Kisah sepuluh orang pecinta alam yang sedang melakukan wisata alam disebuah hutan untuk mengunjungi situs peninggalan purbakala di Goa Istana Alas Purwo yang dianggap sangat menantang.
Hutan Alas Purwo adalah salah satu hutan terangker di Indonesia, dimana dinyatakan sebagai salah satu gerbang menuju alam ghaib.
Akan tetapi, petualangan itu membawa mereka pada sebuah masalah, dimana tanpa sengaja, salah satu diantaranya mengambil sebuah benda purbakala dan kitab kuno yang membuat mereka harus mengalami hal mengerikan. Hal itu membuat mereka mengalami mutasi dan menjadi petaka yang mencekam.
Apakah mereka dapat terbebas dari semua itu? ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan
"Tolong, tolong keluarkan kami," ucap orang-orang yang ada didalam tahanan yang terbuat dari besi tersebut.
Sena merasakan jantungnya bergemuruh, dan dadanya terasa sesak.
Sementara itu, para tahanan yang berusia dari lima belas hingga empat puluh tahun itu berbondong-bondong menjulurkan tangannya keluar dari pagar tahanan, meminta dikeluarkan.
Sena merasa bingung, bagaimana caranya ia dapat mengeluarkan mereka.
Ia berjalan menghampiri ruang tahanan, dan mencoba membuka pintu tersebut, tetapi ia masih mencari caranya, dan ia mengingat jika memiliki sebuah belati.
Sena mengambil belati dari pinggangnya lalu berusaha untuk membuka gembok yang menjadi pengunci pintu tahanan.
Berulang kali ia mencobanya, tetapi tak juga berhasil, hingga saat hampir putus asa, akhirnya terbuka juga.
Para tahanan berhamburan keluar, dan menuju ke anak tangga.
Akan tetapi, pintu seperti bergeser, dan terdengar suara langkah kaki yang berderap dengan nyaring.
Deeegh
Jantung Sena seolah berhenti berdetak, dan puluhan wanita itu menghentikan langkah mereka, lalu bergerak mundur ke belakang.
Perlahan terlihat seorang pria berpakaian kerajaan sedang berjalan menuruni anak tangga, semakin lama semakin terlihat jelas, sehingga membuat Sena menyembunyikan belati miliknya dan bersikap siaga.
Para tahanan bergerak mundur, dan Pria yang berwajah dingin dan tak lain adalah Lala Gemet berdiri menatap pada Sena drngan tatapan yang sangat dingin.
"Hai, Sena, mengapa kau lari dari ranjangku? Suara sang Raja terdengar berat dan parau. Membuat seluruh yang ada didalam ruangan merasa bergidik ngeri.
Sena menelan salivanya yang terasa seperti keselek bakso. Jantungnya berderu kencang, dan membuatnya semakin waspada.
"Aku memintamu untuk menemaniku diranjang, tetapi kau justru pergi kesini. Lalu membebaskan mereka." Raja Kalla Gemet berjalan perlahan, lalu menghampiri Sena yang masih berdiri mematung.
"Karena ulahmu, aku akan menghukum mereka semua menjadi setengah hewan." Kala Gemet memutar jemari tangan kanannya, lalu asap kehitaman bergulung diantara jemarinya, dan semakin lama semakin banyak, sehingga mata sang Raja berubah mebjadi merah pada bagian maniknya.
Sena semakin ketakutan, dan para tahanan berwajah pucat.
Dengan sebuah hentakan, asap hitam itu mengurung para wanita yang mencoba melarikan diri dari penyekapannya.
Wuuuuuusss
Suara teriakan kesakitan menghantam para wanita tahanan, dan dalam sekejap merubah wajah mereka menjadi kera ekor panjang.
Saat mereka saling tatap dengan yang lainnya, suara teriakan histeris dan ketakutan menggaung didalam ruangan.
Sena merasakan jika ini adalah tindakan yang sangat kejam. Ia yakin mereka sama sepertinya dan terkurung dalam perangkap ghaib yang menyebabkan mereka tak dapat kembali.
"Tolong kembalikan wujud mereka," pinta Sena dengan nada memohon.
"Kau sudah membuatku marah, tindakanmu sangat melukaiku,"
"Aku akan memperbaikinya, tapi lepaskan mereka," Sena kembali bernegosiasi.
"Boleh saja, tapi mantranya akan terpatahkan, jika kau dapat melayaniku dengan puas, jika tidak, maka kesempatan itu akan hilang." Kala Gemet tak ingin menyiakan kesempatan tersebut.
Sena terdiam sejenak, mencoba berfikir dengan apa yang dikatakan oleh sang Raja.
"Tetapi aku ingin meminta pengajuan lain," Sena kembali bernegosiasi.
"Katakan, wahai permaisuriku," Raja Kala Gemet sepertinya terlihat berbeda dalam memperlakukan Sena.
