NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Pelabuhan

Angin laut menampar wajah Jovan begitu ia turun dari mobil.

Dingin. Basah. Bau air laut bercampur solar dan karat besi. Pelabuhan malam itu tidak bising dan justru itu yang berbahaya. Tempat seperti ini selalu terasa tenang sebelum orang-orang mati.

Ia menutup pintu mobil pelan. Tidak dibanting. Tidak ada gerakan yang perlu menarik perhatian.

Lampu-lampu tinggi di pelabuhan membentuk lingkaran cahaya yang terputus-putus. Di antaranya, bayangan kontainer menumpuk seperti dinding kuburan raksasa.

Di radio kecil di telinganya, suara orang Don Marco terdengar rendah. Asing tapi tetap formal.

“Gudang timur aktif. Dua lapis penjagaan terlalu ketat. Senjata berat adalah di dalam.”

Jovan tidak menjawab. Ia sudah berjalan. Langkahnya mengikuti jalur yang tidak diterangi lampu. Dekat laut. Basah. Licin. Ia sengaja memilih sisi ini, karena penjaga biasanya malas berdiri terlalu dekat air.

Dari balik kontainer, ia melihat dua pria merokok. Santai. Senjata disampirkan, bukan digenggam. Itu yang menjadi kesalahan pertama, lengah.

Jovan mengangkat pistol berperedam. Dua tembakan pendek ia arahkan pada para penjaga. Tidak ada gema. Tidak ada jeritan.

Dua tubuh jatuh hampir bersamaan. Rokok masih menyala di tanah basah.

Jovan melangkah melewati mereka tanpa melihat lagi.

Ia naik ke tangga besi derek kontainer. Tangannya menggenggam dingin logam. Setiap pijakan dihitung. Bahu yang masih nyeri akibat luka tembak masih terasa, tapi ia abaikan. Gerakannya tidak cepat dan juga tidak lambat. Dari atas, pelabuhan terbuka lebar seperti peta.

Jovan berhenti. Ia tidak langsung bergerak. Tubuhnya diam, hanya matanya yang bekerja, menyapu dermaga, kontainer bertumpuk, jalur sempit di antara gudang yang kini sunyi tapi belum aman. Dari atas, pelabuhan terlihat seperti papan catur yang belum dibereskan.

Empat penjaga di jalur utama. Dua di pintu gudang. Satu patroli bergerak memutar tiap tiga puluh detik. Disiplin. Bukan preman jalanan.

“Barang pindah sepuluh menit lagi,” suara di radio masuk.

Jovan tersenyum tipis. Sepuluh menit terlalu lama. Ia menunggu patroli membelakangi. Lalu turun.

Langkahnya senyap. Pisau lebih cepat daripada peluru di jarak sedekat ini. Satu tusukan. Tarik. Tubuh ditahan agar tidak jatuh keras.

Namun yang kedua sempat melihat bayangan.

“Apa...”

Terlambat. Tembakan pertama terdengar. Dan pelabuhan seolah menjadi hidup.

Lampu sorot menyala. Teriakan bersahutan. Peluru menghantam besi, memercikkan bunga api.

Jovan berlari, menyelinap di antara kontainer. Ia menembak sambil bergerak, memaksa lawan berlindung, bukan membidik membabi buta.

Seseorang mencoba mengepung dari kanan.

Jovan meluncur ke tanah, berguling, dan menembak lututnya. Pria itu jatuh menjerit. Tidak mati. Tapi tidak akan mengejar siapa pun malam ini.

Mesin derek tiba-tiba bergerak.

Kontainer diangkat paksa, entah perintah siapa dan itu mengubah segalanya. Bayangan berpindah. Jalur terbuka. Jalur lain tertutup.

Jovan memanfaatkan kekacauan itu. Ia melompat naik ke kontainer yang sedang diturunkan, menempel di sisinya, lalu turun tepat di depan pintu gudang.

Dua penjaga tersisa di sana. Yang pertama menembak. Pelurunya menghantam dinding.

Yang kedua terlalu percaya diri.

Ia berdiri setengah terbuka, mengira ketinggian memberi perlindungan. Mengira Jovan masih menghitung. Mengira detik tambahan adalah miliknya.

Jovan tidak berpikir sejauh itu.

Ia menembak satu kali. Mengenai dada. Selesai.

