Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — TUMBAL KEDUA
Sungai bawah tanah itu bukan air. Nara menyadarinya setelah sepuluh meter berjalan menerobos arusnya yang setinggi dada.
Cairan itu kental, hangat, dan licin. Baunya amis menusuk, seperti bau darah menstruasi yang disimpan dalam toples tertutup selama bertahun-tahun. Ini adalah air ketuban bumi. Cairan purba yang mengalir di "rahim" Desa Wanasari, tempat segala kesuburan dan kematian bermula.
Nara tidak lagi merasa jijik. Rasa jijiknya sudah mati, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang dingin dan tajam. Konde emas di tangannya masih tergenggam erat, satu-satunya benda padat yang menghubungkannya dengan kewarasan.
"Lo mau gue, Nek?" bisik Nara ke kegelapan gua. "Lo mau gue, Ratu? Sini ambil."
Suaranya tidak memantul. Dinding gua yang terbuat dari tanah basah dan akar-akar raksasa itu menyerap suara, seolah dinding itu sendiri memiliki telinga yang lapar.
Semakin dalam Nara berjalan, semakin terang gua itu. Bukan karena cahaya matahari, melainkan karena lumut. Dinding gua dilapisi lumut bioluminescent (bercahaya) berwarna hijau pucat. Cahaya itu suram, membuat segala sesuatu terlihat seperti di dalam ruang rontgen—tulang-belulang dan bayangan.
Tiba-tiba, kaki Nara menabrak sesuatu di dasar sungai.
Benda itu keras, tapi dilapisi kain.
Nara menahan napas. Ia meraba ke dalam air pekat itu. Tangannya menyentuh sesuatu yang bulat dan berambut.
Kepala.
Nara menarik napas tajam, tapi tidak menjerit. Ia membungkuk sedikit, menarik benda itu agar menyembul ke permukaan.
Itu bukan mayat baru. Itu mayat lama.
Wajahnya sudah hancur, dagingnya tinggal sisa-sisa bubur yang menempel di tengkorak. Tapi Nara mengenali jaket yang membalut sisa tubuh itu. Jaket almamater biru.
Satu dari mahasiswa tahun 2004.
Nara melepaskannya. Mayat itu kembali tenggelam pelan, terseret arus menuju pusat gua.
"Mereka semua di sini..." gumam Nara. "Semua yang ilang... nggak pernah keluar dari desa. Mereka cuma dipindah ke bawah."
Nara melanjutkan langkahnya. Arus sungai semakin kuat, menariknya menuju sebuah ruangan gua yang jauh lebih besar di ujung sana. Dari kejauhan, Nara bisa melihat pendar cahaya hijau yang lebih terang, dan... siluet-siluet yang berdiri tegak.
Nara akhirnya mencapai tepian. Ia memanjat naik ke daratan berbatu yang licin. Tubuhnya basah kuyup oleh cairan hitam berlendir, membuatnya tampak seperti bayi yang baru lahir dari rahim neraka.
Ia berdiri dan mendongak.
Napasnya tercekat.
Ia berada di Galeri Kegagalan.
Ruangan gua itu luas, langit-langitnya tinggi penuh stalaktit runcing yang meneteskan air kapur. Dan di sepanjang dinding gua yang melengkung, terdapat ceruk-ceruk alami.
Di dalam setiap ceruk, berdiri sebuah "patung".
Itu bukan patung batu. Itu adalah mayat-mayat yang diawetkan.
Tubuh-tubuh itu dibalut dengan lapisan lilin transparan atau getah damar, membuat mereka terlihat kaku dan mengkilap. Mereka dipajang seperti koleksi boneka action figure di lemari kaca seorang kolektor gila.
Nara berjalan mendekati ceruk terdekat. Kakinya gemetar.
Di ceruk pertama, ada Bima.
Tubuh Bima sudah "diperbaiki" dari kondisinya yang hancur saat ditemukan di sumur. Lubang-lubang gigitan di tubuhnya telah ditambal dengan tanah liat merah. Matanya yang hilang diganti dengan batu akik hitam.
Bima diposisikan berdiri tegak, tangannya memegang sebuah tombak patah. Di bawah kakinya, terukir tulisan di batu gua:
PEMBUKA PINTU (2024)
Dagingnya manis, tapi jiwanya memberontak.
