LIMA TAHUN IA DI INJAK-INJAK. SATU MALAM IA MEREBUT SEGALANYA.
Rizky Santoso adalah aib. sampah. suami tak berguna yang ditakdirkan untuk hidup di dapur, di bawah kaki istrinya yang kaya raya,
Adelia. selama 5 tahun, hinaan adalah sarapannya dan pengkhianatan adalah makan malamnya.
Ketika Adelia mencampakkannya demi seorang selingkuhan, ia pikir hidup Rizky telah berakhir.
DIA SALAH BESAR.
Di malam tergelapnya, takdir datang menjemput. Dua sosok misterius berjas hitam membawakan sebuah kebenaran yang mengguncang kota: pria yang ia buang adalah PUTRA MAHKOTA dari kerajaan bisnis yang paling berkuasa.
kini, Rizky kembali. Bukan lagi sebagai suami yang tunduk, tapi sebagai raja yang dingin dan tak tersentuh. ia akan duduk di singgasana kekuasaannya dan menyaksikan mereka yang pernah menghinanya...
bertekuk lutut.
Penyesalan Adelia tidak akan ada artinya. Karena dalam permainan takdir ini, sang pewaris telah kembali untuk mengambil apa yang jadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JAYDEN AHMAD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: JEBAKAN SANG ARSITEK
Bulan-bulan berlalu dengan cepat. Rizky Hadiningrat bukan lagi seorang pemula yang canggung. Ia telah menjelma menjadi seorang Wakil Presiden Direktur yang cakap, bahkan ditakuti.
Kehadirannya di Hadiningrat Group membawa angin segar sekaligus ketegangan. Ia agresif, cerdas, dan memiliki insting bisnis yang tajam, sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak direktur senior yang terlalu nyaman dengan status quo.
Di bawah bimbingan Suryo dan Haryo, Rizky menyerap ilmu dengan kecepatan luar biasa. Ia memimpin beberapa proyek strategis yang sukses, termasuk pembangunan kompleks perumahan terjangkau yang kini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan investor. Proyek itu tidak hanya mendatangkan keuntungan besar, tetapi juga meningkatkan reputasi Hadiningrat Group sebagai perusahaan yang peduli sosial.
Namun, di balik semua kesibukan itu, jaring laba-laba yang ia rajut untuk Maheswari Corp terus diperketat.
Haryo secara rutin melaporkan setiap pergerakan Maheswari Corp. Lahan-lahan kecil di sekitar proyek apartemen mangkrak Adelia kini telah sepenuhnya diakuisisi oleh Hadiningrat Group.
Pembangunan infrastruktur pendukung—jalan akses baru, taman kota modern, dan pusat perbelanjaan mini—berjalan dengan sangat cepat. Area yang dulunya sepi dan tidak menarik, kini mulai hidup dan bernilai tinggi.
Ironisnya, proyek apartemen Maheswari Corp yang berada di tengah-tengah area yang berkembang pesat itu, justru semakin terlihat seperti monumen kegagalan.
Bangunan-bangunan yang baru setengah jadi itu kini menjadi pemandangan yang menyedihkan, kontras dengan kemajuan di sekitarnya.
Di kantor Maheswari Corp, suasana semakin mencekam. Adelia terlihat semakin kurus, lingkaran hitam di bawah matanya semakin pekat. Ia menghabiskan malam-malamnya di kantor, mencoba mencari jalan keluar dari krisis yang melilit perusahaannya.
"Bram, bagaimana dengan negosiasi pinjaman kita dengan Bank Sentosa?" tanya Adelia, suaranya serak.
Bramantyo, yang kini terlihat lebih gelisah, menggelengkan kepala. "Mereka menolak, Del. Mereka bilang risiko Maheswari Corp terlalu tinggi. Terutama setelah Hadiningrat Group mulai membangun di sekitar proyek kita. Mereka melihat itu sebagai sinyal buruk.
Adelia menggebrak meja. "Sinyal buruk apanya! Itu justru harusnya meningkatkan nilai lahan kita! Kenapa mereka tidak melihatnya?"
"Mereka melihatnya, Del," kata Bramantyo, mencoba menenangkan. "Tapi mereka juga melihat bahwa kita tidak bisa menyelesaikan proyek kita sendiri. Mereka takut kita tidak akan mampu bersaing dengan Hadiningrat yang kini menguasai area itu.
"Sialan!" Adelia mengumpat. "Ini pasti ulah Rizky! Aku yakin dia ada di balik semua ini!"
