not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,
cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska
ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
ketakutrlalu cepat, dan sosok Alana Aurora Azalea tumbuh persis seperti arti namanya. Ia adalah anak perempuan berharga yang kehadirannya selalu dinanti, membawa keceriaan yang bersinar seperti fajar di setiap pagi keluarga mereka.
Namun, suatu hari, sebuah konflik kecil terjadi di ruang tengah. Ayana mendapati Alana tengah asyik "menghias" album foto pernikahan orang tuanya dengan stiker dan krayon berwarna-warni. Beberapa foto penting tertutup tempelan bunga yang berantakan.
"Alana, kenapa foto Papa dan Mama ditempel-tempel begini?" tanya Ayana dengan nada sedikit tegas karena terkejut.
Alana yang baru berusia dua tahun itu tersentak. Ia menunduk, meremas krayon di tangannya. Suasana yang tadinya hangat mendadak tegang. Reva yang melihat itu hanya terdiam di ambang pintu, khawatir adiknya akan dimarahi habis-habisan.
Tak lama kemudian, Al pulang dan melihat situasi tersebut. Ia duduk bersimpuh di depan putri kecilnya. "Kenapa Alana lakukan ini, Nak?" tanya Al lembut.
Dengan suara kecil, Alana menjawab, "Alana mau kasih bunga... supaya foto Mama cantik seperti Azalea. Kata Papa, Alana itu bunga di rumah ini."
Mendengar kejujuran polos itu, kemarahan Ayana luruh seketika. Ia teringat kembali bahwa Alana adalah persembahan yang indah dalam hidup mereka. Alana tidak berniat merusak; ia hanya ingin membagikan keindahan yang ia rasakan.
Al tersenyum dan merangkul keduanya. "Kamu benar, Alana adalah bunga yang paling indah. Tapi lain kali, kita hias kertas saja ya, jangan foto ini."
Kejadian itu justru menjadi pengingat bagi Al dan Ayana. Bahwa meski terkadang ada "kekacauan" kecil, Alana adalah cahaya Aurora yang selalu berhasil mengusir mendung di hati mereka. Ia bukan sekadar anak, tapi pengikat yang membuat keluarga itu mekar seindah bunga setiap harinya.
Suatu malam, saat rumah sudah senyap dan Alana telah terlelap di kamarnya yang beraroma lavender, Al dan Ayana duduk bersama di ruang kerja. Mereka memutuskan untuk menulis sebuah pesan di balik foto keluarga pertama mereka, sebuah pesan yang baru boleh dibaca oleh Alana ketika ia sudah cukup dewasa untuk memahami arti perjuangan
.
Al memulainya dengan tulisan tangan yang tegas namun bergetar:
"Untuk putri kecil Papa, Alana...
Papa ingin kamu tahu bahwa kamu lahir bukan hanya sebagai seorang bayi, tapi sebagai cahaya fajar—Aurora yang menyinari sisa-sisa kegelapan di hati Papa. Kamu adalah anak perempuan berharga yang mengajari Papa bahwa cinta yang tulus sanggup menyembuhkan luka sedalam apa pun."
Ayana menyambung dengan tinta yang sedikit basah oleh air mata haru:
"Sayangku Alana...
Jadilah seperti bunga Azalea, yang tetap kuat dan indah meski harus mekar di musim yang sulit. Nama panjangmu bukan sekadar rangkaian kata cantik, tapi doa agar langkahmu selalu penuh energi dan memberi kehidupan bagi orang-orang di sekitarmu. Kamu adalah perekat kami, mukjizat yang menyatukan kembali kepingan-kepingan keluarga ini menjadi utuh."
Di bagian akhir, mereka menuliskan kalimat penutup yang sama:
"Tumbuhlah dengan berani, Alana. Karena bagaimanapun dunia memperlakukanmu nanti, kamu akan selalu menjadi fajar yang paling indah dan bunga yang paling berharga bagi Papa, Mama, dan Kakak Reva."
Mereka melipat kertas itu dan menyimpannya rapat-rapat. Mereka tahu, suatu saat nanti, Alana akan membaca pesan ini dan menyadari betapa kehadirannya telah mengubah sejarah keluarga mereka selamanya.
