NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 10: Gedung yang Salah

​Kemeja putih lengan panjang berbahan katun standar. Rok kain hitam selutut yang sedikit kebesaran di bagian pinggang namun sudah kuakali dengan peniti dari dalam. Sepatu pantofel hitam berhak tiga sentimeter yang bagian ujungnya sudah kusemir semalaman agar goresan lamanya tidak terlalu memantulkan cahaya. Serta rambut yang diikat ekor kuda serapi mungkin, dijepit dengan banyak jepitan lidi hitam agar tidak ada sisa poni yang menjuntai lelah.

​Aku menatap pantulan diriku di cermin lemari plastik kamarku.

​Ini adalah seragam tempur universal bagi jutaan fresh graduate di negeri ini. Seragam yang secara visual meneriakkan satu kalimat putus asa yang sama: Tolong pekerjakan saya, saya bersedia disuruh memfotokopi dokumen sampai malam dan lembur tanpa dibayar.

​"Nara, udah jam enam lebih! Nanti kamu kejebak macet lho!"

​Suara Ibu menembus dinding triplek dari arah dapur. Aku meraih map plastik bening berisi fotokopi ijazah, transkrip nilai legalisir, dan CV hasil revisian semalam. Aku memasukkannya ke dalam tas jinjing hitamku dengan ekstra hati-hati.

​Kertas-kertas ini sekarang secara resmi berharga lebih dari egoku. Ini adalah tiket tebusanku untuk mencicil deretan angka di buku catatan merah yang saat ini sedang tidur nyenyak di saku celemek Ibuku.

​"Iya, Bu. Berangkat sekarang," balasku, keluar dari kamar.

​Aku mencium punggung tangannya di depan pintu. Ibu menepuk bahuku pelan. "Yang lantang kalau ditanya HRD. Jangan nunduk. Dan jangan lupa senyum. Orang HRD itu suka anak muda yang auranya ramah, bukan yang mukanya ditekuk kayak mau nagih utang."

​(Oh, ironi yang sungguh luar biasa indahnya).

​"Iya, Bu," jawabku patuh. Mengangguk adalah cara paling efisien untuk mengakhiri percakapan pagi dengan Sri Wahyuni.

​Aku melangkah keluar rumah. Udara pagi terasa dingin, tapi di dalam kepalaku, mesin kalkulator itu sudah menyala otomatis. Tiga juta per bulan. Ditambah uang kos. Ditambah uang makan. Ditambah transportasi. Aku menghitung beban angka-angka itu sambil berjalan cepat menuju pangkalan angkot di depan gang.

​Aku tidak tahu tes brutal macam apa yang menantiku di Adristo Group hari ini. Aku hanya tahu satu hal dengan sangat pasti: aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan pekerjaan itu.

​Aku tidak punya kemewahan untuk gagal.

​Menara Adristo berdiri angkuh di jantung kawasan Segitiga Emas Jakarta. Gedung itu seolah didesain khusus oleh arsiteknya untuk mengingatkan orang-orang kecil sepertiku bahwa kami hanyalah partikel debu di bawah sol sepatu mahal para penghuninya.

​Gedungnya berlapis kaca gelap, menjulang tiga puluh sekian lantai ke langit, memantulkan sinar matahari pagi dengan cara yang sangat mengintimidasi.

​Aku tiba di pelataran gedung pukul tujuh lebih empat puluh lima menit.

​Begitu kakiku melangkah melewati pintu putar kaca raksasa di lobi utama, aku langsung disambut oleh semburan pendingin ruangan yang suhunya disetel menyerupai kutub utara. Namun, bukan suhu ruangan itu yang membuat perutku mendadak mulas. Melainkan pemandangannya.

​Lobi marmer yang luasnya menyamai lapangan bola itu dipenuhi oleh lautan manusia berseragam hitam-putih. Ada ratusan mungkin nyaris seribu pelamar di sana.

​Semuanya memegang map plastik. Beberapa dari mereka sedang komat-kamit menghafal sesuatu menghadap tembok, beberapa sibuk membenarkan letak dasi, dan beberapa lagi mengobrol dengan tawa gugup yang dipaksakan.

​(Ya ampun. Ini proses walk-in interview atau migrasi kawanan penguin massal?)

​Aku menelan ludah. Sari tidak bercanda saat ia bilang Adristo Group sedang open recruitment besar-besaran. Tapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa pelamar untuk posisi Staf Administrasi akan se-absurd ini kompetisinya.

​"Perhatian kepada seluruh kandidat!"

