Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
"Ren, gue pulang duluan ya," kata Shela dengan suara yang lelah, sebelum dia melewati pintu keluar dari ruangan latihan. Usai kelas gitar dengan Dion yang menguras emosi dan pikiran, Shela terpaksa bergegas menuju dojo untuk latihan bela diri, karena jadwalnya memang bersamaan pada hari itu.
"Iya, Shela. Hati-hati di jalan," balas Rena dengan nada khawatir.
Shela melangkah keluar dari area latihan, berjalan ke tepi jalan raya yang ramai, menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Suasana jalan yang bising dan penuh desakan orang-orang seolah meneriakkan rasa lelah yang semakin menghimpitnya.
Sampai di rumah sekitar pukul setengah enam sore, Shela langsung disambut dengan pemandangan yang sering terjadi tetapi tak pernah terbiasa baginya. Dika, bersama kerumunan teman-temannya yang asing, berkumpul di ruang tamu seperti mereka pemiliknya.
"Ini orang gelandangan apa gimana, sih? Tiap hari, asyik nongkrong di rumah orang saja." Batin Shela yang mulai jengah dan muak dengan rutinitas yang tidak dia undang tersebut.
Shela melangkah santai menuju ke kamarnya, saat sampai di hangga menuju kamar, kakak keduanya turun dari atas, ketika mereka berpapasan Anggara diam sebentar lalu bertanya pada Shela.
"Dari mana aja lo jam segini baru pulang?" suara Anggara menggema dengan nada yang terkesan santai namun tersembunyi ketegasan di dalamnya. Shela membalas dengan tatapan beku yang menerobos ke kedalaman jiwa, tak mengucap sepatah kata pun, dia melangkah cepat menuju tangga.
"Kalau ditanya itu jawab, Shela! Lo punya mulut, bukan? Sebagai kakak, yang saya minta hanyalah sedikit kesopanan dari adik gue sendiri!" Anggara meninggikan suaranya, sebuah upaya untuk memecah kebekuan.
Shela menoleh, wajahnya datar namun memancarkan aura yang menusuk. "Bukan urusan lo,apapun yang gue lakukain bukan urusan lo! Dan tampaknya, gue gak perlu bersikap sopan terhadap seseorang yang tak pernah mengajarkan bagaimana cara menghormati orang lain," jawabnya tajam, tanpa memberi kesempatan kepada kakaknya untuk berkata lebih banyak.
Dengan langkah yang berat dan penuh kekesalan, Shela melanjutkan perjalanannya ke dalam kamar. Pintu kamar ditutup dengan sedikit bantingan, sebuah isyarat jelas akan rasa ketidaknyamanannya terhadap sikap mereka yang seolah-olah peduli. Di dalam kamar, tasnya diletakkan dengan kasar dan ia segera membersihkan diri untuk melupakan perdebatan yang terjadi.
Pukul tujuh malam, kelaparan menerjang perut Shela, namun nasi bukanlah yang ia inginkan. Saat melangkah ke dapur, pandangannya tertumbuk pada mbok Inah yang sedang berjuang dengan gunungan piring kotor—korban dari serangan tamu-tamu bang Dika yang tak kunjung usai. "Kenapa sih, bang Dika terus-terusan bawa orang ke sini? Kasihan mbok Inah, harus kerja lebih keras," gumam Shela, seraya mendekati mbok Inah yang sibuk.
"Mbok," sapa Shela lembut. Mbok Inah menoleh, matanya lelah.
Mbok Inah matikan keran pada wastafel. "Eh, neng Shela, mau makan ya? Sabar sebentar, mbok selesaikan mencuci ini dulu."
"Mbok, lanjut saja. Saya hanya ingin tahu, ada mie instan tidak di dapur?" tanya Shela, berusaha menyembunyikan rasa laparnya yang memuncak.
"Ada, neng. Neng mau mbok masakkan setelah ini?" tawar mbok Inah dengan nada penawaran yang penuh harap.
Shela menggeleng, "Tidak usah, mbok. Saya bisa masak sendiri."
Sejenak, mbok Inah memandang Shela, seakan mempertanyakan kemampuan memasak gadis itu. "Eh, neng bisa masak mie-nya sendiri?" tanya mbok Inah, setengah tidak percaya namun penuh dukungan.
Shela mengangguk, ia memang tidak bisa memasak tapi untuk sekedar memasak mie instan tentu saja Shela bisa. Shela tidak semanis itu, ia sudah biasa memasak mie instan ketika merasakan lapar saat bekerja paruh waktu.
"Yaudah, maaf ya neng jadi masak sendiri."
"Gak apa-apa mbok, mie-nya di simpen di mana,mbok?"
"Di rak atas kompor neng."
Shela membuka rak yang dimaksud dan mengambil satu mie instan dan mulai memasaknya. Setelah selesai dia segera membawa mie ke meja makan dan melahapnya.
"Ah, enak banget!" ujar Shela bangga dengan hasil masakannya sendiri,nya meskipun hanya semangkuk mie instan. Kapan-kapan mungkin ia harus minta mbok Inah mengajarinya masak.
