Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 1
Di ruang bersalin di sebuah rumah sakit yang terletak di ibu kota, seorang wanita berusia awal tiga puluhan bernama Sarah tengah terbaring lemah di atas brangkar dengan rintih penuh kesakitan. Beberapa waktu lalu, Sarah dibawa oleh suaminya, Chandra ke rumah sakit Eka Kusuma karena mengalami sakit yang teramat sangat pada perutnya.
Setelah melalui pemeriksaan singkat, dokter menyatakan bahwa Sarah telah memasuki pembukaan empat, dan ia harus menunggu beberapa saat lagi sampai siap untuk melahirkan. Hal ini ternyata tidak sesuai dengan perkiraan lahir yang harusnya masih dua Minggu lagi.
“Bawa Ibu Sarah ke ruang perawatan di departemen persalinan dan minta mereka untuk pantau terus kondisinya. Jangan lupa, serahkan laporan ini ke mereka." Ucap sang dokter pada perawat disampingnya sembari menyerahkan kertas berisi catatan kesehatan Sarah. Secara lengkap.
“Baik Dok.” Dua perawat itu mengangguk, lalu segera melaksanakan apa yang dokter itu perintahkan.
Matahari semakin naik. Udara dipenuhi dengung penantian. Sarah telah berada diruang perawatan bersama Chandra untuk menunggu langkah selanjutnya.
Dalam ruangan itu juga terdapat satu orang wanita, terlihat lebih muda, sangat cantik, dengan kondisi yang sama namun sendirian. Tubuhnya sangat kurus, rambutnya sedikit awut-awutan dan matanya terlihat kelelahan. Wanita itu tak ada yang menjaga, juga tak ada yang menunggui.
Tubuh itu terus bergerak-gerak ditengah rasa sakit, mencoba mencari posisi nyaman. Kadang ke kiri, kadang ke kanan. Sementara desisan menyakitkan terus terdengar. Sarah merasa kasihan, namun tak dapat berbuat apa-apa. Karena dia juga dalam kondisi yang sama, kesakitan. Hingga waktu terus berjalan dan dua jam telah berlalu.
Perawat telah datang dua kali untuk melihat kondisi. Sarah sudah di pembukaan enam. Sedangkan Wanita muda tadi telah dibawa pergi. Hingga sampai saat itu tiba, dia masih sendirian. Padahal kondisi terakhir yang terdengar, wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Banyak tanya dalam benak. Seperti, kemana suaminya? Kemana keluarganya? Kenapa mereka tega membiarkannya melalui semua ini sendiri? Meski begitu, mulut Sarah tetap terkunci rapat. Alasannya jelas, karena mereka bukan teman, juga tidak saling kenal.
Tetapi nalurinya sebagai sesama wanita, merasa hancur melihat itu. Hatinya seolah tercubit keras. Ada denyut menyesakkan yang tidak bisa dijelaskan. Juga rasa kasihan.
Tatapan Sarah jatuh pada Chandra yang kini duduk disamping ranjang. Tak ada kata, namun penuh makna. Rasa syukur yang tak terucap, juga rasa haru yang tak terbendung, tercurah lewat mata.
Sarah tak bisa membayangkan dirinya ada di posisi wanita itu yang harus melakukan semuanya sendiri. Bisa dipastikan ia tak akan kuat, juga tak akan sanggup.
Ternyata hal seperti itu tak hanya dirasakan oleh Sarah, dua perawat sebelumnya juga melayangkan tatapan yang sama, iba. Salah satu dari mereka berkaca-kaca. Satu orang lainnya menguatkan hati yang seolah retak.
Kini rasa sakit yang Sarah rasakan semakin meningkat. Kaki gelisah, mata terpejam erat. Sementara Chandra disampingnya tak tahu harus bagaimana. Perawat yang tadi datang memeriksa, berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
Perasaan sepasang suami istri itu menjadi tak menentu. Mereka tidak tahu apa yang membuat perawat begitu terburu-buru, namun hati mereka berkata itu bukan sesuatu yang baik.
Apa sesuatu terjadi pada bayinya?
"Mas..." Sarah memanggil lirih. Tapi tatapnya menyiratkan ketakutan.