​Sebuah suara nyaring dari megaphone membelah kebisingan lobi. Seorang pria berseragam HRD dengan lanyard biru bertuliskan kepanitiaan berdiri di atas semacam panggung kecil di dekat meja resepsionis.

​"Untuk kelancaran screening dokumen tahap pertama, kami akan membagi alur wawancara berdasarkan abjad awal nama lengkap Anda sesuai KTP!" serunya menggema. "Abjad A sampai M, silakan gunakan Lift Blok A di sebelah kanan dan naik ke Lantai 3, Ruang Serbaguna! Sekali lagi, Abjad A sampai M ke Lantai 3! Untuk Abjad N sampai Z, silakan gunakan Lift Blok B di sayap kiri dan langsung menuju ke Lantai 4, Ruang Conference B!"

​Aku mencerna instruksi itu cepat. Namaku Nara. Huruf N. Berarti aku harus pergi ke sayap kiri, Lift Blok B, dan naik ke Lantai 4. Instruksi yang sangat jelas.

​Aku membetulkan letak tas jinjingku dan mulai bermanuver membelah lautan penguin itu menuju sayap kiri.

​Masalahnya, aku sangat benci kerumunan. Tubuhku yang tidak terlalu tinggi membuatku terombang-ambing, terdorong oleh puluhan pelamar berbadan besar yang terlihat sangat panik dan agresif ingin mendapat giliran interview pertama.

​Di depan deretan pintu Lift Blok B, antreannya sudah mengular tidak karuan sampai ke tengah lobi. Ada empat pintu lift di sana, dan semuanya berjejalan manusia. Udara di sekitarku mendadak dipenuhi aroma campuran peluh gugup dan parfum minimarket yang menyengat.

​Aku berdiri di antrean paling belakang, mencoba mengatur napas agar tidak terkena serangan panik.

​Saat itulah, dari sudut mataku, aku melihat sebuah lorong kecil yang agak tersembunyi di sebelah pilar marmer raksasa.

​Di ujung lorong berkarpet tebal itu, ada satu pintu lift berdaun emas yang terbuka.

​Seorang petugas cleaning service baru saja menarik keluar troli alat pelnya dari dalam sana, meninggalkan lift itu dalam kondisi menyala dengan pintu masih terbuka lebar. Tidak ada antrean di depannya. Tidak ada satu pun "penguin" yang menyadari keberadaan lift itu karena mereka semua terlalu sibuk saling sikut di lift utama.

​Otak efisiensiku langsung mengambil alih kendali. Kenapa aku harus berdesakan membuang energi dan kewarasan jika ada lift kosong yang fungsinya sama-sama membawa manusia ke atas?

​Aku menundukkan kepala, menyelinap cepat keluar dari antrean utama, dan berjalan setengah berlari memasuki lorong kecil itu.

​Hap. Aku berhasil melompat masuk tepat sebelum pintu emas itu tertutup.

​Aku berdiri sendirian di dalam. Interior lift ini jauh lebih mewah dari lift mana pun yang pernah kumasuki seumur hidupku. Dindingnya berlapis kayu mahogany asli, dengan cermin tanpa noda dan karpet merah tebal yang menenggelamkan ujung sepatuku.

​Aku menghela napas lega, bersyukur terbebas dari lautan pelamar di lobi tadi.

​Aku menatap panel tombol lift. Angka-angkanya menyala biru elegan. Aku mengangkat jari telunjukku, mencari angka 4, lalu menekannya.

​Tidak terjadi apa-apa. Tombol angka 4 tidak menyala.

​Aku mengerutkan kening. Kutekan lagi, kali ini agak keras. Masih tidak merespons. Aku mencoba menekan angka 3. Tidak menyala juga.

​Kepanikan kecil mulai merayap naik ke tengkukku. Apakah lift ini rusak? Apakah ini lift khusus barang yang sedang mogok?

​Tiba-tiba, tanpa kutekan, sebuah tombol di paling atas panel menyala terang dengan warna merah. Angka 30.

​Lalu, mesin lift berdengung pelan sangat halus nyaris tanpa getaran dan aku merasakan tarikan gravitasi yang kuat saat kotak mewah ini melesat naik dengan kecepatan eksponensial. Telingaku sedikit berdengung karena perubahan tekanan udara.

​Aku mendongak menatap layar digital di atas pintu. Angkanya melompat gila-gilaan. 10... 15... 20... 27...

​(Tunggu, tunggu, tunggu. Berhenti. Ini naik ke mana? Halo?! Pak Satpam?!)

