Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyergapan
"Kita sampai!"
Seruan Lian terdengar begitu mobil terparkir di halaman.
Halaman rumah besar Martadinata itu tampak gelap saat tengah malam seperti ini, hanya dihiasi oleh lampu-lampu taman yang menciptakan cahaya kekuningan di sekitar.
Jangan tanyakan kenapa mereka baru pulang selarut ini, itu karena perjalanan yang mereka lakukan benar-benar menyenangkan hingga membuat mereka lupa waktu.
Mengunjungi mall, toko-toko baju, membeli camilan, hingga memborong aksesoris cantik jalanan membuat keduanya lupa akan jalan pulang.
Kalau saja Bram tak menelpon, mungkin mereka benar-benar tidak akan pulang.
"Biar aku bantu."
Hita mengitari mobil untuk menyusul Lian ke bagasi, meraih belanjaan-belanjaan mereka yang benar-benar banyak dan menumpuk.
"Kakak bawa yang ini, dan aku akan membawa yang itu."
Lian menunjuk belanjaan-belanjaan yang dimaksud, membagi tugas agar barang-barang ini secepatnya bisa dibawa masuk ke dalam rumah.
Tapi tepat saat Lian dan Hita mulai meraih tas-tas belanjaan itu, suara dering menyebalkan membuat Lian mengumpat pelan.
"Siapa lagi?! Mengganggu saja!"
Namun meskipun begitu, Lian tetap saja merogoh saku jaket tebalnya dan mengeluarkan handphone mahal itu dari sana.
"Ada apa?!"
Hita tersentak di tempat begitu mendengar suara Lian yang tak santai, membuatnya geleng-geleng kepala dan tersenyum. Setelah hari ini, Hita jadi lebih mengenal Lian.
"Apakah tidak bisa besok saja?! Kau kira aku tidak sibuk malam-malam begini?!"
Tampang malas Lian terpasang begitu mendengar celotehan sosok di seberang telepon, membuat Hita sedikit penasaran.
"Siapa itu?" tanya Hita pada akhirnya setelah Lian mematikan sambungan.
"Temanku," jawab Lian malas. "Sepertinya aku harus pergi untuk menemuinya sebentar, ada hal penting yang harus aku selesaikan."
"Untuk barang-barang ini..." Lian berpikir sejenak. "Biarkan saja dulu di bagasi, saat pulang aku akan membawanya masuk. Aku rasa tidak sempat juga jika harus di bawa sekarang, ini terlalu banyak."
Hita mengangguk. "Baiklah, kalau begitu jangan pulang malam-malam, nanti dimarahi oleh kak Bram," pesannya, tepat saat Lian menutup kembali bagasi mobil dengan suara debum keras.
Lian tersenyum dan menggeleng. "Kak Bram tidak akan marah," yakinnya. "Mana mungkin seorang Bram Hussein yang begitu sabarnya akan marah pada adik cantiknya ini"
"Kau percaya diri sekali, ya?" Hita tertawa. "Tapi itu benar, Kak Bram sepertinya tidak akan marah padamu."
Hita memperhatikan begitu Lian kembali membuka pintu mobil, tersenyum begitu gadis itu melambaikan tangannya melalui sepion yang terlihat jernih.
Hita balas melambai begitu mobil melesat kembali meninggalkan halaman yang sepi.
Barulah saat itu, Hita menghela napas perlahan. Hari ini benar-benar melelahkan, namun juga sangat menyenangkan.
Jadi begini rasanya memiliki saudari?
Meskipun Lian bukanlah saudari dalam artian sebenarnya, tapi Hita benar-benar bahagia karena dipertemukan oleh sosok sebaik Lian yang kini ia sudah anggap seperti adik sendiri.
Hita berbalik dan melangkah ke arah pintu utama, satu tangannya memijat bahu yang rasanya sangat kaku. Setelah interaksi yang sangat menguras tenaga, Hita merasa energinya benar-benar tersedot hingga ia kelelahan seperti ini.
Sontak pula ia teringat pada Dirga.
Sepertinya hari ini Hita akan mendapatkan kata-kata pedas yang menyakitkan lagi dari suami sementarannya itu.
Kit....
Pintu berderit terbuka begitu Hita mendorongnya perlahan.
