NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 20. BCS

"Apa kalian tidak ingin pergi bulan madu?" tanya Khasanah.

Albi menatap Prasasti sedang menunduk malu merasa gemas ingin sekali ia mencium bibirnya. Kemudian menjawab dengan menggelengkan kepala menolak untuk berbulan madu.

"Kami sudah berbulan madu, tenang saja dalam beberapa minggu lagi ada kabar buat kalian semua," jawab Albi dengan santai.

Prasasti menatap heran Albi, ia tidak tahu apa maksud dengan perkataannya. Apakah Albi mempunyai anak dari wanita lain atau dia menyembunyikan identitas seseorang.

Pikiran Prasasti tidak karuan, merasa dikhianati Albi. Ia beranjak dari tempat duduknya pergi ke kamar.

Albi dan Khasanah juga Abdi melihat Prasasti bersamaan merasa ada yang tidak beres. Mereka pun saling pandang merasa tidak tahu, Albi beranjak mengikuti Prasasti.

"Pasti salah paham karena ucapan Albi tadi" kata Abdi mengambil cangkir kopi diatas meja dan meminumnya.

"Bisa jadi begitu," sahut Khasanah.

"Sebaiknya kita ke kamar karena ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu," katanya lagi beranjak dari tempat duduknya.

Abdi mengikuti istrinya ke kamar sambil membawa secangkir kopi. Sampai didalam kamar keduanya duduk ditepi tempat tidur.

Abdi menggenggam tangan Khasanah lalu menciumnya, Khasanah tersenyum haru mendapat perhatian suaminya.

Sudah puluhan tahun membina rumah tangga yang tidak mudah, banyak rintangan yng mereka hadapi bersama. Khasanah sudah lama mengenal Abdi dan siap menjadi istri dan ibu bagi anak-anak mereka berdua.

Awalnya memang tidak ada cinta, Abdi yang memang sudah jatuh cinta sejak pandang pertama merasa sudah berhenti di pelabuhan sang bidadari berhati mulia seperti Khasanah. Seorang perempuan tangguh menghadapi kemelut dunia sejak kecil hingga dewasa.

"Maaf, jika selama ini aku bersalah sama kamu, Mas. Aku merasa kita bukan lagi membahas masalah remaja kita, sudah selayaknya kita mewariskan harta kita kepada anak-anak dan cucu kita nanti," ucap Khasanah.

”Syahira sudah menekuni bidang kuliner dan dia akan menjadi penerusku dalam mengelola Toko Kue dan Kedai. Aku tidak mau ada orang lain yang mengambil alih kedua tempat itu selain keturunan dari kita," lanjutnya sambil menarik napas dalam.

”Iya kamu benar sekali, aku juga demikian, Ma. Bukan kamu saja yang berpikir seperti itu, aku sudah membuat surat wasiat untuk anak dan cucu kita kelak, aku yakin mereka sanggup menjaga amanat dari kita," sahut Abdi.

"Mas, jika suatu saat nanti aku meninggal lebih dulu maukah kamu tetap setia sama aku?"ucap Khasanah menahan rasa didalam hatinya.

Khasanah merasa hidupnya tidak lama lagi, ia merasa tubuhnya tidak kuat menopang beban yang dibawanya. Namun hatinya tetap merasa kuat dan berusaha tersenyum melihat anak-anaknya.

Abdi terkejut mendengar ucapan istrinya. Dipandangnya wajah cantik itu lekat dan diciumnya bibir dengan lembut, namun rasa itu justru semakin kuat dan menyatu.

Khasanah merasa denyut jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Entah perasaan apa saat ini yang dirasakannya. Semakin dalam ciuman Abdi semakin menuntun meminta lebih.

Pasangan tak lagi muda sedang mengalami masa puber ke empat itu tengah bermadu kasih dipembaringan kala malam dingin.

Angin enggan menyapa dibalik tirai jendela, helai demi helai kain menyibak dan turun dari kulit. Gairah semakin memuncak menanjak bukit menelusuri lembah berliku, terasa nikmat dengan desahan dari mulut pasangan paruh baya.

"Sayang jangan berhenti, aku masih menginginkannya," kata Khasanah sambil memeluk tubuh suaminya.

Abdi tersenyum puas mendengar suara istrinya yang manja saat berhubungan intim. Abdi semakin bersemangat menjelajahi seluruh tubuh istrinya. Semakin liar semakin menggairahkan.