​TING.

​Denting bel berbunyi sangat jernih. Pintu lift terbuka perlahan, menggeser daun emasnya ke samping.

​Aku berdiri mematung di dalam lift, menatap pemandangan di depanku dengan mata membulat.

​Ini jelas bukan Lantai 4. Ini jelas bukan Ruang Conference B tempat antrean ratusan pelamar tadi berada.

​Lantai ini... senyap. Sangat, sangat senyap.

​Lantainya berlapis marmer hitam pekat yang memantulkan pendaran cahaya lampu gantung kristal di atasnya. Dindingnya bukan sekat kaca murah seperti ruang meeting biasa, melainkan panel kayu berukir dan dinding abu-abu minimalis yang memancarkan aura 'uang triliunan rupiah'. Suhu AC di sini setidaknya lima derajat lebih dingin daripada di lobi bawah.

​Tidak ada antrean pelamar. Tidak ada staf HRD ber-megaphone. Tidak ada dering telepon. Keheningan di lantai ini terasa sangat mahal, jenis keheningan yang menyedot suaramu sebelum kau sempat mengeluarkannya dari tenggorokan.

​Aku melangkah keluar dari lift dengan sangat pelan, menjinjitkan kakiku seolah takut bunyi hak pantofelku akan memicu laser alarm.

​Pintu lift tertutup rapat di belakangku. Mengunciku di lantai antah berantah ini.

​Aku menelan ludah. Kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan dengan waspada.

​Di ujung lorong panjang sebelah kanan, ada sebuah meja resepsionis kayu yang melengkung elegan, tapi kursinya kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa yang berjaga.

​Di ujung lorong sebelah kiri, ada sebuah pintu ganda berbahan kayu jati berukuran raksasa. Pintunya sedikit terbuka, menyisakan celah sekitar dua sentimeter.

​Otak normalku berteriak menyuruhku berbalik, menekan tombol turun, dan kembali ke habitat asalku di lobi. Tapi masalahnya, panel tombol lift di luar sini mensyaratkan kartu akses (RFID) yang harus di-tap sebelum bisa ditekan.

​(Bagus, Nara. Hebat. Selamat. Di hari pertama kamu berniat menjual jiwa ke korporat, kamu malah nyasar ke sarang bos mafia. Tinggal tunggu waktu sampai satpam menangkapmu, menyeretmu ke basement, dan menuduhmu sebagai mata-mata industri pencuri data.)

​Aku menggigit bibir bawahku keras-keras.

​Jangan panik, perintahku pada diriku sendiri. Mengingat kembali teori dasar bahwa ketenangan adalah satu-satunya tameng yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.

​Aku memutuskan berjalan perlahan ke arah ujung lorong sebelah kiri, menuju pintu kayu ganda yang sedikit terbuka itu. Aku akan mengetuk, tersenyum ramah, meminta maaf dengan bahasa Indonesia paling sopan yang ada di KBBI, lalu memohon kepada siapa pun di dalam sana untuk meminjamkan akses lift agar aku bisa turun ke lantai empat. Rencana yang sangat sederhana dan masuk akal.

​Aku sampai di depan pintu ganda tersebut.

​Aku mengangkat tangan kanan, bersiap mengetuk daun pintunya.

​"Masuk. Pintunya tidak dikunci."

​Sebuah suara pria dari dalam ruangan terdengar menghentikan kepalan tanganku di udara.

​Suaranya tidak berteriak, volumenya terukur normal, tapi memiliki bariton yang dalam, dingin, dan mengisyaratkan otoritas absolut yang tidak terbiasa dibantah.

​Jantungku melompat satu ketukan penuh.

​(Dia tahu aku di luar? Dari mana dia tahu? Dia bisa melihat tembus tembok atau dia punya sensor panas tubuh?)

​Aku menarik napas panjang. Aku tidak punya pilihan lain untuk turun selain menghadapi orang ini. Aku mendorong salah satu daun pintu kayu raksasa itu hingga terbuka lebar, dan melangkah masuk.

​Ruangan itu... luar biasa besar.

​Terdapat dinding kaca floor-to-ceiling di satu sisi ruangan yang menawarkan pemandangan skyline kota Jakarta secara panoramic dari ketinggian lantai tiga puluh. Di tengah ruangan, terdapat set sofa kulit berwarna charcoal yang tampak belum pernah diduduki.

​Dan di ujung seberangnya, di balik sebuah meja kerja kayu solid yang bersih dari tumpukan kertas, duduklah seorang pria.