Rumah tampak sepi, tentu saja karena ini sudah tengah malam. Nadia dan Nathan pasti sudah tertidur, sementara Bram masih dikantor—diketahui saat laki-laki itu menelpon dan menyuruhnya segera pulang bersama Lian. Sedangkan Dirga... semoga saja laki-laki itu juga masih berada di kantor.
Ruang tamu tampak begitu gelap saat lampu dimatikan. Penerangan hanya berasal dari lampu dapur yang memang selalu hidup hingga ruangan utama itu tampak remang-remang.
Hita melangkah hati-hati, suara langkahnya teredam oleh karpet yang terbentang di lantai.
Matanya melirik ke arah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, menandakan Wisnu yang sudah terbebas dari jebakan nakal Lian tadi siang.
Hita menghela napas, entah mengapa ia menjadi begitu... tegang?
Ada sesuatu yang membuat Hita sedikit terusik dan merasa tidak nyaman. Entah hawa seperti apa yang tengah menyelimutinya saat ini, yang jelas itu tidak nyaman.
Hita sontak menghentikan langkahnya begitu mendengar suara gemersik samar di sekitarnya, namun kepalanya begitu kaku untuk menoleh.
Kenapa ia seperti sedang berada dalam suatu adegan horor saja?
Dengan keberanian yang coba Hita kumpulkan, perempuan itu mencoba untuk menoleh, namun seketika berhenti begitu merasakan sesuatu yang... aneh di punggungnya.
"Dari mana saja?"
Hita menelan ludah, matanya terbelalak lebar begitu mendengar bisikan Dirga yang begitu ia kenali tepat di telinganya. Napas laki-laki itu terasa hangat, membuat Hita membeku di tempat.
"K-kak Dirga..."
Hita tak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Ia berupaya untuk berbalik badan, hendak meminta maaf dan berlutut jika perlu karena sudah membantah.
"Diam."
Namun geraman Dirga itu menghentikannya langsung.
Hita bisa mencium samar-samar aroma alkohol yang begitu menyengat dari tubuh suaminya yang kini berdiri sangat dekat di belakangnya. Bahkan kini Hita bisa merasakan dada laki-laki itu yang menekan punggungnya.
"Sudah aku bilang untuk tetap dirumah, kan? Kenapa tidak mendengarkan, hm?"
Tidak, tidak, tidak, sejak kapan nada bicara Dirga menjadi begitu... rendah dan lembut seperti itu? Lebih terdengar seperti ancaman dibandingkan ancaman itu sendiri.
Sedikitpun Hita tak berani bergerak dibuatnya.
"M-maaf, Kak," cicitnya pelan, sedikit gemetar. "Tadi aku sudah berjanji pada Lian—akh!"
Hita tersentak kaget begitu lengan Dirga melingkari pinggangnya, menekannya ke tubuh keras laki-laki itu.
"Kau memang pintar membuat alasan, ya?" Dirga tertawa kecil, berhasil membuat Hita merinding. "Kau memang selalu... membuatku... pusing..."
Jantung Hita berdegup lebih kencang, mulai menyadari bahwa ada yang tak beres di sini. Nada bicara itu... sentuhan itu... semuanya tidak seperti Dirga.
Hita memejamkan matanya, tangannya mencengkram lengan Dirga yang melingkari pinggangnya saat dirasa bibir laki-laki itu menyentuh lehernya, menghirup dalam-dalam di sana.
"Kak..." Hita menggeleng, mencakar lengan Dirga dan berupaya melepas diri, namun nihil.
Dirga mengeratkan lengannya, tak memberikan sedikitpun celah untuk si mungil di dekapannya untuk kabur. Sesuatu telah mengambil alih pikirannya, kabut yang tak pernah biarkan mengambil alih sebelumnya.
Bibir Dirga menyusuri leher jenjang istri penggantinya, menandai setiap jengkal dengan kecupan-kecupan ringan yang perlahan-lahan berubah menjadi hisapan dan gigitan yang membuat sang empunya melenguh pelan.
"Kak Dirga." Hita memukul-mukul lengan itu, kepanikan melandanya begitu menyadari sesuatu—Dirga mabuk, dijelaskan dari aroma alkohol yang begitu menyengat. Laki-laki itu tak menyadari apa yang tengah dia lakukan sekarang ini.
"Shhh..." Dirga menggigit cukup keras leher Hita, sebelum meredakannya dengan lidah. "Kenapa memukul seperti itu, hm?" tanyanya dengan suara yang semakin serak dan berat.