Chandra mendekat. Digenggamnya tangan sang istri yang dingin juga berkeringat dengan erat. Sementara bibirnya terus mengucapkan kalimat penenang. Meski nyatanya hal itu tak sejalan dengan hatinya yang terlanjur gusar.
Beberapa saat kemudian perawat itu kembali bersama seorang dokter. Memasuki ruangan dengan langkah cepat. Dokter perempuan bernama Hartati itu penuh senyum. Matanya begitu teduh. Seolah semuanya akan baik-baik saja karena ada dia disana.
Setelah memeriksa kondisi Sarah, dokter itu berkata dengan nada yang sangat lembut. “Kondisi bayi dalam perut ibu Sarah saat ini kurang memungkin untuk melahirkan secara normal. Posisi kepala bayi yang seharusnya berada dibawah, malah sebaliknya. Kita harus segera melakukan tindakan operasi. Karena kondisi seperti ini sangat berbahaya bagi ibu dan bayi."
“Sebagai anggota keluarga, bapak harus menandatangi dokumen persetujuan dan melakukan pembayaran agar ibu Sarah dapat segera ditangani."
Saat itu, teknologi belum secanggih sekarang. Pikiran belum sepenuhnya terbuka akan hal-hal baru. Mendengar kata operasi, tentu saja siapapun akan merasa takut. Begitu juga dengan Sarah dan Chandra. Meski resiko kematian karena melahirkan seorang anak rendah, namun bukan berarti tidak ada. Karena baik operasi atau pun tidak, selalu ada resiko yang ditanggung. Apalagi mereka tak ada pengalaman, juga tak ada gambaran tentang itu.
Sarah menatap sang suami yang sedikit linglung. Seolah seseorang telah mencabut nyawa dari raga. Tatapannya kosong, tubuhnya kaku. Sementara mulutnya terdiam membisu.
Kelahiran anak pertama mereka begitu lancar, mudah dan cepat. Dengan cara normal. Ini pertama kalinya mereka ada dalam situasi yang sangat sulit seperti ini.
“Pak…” Dokter yang melihat Chandra melamun, menepuk bahunya. Sedikit lebih keras, namun tak terlihat menyakitkan.
"Bapak harus segera mengambil keputusan. Karena tekanan darah ibu Sarah semakin menurun."
Chandra segera tersadar dan melihat kertas di genggaman tangannya. Kemudian tatapnya beralih pada Sarah yang semakin lama semakin pucat.
Dibawah tekanan, tak ada yang bisa Chandra pikirkan selain keselamatan sang istri. “Silahkan lakukan operasi.”
Dokter itu mengangguk. “Segera siapkan ruang operasi.” Perintahnya tegas dan penuh wibawa.
Para perawat disekitarnya mengangguk. “Baik dokter.”
Segera mereka membawa Sarah keruangan lain, sementara Chandra melakukan pembayaran dan administrasi.
Ranjang didorong ke tengah. Tubuh Sarah dipindahkan, perlahan. Tak ada pencahayaan selain lampu diatas tubuh wanita itu yang menyala terang. Pisau bedah, gunting dan jarum suntik berjejer dalam wadah. Cairan pembersih, kantung darah, telah tersedia. Layar monitor menyala. Menampilkan grafik yang terus naik turun.
Dokter memakai baju khusus beserta masker dan penutup kepala. Begitu juga Chandra yang sebelumnya diminta menemani dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi.
Sarah merasakan pergerakan dalam perutnya. Yang membuat dadanya sesak dan ia kesulitan bernafas. Rintihannya keluar. Beserta erangan yang mengiringi, namun pelan. Perutnya terasa ditekan kuat. Tak ada yang menyadari, tak ada yang memahami. Keadaan itu cukup lama berlangsung hingga Sarah kembali tenang, dengan nafas tersengal.
Perawat yang baru menyadari ada keanehan, segera mendekat. Begitu juga dengan Dokter Hartati. Wanita itu segera meraih transducer, lalu meletakkannya pada perut Sarah. Memeriksa keadaan.
Kelopak mata membesar. Tangan sedikit bergetar. Dokter Hartati menatap orang disampingnya dengan takjub dan juga lega. "Lihat, kepala bayi telah kembali ke jalur lahir." Ujarnya.
