Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Dewi sudah masuk bus, dan bus itu pun sudah berjalan lagi melanjutkan perjalanannya, pak Supri juga menjalankan mobilnya mengikuti bus itu.
jantung Peno sedikit lega, seumur umur ia baru pertama kali duduk bersebelahan dengan wanita cantik, tapi kelegaan itu ternyata hanya sesaat, ketika Peno akan menyandarkan punggungnya tangannya tak sengaja memegang sesuatu, dan saat melihatnya ia begutu kaget, rupanya tas dewi ketinggalan dimobil.
"waduuuh, itu cewe sudah punya penyakit lupa dari lahir kali ya!?" ucap Peno sambil mengangkat tas itu.
"oalaaahh, wis ga usah dikejar, kita ikuti saja mobilnya, toh tujuannya sama!" ucap pak Basuki mengurungkan niat pak Supri untuk tancap gas, dan akhirnya ia membawa mobil dengan kecepatan yang sesuai dengan bus itu, selalu mengikuti dibelakang.
bus itu pun masuk kekawasan terminal kota propinsi, setelah berhenti satu persatu penumpang pun turun, Peno, pak Supri dan oak Basuki mencari sosok Dewi yang belum turun juga, Peno tidak sabar, sebab waktunya terbuang banyak, yang seharusnya ia sudah sampai hotel tapi kali ini ia malah masih diterminal.
Peno naik kebus itu, dan benar saja Dewi sedang celingukan dengan sesekali berjongkok seperti mencari sesuatu.
"mba, lagi ngapain!?" ucap Peno menyadarkan Dewi.
"eh, lhooo, kok masnya disini, ikut naik bus ini juga!?" ucap Dewi kaget ada Peno didalam bus.
"waduuuhhh, bukan ikut naik bus tapi saya mengikuti bus ini, tuh tas kamu ketinggalan dimobil, makanya kami ikuti sampai kesini!" ucap Peno sedikit kesal karena ke telmian Dewi.
"oooh!" kata Dewi singkat lalu kembali sibuk mencari tasnya dikolong tempat duduk.
"plaaaak!" Peno menepuk jidatnya sendiri, "ada ya cewe modelan kaya gini, udah dikasih tahu masih ga ngeh juga!" batin Peno ngedumel.
"wooiiiiii, Dewi!" ucap Peno sedikit meninggikan suaranya.
"apa sih masnya ini, aku tuh lagi nyari tas tahu, tadi gagal dijambret malah sekarang ngilang!" jawab Dewi masih celingukan mencari tasnya.
"oalah ini orang, itu tasnya tadi ketinggalan dimobil!" ucap Peno memberi tahu sekali lagi.
"hah, ketinggalan dimobil, kok bisa, jangan jangan kamu yang ngumpetin ya!?" jawab Dewi lalu menerjang tubuh Peno sampai Peno terduduk dikursi penumpang dan Dewi turun dengan rasa tanpa bersalah.
"ealaaaaahh malah main tabrak saja, nuduh lagi!"" ujar Peno lalu berdiri dan mengikuti Dewi turun.
Sesampainya dibawah Dewi sudah sedang ngobrol dengan pak Supri dan pak Basuki.
"terimakasih ya pak sudah mau repot repot mengantarkan tas saya, pasti mas ini yang ngumpetin tadi, jadi saya ga kerasa kalau ga bawa tas!" ucap Dewi berterimakasih kepada dua bapak bapak tapi malah menuduh Peno menyembunyikan tasnya.
"eh, enak aja ngumpetin, situ sendiri yang lupa!" kata Peno membela diri.
"eh, eh, aku tidak pelupa ya, cuma kadang kadang ga ingat, kalo tidak kamu umpetin pasti kebawa sama aku tasnya!" balas Dewi tak kalah ngototnya.
"oalaaahhh, buat apa juga umpetin tas kamu, paling isinya cuma tisu sama bedak!" balas Peno.
"eh enak aja, ini tuh isinya dompet sama hape, kalo hilang bahaya bisa bisa aku ga makan seminggu, kamu mau tanggung jawab ngasih aku makan!?" balas Dewi lagi.
"tak sudi ya, emangnya kamu istriku harus aku kasih makan!?" balas Peno tak kalah ngotot.
perdebatan dua anak muda beda jenis itu membuat kepala pak Supri dan pak Basuki pusing, keduanya hanya bengong melihat dua anak muda berdebat.
