“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Fang
Zrttt.
Seolah ada sengatan halus yang selaras dengan tubuh Fang Yi. Saat ia duduk melamun sambil memegang artefak di tangannya, ia merasakan suatu getaran lembut. Artefak kuno itu seakan membangunkan kesadarannya sendiri, bagaikan memiliki pikiran dan kehendak dari sang master yang pernah memilikinya.
Getaran tipis itu semakin terasa. Fang Yi mulai menyadari bahwa indranya menjadi jauh lebih tajam. Suara katak dan jangkrik di luar rumah terdengar begitu jelas. Bahkan suara aliran sungai di kejauhan pun seolah berada tepat di samping telinganya. Tidak hanya itu—ia merasakan secercah kekuatan mengalir dari artefak tersebut, meski hanya sedikit, tubuhnya terasa berbeda.
“Apa ini? Kenapa aku merasa lebih peka terhadap suara? Dan… apakah penglihatanku memang setajam ini biasanya?”
Ia mengerutkan kening, satu alisnya terangkat. Rasa bingung bercampur penasaran memenuhi wajahnya.
“Apakah karena manik ini? Atau… jangan-jangan aku memang memiliki tubuh surgawi yang lahir sekali dalam seribu tahun?” gumamnya, terkekeh pelan. Ia belum pernah merasakan sensasi seperti itu sebelumnya.
Fang Yi mulai membayangkan berbagai kemungkinan. Bagaimana jika ia benar-benar mulai belajar bela diri? Bagaimana jika memang takdirnya menjadi seorang pendekar?
“Hm… mungkin aku akan menabung untuk membeli buku bela diri kelas dua.”
Ia berdiri dan berjalan masuk ke kamar, menutup pintu rapat-rapat. Artefak kuno itu tidak ia kenakan sebagai kalung, melainkan diselipkan di bawah bantalnya. Entah mengapa, ia merasa lebih aman menyimpannya di sana.
Malam semakin hening.
Dalam sejarah kuno wilayah Barat, daerah itu terbagi menjadi empat bagian besar. Ketua pertama Aliansi Murim bernama Ming. Saat masih remaja, Ming bermimpi mendirikan perguruannya sendiri—tanpa berada di bawah bayang-bayang siapa pun.
Ia hidup yatim piatu, tanpa orang tua atau pendukung. Namun semangatnya tak pernah padam. Ia memulai dari dasar, mempelajari teknik paling sederhana: langkah kaki.
Teknik ini dianggap remeh oleh banyak orang, tetapi justru menjadi fondasi terpenting. Langkah kaki bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan dan berkembang seiring peningkatan kekuatan penggunanya. Hingga penerus ketua aliansi murim yang sekarang, teknik yang masih digunakan Ming adalah Langkah Kaki Bayangan—sebuah teknik yang menggabungkan pergerakan tubuh dengan bayangan pemiliknya sendiri sebagai penopang.
Selain itu, Ming berlatih berbagai seni pedang dan tombak dari sekte-sekte yang pernah ia kunjungi. Dari pengalaman tersebut, ia akhirnya bekerja sebagai prajurit pengawal. Gaji awalnya bahkan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun ia tak pernah mengeluh.
Suatu hari, setelah mengumpulkan cukup uang, Ming berdiri di depan sebuah kedai sup iga babi.
“Aku sudah punya cukup uang. Mungkin sudah waktunya mencari rekan seperjuangan yang bisa kupercaya,” ucapnya dengan wajah cerah.
“Ming!? Kemarilah! Jangan hanya berdiri di sana!”
Suara lantang terdengar dari lantai dua. Seorang pria berjubah hitam dengan rambut putih memanggilnya sambil memegang sepotong daging babi.
Tatapannya tajam namun hangat. Senyumannya mampu membuat siapa pun merasa akrab.
Pria itu adalah Fang Jin—orang yang kelak membantu Ming menyatukan empat wilayah di Barat dan sebagai imbalannya diberi kekuasaan atas wilayah tersebut.
Fang Jin adalah leluhur Fang Yi dan Fang Yu. Berbeda dengan keturunannya, Fang Jin adalah sosok ambisius yang selalu mengejar hal-hal yang membuatnya bahagia dan memacu adrenalinnya.
Ming naik ke lantai dua dan duduk di hadapannya.
“Aku ingin menyatukan wilayah Barat serta sekte-sekte kecil di wilayah Utara dan Selatan. Jika kau membantuku, akan kuberikan wilayah Barat itu kepadamu,” bisik Ming serius.
Fang Jin yang sedang mengunyah iga babi berhenti sejenak.
“Apa?” katanya dengan mulut masih penuh.
Ming memijat pelipisnya.
“Aku serius, Jin. Bisakah kamu berhenti makan sebentar saja?”
Fang Jin menelan makanannya, lalu menyeka mulutnya dengan lengan jubah.
“Baiklah, aku sudah selesai,” katanya santai, lalu bersandar dengan kedua tangan di belakang kepala. “Biar kutegaskan sekali lagi, Ming… aku membantumu bukan karena wilayah atau hadiah. Aku hanya ingin melihatmu mencapai mimpimu. Soal imbalan, terserah padamu.”