Bramantyo terdiam. Ia juga mulai merasakan hal yang sama. Sejak Rizky menghilang, masalah Maheswari Corp seolah datang bertubi-tubi, dan selalu ada bayangan Hadiningrat Group di baliknya.
"Kita harus menjual aset, Del," kata Bramantyo. "Beberapa properti yang tidak terlalu penting. Untuk menutupi utang yang jatuh tempo.
Adelia menatap Bramantyo dengan tatapan tajam. "Jual aset? Itu akan membuat kita terlihat semakin lemah! Dan apa yang akan kita jual? Semua aset kita terikat jaminan!"
"Ada beberapa properti pribadi milikku, Del," Bramantyo mencoba mengusulkan.
"Apartemen di Kemang, vila di Puncak itu.
"Tidak!" Adelia membentak. "Itu aset pribadiku! Aku tidak akan menjualnya!"
Bramantyo menghela napas. Ia tahu Adelia terlalu sombong untuk melepaskan aset pribadinya. Tapi ia juga tahu, jika Maheswari Corp bangkrut, ia akan kehilangan segalanya. Ia harus mulai memikirkan rencana cadangan.
Rizky, di sisi lain, tidak hanya fokus pada Maheswari Corp. Ia juga terus memperkuat posisinya di Hadiningrat Group. Ia mengusulkan sebuah proyek ambisius untuk membangun sebuah 'Smart City' di pinggiran Jakarta, sebuah kota mandiri yang terintegrasi dengan teknologi canggih dan ramah lingkungan. Proyek ini membutuhkan investasi triliunan rupiah, namun menjanjikan keuntungan jangka panjang yang luar biasa.
Awalnya, para direktur senior menentang keras. Mereka menganggap proyek itu terlalu berisiko dan terlalu besar. Namun, Rizky, dengan dukungan penuh dari Suryo, mempresentasikan visinya dengan sangat meyakinkan. Ia menunjukkan data, analisis, dan proyeksi keuntungan yang solid. Ia bahkan berhasil meyakinkan beberapa investor asing untuk bergabung.
"Proyek ini bukan hanya tentang keuntungan, Ayah," kata Rizky kepada Suryo suatu malam. "Ini tentang warisan. Hadiningrat Group harus menjadi pelopor, bukan hanya pengikut.
Suryo menatap putranya dengan bangga. "Kau sudah jauh melampaui ekspektasiku, Rizky. Kau bukan hanya seorang pebisnis, kau adalah seorang visioner.
Proyek Smart City itu akhirnya disetujui. Rizky ditunjuk sebagai kepala proyek, sebuah posisi yang memberinya kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar di Hadiningrat Group.
Suatu hari, Rizky menerima laporan dari Haryo.
"Tuan Muda, Maheswari Corp telah mengajukan permohonan pinjaman darurat kepada Hadiningrat Bank," lapor Haryo.
Rizky tersenyum tipis. "Oh, benarkah? Berapa jumlahnya?"
"Cukup besar, Tuan Muda. Untuk menutupi utang jatuh tempo dan melanjutkan proyek apartemen mereka.
"Dan bagaimana keputusan kita?"
"Secara teknis, mereka tidak memenuhi syarat, Tuan Muda. Risiko mereka terlalu tinggi," jawab Haryo. "Namun, Nyonya Adelia telah meminta pertemuan pribadi dengan Anda. Beliau ingin memohon langsung.
Jantung Rizky berdesir. Pertemuan pribadi. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu.
"Atur pertemuannya," kata Rizky. "Di kantorku. Besok pagi.
"Siap, Tuan Muda," Haryo mengangguk.
Malam itu, Rizky tidak bisa tidur. Ia membayangkan pertemuan itu. Wajah Adelia yang dulu sombong, kini akan datang memohon kepadanya. Ia tidak merasakan kegembiraan yang berlebihan, hanya sebuah kepastian yang dingin.
Keesokan paginya, Rizky duduk di kantornya, menatap pemandangan kota dari balik jendela kaca. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, rambutnya tertata rapi. Ia terlihat tenang, berwibawa, dan sangat berkuasa.
Pintu kantornya terbuka. Haryo masuk, diikuti oleh Adelia.
Adelia terlihat berbeda. Wajahnya pucat, matanya sedikit bengkak, dan aura kesombongan yang dulu selalu menyelimutinya kini telah digantikan oleh keputusasaan. Ia mengenakan setelan kerja yang rapi, namun terlihat sedikit lusuh.
