Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Misi belum selesai
Melodi tampak panik, ketika ia kembali ke tenda, tetapi tidak menemukan Alvian, adiknya di sana. Dunianya seakan berhenti berputar. "Ke mana dia? Kenapa bisa nggak ada? Nggak mungkin dia bisa jalan, kan?"
"Adik... Alvian...!"
Melodi terus meneriakkan nama adiknya, sambil mencari ke sana kemari seperti orang gila. Suasana siang yang sangat sepi semakin membuatnya ketakukan. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang membuncah. "Apa jangan-jangan Alvian diculik?"
"Nggak...nggak mungkin!" Cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.
"Pak, lihat Alvian, nggak?" tanyanya pada seorang bapak-bapak yang kebetulan lewat.
"Wah, bapak nggak tahu tuh, Mel. Bapak baru saja pulang dari sawah," jawab si bapak itu.
"Aku harus cari ke mana lagi? Kalau aku pergi, nanti dia pulang bagaimana?" Melodi benar-benar bingung.
"Apa aku tanya Bapak relawan itu, ya? Tapi aku takut, nanti bilang aku yang nggak-nggak lagi." Ia pun mengurungkan niatnya.
Akhirnya Melodi hanya bisa pasrah. Ia duduk di depan tenda sambil menundukkan kepalanya. "Ya Allah, lindungilah adikku Alvian di manapun dia berada."
"Kak Mel...!" Alvian berteriak dari kejauhan memanggil Melodi, membuat gadis itu segera mengangkat kepalanya.
"Alvian!" Melodi melihat Alvian duduk di atas kursi roda. Di belakang berdiri pria jangkung mendorong kursi roda tersebut. Ia langsung berdiri dan segera menghampiri mereka.
"Kalian darimana, kenapa pergi nggak bilang-bilang!"
Melodi berkacak pinggang, ia lantas memarahi Davin.
"Apa Pak Dokter tahu, saya sampai panik dan hampir gila karena nggak menemukan adik saya di manapun. Bahkan saya sempat berpikir bagaimana jika ada orang jahat yang menculiknya, terus diambil organ tubuhnya? Siapa yang mau bertanggungjawab!"
Melodi terus menyerocos tanpa memberi kesempatan kepada Davin untuk menjelaskan.
"Saya sudah kehilangan orangtua saya, dan saya nggak mau kehilangan adik saya juga. Dia satu-satunya keluarga saya."
Setelah melampiaskan kekesalannya pada Davin, Melodi lantas mengangkat Alvian dari kursi roda dan menggendongnya. Kemudian membawanya kembali masuk ke dalam tenda.
Davin hanya bisa melongo, tak mampu berkata-kata. Namun, dia memaklumi sikap Melodi. Dia menarik napas kasar lalu membawa kursi roda itu ke tenda Melodi.
Di dalam tenda Melodi terduduk memeluk Alvian dipakuannya dengan erat seakan takut kehilangan. "Kakak tidak akan memaafkan diri sendiri bila sampai kehilangan kamu. Apa yang harus kakak katakan pada ayah dan ibu nanti."
Melodi menciumi wajah adiknya tak tersisa. "Jangan pernah pergi lagi tanpa seijin kakak ya, mengerti!"
"Iya, Kak. Maafin, Vian." Alvian membenamkan wajahnya di ceruk leher kakaknya.
Sementara di luar tenda, Davin terkesiap mendengar ucapan Melodi. Hatinya bagai tersayat sembilu. Dia didera rasa bersalah telah membawa Alvian tanpa ijin terlebih dahulu.
"Ahh... bagaimana ini?" gumam Davin cemas.
"Dia pasti sangat kecewa sama aku," Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Namun, kemudian dia memberanikan diri mendekati tenda, lalu berkata, "Mbak Mel, tolong maafkan saya, yang telah mengajak Alvian jalan-jalan tanpa ijin."
"Saya... Saya hanya ingin -- supaya dia nggak merasa bosan di dalam tenda sendirian. Jadi..." Davin menghentikan ucapannya kala mendengar Melodi mengucap istighfar.