"Bukankah tadi saat kabur sikapmu begitu berani?" bisik Dirga, menggigit daun telinga Hita pelan. "Kenapa sekarang jadi takut seperti ini? Dimana keberanianmu itu sekarang?"
Hita menggeleng, gerakannya begitu panik. "Tidak seperti itu, Kak," jelasnya dengan napas terengah-engah karena ketakutan. "Aku... aku benar-benar menyesal karena membantah kakak..."
Cengkraman Hita di lengan Dirga mengerat, mencegahnya bergerak lebih tinggi. Lengan laki-laki itu kini berada tepat di bawah gundukan sensitif di dadanya.
Ini benar-benar situasi yang berbahaya.
"Tan—mphhh!"
Tepat sebelum Hita menjerit, Dirga dengan gerakan cepat memutar tubuh perempuan itu dan melahap bibir Hita tanpa ampun, tanpa memberi celah sedikitpun.
Tangan kekar itu bergerak ke belakang leher, sementara yang satunya menahan kuat-kuat di pinggang, seakan-akan Hita akan kabur jika diberikan celah sedikit saja.
Bibir itu tampak begitu lapar saat melahap, menggigit bibir lawannya saat tak diberikan jalan untuk masuk hingga sang lawan meringis pelan dan memukul-mukul dadanya kelabakan.
Langkah Dirga goyah begitu mendesak Hita mundur, mendekati sofa kosong yang siap menampung mereka. Siap menjadi tempat bercinta.
Hita dibuat tak bisa bernapas, tersengal-sengal dan putus asa saat Dirga melahap bibirnya dengan begitu rakus, seakan meraup jiwanya. Kepanikan membuatnya memberontak, namun sialnya tak berpengaruh pada Dirga yang jauh lebih besar darinya.
"Kak—ahh!"
Hita memekik kaget begitu tubuh Dirga ambruk di atasnya, membuat mereka berakhir di atas sofa dengan bunyi keras.
Tangan Hita menahan dada Dirga yang kini menindihnya, berusaha mendorong dengan putus asa. Tubuh laki-laki itu begitu berat, tak bisa ia jauhkan dari tubuhnya yang kini tertindih.
"Kak jangan!" Hita menggeleng kuat-kuat, nyaris menangis saat merasakan tangan Dirga menyelinap ke dalam sweater hangat yang terpasang di tubuhnya.
"Shh... jangan berisik," bisik Dirga, dengan seringai dan mata sayu yang berkaca-kaca karena mabuk.
Laki-laki itu menggigit daun telinga Hita sekali lagi, membuat perempuan itu mengeluarkan jeritan tertahan. Tangannya merayap lebih tinggi, menangkap gundukan yang masih ditutupi kain berenda, memberikan remasan pelan.
Tubuh Hita sontak mengejang karena sentuhan asing itu, sentuhan yang selama dua puluh lima tahun tak pernah sekalipun ia rasakan.
Tangis Hita yang tadi ia tahan-tahan pecah begitu saja saat dengan putus asa berusaha menjauhkan tangan Dirga yang kini merayap ke punggungnya, melepaskan kaitan yang kini membuat gundukan itu terbebas dari kungkungan.
"Kak jangan!" perempuan itu terisak-isak, mencakar lengan Dirga untuk lepas dari tubuhnya.
Tapi laki-laki itu tidak sadar. Laki-laki itu mabuk. Laki-laki itu keras kepala.
Alih-alih memperdulikan air mata Hita, itu justru membuat Dirga merasa senang dalam kabut nafsunya. Merasa sentuhannya begitu didambakan, begitu dinikmati oleh sosok yang seharusnya tak pernah ia sentuh jika saja ia sadar.
"Kak!—mphh!"
Dirga membekap mulut Hita dengan tangannya, sementara kepala laki-laki itu perlahan-lahan ikut menyusup ke dalam sweater, memasukkan satu kuncup sensitif yang mengeras itu ke dalam mulutnya.
Hita meronta-ronta dan menangis sejadi-jadinya saat merasakan itu, kakinya tak bisa diam, begitupun tangannya yang menjambak rambut Dirga kuat-kuat dan berupaya menarik kepala laki-laki itu menjauh.
Tapi itu tak menghalangi Dirga, lidahnya berputar-putar di kuncup itu dengan gerakan yang lihai, menggigitnya cukup keras hingga Hita menggeliat kesakitan di bawahnya.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga