NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi turis di ibu kota

Setelah sesi foto yang menguras emosi itu, aku dan Rain benar-benar melepas sisa-sisa "kewarasan" kami. Kami memutuskan untuk menjadi turis paling norak yang pernah menginjakkan kaki di ibu kota.

Dengan sisa waktu sebelum penerbangan jam satu pagi, kami membiarkan diri kami larut dalam hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur ini.

​"Rain, lihat. . .!" seruku sambil menarik lengan bajunya, menunjuk ini dan itu.

​Kami berdiri di depan pagar pembatas, dan aku mengeluarkan ponsel dengan semangat yang meluap-luap. Aku memaksa Rain melakukan pose yang sangat ikonik sekaligus memalukan.

Aku tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Rain, pria yang biasanya penuh wibawa itu, harus sedikit berjongkok dan mengatur posisi jemarinya agar pas dengan perspektif kamera.

​"Ayo, Rain! Geser sedikit jempolmu ke kiri... Nah! Pas!" ucapku sambil menjepret foto berkali-kali.

​Tak mau kalah, aku pun berpose "bersandar" pada gedung pencakar langit di seberang jalan, melakukan gaya-gaya turis amatiran yang biasanya hanya aku lihat di media sosial.

Kami bahkan membeli bando kelap-kelip dari pedagang asongan dan memakainya tanpa rasa malu saat berjalan menyusuri trotoar.

​"Kalau Martin lihat kita sekarang, dia pasti langsung mencoret kita dari daftar modelnya," gumam Rain, tapi anehnya, dia tidak melepas bando kucing menyala di kepalanya.

​Lalu, urusan perut pun dimulai. Kami memutuskan untuk melakukan food crawl kecil-kecilan. Kami berhenti di pinggir jalan yang ramai, mengantre di depan gerobak nasi goreng legendaris yang asapnya mengepul hebat.

​"Ini baru namanya hidup!" ucapku dengan mulut penuh kerupuk. Aku benar-benar menikmati setiap suapan, mengabaikan diet atau aturan makan sehat.

Di depanku, Rain tampak sangat lahap menyantap sate taichan yang pedasnya minta ampun. Kami duduk di bangku plastik pendek di pinggir trotoar, di antara deru motor dan klakson bus, tapi rasanya lebih mewah daripada restoran bintang lima mana pun.

​"Rain, coba ini!" aku menyuapkan sepotong camilan yang baru matang ke mulutnya. "Rasanya beda banget sama yang biasa kita makan di festival kota kita. Ini ada sensasi... apa ya, debu ibu kotanya mungkin?" candaku yang disambut tawa tipis dari Rain.

​Kami terus berjalan, mencoba martabak manis dengan keju melimpah sampai sudut bibir kami berlepotan. Kami berfoto selfie dengan latar belakang air mancur yang sedang berganti warna. Aku tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu-lalang menatap kami dengan heran. Bagi mereka, kami mungkin hanya dua turis norak dari daerah, tapi bagiku, ini adalah momen pembebasan.

​Di bawah lampu-lampu neon yang berwarna-warni, aku melihat wajah Rain yang kini jauh lebih rileks. Hanya ada Rain yang sibuk membersihkan sisa saus di pipiku dengan tisu, sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya.

​"Tiga jam lagi menuju bandara, Ra," ucapnya lembut.

​Aku mengangguk, menyesap es teh manis plastikku. Kehangatan ibu kota malam ini, dengan segala kebisingan dan kenorakannya, menjadi penutup yang sempurna untuk perjalanan gila kami.

Aku menatap foto-foto di ponselku sekali lagi—wajah kencangku, tawa Rain, Malam ini, aku bukan wanita 34 tahun yang bimbang. Aku adalah turis yang sedang jatuh cinta pada kebebasannya sendiri.

--

Bandara internasional malam itu terasa begitu riuh, namun aku dan Rain berjalan di antara kerumunan dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di tangan kanan dan kiriku, tumpukan tas belanja berisi oleh-oleh khas ibu kota sudah menggantung berat.

Aku tidak tanggung-tanggung; ada buah tangan khusus untuk Bapak, Ibu, dan tentu saja untuk keluarga Rain, terutama Nenek Elia yang pasti sudah menantikan cerita petualangan kami.

​Kami duduk di salah satu bangku tunggu terminal keberangkatan yang dingin. Baru saja bokongku menyentuh kursi, ponsel di tas kecilku bergetar tanpa henti.

​Drrtt... Drrtt... Drrtt...

​"Rain, lihat! Martin beneran gercep banget!" seruku sambil merogoh ponsel.

​Notifikasi masuk bertubi-tubi dari tautan cloud storage yang dikirimkan tim fotografer Martin. Ada puluhan foto yang sudah selesai diedit dengan sentuhan profesional. Aku menahan napas saat membukanya satu per satu.

​"Ya ampun, Rain... ini bukan lagi 'foto bagus', ini mahakarya!"

​Kami berdua menunduk, menatap layar ponselku yang terang di tengah remang lampu bandara. Foto-foto itu terbagi menjadi dua folder: potret individu dan potret kami berdua.

​Di folder fotoku sendiri, aku melihat sosok wanita berusia 24 tahun yang tampak begitu hidup. Kulitku yang kencang tanpa cela, binar mata yang penuh rasa ingin tahu, dan senyum yang tidak lagi dipaksakan. Aku benar-benar terlihat seperti model profesional yang sedang menikmati angin laut, bukan wanita yang semalam menangis di bahu Martin.

​"Lihat foto kamu yang ini, Rain," aku menggeser layar ke folder fotonya.

​Ada foto Rain yang sedang menatap ke arah laut lepas dengan jaket tersampir di bahu. Wajahnya terlihat begitu tegas namun tenang. Garis rahangnya yang kuat tertangkap sempurna oleh cahaya matahari sore. Dia tampak seperti pria yang sudah selesai dengan masa lalunya.

​Lalu, aku membuka folder terakhir: Foto Berdua.

​Napas seolah berhenti sejenak. Di sana, ada foto kami yang sedang berdiri bersisian namun tidak bersentuhan, hanya saling menatap dengan latar belakang ombak yang pecah. Ada juga foto saat kami tertawa lepas karena sebuah lelucon konyol di tengah sesi pemotretan.

Estetikanya luar biasa—elegan, namun menyimpan keintiman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

​"Kita kelihatan... serasi ya?" gumamku tanpa sadar, suaranya hampir hilang ditelan pengumuman keberangkatan dari pengeras suara.

​Rain terdiam cukup lama menatap foto kami berdua yang sedang tertawa itu. "Martin benar, Ra. Kita butuh kenang-kenangan bahwa di tengah kekacauan lini masa ini, kita pernah sebahagia ini sebagai turis norak."

​Aku menggeser layar lagi, hatiku menghangat. Foto-foto ini adalah bukti fisik dari perjalanan gila 24 jam kami. Sebuah pelarian sejauh enam jam perjalanan motor dan satu penerbangan udara hanya untuk mencari sebuah pelukan sahabat dan jati diri yang sempat hilang.

​"Aku bakal simpan foto ini baik-baik," ucapku sambil menandai foto berdua kami sebagai favorit.

​Rain tersenyum tipis, lalu berdiri dan membantuku mengangkat tumpukan oleh-oleh yang mulai terasa berat. "Ayo, saatnya pulang ke realita. Tapi setidaknya, kali ini kita pulang dengan membawa amunisi yang cantik."

​Kami berjalan menuju gerbang keberangkatan, meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota di belakang, siap menghadapi badai yang menanti di kota asal dengan kepala tegak—dan puluhan foto cantik di dalam saku.

--

Penerbangan satu jam itu terasa begitu singkat, seolah waktu sengaja melipat dirinya untuk membawaku kembali ke kenyataan. Di sepanjang perjalanan, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari layar ponsel.

Aku terus menggeser foto demi foto, mengagumi garis wajahku yang kencang, binar mataku yang jernih, dan betapa hidupnya sosok wanita berusia dua puluh empat tahun di dalam potret itu. Aku merasa sedang jatuh cinta lagi pada diriku sendiri, versi diriku yang belum sempat patah oleh beban hidup sepuluh tahun mendatang.

​"Masih belum puas melihatnya?" suara rendah Rain memecah lamunanku.

​Aku menoleh dan nyengir lebar. "Tidak akan pernah puas, Rain. Ini seperti melihat keajaiban yang tertangkap kamera. Aku akan menyimpan ini sebagai bukti kalau aku pernah sekeren ini."

​Rain hanya tersenyum tipis, sorot matanya yang tenang seolah ikut memvalidasi kebahagiaanku.

Namun, di balik ketenangan itu, aku tahu ada badai yang sedang ia siapkan untuk dihadapi saat kakinya menginjak lantai rumahnya nanti.

​Begitu roda pesawat menyentuh aspal bandara kota kami, hawa panas yang akrab langsung menyambut. Aroma tanah dan udara yang tidak sepadat ibu kota membuatku menarik napas panjang. Kami berjalan beriringan menuju area penjemputan, memikul tumpukan oleh-oleh yang kini terasa jauh lebih bermakna.

​"Aku akan langsung ke kost," ucapku saat kami berdiri di depan taksi yang sudah menunggu.

"Aku butuh tidur di kasurku sendiri sebelum besok pagi-pagi sekali harus menghadapi interogasi Ibu dan persiapan resepsi Bian."

​Rain mengangguk paham.

Ia membantuku memasukkan tas-tas belanja berisi buah tangan untuk keluargaku ke dalam bagasi. "Istirahatlah, Ra. Kamu sudah melakukan perjalanan gila sejauh ratusan kilometer dalam dua puluh empat jam. Kamu butuh energi untuk besok."

​"Kamu juga, Rain," balasku sambil menatapnya lekat. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri saat bicara dengan Ibu dan Nenek nanti. Ingat, kamu punya foto-foto model kita kalau suasana mulai menegang."

​Rain terkekeh kecil, sebuah tawa langka yang terdengar tulus. "Akan kupikirkan untuk menjadikannya senjata darurat."

​Kami pun berpisah di sana. Aku meluncur membelah jalanan kota menuju kost-ku, tempat paling netral yang bisa kubayangkan saat ini. Sementara Rain, aku melihatnya masuk ke kendaraan lain, bersiap pulang ke rumahnya.

​Malam itu, di dalam kamarku yang remang, aku merebahkan tubuh yang rasanya remuk namun batin yang terasa penuh. Sebelum memejamkan mata, aku mengirimkan satu pesan singkat pada Martin:

​"Tin, terima kasih untuk hari ini. Aku pulang dengan hati yang jauh lebih ringan. Sampai ketemu di kota kita."

​Aku meletakkan ponsel di samping bantal, membiarkan wajah cantikku di layar menjadi gambar terakhir yang kulihat sebelum terlelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!