​Ia sedang membaca sebuah dokumen bersampul tebal, pandangannya menunduk.

​"Kamu yang dikirim Daniel?" tanya pria itu tanpa repot-repot mengangkat wajahnya.

​Langkahku terhenti di tengah ruangan.

​Daniel? Siapa Daniel? Kepala HRD? Manajer Administrasi?

​Otakku melakukan kalkulasi milidetik. Kalau aku bilang bukan, aku mungkin akan langsung diusir keluar dan kehilangan kesempatanku interview di gedung ini selamanya. Kalau aku mengiyakan, anggap saja ini memang bagian dari tes wawancara jalur khusus yang tidak kutebak. Toh, perusahaan ini memang dipenuhi sistem yang tidak masuk akal bagiku.

​"Iya, Pak," jawabku lantang, berbohong dengan kejernihan dan ketenangan seorang sosiopat.

​Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, menutup dokumennya, lalu meletakkan pulpen mahalnya ke atas meja.

​Dan untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya secara utuh.

​Dia tidak berumur empat puluhan, tidak buncit, dan tidak botak seperti bayanganku tentang para petinggi perusahaan. Dia terlihat baru menginjak usia awal atau pertengahan tiga puluhan.

​Wajahnya memiliki struktur tulang yang sangat tegas rahang yang kaku, hidung yang lurus, dan sepasang mata tajam berwarna hitam kelam yang menatapku seolah aku adalah deretan angka anomali di laporan keuangannya.

​Dia tidak hanya tampan secara konvensional. Dia terlihat... mahal. Presisi. Sangat terawat, dengan kemeja navy gelap yang melekat sempurna di bahu lebarnya tanpa satu pun lipatan kusut. Ia tidak memakai dasi, dan dua kancing kerah teratasnya dibiarkan terbuka.

​Ada aura lelah yang membayang tipis di bawah matanya, tapi itu sama sekali tidak menutupi ketajamannya sebagai seorang predator puncak di gedung ini.

​Pria itu menatapku. Matanya memindai penampilanku dari ujung ikatan rambutku, kemeja putihku, hingga ke ujung pantofel bututku hanya dalam waktu kurang dari tiga detik.

​Keningnya sedikit berkerut.

​Aku tidak tahu tes apa yang sedang dijalaninya, jadi aku menggunakan insting profesional yang sudah kulatih semalaman di depan cermin kamarku.

​Aku memaksakan kakiku melangkah maju mendekati mejanya. Aku mengulurkan tangan kananku dengan gerakan mantap, menatap lurus ke matanya, dan menyunggingkan senyum profesional yang terukur.

​"Selamat pagi, Pak. Nama saya Nara," kataku tegas.

​Pria itu menatap tanganku yang terulur sejenak. Ia tampaknya tidak mengekspektasikan jabat tangan pagi ini. Namun, ia menyambut uluran tanganku.

​Tangannya besar, terasa dingin, dan genggamannya singkat namun sangat bertenaga.

​"Rayan," balasnya dengan suara mendengung rendah. Ia menarik tangannya kembali.

​Pria bernama Rayan itu kemudian menunjuk ke arah kursi kulit kosong di seberang mejanya dengan gerakan dagu yang sangat arogan.

​"Duduk," perintahnya singkat.

​Aku menurut. Menarik kursi itu dan duduk dengan punggung tegak lurus seolah ada papan kayu yang diikat di punggungku. Aku meletakkan tas jinjingku di pangkuan, bersiap membuka resletingnya untuk mengeluarkan map CV-ku.

​"Kamu telat tiga menit dari jadwal yang sudah ditentukan Daniel," kata Rayan, menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya.

​(Jadwal? Jadwal apa? Jam delapan saja baru lewat lima menit!)

​"Maaf, Pak. Kondisi antrean pelamar di lobi bawah sangat padat, dan saya mengalami sedikit kendala teknis dengan lift yang membawa saya ke mari," jawabku, mempertahankan intonasi suaraku senetral mungkin.

​Rayan melipat kedua tangannya di atas perut. Matanya mengulitiku tanpa ampun.

​Aku tidak tahu apa yang sedang ditunggunya. Aku hanya tahu bahwa buku catatan merah Ibu sedang berkedip-kedip di dalam ingatanku. Uang tiga juta. Aku butuh pekerjaan ini. Aku tidak peduli siapa Rayan atau Daniel ini, aku akan membuktikan bahwa aku adalah staf administrasi yang mereka butuhkan.

​Aku membalas tatapannya tanpa berkedip. Menunggu pertanyaan pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!