Ming terdiam.
Ia tak habis pikir bagaimana bisa ada orang setulus itu. Fang Jin pernah menolongnya saat ia tersesat dan kehabisan bekal. Sejak saat itu, keduanya menjadi sahabat.
Namun bagi Ming, jasa sebesar itu tak mungkin dibalas dengan ucapan terima kasih saja.
“Kalau begitu, tetaplah di sisiku sampai semuanya tercapai,” ucap Ming akhirnya.
Fang Jin tersenyum tipis.
“Tentu saja. Bukankah itu lebih menyenangkan?”
“Baiklah, mari kita pergi sekarang. Kita mulai dengan membasmi para bandit sekaligus penyusup Kultus Iblis sesat itu.”
“HAHA! Ini baru seru!”
Fang Jin membalas dengan tawa keras, menggebrak meja hingga mangkuk sup bergetar. Senyum menyeringai tipis terukir di wajahnya.
Ming menghela napas panjang. “Hei, berhentilah. Kau membuatku merinding, serius.”
Tanpa menunda waktu, keduanya segera bergerak.
Singkatnya, empat wilayah yang sebelumnya terpecah mulai menunjukkan tanda-tanda persatuan. Pembasmian kelompok-kelompok sesat dan bandit jalanan dilakukan tanpa ampun. Nama Ming dan Fang Jin perlahan menyebar ke seluruh penjuru.
Mereka dipandang sebagai pahlawan.
Banyak pemuda desa dan murid dari sekte-sekte kecil mulai bergabung. Utara, Barat, Selatan, hingga Timur perlahan berada di bawah kendali mereka. Hukum ditegakkan lebih adil, keamanan diperketat, dan kekacauan yang dulu merajalela mulai mereda.
Ming menjadi simbol ketegasan dan visi. Fang Jin dikenal sebagai pedang yang menembus garis musuh.
Keduanya dianggap sosok penting dalam menyelaraskan kembali tatanan wilayah.
Namun, kedamaian tidak datang begitu saja.
Ketika kekuatan mereka semakin besar, sisa-sisa pasukan Kultus Iblis berkumpul di perbatasan Utara dan Selatan. Mengetahui ancaman itu, Ming dan Fang Jin menyusun strategi pemecahan pasukan. Mereka membagi kekuatan untuk melakukan pengepungan dari dua arah, menekan mundur musuh secara perlahan.
Perang berlangsung selama enam bulan penuh.
Darah dan debu menjadi saksi kegigihan mereka.
Pada usia dua puluh lima tahun, Ming dan Fang Jin berdiri sejajar sebagai pemimpin muda yang disegani. Namun di antara keduanya, ada satu perbedaan besar.
Fang Jin telah menemukan wanita yang ia cintai—dan ia menikahinya di tengah kobaran perang yang belum sepenuhnya padam.
Ming sempat menggodanya karena keputusan itu, tetapi jauh di lubuk hatinya, ia turut bahagia.
Setelah perbatasan Utara dan Selatan berhasil dikuasai, kabar gembira lain menyusul.
Istri Fang Jin melahirkan seorang anak.
Untuk pertama kalinya, Fang Jin terlihat lebih gugup menghadapi bayi mungil daripada menghadapi ratusan musuh bersenjata. Tawa dan tangis bercampur dalam rumah kecilnya.
Sementara itu, Ming yang sejak awal telah membangun fondasi perguruannya bergerak cepat menstabilkan keadaan. Ia meresmikan pembentukan Aliansi Murim di bawah kepemimpinannya, menyatukan sekte-sekte kecil ke dalam satu payung besar.
Tanggung jawabnya semakin berat.
Berbagai masalah internal, perebutan pengaruh, hingga sisa ancaman dari kelompok sesat harus ia selesaikan satu per satu. Meski kelelahan, ia tidak pernah mengeluh.
Perguruan yang dahulu hanya mimpi kini telah menjadi kenyataan.
Di tengah kesibukan itu, ia kerap teringat bagaimana Fang Jin selalu berdiri di sisinya sejak awal—dari masa tanpa apa-apa hingga mencapai puncak kekuasaan. Kenangan itu membuatnya terdiam sesaat, merasa haru.
Sebagai bentuk penghargaan, Ming mendirikan berbagai pusat markas Aliansi Murim di setiap wilayah. Tak lama kemudian, ia mengumumkan keputusan penting:
Wilayah Barat akan diberikan kepada keluarga Fang Jin.
Keputusan itu disambut dengan kekaguman dan rasa hormat. Tak ada yang meragukan jasa Fang Jin dalam penyatuan wilayah.
Begitulah sedikit asal-usul keluarga Fang—keluarga yang dahulu begitu disegani dan berpengaruh.
Namun seiring berjalannya waktu, sejarah mereka perlahan dilupakan. Banyak catatan dihapus, terutama setelah bangkitnya kembali Kultus Iblis yang secara sistematis memusnahkan jejak-jejak masa lalu.
Nama besar itu kini hanya tersisa dalam cerita-cerita lama yang jarang terdengar lagi.