NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:83.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI DI BAWAH LANGIT LONDON.

Pagi itu, langit London tampak bersahabat dengan semburat jingga yang menembus celah jendela mansion. Sesuai kesepakatan, Fardan dan Alisha segera mengurus seluruh dokumen pernikahan mereka. Henry, dengan koneksinya yang luas, mendatangkan seorang penghulu dan pemuka agama Islam setempat. Meski berada di negeri orang, prosesi akad nikah berlangsung dengan khidmat dan penuh haru. Kalimat syahadat dan ijab kabul yang diucapkan Fardan terdengar begitu mantap, menggetarkan sanubari siapa pun yang mendengar.

Setelah sah di mata agama dan hukum, Henry membawa rombongan kembali ke mansion. Alisha tertegun saat melangkah ke taman belakang. Area hijau yang luas itu telah disulap menjadi tempat pesta kebun yang sangat cantik dengan dekorasi bunga-bunga putih yang segar.

"Ayah? Kapan Ayah menyiapkan semua ini?" tanya Alisha dengan mata berkaca-kaca.

Henry tersenyum lebar sambil merangkul bahu putri angkatnya. "Seorang ayah harus selalu siap memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan putrinya, Alisha. Lihat, teman-teman kantormu juga sudah datang."

Teman-teman kerja Alisha selama di London berdatangan memberikan selamat. Suasana begitu meriah, dipenuhi tawa dan doa-doa baik. Ghifari tampak berdiri di sudut taman, memperhatikan kedua orang tuanya dengan senyum tipis yang jarang terlihat. Dalam hatinya, bocah jenius itu berjanji tidak akan membiarkan siapa pun merusak tawa ibunya lagi. Ia akan menjadi benteng terdepan bagi keutuhan keluarga ini.

Malam pun tiba, menggantikan keriuhan pesta dengan keheningan yang menenangkan. Henry menghampiri Alisha yang sedang berbincang dengan Margaretha.

"Alisha, bawalah suamimu masuk ke kamar. Fardan baru saja sembuh dari sakit parah, dia butuh istirahat total agar kondisinya pulih sepenuhnya," perintah Henry dengan nada kebapakan.

Alisha mengangguk patuh. Ia menghampiri Fardan yang memang terlihat sedikit pucat karena kelelahan setelah rangkaian acara seharian. "Mari, Fardan. Ayah menyuruhmu istirahat di atas."

Mereka melangkah bersama menuju lantai dua, tempat kamar Alisha berada. Begitu pintu kayu besar itu tertutup, suasana mendadak berubah menjadi canggung. Alisha berdiri di dekat meja rias, meremas jemarinya sendiri sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

"Istirahatlah di sana, Fardan. Aku akan keluar sebentar untuk memeriksa Ghifari," ucap Alisha pelan, bermaksud menghindari kecanggungan yang semakin pekat.

Namun, baru saja ia berbalik, tangan Fardan sudah menahan lengannya dengan lembut namun pasti. Fardan menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam. "Alisha, kau mau ke mana? Bukankah kita sudah resmi menjadi suami istri lagi? Mengapa kau seolah ingin menghindar dariku?"

Alisha menarik napas panjang, ia mencoba jujur pada perasaannya sendiri. "Beri aku waktu, Fardan. Meski kita sudah menikah lagi, hatiku masih memiliki ganjalan yang sulit aku jelaskan. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk menghapus segala keraguan."

Fardan melangkah mendekat, ia melepaskan pegangan tangannya dan menangkup wajah Alisha. "Aku mengerti. Aku berjanji tidak akan melakukan apa pun sampai kau benar-benar siap lahir dan batin. Tapi, aku mohon, tetaplah tidur di sini bersamaku malam ini. Aku takut jika aku menutup mata, saat aku bangun kau sudah menghilang lagi seperti mimpi."

Melihat ketulusan dan sorot mata yang memohon itu, pertahanan Alisha runtuh. Ia tidak tega menolak pria yang sudah mempertaruhkan nyawanya di tengah badai salju hanya untuk mencarinya. "Baiklah. Aku akan tinggal."

Malam itu, mereka berbaring di atas ranjang yang sama dengan jarak yang terjaga. Lampu kamar sudah diredupkan, hanya menyisakan cahaya remang-remang dari lampu nakas.

"Bolehkah aku menggenggam tanganmu? Hanya genggam saja, agar aku tahu kau benar-benar ada di sini," bisik Fardan di tengah kegelapan.

Alisha terdiam sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangannya di atas seprai. Fardan segera menyambutnya, menautkan jemari mereka dengan erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Dalam keheningan malam itu, mereka tertidur dengan tangan yang saling bertautan, menjadi saksi bisu kembalinya ikatan yang sempat terputus.

Keesokan paginya, matahari London mulai mengintip dari balik tirai. Fardan tersentak bangun, tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya. Kosong. Dingin. Seketika kepanikan hebat menyerang pikirannya. Bayangan Alisha yang pergi meninggalkannya kembali menghantui seperti mimpi buruk.

"Alisha! Alisha, kau di mana?" teriak Fardan sambil melompat dari tempat tidur.

Ia keluar kamar dengan penampilan yang sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan, kemeja tidurnya kusut, dan wajahnya menampakkan ketakutan yang luar biasa. Ia berlari menuruni tangga sambil terus memanggil nama istrinya.

"Alisha! Jangan pergi lagi! Tolong jangan tinggalkan aku!" suaranya menggema di seluruh penjuru mansion.

Henry, Margaretha, dan Ghifari yang sedang bersiap di ruang makan terlonjak kaget. Mereka melihat Fardan yang tampak seperti orang linglung sedang berdiri di tengah aula besar. Tak lama kemudian, Alisha muncul dari arah dapur membawa nampan berisi buah-buahan.