Nara menutup mulutnya. Air mata kemarahan mendesak keluar, tapi ia tahankan. Ia tidak boleh menangis di depan musuh.
Ia melangkah ke ceruk berikutnya.
Ceruk ini baru saja diisi. Lilin pelapisnya masih hangat dan menetes.
Di dalamnya berdiri Raka.
Kondisi Raka jauh lebih mengerikan. Tubuhnya kurus kering, seolah semua cairan di dalamnya telah disedot habis. Mulutnya dijahit dengan benang emas. Dadanya—tempat jantung sukmanya diambil—dibiarkan berlubang menganga, dan di dalam rongga dadanya, diletakkan sekuntum bunga kantil yang layu.
Raka diposisikan dengan tangan menengadah, seolah sedang berdoa atau memohon ampun.
Di bawah kakinya, tulisan baru sedang terukir sendiri. Bukan oleh pahat, melainkan oleh tetesan asam yang jatuh dari stalaktit di atasnya.
TUMBAL KEDUA: PEMBERSIH LANTAI (2024)
Darahnya panas, tapi imannya kosong.
Mati dalam mimpi, abadi dalam sunyi.
Nara mundur selangkah. "Raka..."
Jadi ini yang dimaksud dengan "Tumbal Kedua". Raka telah resmi didaftarkan dalam inventaris kematian desa. Bukan sekadar mati, tapi diarsipkan. Jiwanya telah dikunci di dalam gua ini selamanya, menjadi baterai abadi bagi Desa Wanasari.
Dan di sebelah ceruk Raka, ada ceruk kosong.
Belum ada isinya. Tapi di lantainya, sudah ada tumpukan tas dan barang-barang milik Dion.
Dan di dinding ceruk kosong itu, ada tulisan tangan yang Nara kenali. Tulisan cakar ayam Dion.
Tulisan itu bukan dipahat, melainkan ditulis dengan darah yang sudah mengering hitam. Seolah-olah Dion, dalam detik-detik terakhirnya sebelum tertimbun, merayap ke sini secara supranatural untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Juru Tulis.
TUMBAL KETIGA: SAKSI MATA (2024)
Terkubur di gudang.
Menjadi fondasi agar yang lain bisa naik.
Status: SELESAI.
Nara jatuh berlutut.
"Dion..." isak Nara. Dion benar-benar sudah tiada. Tugasnya sebagai pencatat sejarah telah selesai, dan kematiannya adalah tinta penutup bab tersebut.
Tinggal dua ceruk lagi yang kosong di deretan tahun 2024.
Satu ceruk kecil, penuh dengan lumut basah. Itu pasti untuk Siska.
Dan satu ceruk besar di tengah, yang paling megah, dihiasi dengan kelopak bunga mawar yang berserakan.
Itu ceruk untuk Nara.
"Gue nggak bakal masuk ke situ," desis Nara, bangkit berdiri. "Gue bakal hancurin tempat ini."
Tiba-tiba, suara gamelan terdengar.
Nung... gung... nung... gung...
Suaranya bukan dari rekaman. Suaranya nyata. Berasal dari balik dinding gua di ujung sana.
Dan diikuti oleh suara nyanyian.
"Lingsir wengi... sepi durung biso nendra..."
Itu suara Lala.
Nara menoleh ke arah sumber suara. Di ujung gua, terdapat sebuah gerbang batu raksasa. Gerbang itu berbentuk mulut Kala (raksasa pemakan waktu) yang menganga lebar. Lidah batu menjulur keluar menjadi jembatan menuju kegelapan.
Di atas jembatan lidah batu itu, berdiri seseorang.
Bukan Lala.
Itu Bu Kanti.
Wanita paruh baya pembuat jamu itu berdiri tegak, memegang nampan berisi gelas-gelas kristal. Ia tidak lagi memakai kebaya lusuh. Ia mengenakan kebaya beludru hitam dengan sulaman emas, persis seperti pakaian bangsawan keraton. Wajahnya muda—jauh lebih muda dari sebelumnya. Keriputnya hilang. Kulitnya kencang.
"Selamat datang, Gusti Putri," sapa Bu Kanti, membungkuk hormat. Senyumnya lebar, tulus, dan menakutkan. "Kami sudah menunggu lama."
"Di mana Siska?" tanya Nara, mengarahkan konde emasnya ke leher Bu Kanti.