Ketika matanya bertemu dengan Rizky, Adelia terdiam. Ia menatap pria di hadapannya. Pria yang dulu ia kenal sebagai suami rumah tangga yang lemah, kini duduk di kursi eksekutif tertinggi Hadiningrat Group, memancarkan aura kekuasaan yang tak terbantahkan.
"Silakan duduk, Nyonya Adelia," kata Rizky, suaranya datar, tanpa emosi.
Adelia duduk di kursi di hadapan meja Rizky. Ia mencoba tersenyum, namun senyum itu terlihat kaku dan palsu.
"Rizky," kata Adelia, suaranya bergetar. "Aku... aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.
"Dunia ini kecil, Nyonya Adelia," jawab Rizky, tatapannya dingin. "Terutama di dunia bisnis.
Adelia menelan ludah. Ia merasa sangat kecil di hadapan pria ini. "Aku datang untuk membahas permohonan pinjaman Maheswari Corp.
"Saya sudah melihat laporannya," kata Rizky. "Secara objektif, Maheswari Corp tidak memenuhi syarat. Risiko terlalu tinggi.
"Tapi... tapi kita punya sejarah, Rizky," Adelia mencoba memohon. "Kita pernah... kita pernah menikah.
Rizky tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Sejarah? Sejarah kita adalah sejarah penghinaan dan pengkhianatan, Nyonya Adelia. Dan di dunia bisnis, itu bukan aset, melainkan liabilitas.
Wajah Adelia memerah. Ia merasa malu, marah, dan putus asa. "Apa yang kamu inginkan, Rizky? Kamu ingin melihatku hancur?"
Rizky bersandar di kursinya, menatap Adelia lurus. "Saya tidak ingin melihat Anda hancur, Nyonya Adelia. Saya hanya ingin Anda merasakan apa yang saya rasakan. Saya ingin Anda menyesal. Tanpa ampun.
Adelia menatap Rizky, matanya berkaca-kaca. Ia melihat kilatan dingin di mata pria itu. Kilatan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kilatan yang membuatnya merinding.
"Aku... aku minta maaf, Rizky," kata Adelia, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku tahu aku salah. Aku sangat menyesal.
Rizky tidak bergeming. "Penyesalan Anda tidak akan mengubah fakta bahwa Maheswari Corp sedang di ambang kebangkrutan. Dan Hadiningrat Bank tidak akan memberikan pinjaman kepada perusahaan yang tidak layak.
Adelia menunduk, air mata mulai menetes. Ia tahu, ini adalah akhir.
"Namun," Rizky melanjutkan, suaranya sedikit melunak, "Hadiningrat Group tertarik untuk mengakuisisi beberapa aset Maheswari Corp.
Proyek apartemen Anda di Cilandak, misalnya. Kami bisa menyelesaikannya. Dengan harga yang pantas, tentu saja.
Adelia mendongak, matanya membelalak. "Akuisisi? Kamu ingin mengambil alih perusahaanku?"
"Bukan mengambil alih," Rizky mengoreksi. "Hanya menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Ini adalah tawaran terbaik yang bisa Anda dapatkan, Nyonya Adelia. Atau Anda bisa membiarkan Maheswari Corp bangkrut dan kehilangan segalanya.
Adelia menatap Rizky, lalu menatap ke luar jendela. Ia melihat Hadiningrat Tower yang menjulang tinggi, dan di bawahnya, kerajaannya yang kini rapuh. Ia tahu, ia tidak punya pilihan.
"Aku... aku akan memikirkannya," kata Adelia, suaranya lemah.
"Tidak ada banyak waktu, Nyonya Adelia," kata Rizky. "Utang Anda akan jatuh tempo. Saya akan memberikan waktu sampai besok sore. Setelah itu, tawaran ini akan hangus."
Adelia bangkit, tubuhnya gemetar. Ia berjalan keluar dari kantor Rizky, meninggalkan jejak penyesalan yang mendalam.
Rizky menatap kepergian Adelia. Ia tidak merasakan kemenangan yang manis, hanya sebuah kepuasan yang dingin. Ini baru permulaan. Penyesalan Adelia baru saja dimulai. Dan ia akan memastikan, penyesalan itu akan menjadi legenda.
"jangan lupa share, like, dan komen, maaf kalo ada alur yang berantakan komen aja di kolom komentar ini yahh☺️🙏♥️