Kejadian seperti ini memang bisa saja terjadi, bukan sekali dua kali. Bisa juga ditangani tanpa bantuan operasi. Lewat pijatan seperti yang dilakukan para paraji di desa-desa. Namun dokter Hartati bukan ahlinya. Hanya cara medis lah yang bisa ia lakukan. Dan keadaan seperti Sarah baru pertama kali dia lihat. Dalam waktu singkat, seolah disulap. Juga tanpa bantuan apapun.
Sarah yang masih sadar seperti mendapat angin segar. “Dok… apa saya bisa melahirkannya secara normal?" Tanyanya lemah.
“Itu tergantung pada kondisi ibu. Jika semua baik-baik saja, anda bisa melahirkan secara normal. Tetapi jika sebaliknya maka terpaksa operasi harus tetap dilakukan.” Jelas sang dokter.
Sarah menggenggam tangan Chandra. Namun tatapannya tetap mengarah pada dokter Hartati yang tengah berdiri disebelahnya. “Saya ingin melahirkan secara normal dok.” Ucapnya mantap.
Dokter itu mengangguk. “Baik. Saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bersabarlah."
Setelah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan memastikan kondisi Sarah baik-baik saja, dokter menyetujui keinginan wanita itu.
***
Sementara itu di lain tempat, setelah mendapat kabar dari Chandra, Mona yang saat itu sedang menunggu anak-anak keluar dari sekolah, sangat terkejut dan juga gembira.
Sejak pagi Sarah memang mengeluh perutnya mulas, juga tak nyaman. Tapi saat Mona menawarkan diri untuk mengantarnya ke dokter, Sarah menolak. Wanita itu berkata Chandra akan pulang hari ini, jadi dia akan pergi bersama Chandra untuk memeriksakan dirinya. Sesuatu yang tidak pernah terjadi karena suami Sarah selama ini dinas diluar kota dan hanya pulang beberapa kali saja. Mona pun tak memaksa. Biarkan mereka menikmati saat-saat membahagiakan itu. Karena kesempatan seperti ini langka untuk keduanya. Tapi siapa yang menyangka kalau bayinya akan lahir saat itu juga?
Jarum jam di pergelangan tangan terus bergerak. Gerbang telah dibuka. Seharusnya anak-anak sudah keluar sejak lima belas menit yang lalu, namun hingga kini tak nampak batang hidung mereka meski bel sudah lama berbunyi. Beberapa ibu yang sedang menunggu anaknya juga menjadi tidak sabar. Mona mengenali satu diantaranya adalah ibu dari Nabila. Bernama Mirna. Mona tak mengenalnya. Hanya pernah mendengar namanya disebut. Itupun tanpa sengaja.
"Kok mereka belum keluar juga yah? Padahal yang lain udah pulang dari tadi?” tanya ibu dari anak lain pada Mirna yang berada disebelahnya.
“Mungkin ada sesuatu yang terjadi dikelas. Karena itu mereka belum keluar.”
"Bisa juga karena mereka mengadakan kuis didalam." Jawab ibu yang lain.
Beberapa mengangguk membenarkan, beberapa diam saja. Hal-hal seperti itu memang biasa terjadi. Tetapi biasanya tak selama ini.
Semua orang bertanya-tanya. Semua orang menduga-duga. Entah mana yang benar, entah mana yang salah. Tidak ada yang tahu.
Hingga tak lama setelah itu, apa yang mereka tunggu mulai berhamburan keluar gerbang. Dengan wajah lelah dan kuyu. Mona melihat putranya dan Andra tengah berlari ke arahnya. Membuat senyum terbit dari bibir. Melengkung indah bagai bunga.
"Mama nunggu lama yah?" Tanya Jeffrey sesampainya ia di depan ibunya.
Mona menggeleng. "Enggak, mama baru aja dateng. Kenapa kalian pulangnya terlambat sekali hari ini?" Tanyanya penasaran. Ia ingin mendengar langsung kebenaran itu. Tentang apa yang menahan putranya hingga bermenit-menit lamanya.
