NovelToon NovelToon
Suami Tanpa Giliran

Suami Tanpa Giliran

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Kebangkitan pecundang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.

Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

“Kamu tahu masalah saham itu?” tanya Iren penuh curiga. Selama ini yang mengetahui detail saham yang diberikan Kevin kepadanya hanyalah dirinya, Kevin, dan pengacaranya. Namun kini Vano tiba-tiba menyinggungnya, seolah memahami sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan.

Vano yang menangkap perubahan ekspresi itu segera mengalihkan pembicaraan. “Tidak. Aku hanya asal bertanya saja,” ujarnya ringan. “Tadi kamu bilang ingin mengajukan pinjaman bank. Aku akan membantumu.”

Tatapan Iren belum sepenuhnya melunak. Ia mengenal Vano cukup lama untuk tahu kapan pria itu benar-benar tidak tahu, dan kapan ia sedang menyembunyikan sesuatu. Namun saat ini ia tidak punya ruang untuk memperpanjang kecurigaan.

“Aku butuh kepastian, Van. Bukan janji.”

“Aku tidak pernah main-main kalau menyangkut kamu,” jawab Vano tegas. “Besok aku akan hubungi direktur cabang utama. Setidaknya kita bisa atur pertemuan secepatnya.”

Iren mengangguk pelan. Untuk sementara, itu sudah cukup dan yang terpenting perusahaan sudah aman. Ia tinggal memikirkan langkah selanjutnya saat besok bertemu Kevin di sidang mediasi.

***

Hari yang ditunggu akhirnya tiba.

Kevin datang ke gedung pengadilan dengan mobil hitam mewah, melangkah tenang dan pasti, seolah setiap orang yang melihatnya tahu bahwa ia kembali menempati posisinya. Tidak terburu-buru dan tidak ada keraguan, hanya kehadiran yang menguasai ruang di sekitarnya.

Dari kejauhan, matanya menangkap sosok Iren yang mengenakan dress merah, warna yang dulu sering ia bilang paling cocok padanya. Dulu Iren enggan memakai warna itu, tetapi sekarang, dengan senyum tipis yang seakan menantang, ia mengenakannya dengan percaya diri. Kevin mengamati tanpa komentar.

Sementara Iren menatap Kevin dan seolah melihat pria itu lima tahun lalu, sebelum semua berubah dan sebelum ia mulai memandangnya sebelah mata. Dulu ia terbiasa melihat Kevin sebagai suami yang terlalu sabar dan mudah mengalah. Namun pria yang kini berjalan menuju gedung pengadilan itu berbeda. Wibawanya tidak bisa diabaikan, dan kesan dominan yang dulu hilang kini kembali, lebih kuat dan nyata.

Untuk pertama kalinya muncul perasaan yang sulit ia definisikan. Bukan hanya kehilangan, tetapi juga kesadaran bahwa mungkin ia pernah keliru menilai.

“Itu menantu yang dulu Ibu anggap tidak berguna?” gumam Fatwa tanpa sadar. Ia sedikit menyesal telah mendukung perceraian anaknya.

“Bu, jangan berkata begitu,” jawab Iren cepat. Suaranya terdengar seperti membela, dan ia sendiri terkejut karena nadanya keluar begitu saja.

Tanpa memberi ruang pada pikirannya untuk terus berputar, Iren segera melangkah mendekat.

"Kevin, kita perlu bicara," ucapnya sambil menghentikan langkah Kevin.

"Semua bisa kamu katakan di dalam," jawab Kevin tenang, suaranya datar tapi tegas.

Iren menatapnya sejenak, kemudian menarik perlahan ujung jas Kevin dengan sikap yang tidak biasa ia tunjukkan, terdengar sedikit manja namun tetap berhati-hati. "Kevin, aku tahu selama ini aku salah. Aku mengabaikanmu dan tidak cukup peduli. Kita bisa menyelesaikan semua ini tanpa harus sampai di sini," katanya, menahan ego yang masih membara agar tidak terbaca sepenuhnya.

Kevin tetap menatapnya dingin, seperti menunggu pengakuan yang lebih nyata. "Lalu apa salahmu?"