Setelah Al dan Ayana selesai menuliskan bagian mereka, Reva yang sedari tadi mengintip dari balik pintu kamar pelan-pelan mendekat. Ia membawa sebuah gambar yang ia buat sendiri—gambar empat orang yang berpegangan tangan di bawah sinar matahari yang besar.
"Papa, Mama... Reva juga mau tulis pesan buat Adek Alana," ucap Reva dengan sungguh-sungguh.
Al tersenyum bangga dan memberikan pena kepada putri sulungnya. Dengan tulisan tangan anak-anak yang masih miring dan besar-besar, Reva menuliskan kalimatnya di
pojok bawah surat itu:
"Buat Adek Alana sayang...
Nanti kalau sudah besar, jangan takut ya. Ada Kakak Reva yang selalu jaga Alana. Terima kasih sudah datang jadi adek aku yang paling cantik kayak bunga. Kakak sayang Alana selamanya!"
Reva kemudian menyelipkan sebuah jepit rambut pita—hadiah pertama yang ia beli dari uang tabungannya sendiri—ke dalam lipatan surat tersebut.
Ayana memeluk Reva erat, sementara Al merangkul mereka berdua. Mereka menatap ke arah kamar tempat Alana tertidur lelap. Di sana, di balik pintu itu, masa depan mereka yang baru sedang bermimpi indah. Seorang anak perempuan berharga yang keberadaannya benar-benar telah menyatukan semua hati yang pernah retak.
Keluarga itu kini tidak hanya utuh, tapi juga bercahaya, secerah fajar Aurora yang menyambut hari baru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana sore di kediaman Al dan Ayana berubah mencekam saat sebuah taksi berhenti di depan pagar. Sosok pria dengan tatapan tajam dan pakaian yang tampak kusam turun dengan langkah berat. Itu Rezky
Dinginnya dinding penjara selama bertahun-tahun tidak mendinginkan hatinya; justru api amarahnya makin berkobar.
"Ayana! Al! Keluar kalian!" teriak Rezky sambil menggedor pagar besi dengan beringas. "Kembalikan Reva! Aku sudah bebas, dan aku datang untuk mengambil hakku!"
Di dalam rumah, Ayana mendadak lemas. Tangannya gemetar hebat saat ia segera merangkul Reva ke dalam pelukannya. Alana yang sedang asyik bermain karpet, mendongak bingung melihat ibunya yang tampak ketakutan.
Al segera berdiri di depan pintu, menghalangi pandangan Rezky ke dalam rumah. "Rezky, tenang! Kamu baru saja keluar. Jangan buat keributan yang bisa menjebloskanmu lagi ke sana!"
"Aku tidak peduli! Bertahun-tahun aku membusuk di penjara, dan kalian mencuri anakku!" Rezky berhasil menerobos pagar yang tidak terkunci dan kini berdiri hanya satu meter di depan Al. "Mana Reva? Dia anak kandungku! Darah dagingku!"
Mendengar suara keras itu, Reva menangis sesenggukan. Ia memeluk erat adiknya, Alana, seolah takut mereka akan dipisahkan. Alana, si anak perempuan berharga yang biasanya ceria, kini hanya terdiam menatap ke arah pintu. Cahaya fajar (Aurora) dari namanya seolah meredup tertutup mendung amarah ayah kandung kakaknya.
"Papa jahat... Reva nggak mau ikut Papa Rezky," bisik Reva dengan suara parau di balik punggung Ayana.
Ayana menatap Rezky dari ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. "Rezky, lihatlah... kamu datang dengan amarah yang menakuti anakmu sendiri. Bertahun-tahun kamu pergi, dan sekarang kamu ingin mengambilnya secara paksa? Reva punya kehidupan di sini, dia punya adik, dia punya keluarga yang merawatnya saat kamu tidak ada!"
Rezky tidak peduli. Matanya yang merah menatap benci ke arah Al. "Dia anakku! Bukan anak pria ini!"
Situasi semakin memanas saat Rezky mencoba merangsek masuk ke dalam ruang tamu, tepat di mana Alana dan Reva berada.