NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 : Devian Kamu Keji!

Senin pagi itu, aku melangkah menuju kelas ku dengan diriku yang berbeda. Ini bukan sekadar semangat ceria, melainkan semangat untuk bangkit dan terus berusaha mendapatkan kejayaan dengan ilmu tanpa memperdulikan perkara negatif di sekitar.Seperti seorang "pejuang" yang mengenakan baju zirah, siap terluka dan menolak untuk tumbang. Aku tidak lagi mengharapkan senyuman palsu dari Syasya, dan siapapun, aku juga malas untuk mengharap perhatian dan panggilan daripada manusia.Aku lelah dan benar-benar sudah muak.

Aku masuk ke dalam kelas, berjalan lurus menuju mejaku. Tanpa menoleh ke siapapun itu. Aku tidak ingin mencari sesuatu yang akan hanya melelahkan fizik dan mentalku.

"Woi, Nur Hanie! Kamu tuli, ya? Aku panggil dari tadi tidak menyahut sama sekali!"

Suara Arif menggema, berisiko sekali seperti anjing. Dia berdiri tepat di depan mejaku bersama Devian Azka. Seperti biasa, mereka sedang mencari gara-gara dengan perlakuan bodohnya dengan menjadikanku bahan tawa seisi kelas seperti biasa.Apa mereka tidak bosan inginkan perhatian dengan mengganggu ku.

Aku mengangkat wajah. Dan menatapnya datar tanpa perasaan apapun.Aku menatap tepat ke dalam mata Arif. Kali ini, aku tidak menunduk. Aku tidak gemetar. Aku hanya menatapnya dengan pandangan yang kosong dan perasaan yang begitu hampa dan dingin hingga Arif sendiri tampak tersentak selama beberapa detik.

"Kamu mau apa?" tanyaku pendek. Suaraku datar, tidak ada lagi getaran ketakutan yang biasanya ku alami.Entahlah aku juga aneh tapi ini hal yang bagus buatku.

"Sekarang si Hanie culun sudah berani ya? Sejak ditinggalkan semua orang, kamu berubah seperti ini?" Devian Azka menyela sambil tertawa sinis. Mata hazelnya berkilat penuh kebencian yang dibalut ejekan. "Aku dengar orang bilang Kak Qasrina berasa risih dengan kehadiranmu. Benar begitu?"

Gila, lelaki ini memang gila.Apa dia segabut itu sampai tahu semua yang berlaku.Aku bahkan rasa ingin tertawa mendengarnya.Emang aku sepenting apa sampai dia harus tahu semua tentangku?Bodoh banget sih.Aku bisa melihat Syasya dan Hilya dari sudut mataku ,mereka sedang mencuri dengar sambil tersenyum-senyum mengejek.Tapi aku bahkan melihat aneh mereka.Terlalu sibuk mengurus hidup orang lain.

Namun, aku menarik napas dalam-dalam cuba menahan tawa ku .Aku diam sendiri sejenak untuk mengumpulkan kekuatan, lalu kembali menatap Azka.

"Kalau aku dianggap mengganggu pun, itu urusanku dengan dia. Tidak ada hubungannya denganmu, Devian Azka. Apa kamu tidak punya pekerjaan lain selain mengurusi urusan orang?Kau membuatku seolah aku sepenting itu dihidup kalian.Kau sangat prihatin dan aku rasa harus mengucapkan terima kasih."kawanku dengan senyum sinis dan nada yang tenang.

Seketika, ruang kelas menjadi sunyi senyap. Mereka semua tidak menyangka Hanie yang selama ini hanya tahu cara menunduk ketakutan dan menangis, kini bisa menjawab dengan kalimat yang begitu tenang namun setajam pisau.Dan itu terlihat sangat mengagumkan.

Arif tampak berang. Wajahnya memerah, lalu dia menghempaskan tangannya dengan keras ke atas mejaku hingga menimbulkan bunyi dentuman yang mengejutkan seisi kelas.Tetapi tentu saja bukan aku kerana aku bahkan ingin meledakkan ketawa melihat amarahnya.Dia benar -benar terlihat bodoh.

"Jangan sombong kamu, Hanie! Sadar sedikit siapa dirimu. Di kelas ini, tidak ada satu orang pun yang menyukaimu!"

"Bentar...Arif Emang aku peduli.Aku tidak butuh siapa pun untuk menyukaiku, Arif. Aku datang ke sini untuk belajar, bukan untuk mencari penggemar seperti yang kamu lakukan.Emang kalau mati kalian bakal dikubur sama teman?Enggak kan jadi aku fine fine aja." balasku santai lagi.Dan tanpa menunggu reaksinya, aku langsung membuka buku latihan Biologi dan mulai menulis, seolah-olah keberadaan mereka hanyalah debu yang tidak berarti.