"Fardan? Ada apa denganmu? Kenapa berteriak-teriak?" tanya Alisha dengan wajah bingung.

Fardan terpaku. Semua mata di ruangan itu tertuju padanya dengan tatapan heran. Menyadari kebodohannya, Fardan langsung merapikan rambutnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya memerah karena malu yang luar biasa.

"Maaf, Ayah. Maaf, Ibu. Saya... saya tadi bermimpi buruk. Saya kira Alisha pergi lagi karena dia tidak ada di samping saya saat saya bangun," ucap Fardan sambil menunduk malu.

Henry terkekeh melihat tingkah menantunya itu. "Kau ini seperti anak kecil saja, Fardan. Alisha hanya ke dapur menyiapkan buah. Alisha, sebaiknya temani suamimu kembali ke kamar. Urus dia, sepertinya dia butuh ditenangkan."

Alisha tersenyum simpul dan meletakkan nampannya. Ia mendekati Fardan dan menuntunnya kembali ke lantai atas. Begitu masuk ke dalam kamar, Fardan langsung memeluk Alisha dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.

"Tolong, Alisha. Lain kali bangunkan aku dulu sebelum kau pergi dari kamar. Perasaanku langsung kacau, aku merasa duniaku runtuh saat tidak melihatmu," bisik Fardan dengan suara yang masih gemetar.

Alisha merasakan ketulusan itu meresap ke dalam hatinya. Ia mengangkat tangannya dan mengelus rambut Fardan dengan lembut, memberikan kenyamanan yang sangat dibutuhkan suaminya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya ingin membantu Ibu Margaretha menyiapkan sarapan."

Fardan melepaskan pelukannya, menatap mata Alisha dengan binar yang lebih tenang. "Janji jangan pergi tanpa memberi tahu aku?"

"Iya, aku janji. Sekarang pergilah mandi. Tubuhmu harus segar agar kita bisa sarapan bersama keluarga dengan tenang. Aku akan menyiapkan baju gantimu di sini," ucap Alisha sambil tersenyum tulus.

Fardan menurut seperti anak kecil yang penurut. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Sementara itu, Alisha mulai membuka lemari dan mengeluarkan setelan kasual untuk Fardan. Sambil menyiapkan pakaian, Alisha tersenyum sendiri. Ia menyadari bahwa meski lukanya belum sepenuhnya sembuh, kehadiran Fardan yang sekarang mulai memberikan warna baru dalam hidupnya.

Di bawah, Ghifari mendengarkan percakapan singkat orang tuanya lewat perangkat penyadap kecil yang ia pasang di jam dinding kamar. Bocah itu menyandarkan punggungnya di kursi makan sambil melipat tangan. "Ayah memang payah soal perasaan, tapi setidaknya dia jujur," gumamnya pelan sambil melanjutkan sarapannya dengan tenang.

Kehidupan baru mereka di London baru saja dimulai, membawa harapan bahwa badai masa lalu benar-benar telah berlalu dan menyisakan pelangi yang indah bagi keluarga kecil mereka.

1
Rahmawati Amma
kayanya ibu tiri tuh maklampir si ratnasari
Rahmawati Amma
fardan katanya jenius kok ngak cari tau kebenarannya malah langsung nuduh 🤣
Nanik Arifin
semoga setelah tinggal di Indonesia lagi, Fahmi tahu kebenarannya & berubah sikap + mau hijrah memperdalam agama spt adiknya. bgmnpun ada darah mama Ratih yg lembut mengalir di tubuhnya
Yanrina Savitri
Tikus berdasi ya Ghifari
Yanrina Savitri
Bukankah Maya ini punya anak dr suaminya yg jahat itu. Dimn anak2 nya skrng? Apa dibawa suaminya?
Yanrina Savitri
Abis dr parapat keberastagi lg thor. Daerah pegunungan ini
Yanrina Savitri
Thor mo nanya apakah author orang batak atau orang medan melayu?
Ramanda.: Saya suku Minang, tinggal di Medan kak.
total 1 replies
Yanrina Savitri
Tapi kl naik kebderaan bisa sewa mibil dr medan. Medan parapat ditempuh skitar 2 jam 45 menit dr medan. Skrng sdh ada tol yg menghubungkan medan sp siantar. Dr siantar parapat 30 menit. Hitung2 kl naik pswt dr jakarta bisa lbh lama .
Yanrina Savitri
+5 Bandara terdekat dari Parapat adalah Bandar Udara Sibisa (sekitar 15 km, 30-45 menit). Namun, bandara utama yang paling sering digunakan wisatawan dengan konektivitas penerbangan lebih baik adalah Bandar Udara Internasional Sisingamangaraja XII atau sebelumnya dikenal sebagai Bandara Silangit (DTB) (sekitar 2 jam
Aghitsna Agis
kurung aja trs kasihkan kebuaya darat buat sarapanya biar aman
Lia siti marlia
bener bener yah c fahmi gak ada otaknya ...orang seperti dia harusnya di buang ke artatika🤭
Yanrina Savitri
Wang2 dikorupsi para koruptor dan yg disimpan di bank of Swiss semua balik lagi ke indonesia dibuat ghifari.
Lia siti marlia
selamat yah fajar akhirnya unboxing juga 🤭🤭🤭
Bintang 1016
jos jis pokoknya kak outhor,,,,semangat trs untuk up nya
Bintang 1016
kerennnnn💞💞👍👍👍👍
Julidarwati
badai pasti berlalu tergantung dri org mo pilih badai yg mn
Lia siti marlia
yap semangat fajar buat menghadapi badai di keluarga mu 💪💪💪😄
lili Permatasari
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Lia siti marlia
uh baru aja sah dah ada bibit pelakor 🤭untung aja langsung di hempaskan😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!