"Tadi ada teman kami yang berantem Tante, kaya gini." Bukan Jeffrey yang menjawab, melainkan Andra yang terlampau semangat. Tangan kecilnya terkepal, lalu melayang di udara. Tepat didepan wajah Jeffrey yang tak bergerak, juga tak berkedip. Tapi tak menyentuh.
Mona mundur satu langkah. Menatap ngeri. Juga karena takut terkena pukulan.
Begitulah yang Anton lakukan ketika menghajar Willy dikelas berdasarkan apa yang Andra lihat.
Sambil menepuk-nepuk lengan Mona meminta perhatian, Andra kembali berkata. "Terus-terus, mukanya Willy jadi kaya gini." Kali ini sudut bibirnya tertarik ke samping. Sementara matanya menyipit membentuk wajah yang lucu.
Hal itu kontan membuat Mona tertawa. Pipi bulat itu dia tangkup dengan kedua tangan, lalu dia ciumi karena gemas. "Lucu banget sih kamu."
Tapi bukannya risih ataupun malu, karena ini masih di lingkungan sekolah dan orang-orang akan melihat itu, Andra justru tersenyum geli.
"Jadi tadi bu guru sibuk ngurus mereka dulu. Soalnya willy nya nangis. Terus kami di nasehatin deh sebelum pulang."
Mona mengangguk. Kini dia mengerti. Tapi rasa penasaran lain datang. "Tapi kok mereka bisa sampe berantem?"
Andra menyuruh Mona menunduk. Lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Sesuatu yang membuat wanita itu terbelalak tak percaya. "Oh ya? Kalian kan masih kecil."
Jeffrey hanya melihat dalam diam. Tak berniat ikut campur. Matanya mengedar dengan malas, sementara kakinya menghentak tak sabar karena panas.
"Bener Tante. Sampai mata dia biru di sebelah sini, terus bibirnya berdarah disini." Andra menunjuk mata kirinya dan juga sudut bibirnya secara bergantian.
Konflik antar anak-anak, Mona tidak menyangka akan separah itu hingga melukai fisik. Bahkan didepan umum. Bagaimana jika tak ada orang yang melerai? Akan seperti apa kondisi mereka nantinya?
Tiba-tiba Andra kembali menyuruh Mona menunduk, kemudian membisikan sesuatu sambil menunjuk ke suatu arah.
Setelah itu tatapan Mona jatuh pada dua anak laki-laki yang berjalan beriringan bersama guru mereka. Yang satu di kanan dan yang satu lagi di sebelah kiri. Sementara aura permusuhan dari keduanya jelas terasa dari mata yang memicing, juga wajah yang mengeras. Sedangkan tangan keduanya sama-sama terkepal disamping tubuh.
Satu diantara anak itu memiliki mata yang biru di sebelah kirinya, sama seperti yang Andra katakan. Satu lainnya terlihat berantakan dari atas sampai bawah. Rambut acak-acakan, dan seragam sudah tidak serapi anak-anak lainnya. Mereka berjalan ke tempat dimana orang tua mereka tengah menunggu.
Perubahan itu nyata terlihat, terjadi dalam sekejap. Seiring dengan langkah yang semakin dekat. Wajah-wajah yang terlihat garang dan penuh kekuatan, berubah menjadi ketakutan.
Sementara itu ibu-ibu mereka terlihat terkejut bukan kepalang. Raut marah, sedih, juga khawatir bercampur menjadi satu.
Mona mengalihkan kembali tatapannya pada anak-anak. Membungkukkan badannya sedikit agar sejajar dengan mereka. Lalu berkata pelan, takut orang disekitarnya mendengar dan tersinggung.
"Kalian nggak boleh berantem kaya gitu apapun yang terjadi. Apalagi karena cewek. Kalian itu masih kecil, yang harus kalian lakukan adalah belajar dengan rajin. Mengerti?"
"Mengerti ma."
"Mengerti Tante." Jawab kedua bocah itu serempak.
"Bagus." Mona menegakkan kembali tubuhnya, lantas membuka pintu belakang mobil agar anak-anak segera masuk. Setelah itu dia berjalan memutar menuju kursi kemudi.
"Jangan lupa pasang seatbelt nya." Peringat Mona.
"Baik." Lagi-lagi mereka menjawab dengan kompak. Membuat satu senyum kembali terbentuk dari bibir Mona.