika, Anda sedang tidak nyaman, saya bisa menunda."

"Langsung saja," kata Sagara, tetap datar. Tapi kata terakhir seperti ditelan. Ketaknyamanan itu benar-benar mengambil ruang.

"Saya ambilkan air hangat." Shafiya reflek saja dengan ucapan itu. Ia bahkan berbalik.

"Tidak perlu." Sagara mencegah. "Minta asisten saja. Ini bukan tugasmu."

Shafiya berhenti. Menoleh sejenak. Ia ingat

Ikatan apa yang kini mengikatnya dengan lelaki di depannya itu.

"Ini sebenarnya tugas saya."

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!