"Nak Siska sedang... dibersihkan," jawab Bu Kanti lembut. "Dia kotor sekali. Banyak dosa. Banyak keraguan. Bayi-bayi kami sedang menjilati kotorannya sampai bersih. Nanti kalau sudah putih lagi, baru boleh masuk sini."
"Lepasin dia!"
"Tidak bisa, Gusti," Bu Kanti menggeleng. "Dia sudah menyerahkan diri. Sukarela. Tidak ada paksaan di Wanasari. Yang masuk sini adalah mereka yang hatinya memang kosong."
Bu Kanti melangkah minggir, mempersilakan Nara lewat.
"Monggo. Ibu Ratu sudah tidak sabar. Beliau ingin melihat wajah cucunya yang katanya keras kepala itu."
Nara menatap lorong gelap di belakang Bu Kanti. Aura yang keluar dari sana begitu kuat, begitu menekan, hingga Nara merasa kulit wajahnya seperti ditarik ke belakang.
"Ini bukan soal keras kepala," kata Nara, melangkah maju melewati Bu Kanti. "Ini soal dendam."
"Dendam itu bagus," bisik Bu Kanti saat Nara melewatinya. "Dendam itu bahan bakar paling awet. Ibu Ratu suka anak yang pendendam."
Nara berjalan meniti jembatan lidah batu itu. Di bawahnya, jurang tanpa dasar menganga. Ia bisa mendengar suara jeritan ribuan jiwa dari dalam jurang itu—jiwa-jiwa tumbal masa lalu yang tidak tenang.
DI PERMUKAAN — DESA WANASARI
Sementara Nara menembus jantung bumi, di atas sana, ritual desa mencapai puncaknya.
Hujan darah telah berhenti, menyisakan tanah yang merah dan becek. Bau anyir menyelimuti seluruh lembah.
Ratusan warga berkumpul di halaman bekas Joglo yang sudah hangus. Mereka duduk bersila membentuk lingkaran raksasa.
Di tengah lingkaran, Lala menari.
Lala—sang Nyai—menari di atas puing-puing arang yang masih panas. Kakinya yang telanjang tidak melepuh. Ia menghentak-hentakkan kaki mengikuti irama gamelan gaib yang terdengar dari dalam tanah.
Gerakannya semakin cepat. Semakin liar.
Mata Lala terpejam. Mulutnya komat-kamit merapalkan mantra pemanggil.
"Hong wilaheng... sekaring bawono langgeng..."
Tubuh Lala mulai berasap. Asap putih keluar dari pori-porinya. Itu adalah jiwa Lala yang asli. Jiwa itu sedang diusir paksa, diperas keluar seperti air dari spons, untuk memberi ruang bagi entitas yang lebih besar.
Pak Wiryo berdiri memimpin doa. Tangannya menengadah ke langit yang merah.
"Buka pintunya!" seru Pak Wiryo. "Terima persembahan kami! Dua raga sudah masuk (Bima & Raka)! Satu raga menjadi pasak (Dion)! Satu raga sedang dibersihkan (Siska)! Dan satu raga siap menerima mahkota (Nara)!"
"HAAA!" sorak warga serentak.
Tanah Wanasari bergetar. Gempa lokal terjadi.
Pohon beringin besar di perbatasan desa berguncang hebat. Daun-daunnya rontok serentak. Akar-akarnya mencuat keluar dari tanah, menggeliat seperti ular raksasa yang kesakitan.
Dari dalam tanah, energi hitam pekat menyembur ke atas, menembus kaki Lala.
Lala mendongak, menjerit panjang.
"IBUUUUU!"
Mata Lala terbuka.
Bola matanya pecah. Cairan hitam meleleh keluar.
Tapi dia tidak buta. Dia melihat segalanya.
Lala telah hilang. Yang berdiri di sana sekarang adalah corong bicara sang Ratu.
"Dia sudah dekat..." suara Lala parau, bergema seperti suara dari dalam gua. "Cucuku sudah datang. Siapkan piringnya. Siapkan pisaunya."
KEMBALI KE BAWAH TANAH
Nara sampai di ujung jembatan.
Di depannya, ada sebuah pintu kayu jati ukir yang sangat besar. Pintu itu dihiasi dengan relief manusia yang sedang bersenggama dengan binatang—simbol penyatuan nafsu hewani dan manusiawi.