"Aku ingin seluruh yang terjebak dapat Paduka bebaskan jika aku berhasil memuaskanmu," pinta Sena, dan ia berharap jika negosiasinya berhasil.
Kala Gemet terlihat mempertimbangkan permohonan Sena.
"Tetapi mereka tetap dalam tahanan, dan aku memintamu melayaniku selama empat puluh hari empat puluh malam," Kala Gemet tak ingin rugi dengan apa yang diminta oleh Sena.
Gadis itu membeliakkan matanya ia tersentak kaget. "Gila, bukannya Paduka hanya meminta sekali saja?" Sena terjebak dengan perjanjiannya.
"Tetapi itu untuk mereka saja, kau meminta untuk jiwa yang lainnya, maka itu cukup setimpal!" Kala Gemet tak ingin kalah.
Sena kembali diam. Bagaimanapun, ia harus membawa mereka semua yang terjebak. Bahkan tanpa ada yang sadar, banyak para petapa yang hilang tak berbekas juga tertawan didalam hutan Alas Purwo, dan mereka berharap dapat keluar dari penyekapan yang selama ini menahan mereka.
Mereka yang melakukan tapa dan tak berhasil kembali, maka selamanya tertawan disini.
"Baiklah, aku setuju, dan aku meminta perjanjian itu tertulis, sebab tak ingin Paduka mengingkarinya," sahut Sena dengan pertimbangan yang cukup berat.
Ia harus mengorbankan dirinya demi membebaskan semua tahanan.
Kala Gemet tersenyum dengan smirk. "Baiklah, aku menunggumu diranjang." sosok itu berbalik arah, lalu berjalan menuju anak tangga, dan menghilang dibalik pintu.
Sementara itu, para tawanan wanita yang sudah bermutasi mulai memperlihatkan sikap agresif dan hal ini membuat Sena semakin serba salah.
Mereka terpengaruh oleh mantra yang dibacakan oleh Kala Gemet, sehingga menjadikan mereka mudah diperintah.
****
Nathan berdiri didepan pintu kamar sang Raja. Ia menatap dengan dingin. Hatinya terbakar cemburu bagaimana mungkin ia harus merelakan gadis pujaannya di gagahi oleh sosok Raja Kala Gemet yang terkenal suka menggoda seluruh wanita.
Saat bersamaan, Sena menyelinap keluar saat sang Raja sedang menantinya diatas ranjang. Ia berlari melalui pintu belakang yang terhubung ke lorong lain.
Ia ingin menemui Nathan ditempat yang dijanjikan, hingga akhirnya ia bertemu dengan Naura yang berjalan bersama Kael, tetapi masih berdiaman.
"Sena?" Naura menghampirinya.
"Naura, waktuku tak banyak." ia melirik ke arah Kael, takut percakapan mereka terdengar.
"Tenang saja. Dia dipihak kita," sahut Naura meyakinkan rasa waspada dari rekannya.
"Baiklah. Temui Nathan, dan dan cari Alessa. Ia harus menunjukkan dimana kitab Kuno yang pernah ia baca sebagai pembuka segel ghaib tersebut."
"Alessa? Apa hubungannya dengan kitab Kuno yang kamu maksudkan?"
"Aku mendapat petunjuk, jika mematahkan mantranya ialah dengan membaca kembali mantra tersebut. Sebuah kitab bersampul berwarna hitam dan ukurannya sangat kecil. Ia terletak disebuah ruangan." pesan Sena dengan cepat.
"Kitab kuno kecil?"
"Iya, kau harus menemukannya, aku tak punya banyak waktu," ucap Sena dengan gelisah.
Sedangkan diranjang kamar bersprei beludru merah, Raja Kala Gemet terlihat sangat marah. Ia merasa jika Sena mengkhianatinya, sebab tak juga datang dari arah ruang bawah tanah.
"Seeenaaaa...," suaranya menggaung diruangan, dan menggetarkan dinding goa. Sena tersentak kaget, sebab ia dapat mendengarnya.
"Temukan kitab itu, dan patahkan mantranya. Aku akan mengurus Raja Kala Gemet, kita harus keluar dari goa," ucapnya sembari melangkah mundur, dan berlari kembali menuju ruang bawah tanah.
Naura dan Kael saling pandang. Meskipun ia masih marah, tetapi saat ini, mereka harus bekerja sama, dan itu semua demi dapat keluar dari alam ghaib yang sudah menahan mereka.
Sementara itu, keluarga dialam nyata sedang kebingungan mencari keberadaan mereka yang menghilang tanpa jejak, dan kini sedang mengerahkan Tim SAR dan Basarnas untuk melakukan pencarian para korban yang dinyatakan hilang tak berbekas.
kasihan yaa para keluarga nya yg kebingungan mencari keberadaan mereka semuanya 😔
Semoga Naura dan Kael serta Nathan bisa menemukan kitab kuno itu, sehingga mereka bisa bebas dari hutan Alas Purwo.. 🙏