Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Di Saat Ia Tak Ada”
"Atau Ibu akan membuat Nayla membencimu."
Seketika, Darvian berdiri. Tatapannya menajam, nyalang penuh amarah.
"Dengarkan dulu," ucap Diana, kini lebih lembut.
"Jangan pulang ke rumah ini sebelum satu bulan."
Tatapan Darvian semakin tajam.
"Dan jangan mengawasi Nayla dari jauh."
"Kam—" ucapannya terpotong.
"Apa-apaan ini!" bentaknya lantang, berkacak pinggang dengan tatapan tajam.
"Dengarkan dulu, Darvin! Duduk!" sahut Diana lebih keras.
Darvian terdiam sejenak, rahangnya mengeras.
"Kalau kamu sabar, kamu akan diuntungkan," lanjut Diana dengan nada lebih rendah.
Diana kembali memijat pelipisnya yang semakin terasa nyeri.
Ia menghela napas panjang, terasa berat di dadanya.
Darvian tetap enggan duduk. Ia bersedekap, mencoba mendengarkan dengan saksama—terutama setelah mendengar kata menguntungkan.
Diana menatap anaknya lekat. Paras itu… sama persis dengan almarhum suaminya.
Rasa rindu menyelusup pelan.
Ia ingin memeluknya.
Namun, jangankan memeluk—disentuh saja, ia tahu tatapan jijik itu akan kembali ia terima dari anaknya sendiri.
"Duduk, Darvin," titahnya lembut.
Darvian terdiam sejenak, lalu akhirnya duduk, meski wajahnya masih menyimpan sisa emosi.
"Bicara saja. Apa keuntungannya?" ucapnya, suaranya tak lagi setinggi tadi.
"Oke..." Diana menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Kalau selama satu bulan ini perasaanmu terhadap Nayla masih sama—tanpa melihatnya, tanpa mencari tahu keadaannya, bahkan sekadar lewat ponsel..."
Diana terdiam sejenak, menarik napas dalam.
"Ibu akan mendukungmu sepenuhnya."
"Bahkan, Ibu akan membantu hubungan kalian agar lebih dekat."
Darvian menoleh, tertarik. Wajahnya mulai mengendur, jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Tapi, Darvin," ucap Diana penuh penekanan.
"Selama satu bulan ini, kamu harus benar-benar merenungkan perasaanmu."
"Apakah perasaan itu nyata untuk Nayla... atau hanya sekadar rasa penasaran."
Darvian terdiam, tenggelam dalam pikirannya.
Di satu sisi, ia ingin mendapatkan Nayla. Ia tahu gadis itu bukan sosok yang mudah didekati.
Namun di sisi lain... mampukah ia menjauh? Bahkan tanpa melihatnya selama satu bulan?
Minggu lalu saja—baru tiga hari tak melihat Nayla—ia sudah gelisah.
Apalagi satu bulan. Batinnya berkecamuk
"Kalau kamu benar-benar mencintai Nayla... bukan sekadar main-main," lanjut Diana, suaranya melembut namun tetap tegas.
"Kesempatan ini justru baik untuk menguji perasaanmu."
"Apakah kamu serius... atau hanya penasaran."
Darvian tak bersuara sedikit pun. Ia hanya mendengarkan dengan fokus.
"Jujur saja, sejak awal kedatanganmu—saat Nayla masih baru di sini—"
"Ibu sudah melihat tatapanmu berbeda padanya."
Diana menghela napas panjang.
"Awalnya, Ibu pikir kamu tidak akan sejauh ini."
"Ibu kira kamu cukup... memperhatikannya dari kejauhan."
"Bukan malah—"
"Menggodanya terang-terangan."
"Nayla tidak akan tergoda," ucapnya tegas.
Darvian seketika menatap Diana lekat.
"Tapi yang Ibu takutkan... kamu hilap."
"Dan malah membuat Nayla membencimu."
"Bahkan Arkan... mungkin juga akan dibencinya."
Deg.
Benci, batin Darvian.
"Itu yang Ibu takutkan," lanjut Diana pelan.
"Ibu sudah menghubungi Danu. Kamu berangkat subuh ini—tanpa melihatnya."
"Kamu harus tegas. Beri batas pada dirimu sendiri, Darvin," ucapnya tegas, lalu berlalu pergi.
......................
Darvian menghela napas panjang.
Apa yang dikatakan ibunya... semuanya masuk akal.
Ia harus memastikan perasaannya.
Dan untuk itu, ia harus memberi batas pada dirinya sendiri.
Meki ia tahu... itu tidak akan mudah.
**
Pagi hari di kota tempat Nayla dan Arkan berada.
Rutinitas mereka masih sama—bangun pagi, berjalan-jalan di taman, lalu sarapan bersama.
Setelah itu, Arkan akan bermain sebentar sambil menunggu guru les datang.
Siangnya diisi dengan tidur atau sekadar berjalan santai.
Hari-hari yang sederhana.
Tenang.
Tanpa kehadiran Darvian—ayah Arkan—Nayla benar-benar merasa lebih lega, tanpa tekanan.
Waktu berlalu begitu cepat.
Tak terasa, tiga minggu telah terlewati.
Rutinitas sehari-hari tak banyak berubah.
Semuanya masih berjalan seperti biasa.
Namun, ada satu hal yang perlahan berubah—
Arkan mulai bisa menerima kehadiran Zain.
Meski sesekali ia masih protes, terutama saat merasa bukan lagi prioritas bagi Nayla.
Di sisi lain, Diana hanya bisa memperhatikan dari kejauhan.
Ada keinginan dalam hatinya untuk menjadikan Nayla sebagai menantunya.
Namun, di saat yang sama, ia juga melihat Zain sebagai sosok pria yang nyaris sempurna.
Dalam kurun waktu dua minggu saja, Zain bahkan mampu membuat Arkan menerimanya.
Meski belum sepenuhnya, itu sudah lebih dari cukup—
mengingat seperti apa karakter Arkan sebenarnya.
Saat ini, mereka bertiga berada di dalam mobil milik Zain, dengan Zain sebagai pengemudi.
Dan hari ini Nayla baru saja menerima gaji pertamanya, dan ia ingin mentraktir Zain.
Ini sudah pertemuan mereka yang kelima.
Namun, dalam tiga pertemuan sebelumnya, justru Zain yang selalu membayari semuanya—termasuk Arkan.
Padahal, kalau dipikir-pikir, uang Arkan malah lebih banyak.
Sepanjang perjalanan, Arkan dan Zain terus berselisih. Perdebatan itu bermula dari keisengan Zain.
"Arkan…" panggilnya santai.
"Apa!!" sahut Arkan dengan suara khasnya, lengkap dengan tatapan tajam.
Nayla terkekeh gemas, tangannya terangkat mencubit kedua pipi Arkan dengan satu tangan.
"Ih, galak banget sih…" ucap Zain dengan nada sok ketakutan, padahal jelas-jelas sedang mengejek.
"Diam! Jangan berisik!" teriak Arkan kesal.