Arif mendengus kasar dan hendak memaki lagi, namun Devian Azka menahan lengan Arif. Ada renungan kebencian yang terlihat di mata hazel Azka. Dia tidak akan membiarkan aku menang begitu saja dengan kata-kata.

Azka berjalan mendekat, gerakannya lambat seperti predator yang sedang mempermainkan mangsa. Tiba-tiba, dia menyambar cermin kecil yang ada di atas mejaku.

"Oh, jadi benda ini yang memberimu rasa percaya diri seperti sekarang?" Azka menyeringai.

Sebelum aku sempat bereaksi, dia menjatuhkan cermin itu ke lantai, lalu dengan sengaja menginjaknya dengan sepatu sekolahnya yang berat.

Krak!

Suara kaca pecah itu terdengar begitu nyaring di telingaku. Aku menggenggam erat tanganku menahan rasa marah dan benci yang menggunung.Bisa saja aku datang padanya dan memukul nya kalau ikutkan emosi ku.Tapi aku malas.Hatiku rasanya ingin meledak bersama serpihan kaca itu. Tapi Azka belum selesai. Dia menunduk, mengambil salah satu serpihan kaca yang tajam, lalu dengan santainya dia menggores permukaan mejaku, tepat di samping tanganku.

"Cermin bodoh untuk orang bodoh. Jangan pikir dengan menjawab balik, posisi kamu di sekolah ini berubah, Hanie. Kamu tetaplah sampah yang tidak diinginkan," bisik Azka. Dia kemudian melemparkan serpihan kaca itu ke dalam tas bukuku, sengaja agar aku terluka saat merogoh tas nanti.Aku bahkan rasa ingin meludah lelaki jahat ini.

Kejam. Devian Azka bukan hanya merundung dengan kata-kata, dia menghancurkan satu-satunya benda yang menjadi teman bicaraku di saat sunyi. Dia ingin menghancurkan simbol kekuatanku.Cerminku kesayanganku...

Aku menatap serpihan cermin yang hancur di lantai. Untuk sesaat, aku bahkan tak sengaja bersumpah untuk tak kan memaafkannya.Menangis?Tidak itu hal bodoh aku malas melakukannya,apalagi depan mereka.Orang yang tak punya hati. Aku tidak akan memberi mereka kepuasan melihatku menangis lagi.

"Sudahlah Azka. Meladeni si 'pembawa sial' ini hanya membuat sakit hati saja," ajak Arif yang merasa puas melihat cerminku hancur.

Mereka berlalu pergi menuju kursi belakang dengan tawa kemenangan yang memuakkan. Namun, untuk pertama kalinya, aku merasakan sebuah kemenangan kecil meski dalam bentuk yang menyakitkan. Mengapa? Karena meskipun mereka menghancurkan barangku, mereka gagal menghancurkan semangatku.

Dulu, aku akan langsung menangis tersedu-sedu dan memohon maaf. Sekarang, aku hanya menatap puing-puing itu dengan dingin. Ketika aku berhenti berharap pada kebaikan manusia, mereka kehilangan kekuasaan untuk menghancurkan jiwaku lebih dalam lagi.

Aku melihat Syasya menjelingku dengan wajah tidak puas. Mungkin dia merasa aneh melihat "budak" yang biasanya bisa dia perintah itu tiba-tiba memiliki taring dan keberanian untuk melawan. Dia mungkin merasa posisinya terancam karena aku tidak lagi bisa dipengaruhi oleh kata kata bodoh nya.Sorry, I'm not that Hanie anymore, bitch.

Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungku. Tembok yang kubangun ini sudah sangat tinggi sekarang, Syasya. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan kalian masuk lagi. Kalian boleh mengataiku, kalian boleh mencuri teman-temanku, tapi kalian tidak akan pernah bisa mencuri ketenangan yang baru saja kutemukan dalam diriku.

Aku memungut serpihan cermin besar yang masih tersisa di lantai dengan hati-hati. Meskipun sudah pecah berkeping-keping, aku masih bisa melihat mataku di sana. Mata yang kini tidak lagi menunjukkan kesedihan, melainkan kebencian.

"Terima kasih, Azka," bisikku dalam hati. "Karena sudah menunjukkan betapa rendahnya dirimu, dan betapa kuatnya aku bisa bertahan."

Setiap penderitaan ini hanyalah batu bata yang memperkuat bentengku. Dari setiap derita yang telah kucatat, mulai hari ini, aku akan mulai bertahan. Hanie yang sentiasa takut dan sedih sudah mati bersama pecahnya cermin itu. Yang tersisa hanyalah Hanie yang akan berjuang hingga titik darah terakhir.

Pelajaran dimulai, dan aku mulai fokus pada bukuku. Dunia di sekitarku boleh saja bising dengan ejekan, tapi di dalam hatiku, kini hanya ada kesunyian yang menenangkan.

Aku akan bertahan!

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!