"Astaghfirullah al'adzim..." Melodi menutup mulutnya dengan telapak tangan, seakan baru menyadari apa yang telah dilakukannya beberapa saat lalu.
"Ya Tuhan, kira-kira dia marah nggak ya, aku marahi tadi? Astaga... mulut ini!" Ia lantas memukul-mukul pelan mulutnya yang menurutnya telah lancang.
Melodi menyengir sambil mengangguk kecil, ke arah Davin. "Pak Dokter, mohon maafkan saya. Saya benar-benar nggak sadar melakukannya."
Lalu bagaimana dengan Davin? Pemuda itu justru terkesima oleh sikap Melodi yang menurutnya sangat manis. Dia tak sanggup berkata-kata, mulutnya seakan terkunci. Sungguh, dirinya telah jatuh cinta pada sosok sederhana di depannya. Sosok yang apa adanya sangat jauh berbeda dengan gadis-gadis kota yang sering dia jumpai. Namun, memiliki hati yang tulus dan ikhlas.
"Pak Dokter, dengar saya, nggak?" Melodi berdiri sambil menggendong Alvian, melangkah ke depan Davin.
"Halo, Pak Dokter...?" Melodi mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Davin, membuat pemuda itu tersentak.
"Oh, maaf..." Davin gugup dan tersipu malu, wajahnya memerah sampai ke telinga.
Melodi terpana menatap wajah yang terpahat sempurna di depan mata. Alisnya yang tebal dan tertata rapi, matanya memancarkan ketulusan dan kelembutan. Hidung mancung sangat pas serta bibirnya agak tipis tersungging senyum menawan yang mampu menggetarkan hatinya untuk pertama kali.
Sejenak keduanya saling menatap dalam diam. Sampai akhirnya Melodi tersadar.
"Astaghfirullah al'adzim...!" Melodi menutup mulutnya. "Sadar Mel... Sadar!" bisiknya dalam hati.
Davin salah tingkah, lalu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Kalau begitu begitu saya permisi," kata Davin, berjalan dengan langkah mundur.
Namun, langkah kembali terhenti. "Itu kursi roda milik Alvian," serunya. Kemudian bayangannya menghilang di balik tenda.
Melodi terdiam dengan mulut ternganga, tak mampu berkata-kata hanya sekedar untuk mengucap terima kasih.
"Ini... ini, benarkah untuk kamu, Dik?"
Alvian mengangguk. "Iya, Kak. Itu hadiah dari Pak Dokter karena Vian bisa mewarnai dengan rapi."
"Alhamdulillah, ya Allah, terima kasih." Melodi langsung sujud syukur penuh rasa terima kasih. Masih ada orang yang peduli pada keterbatasan mereka, meskipun tak sedikit yang memandang mereka sebelah mata.
.
Waktu berlalu begitu cepat. Dua minggu sudah Davin berada di daerah pasca bencana. Rekan-rekannya yang lain sudah kembali, tetapi Davin memilih untuk tinggal.
"Adik...kapan balik? Mami kangen ini!" seru Mami Mia saat mereka melakukan panggilan video.
"Nanti, Mi. Kalau pembangunan rumah warga sudah beres." Davin beralasan.
"Lagipula adik masih ada misi yang belum selesai."
"Misi...?" Mami Mia tampak mengernyit bingung.
"Misi apa sih, Dik? Jangan bikin mami penasaran, deh?"
"Pokoknya misi. Nanti kalau sudah berhasil, adik bakalan bawa ke Mami. Doakan berhasil ya, Mi. Bye...Assalamualaikum." Davin langsung memutuskan panggilan.
"Waalaikumsalam." Mami Mia menatap foto Davin yang masih terpampang jelas di layar ponselnya.
Ia sangat penasaran dengan misi yang putra bungsunya itu sebutkan. "Misi apa, sih? Sampai-sampai dia enggan pulang? Itu anak, memang selalu saja penuh teka-teki."
.