Iren menghela napas panjang, menatap mata Kevin seakan mencari celah untuk diterima. “Aku… aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri, terlalu yakin bisa mengendalikan segalanya tanpa kamu. Tapi sekarang aku sadar, kehilanganmu membuat semuanya terasa hampa, terlebih perusahaan. Aku ingin kamu kembali, Kevin. Kita bisa mulai lagi, jalani semua seperti dulu.”

Kevin menatapnya diam, penuh pertimbangan. Kata-katanya terdengar tulus, tapi Kevin bisa merasakan ego yang masih terselubung di balik permintaan itu. Matanya tidak berpaling, menahan dan menimbang semuanya.

“Sudah?” tanyanya datar, suara rendah tapi tajam.

Iren menelan ludah, jantungnya berdetak lebih kencang. “Kevin, jadi kamu mau kita kembali?”

“Mimpi,” jawab Kevin singkat, tegas, seperti menampar semua harapannya dalam satu kata.

Tubuh Iren seketika membeku. Hatinya seperti ditampar keras. Ia sudah menyiapkan diri untuk mengakui kesalahan, menundukkan ego, tapi Kevin justru membalas dengan dingin, tanpa kompromi.

“Kevin! Jadi ini sikapmu? Dulu kamu bilang akan mencintaiku, menghormatiku, menjagaku. Sekarang hanya karena kesalahan kecil, kamu pergi begitu saja!” teriak Iren, nadanya memuncak, campuran emosi dan kepanikan.

Fatwa yang sejak awal menyaksikan anaknya memohon ikut angkat suara, suaranya terdengar keras dan tegas. “Kamu ini kenapa membuat anakku seperti ini? Kalau kamu menceraikannya, kamu harus menggantikan empat tahun kehidupan anakku dan memberikan finansial yang pantas!”

Kevin menarik sudut bibirnya, seolah mengejek setiap kata yang keluar dari mulut Iren dan Fatwa.

“Kamu menertawakan wanita tua sepertiku? Kurang ajar!” teriak Fatwa sambil mengangkat tangannya, siap memberi pelajaran pada Kevin seperti kebiasaan lamanya.

Namun sebelum tangannya sempat menyentuh, suara tegas terdengar dari sisi lain. “Bu Fatwa, jika Anda bermain kekerasan lagi, kami akan menuntut!”

Iren dan Fatwa menoleh, terkejut. Matanya tertuju pada sosok yang dulu dianggap remeh, gadis ingusan yang pernah ditemui Iren, kini muncul dengan penampilan berbeda, lebih berkelas, lebih dewasa, dan penuh wibawa dibandingkan dirinya sendiri.

“Ka… kamu,” gumam Iren sambil mengacungkan jari telunjuknya, suaranya hampir tidak terdengar karena campuran keterkejutan dan cemburu.

Lidya melangkah lebih dekat, menggandeng lengan Kevin dengan santai. “Kenalkan, aku Lidya Azzahra. Calon istri Kevin Haris.”

Iren menatapnya dengan mata membelalak. “Apa? Calon istri? Heh, aku dan Kevin belum resmi bercerai, kamu sudah mengaku calon istri?”

Lidya menatap Iren tanpa ragu, nada suaranya dingin tapi tenang. “Meskipun kalian belum bercerai, memangnya kenapa? Empat tahun saja kamu tidak bisa menjalankan kewajibanmu sebagai istri. Sepertinya status itu tidak cocok untukmu.”

Kevin tetap berdiri tenang di samping Lidya, tatapannya tidak berubah, seolah membiarkan Lidya yang bicara.

Iren menelan ludah, dadanya terasa sesak. Ia mengiba di depan Kevin, seolah ingin mendengar langsung dari mulutnya, atau setidaknya membela diri.

"Kevin," panggil Iren.

"Sudahlah, jangan buang-buang waktu. Semua bisa kita bicarakan di dalam, biar cepet ada keputusan," ucap Lidya mewakili Kevin.

Iren belum mau melepaskan Kevin, tapi Lidya sudah minta Kevin dan yang lain masuk duluan.