Nafsu makan Shela mendadak turun ketika seseorang duduk di depannya, ia mengabaikan laki-laki itu.
"Gue baru tau kalau cewek kayak lo suka mie instan juga," kata Marvin sambil mencoba mendekati. Shela masih memilih untuk mengabaikannya, membiarkan kata-kata itu menggantung tanpa respons.
Marvin, merasa diabaikan, mengetuk meja makan keras-keras, seakan bunyi itu bisa menarik perhatian yang diinginkannya. "Hei, gue lagi ngomong sama lo!"
Shela menatap Marvin dengan pandangan tajam, penuh ketidaksukaan. Dengan gerakan tiba-tiba, ia mengebrak meja dengan keras, lalu bangkit berdiri dengan mantap, berjalan ke dapur sambil meninggalkan Marvin yang terperanjat.
Shela berjalan dengan langkah berat, mengutuk dalam hati, kesal dengan keakraban Marvin yang terasa semu dan memaksa. Sambil memandang mangkuk mie instan yang masih setengah penuh, ia merutuk, "Gara-gara cowok itu, mie buatan gue jadi tak bisa dinikmati dengan tenang." Shela menghela napas, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan sisa mie di dapur, tidak ingin membiarkan makanan itu terbuang sia-sia. Setelahnya, dia langsung mencuci mangkuk dengan gerakan yang penuh kekesalan, seraya merenungkan betapa tidak menyenangkannya interaksi yang baru saja terjadi.
Shela berbalik berniat untuk kembali ke kamarnya, ia terperanjat begitu melihat seseorang tiba-tiba berada di belakangnya. Ia segera merubah raut wajahnya menjadi datar.
Tadi Marvin sekarang Reygan, hidup gue gak bisa tenang kalau ada orang-orang ini.
Seperti sebelumnya, Shela berusaha untuk mengabaikan laki-laki, namun belum sempat melangkah laki-laki itu menahan pundaknya.
Shela berbalik." Apa?!"
" Gue mau masak mie instan, mie-nya ada di mana?" tanya laki-laki itu dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Shela menatap laki-laki itu, ya mungkin diantara teman-temannya Dika, hanya Reygan yang ada terlihat sedikit waras.
" Ada di rak, atas kompor," jawab Shela.
"Oh, oke." Laki-laki itu melepas pegangannya pada bahu Shela lalu berjalan menuju rak yang dimaksud.
Shela berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.
Mendengar langkah yang menjauh, Reygan berbalik menatap punggung Shela yang menjauh. Setelah tubuh gadis itu tak terlihat lagi, dia berbalik untuk melanjutkan niatnya memasak mie instan.
Shela masuk ke kamarnya, dia hanya mau mengambil gitarnya dan kembali turun ke bawah. Ia melangkah menuju taman dan duduk di salah satu bangku di sana.
Dia mulai memetik gitar miliknya, membuat nada-nada yang belum terdengar pas. Dia kembali mencoba memainkan gitarnya sesuai yang diajarkan Dion tadi.
"Lumayan, jago juga dia ngajarin gue," gumamnya ketika merasa ia cukup bisa menyesuaikan petikan gitarnya.
Dengan nada yang terkadang masih tidak pas Shela memetik gitarnya sambil bernyanyi. Meski petikan gitarnya terkadang masih belum pas tapi suara merdunya bisa menjadi penolong.
Seperti biasa pesona Shela tidak ada yang bisa menolak, begitu mendengar suara merdunya Marvin dan yang lain langsung berdiri di depan pintu menuju taman. Mereka menyaksikan bagaimana Shela bernyanyi sambil sesekali tersenyum. Pemandangan yang jarang sekali terlihat oleh mata mereka.
Bukan hanya Marvin, kakak-kakaknya pun diam-diam memperhatikan Shela. Mereka kagum dengan suara Shela.
Marvin memegang dadanya yang berdegup kencang dua kali lebih cepat dari biasanya, ia tak menyangka senyuman Shela akan membuat gadis itu terlihat lebih cantik. Atensinya tidak bisa lepas dari paras Shela yang menawan, ia bahkan lupa jika masih memiliki kekasih.
Satria dan teman-temannya hanya diam mematung sambil tatapannya terus mengarah ke arah Shela. Tak jauh berbeda, Reygan menatap Shela dengan pandangan tidak bisa diartikan, terlalu banyak pertanyaan yang muncul tentang Shela di benaknya.
Shela selesai bernyanyi lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ia duduki. Shela tenangnya suasana malam dan angin membuat matanya terasa berat, ia memejamkan matanya dan ia mulai mengelana ke alam mimpi.
Ketika melihat Shela selesai menyanyi lagunya dan terlihat seperti tertidur,mereka memilih membubarkan diri. Sepertinya mereka akan menginap lagi di kediaman keluarganya Pradipta.
Seseorang kembali menuju pintu taman, dengan langkah perlahan dia menghampiri Shela dan menyelimuti gadis itu dengan selimut kecil. Setelahnya laki-laki itu tidak benar-benar pergi, dia masih menatap Shela dengan wajah tanpa ekspresi. Setelah cukup lama menatapnya, laki-laki itu kembali berbalik dan masuk ke dalam.