Pintu itu tidak dikunci.
Nara mendorongnya.
KREK...
Pintu terbuka.
Cahaya emas menyilaukan mata Nara sesaat.
Ketika matanya beradaptasi, ia melihat sebuah ruangan yang sangat indah. Bukan gua kotor. Bukan kamar berdebu.
Ini adalah Kamar Pengantin Keraton.
Lantainya marmer putih. Dindingnya dilapisi kain sutra kuning emas. Wangi melati segar dan dupa gaharu memenuhi udara. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang pengantin yang megah, dengan kelambu sutra yang menjuntai.
Dan di depan ranjang itu, berdiri sebuah cermin besar setinggi manusia.
Nara berjalan mendekati cermin itu.
Di dalam cermin, ia melihat bayangannya sendiri.
Tapi bayangan itu berbeda.
Bayangan Nara di cermin memakai kebaya pengantin beludru hitam. Rambutnya disanggul dengan hiasan bunga melati yang ronce-nya panjang sampai ke pinggang. Wajahnya dirias paes ageng. Cantik. Anggun. Dan berwibawa.
Nara menyentuh pipinya sendiri. Di dunia nyata, ia kotor, berlumuran lumpur, dan lebam. Tapi di cermin, ia adalah Ratu yang sempurna.
"Cantik, kan?"
Suara itu datang dari arah ranjang.
Nara menoleh.
Kelambu tersibak.
Seorang wanita tua duduk di tepi ranjang. Rambutnya putih panjang terurai. Kulitnya keriput, tapi matanya... matanya tajam dan muda. Mata yang sama dengan mata Nara.
Itu Nenek Retno.
Tapi nenek ini bukan nenek yang biasa membuatkan Nara kue cucur di Jakarta. Nenek ini memakai kemben hijau tua, kakinya tidak menyentuh lantai—melayang satu jengkal di atas marmer. Dan di pangkuannya, ia memegang sebuah kepala manusia yang masih segar.
Kepala Siska.
Nara mematung. Napasnya berhenti.
Kepala Siska di pangkuan nenek itu masih hidup. Matanya berkedip-kedip lemah. Mulutnya bergerak tanpa suara.
"Siska..." bisik Nara hancur.
"Temanmu berisik sekali tadi," kata Nenek Retno santai, sambil menyisiri rambut di kepala Siska yang putus itu. "Nangis terus. Minta pulang. Jadi Nenek diamkan sebentar biar nggak ganggu pertemuan kita."
Nenek Retno mengangkat kepala Siska, menunjukkannya pada Nara.
"Lihat? Dia sudah tenang. Dia sudah suci."
Nara merasakan kemarahan yang begitu besar hingga pandangannya memerah. Rasa takutnya lenyap sepenuhnya, digantikan oleh kebencian yang murni dan membara.
"Kau..." Nara mengangkat konde emasnya. "KAU BUKAN NENEKKU! KAU IBLIS!"
Nara berlari menerjang.
Nenek Retno tersenyum. Ia tidak menghindar. Ia justru merentangkan tangannya, menyambut cucunya.
"Bagus, Nara. Bagus," bisik Nenek. "Marahlah. Bencilah. Itu energi yang Nenek butuhkan untuk pindah ke tubuhmu."
Saat Nara menusukkan konde itu ke dada neneknya, ia tidak merasakan daging. Ia merasakan sedotan.
Tubuh Nara tersentak. Konde itu menempel di dada Nenek Retno, dan tangan Nara tidak bisa dilepas.
Energi hitam mengalir dari tubuh tua sang nenek, merambat lewat konde emas, masuk ke tangan Nara, menjalar ke pembuluh darahnya.
"WARISAN SUDAH DIBERIKAN!" teriak Nenek Retno. Suaranya berubah menjadi lengkingan monster.
Tubuh tua itu meledak menjadi debu.
Dan Nara berdiri terpaku di tengah ruangan, merasakan ribuan jiwa, ribuan ingatan, dan ribuan rasa lapar masuk membanjiri otaknya.
Upacara penobatan telah dimulai. Bukan dengan mahkota, tapi dengan kerasukan paksa.
Nara menjerit, tapi suaranya bukan lagi suaranya sendiri.
Itu suara Ratu Wanasari yang baru.