Tubuh itu terhuyung ke belakang, menabrak pagar besi, lalu menghilang dari pandangan. Tidak ada teriakan. Tidak ada tembakan balasan. Hanya bunyi logam yang bergetar sebentar, lalu diam.

Jovan tidak menunggu hasilnya. Ia sudah beralih, menurunkan laras, menyatu dengan bayangan derek pelabuhan. Baginya, itu bukan kemenangan, hanya satu titik yang sudah disingkirkan dari jalur.

Di bawah, suara panik mulai pecah. Radio menyala terlambat. Langkah kaki saling bertabrakan.

Seseorang berbisik, nyaris putus asa, “Dia, Jovan De Luca.” seperti melihat hantu yang bangkit dari kubur.

Yang lain menjawab dengan napas tertahan, “Dia belum mati. Itu tidak mungkin."

Jovan berhenti lagi. Bukan untuk pamer. Untuk memastikan, pelabuhan masih bergerak sesuai perhitungannya. Lalu ia turun.

Gudang terbuka.

Di dalam, lampu neon menyala terang, terlalu terang. Peti-peti senjata berjajar rapi. Bau minyak dan logam memenuhi ruangan.

Cahaya putih itu memantul di lantai semen, memperlihatkan jejak roda troli yang belum lama lewat. Tidak ada debu tebal. Gudang ini aktif. Digunakan. Dijaga dengan rasa aman yang berlebihan.

Di tengahnya, seorang pria berkemeja putih berdiri gemetar, tangan terangkat.

“Jovan… kita bisa bicara.”

Jovan berjalan mendekat. Langkahnya menggema pelan.

“Bicara itu untuk orang yang punya waktu,” katanya datar.

“Don Marco...”

“Salah.” Jovan mengangkat pistol. “Don Marco mengirimku.” Satu tembakan. Tubuh pria itu jatuh ke lantai, suara kepalanya membentur keras.

Di luar, suara tembakan mulai reda.

Jovan keluar dari gudang. Bajunya kotor. Tangannya berlumur darah, bukan semuanya miliknya. Lalu berdiri di tepi dermaga. Bau laut dan asap pelabuhan menyatu dengan aroma darah yang belum hilang dari bajunya. Mata menatap kontainer yang baru saja ia kuasai, tubuh yang tergeletak, semua terbayang dengan jelas, tapi ia tetap tenang.

Ia menunduk sebentar, memeriksa pistol. Pelatuk dingin di tangannya mengingatkan bahwa semua ini bukan permainan ini dunia yang membunuh siapa pun yang salah langkah.

...****************...

Gudang sisi timur pelabuhan berubah kacau.

Seorang pria berjaket hitam menekan kain ke lengannya yang berdarah. Napasnya pendek. Matanya liar, menatap pintu baja yang sudah terbuka paksa.

“Dia yang pimpin,” katanya akhirnya. Suaranya serak.

“Siapa?” Pria itu menelan ludah.

“Jovan De Luca.”

Ruangan menjadi membeku mendengar nama yang melegenda.

“Mustahil,” sahut yang lain cepat. “Jovan sudah mati. Mobilnya meledak.”

“Kalau begitu,” potong pria pertama, “jelaskan kenapa semua jalur runtuh rapi, kenapa orang-orang kita jatuh satu per satu tanpa suara panik.”

Tak ada yang menjawab.

Seseorang memukul meja besi.

“Sial. Dia seperti hantu.”

Lampu darurat berkedip. Bayangan mereka memanjang di dinding, terpecah-pecah.

“Kalau Jovan kembali,” kata seorang pria tua yang sejak tadi diam, “berarti Don Marco belum melepaskan tangannya.”

Ia berdiri perlahan. “Dan kalau Don Marco bergerak, kita tidak sedang diserang. Kita sedang diuji.”

Keheningan jatuh lagi.

“Atur ulang jalur distribusi,” perintahnya. “Tutup pelabuhan kecil. Ganti orang-orang lama.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, “Dan siapkan balasan. Bukan ke Jovan.”

Semua menoleh.

“Ke apa yang dia lindungi.”

Tak ada yang bertanya lebih jauh. Mereka tahu, sejak nama Jovan disebut, perang ini baru saja benar-benar dimulai.

1
Kam1la
“Aku sangat terbuka dengan masukan dari kalian. Kritik dan saran akan sangat membantu agar novel ini semakin baik. Jika suka, boleh juga beri like ya.”
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat kak /Smile//Ok/
total 1 replies
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!