Seiring bergantinya posisi semakin terasa syahdu. Keduanya melakukan pelepasan bertanda terimakasih atas karunia yang Allah berikan kepada keduanya.

_____________

Panggilan alam membangunkan Prasasti setelah mencapai puncak kenikmatan, Albi yang sejak malam masih berada diatas tubuh istrinya kembali melancarkan aksinya. Membuat Prasasti merasa kelelahan.

"Mas, bangun. Menyingkir dari tubuhku," Prasasti membangunkan Albi agar menyingkir darinya.

Albi tidak mau pergi justru mencium leher Prasasti dan meninggalkan jejak merah disana. Prasasti merasa kesal, karena Albi sudah meninggalkan jejak dimana-mana membuatnya merasa geli dan malu.

Albi membuka matanya dan melihat wajah Prasasti dari jarak paling dekat. "Kamu sudah bangun,“

Albi merasa tidak bersalah mencium bibir istrinya kuat dan menyesapnya kemudian mengangkat tubuhnya namun siapa sangka justru diarea sensitifnya masih on dan enggan beranjak dari sarangnya.

Prasasti tertegun melihat benda tegak diarea sensitifnya sudah dipastikan menantang adrenalin pikirannya. Prasasti menggelengkan kepalanya agar Albi tidak melakukannya lagi.

“Maaf, Sayang aku tidak bisa menahan untuk yang satu ini karena nanti akan terasa pusing dan sakit sekali," kata Albi tanpa merasa bersalah.

Prasasti mengeluh badannya sakit semua akibat ulah Albi. “Sudah ya, aku mohon jangan lakukan lagi. Lihat diluar matahari sudah meninggi kamu harus berangkat kerja," Prasasti mencoba mengalihkan yang lain agar pikiran Albi terbuka.

Apa boleh dikata Albi sudah kepala tanggung tidak bisa ditahan, terpaksa Prasasti menuruti keinginannya, hingga akhirnya keduanya melakukan pelepasan.

Albi tersenyum jahil memeluk istrinya berkata. "Aku jatuh cinta sama kamu, Prasasti,"

Prasasti terpaku mendengar ucapan Albi, kemudian mengangkat tubuh Albi dan menatap wajahnya lekat. "Apa aku sedang bermimpi? Kalau iya tolong bangunkan aku ,"

Albi mencium bibir Prasasti dan menggigitnya kecil. Prasasti berteriak sambil memukul Albi mengaduh sakit.

“Percaya kan, kalau bukan bermimpi. Kita sudah sering melakukan jadi tidak usah berkata yang bukan-bukan," Albi beranjak dari tubuh Prasasti dan mengangkatnya membawa ke kamar mandi meletakkan dibathup.

Prasasti merasa tersanjung diperlakukan bak ratu oleh Albi. Sungguh Albi bukan sembarang laki-laki, ia akui memang tiada duanya. Prasasti memeluk Albi dan mencium seluruh wajah Albi dengan bernafsu.

Tidak ada penolakan dari Albi justru menyambut dengan senang hati, keduanya melakukan hubungan intim dibathup sambil berendam air hangat. Sensasi lain dari biasanya, semakin bergairah.

Selesai mandi mereka berpakaian dan keluar dari kamar. Kedua orang tuanya sudah selesai sarapan, Abdi sudah berangkat kerja sekitar sepuluh menit yang lalu sedangkan Khasanah sedang merapikan meja makan.

“Selamat pagi, Mama tersayang," sapa Albi sambil mencium pipi mamanya.

Pemandangan pagi itu membuat Prasasti teringat almarhum mamanya. Dimana saat terakhir mamanya berkata kalau Prasasti harus kuat dan sabar.

Prasasti masih ingat masa-masa bersama keluarganya. Meskipun anak satu-satunya, ia tidak pernah manja dengan harta kedua orang tuanya. Prasasti mencari pekerjaan lain untuk mengembangkan bakatnya.

Pilihan Prasasti tertuju pada laut karena menyukai ombak. Baginya berselancar adalah suatu tantangan yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika sedang menghadapi masalah Prasasti akan pergi berselancar untuk menenangkan diri.

“Sayang, kenapa melamun?" Albi melihat Prasasti sedang melamun menepuk bahunya.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!