Sementara Lidya masih berdiri di depan Iren, berkata, "Dia lelaki luar biasa, tapi kamu nggak bisa menghargainya. Lebih baik lepaskan aja, biar aku yang rawat."

"Ka... Kamu!"

Lidya cuma tersenyum, nggak ada rasa takut. Sebelum pergi, ia bilang, "Sebagai sesama wanita, aku cuma mau ngingetin, jauhi lelaki yang sekarang deketin kamu. Niat busuk kadang terbalut cantik banget."

Saat Lidya pergi, Iren mencerna setiap kalimat yang dikeluarkan Lidya, "Siapa yang dia maksud?"

1
Ariany Sudjana
kevin kamu juga bodoh, sudah tahu pelacur murahan seperti Irene, punya beribu macam cara untuk menjebak kamu, dan kamu dengan bodohnya percaya sama omongan pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Kevin kamu jangan terjebak dengan perkataan Irene, kalau kamu percaya dengan omongan Irene, kamu bodoh
Ariany Sudjana
Irene kamu bodoh, kamu menyalahkan Kevin untuk semua masalah kamu, padahal kamu sendiri sumber masalahnya, kamu saja yang jadi perempuan gatal 🤭🤭
Ridwani
👍👍👍
falea sezi
lanjut g sabar nunggu kehancuran iren
Ariany Sudjana
hahaha dua orang pecundang, yang satu pelacur murahan, yang satu pebinor 🤣🤣😂😂 silakan menikmati kejatuhan kalian
Ariany Sudjana
hahaha ada lagi perempuan , yang katanya CEO, tapi bodoh, dan bisa dimanipulasi sama laki-laki yang licik dan culas 😂😂🤣🤣
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hahhaha katanya si paling beruntung kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
sdh di tinggalkan baru nyari2 kevin dulu dijadikan banu iren kau pikir kevin buta tau kau yg tak punya malu gmn selalu dgn vano pegang2an dll ngapain jd bodoh kevin buang istri tak tau diri itu
Ridwani
semoga cepat cerai,iren semoga menyesal
Ridwani: iy kita liat nanti apa iren nangis histeris kebahagiaan kevin
total 2 replies
Yuliana Tunru
akhir x kau bicara sosl cerai jg benar2 iren tak punya malu dan otak..msh kurang keras kevin biar iren shock
Yuliana Tunru
ya ampun.iten.punya kaca ndk lha kamu dgn.vano bkn x lebih dr selingkuh kebin cm.makan kamu malah tiap.saat dgn vano gandrngan aplh fatwa mak lampir matre berani mau nampar ...tampar balik biar sadar
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: merasa paling benar dia kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
bahus kevin ingatkan pisisi masing2 knp jg eelama ini kevin jd babu di rmh sendiei dan.istri yg tak tau diri jg klga x jd penguasa jd lupa status 😡
Yuliana Tunru
bagus kevin iren siap2 kau jd sampah buangan kevin kau wanuta miskin ahlak dan harta semena2 krn kevin takluk tinggu balsan karma yg sebenar x
Ridwani
👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
kenapa alki2 arogan mulut beracun kalah dgn wanita bekas teman kau bkn kere kevintp bagai pengemis hancurkan iren ambil kembali sahqm vano dgn bayaran perceraian yg di mibta iren nurma bkn musush turuti kata 2 x dan jadilqh raja hancurkqn keangjuhan.dan lenghiatan vano dan iren mrk manusia sampqh
Yuliana Tunru
vano dan iren brnar teman lucnut ..ayo kevin ambil hak mu mlm ini dan jika iren ingin cerai suruh kembalikan saham itu jgn buarkan penghianat itu mengambil bayaran atas lukamu jika saham sdh kembali buang iren pd vano bagai sampah 😡😡
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: biarkan Vano dan Iren bersatu lagi ya, masalah Iren jatuh biarkan saja
total 1 replies
Ma Em
Iren kamu pasti akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Kevin dan malah memilih Vano yg tdk pernah mencintaimu , mampir Thor aku suka , ceritanya seru .
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: terimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!