𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20 - SENTUHAN YANG TAK TERUCAP
Malam telah larut ketika Rizuki akhirnya tiba di depan apartemennya.
Lampu-lampu kota masih menyala, membentuk garis cahaya di kejauhan.
Suara kendaraan semakin jarang. Udara malam terasa dingin, namun langkah Rizuki ringan—lebih ringan dari biasanya.
Ia membuka pintu apartemen, menyalakan lampu ruang tamu, lalu berdiri sejenak tanpa bergerak.
Bayangan satu momen muncul lagi di benaknya. Meja kayu sederhana.
Cangkir kopi hitam. Teh hangat yang hampir tak disentuh. Dan—
sentuhan singkat itu.
MOMEN YANG TERTINGGAL DI INGATAN
Saat pelayan meletakkan struk pembayaran di meja cafe tadi malam, tangan Vhiena bergerak hampir bersamaan dengan tangannya.
Tidak disengaja. Ujung jari mereka bersentuhan. Hanya sepersekian detik. Namun cukup untuk membuat Rizuki berhenti bernapas.
Vhiena juga membeku.
“A—aku ambil saja,” ucap Rizuki gugup saat itu, menarik tangannya cepat.
Vhiena hanya mengangguk.
Namun sejak saat itu, seluruh percakapan terasa berbeda.Lebih pelan.
Lebih hangat. Sentuhan pertama mereka—tanpa rencana, tanpa keberanian—justru terasa paling jujur.
KEMBALI KE APARTEMEN
Rizuki menutup pintu, melepas sepatu, dan berjalan menuju kamar.
Ia duduk di tepi ranjang, mengambil ponsel pribadinya—ponsel yang hanya berisi satu nama yang berarti.
Vhiena.
Beberapa detik ia menatap layar kosong.
Lalu menulis.
Rizuki:
“Kamu sudah tidur?”
Beberapa menit berlalu.
Vhiena:
“Belum.”
Rizuki tersenyum kecil.
Rizuki:
“Aku juga.”
Vhiena:
“Aneh ya… aku masih di cafe itu, padahal sudah di kamar.”
Rizuki merebahkan diri, menatap langit-langit kamar.
Rizuki:
“Aku juga.”
Hening sejenak.
Vhiena:
“Tentang tadi…”
Rizuki tahu maksudnya.
Rizuki:
“Iya.”
Vhiena:
“…itu bikin aku gugup.”
Rizuki menarik napas pelan.
Rizuki:
“Aku juga.”
Tidak ada emoji.
Tidak ada kata berlebihan.
Namun jantung keduanya berdetak lebih cepat.
Vhiena:
“Tapi aku senang.”
Rizuki:
“Aku lebih.”
Vhiena tersenyum sendiri di kamarnya, memeluk boneka favorit nya.
Vhiena:
“Selamat malam, Ki.”
Rizuki:
“Selamat malam, Vhin.”
Mereka tertidur dengan perasaan yang sama—
tenang, hangat, dan penuh harap.
PAGI YANG BERBEDA
2 minggu berlalu sejak makan malam itu. Pagi datang dengan cahaya lembut menembus jendela apartemen. Rizuki terbangun lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di depan jendela, menatap kota yang mulai bergerak.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini— hari kelulusan.
Ia mengenakan seragam rapi. Rambut hitamnya tersisir sederhana. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya jernih. Sebelum berangkat, ponselnya bergetar.
Vhiena:
“Semangat hari ini.”
Rizuki membalas cepat.
Rizuki:
“Terima kasih. Belajar yang rajin.”
Vhiena:
“Selalu.”
Ia tersenyum tipis, lalu keluar dari apartemen.
PERAYAAN KELULUSAN
Sekolah Rizuki penuh hiasan. Spanduk kelulusan terbentang di gerbang. Balon warna-warni melayang. Suasana ramai oleh tawa dan sorak.
Namun saat Rizuki melangkah masuk—,, Beberapa kepala menoleh. Beberapa kamera ponsel terangkat.
“Dia datang.”
“Itu dia.”
“Siswa peringkat satu nasional.”
Rizuki tetap berjalan tenang, seolah semua itu hanyalah angin lalu.
Teman-temannya menyapanya dengan kagum.
“Ki, kamu gila sih.”
“Nilai kamu bikin kami minder.”
Rizuki hanya tersenyum kecil.
“Kerja keras kalian juga.”
SOROTAN MEDIA
Di lapangan sekolah, beberapa wartawan dari media nasional sudah menunggu.
Kamera profesional. Mikrofon berlogo stasiun televisi.
Kepala sekolah mendekati Rizuki.
“Mereka ingin mewawancara kamu. Singkat saja.”
Rizuki mengangguk.
Ia berdiri di depan kamera.
Lampu menyala.
“Rizuki,” kata seorang reporter,
“bagaimana perasaan Anda meraih peringkat satu nasional?”
Rizuki berpikir sejenak.
“Saya bersyukur,” jawabnya singkat.
“Apa rahasia kesuksesan Anda?”
“Disiplin.” jawab rizuki datar.
Reporter lain bertanya,
“Apakah Anda akan melanjutkan studi ke luar negeri?”
Rizuki menatap kamera dengan tenang.
“Saya belum memutuskan.”
Tidak ada informasi pribadi..Tidak ada latar belakang keluarga. Tidak ada rencana masa depan yang jelas..Ia berbicara seperlunya. Kepala sekolah memperhatikan dari jauh, tersenyum bangga.
DI BALIK KAMERA
Tidak ada yang tahu—,, Bahwa siswa ini memiliki gedung tertinggi di pusat kota. Bahwa keputusan-keputusannya memengaruhi ribuan karyawan. Bahwa malam sebelumnya, ia memikirkan satu sentuhan kecil di cafe sederhana waktu itu.
Media hanya melihat angka. Tidak pernah melihat hati.
SELESAI UPACARA
Perayaan usai menjelang siang.
Siswa saling berfoto. Guru memberi pelukan.
Rizuki berjalan keluar sekolah sendirian.
Ponselnya bergetar.
Vhiena:
“Aku melihat siaran kamu di media sosial.”
Rizuki berhenti sebentar.
Rizuki:
“Bagaimana?”
Vhiena:
“Kamu kelihatan… tetap kamu.”
Rizuki tersenyum.
Rizuki:
“Aku memang tidak berubah.”
Vhiena:
“Syukurlah.”
Ia melanjutkan langkah, menatap langit siang yang cerah. Hari ini penuh sorotan.
Namun pikirannya hanya satu.
Malam sederhana.
Sentuhan jari.
Dan sesuatu yang harus segera ia rangkai, untuk tetap merahasiakan identitas nya.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/