"wis, wis, malah pada bertengkar, hati hati, biasanya yang kaya gitu jodoh!" ucap pak Basuki mencoba melerai Peno dan Dewi.
"tak sudi!" ucap keduanya kompak.
"nah kan, sudah mulai kompak, ha ha ha ha...........!" pak Supri malah meledek mereka berdua, Peno dan Dewi saling buang muka dengan tangan menyilang didada.
"wis, sekarang masuk mobil, Dewi, tujuanmu kemana, biar diantar sekalian!" kata pak Basuki meminta semuanya masuk mobil.
"kejalan merapi pak, dekat hotel wijaya!" jawab Dewi lalu menenteng tas besarnya dan masuk kemobil.
"ayo No masuk!" ucap pak Basuki yang melihat Peno masih berdiri ditempatnya.
"pak Basuki belakang, saya yang didepan!" jawab Peno lalu masuk kepintu depan dan duduk dikursi penumpang samping sopir.
drama perdebatan tidak benar benar selesai, didalam mobil saat pak Supri sudah menjalankan mobilnya kembali perdebatan dimulai.
"tasnya diiket dileher biar ga ketinggalan lagi!" ucap Peno dengan tubuh masih menghadap depan.
"yang ada ga bisa nafas, kalau diiket dileher, sini dileher kamu saja!" jawab Dewi.
"dileher kamu lah, kan itu tas kami, kalau dileherku nanti dikira ngumpetin lagi!" ucap Peno membalas jawaban Dewi.
"mulai lagi, ini kapan selesainya!?" kata pak Basuki melerai lagi.
"iya ini, apa mau pada turun saja!?" kata pak Supri menimpali, dan keduanya pun langsung diam seribu bahasa.
Mobil kini berjalan dengan tenang tanpa suara didalamnya, saat sudah memasuki kawasan jalan merapi pak Supri memperlambat laju mobil, dan bertanya pada Dewi dimana ia akan turun, Dewi pun menunjuk pada gang kecil sekitar lima puluh meter dari hotel.
"saya turun digang itu saja pak, kosan saya masuk kedalam!" jawab Dewi, lalu pak Supri pun menepikan mobil persis digang kecil itu.
pak Basuki turun untuk membantu Dewi menurunkan tas besarnya dari bagasi, sebelum turun Dewi menyalami pak Supri dengan takzim dan mengucapkan terimakasih, dan juga bersalaman dengan Peno, lalu Dewi turun dan menyalami pak Basuki dengan takzim juga.
"terimakasih ya pak Bas!" ucap Dewi sopan.
"iya sama sama, kami juga langsung mau kehotel!" jawab pak Basuki, dan Dewi pun segera melangkah masuk gang dengan menenteng tas besarnya.
Pak Supri kembali menjalankan mobil menuju hotel yang memang tak jauh dari tempat mereka berhenti menurunkan Dewi.
"alhamdulillah sampai!" ucap pak Supri.
"iya meski kayaknya sedikit telat, kita langsung tanya saja ke resepsionis!" ucap pak Basuki yang langsung turun menuju lobi hotel.
Ya mereka memang sedikit terlambat, yang seharusnya jam satu mereka sudah sampai, sekarang jam dua mereka baru sampai, beruntung batas waktu yang diberikan oleh panitia untuk cek in dihotel dan konfirmasi kedatangan peserta adalah jam tiga sore, jadi mereka belum terlambat.
Pak Basuki menemui resepsionis untuk mengonfirmasi kedatangan mereka, disambut hangat oleh petugas, Peno yang baru pertama kali masuk kehotel sedikit takjub sekaligus bingung, takjub dengan bangunan yang begitu bagus, dengan penetaan interior yang indah, dan yang mebuat Peno bingung adalah dimana letak kamarnya, karena ia sama sekali tidak melihat pintu kamar dilobi hotel itu.
"ini mana kamarnya, kok cuma ruangan besar ini saja ga ada pintu kamar!" ucapnya dalam hati sambil mengedarkan pandangan kesetiap penjuru.
Setelah selesai mendaftar dan mendapatkan nomer kamar serta kuncinya yang berupa kartu, pak Basuki pun memanggil Peno.
"ayo No, kita kekamar, nanti jam empat ada teknikal meting di ruang rapat!" ucap pak Basuki.
Peno pun langsung mengikuti langkah 0ak Basuki dan pak Supri.