Baru beberapa jam menginjakkan kaki di kota kelahirannya, Sienna sudah harus menerima perlakuan tidak mengenakkan dari orang yang dicintainya.
Malam itu jadi malam yang panjang dan tak terlupakan baginya, juga bagi Akshan yang merupakan kakak dari sahabat baiknya.
Gadis itu pun menghilang bagai ditelan bumi. Hingga suatu malam pula, Akshan menemukannya dalam keadaan sangat berbeda. Dan oh, siapa lelaki dan 2 anak itu?
Mohon dukungannya, ini karya pertamaku. Kritik dan saran yang membangun terbuka lebar di kolom komentar. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adalynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga
Sekali lagi, tolong bijak yaa 🥰
Yang di bawah umur, silakan cari bacaan lain aja.
Selamat membaca!
-----
Tak terasa sudah hampir lima tahun waktu berjalan. Aku sudah mulai mampu menata hidupku kembali, setelah kepergianku dari negeri kelahiranku demi menghilangkan trauma mendalam dari kejadian malam itu, tragedi yang sudah mengubah hidupku.
Tiga tahun sudah aku bekerja di salah satu perusahaan yang bernaung di bidang arsitektur di kota Munchen, Jerman. Seperti yang telah kalian ketahui, aku sangat mencintai bidang ini, bahwa bisa dibilang lumayan terobsesi.
Dan sekarang aku akan mencoba untuk memulai peruntunganku sendiri. Bukan membuat perusahaan, ku rasa aku belum mampu untuk itu. Aku hanya ingin menjadi arsitek lepas yang tak harus bekerja dari pagi sampai sore sesuai jam kantor, atau bahkan harus merelakan waktu liburku karena mengurus pembangunan di berbagai daerah.
Bukan hanya lelah, tapi waktuku sudah cukup banyak tersita oleh itu. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan kedua anakku. Mereka pasti lebih membutuhkanku, dibanding perusahaan besar itu yang tentu bisa mendapatkan karyawan yang lebih baik dariku.
Ya, aku sudah mempunyai dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Umur mereka saat ini menginjak 3 tahun 10 bulan. Umur mereka sama karena aku melahirkan mereka yang hanya berjarak beberapa menit. Mereka kembar.
Dengan berbagai macam drama yang ku alami dan rasa sakit hati yang sampai detik ini pun masih menghantui, akhirnya aku menikah dengan seorang pria berkebangsaan Jerman, Xavier Hoffman, lima tahun yang lalu.
Pierre, aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan itu. Dia tampan, tinggi besar dengan badan yang kekar, hidung mancung, mata biru, dan garis rahang tegas yang membuatnya tampak begitu sempurna. Sedikit mirip dengan perawakan Akshan.
Ah, mengapa aku mengingat pria sialan itu saat mengenalkan Pierre. Haft... Jelas berbeda, Pierre-ku lebih tampan, dengan bulu-bulu harus di sekitar dagu hingga tepian telinga, membuatnya semakin terlihat macho. Hmm? Rasanya aku ingin tertawa.
Pierre adalah teman baikku saat kuliah, dia orang yang sangat menyenangkan. Walau dia senior -tiga tahun di atasku, dan kami beda fakultas karena dia mengambil jurusan kedokteran.
Karena sifat Pierre yang ramah dan humble, membuatnya dengan gampang dekat dengan orang baru sekalipun, termasuk aku. Dia sungguh pandai bergaul, dan menggombal tentu saja.
"Sayang.. seperti biasa makananmu selalu enak.." ucap Pierre dengan sunggingan senyum dari bibirnya.
Pierre meraih tanganku yang memang berada di atas meja, lalu menggenggam dan kemudian mencium punggung tanganku. Jangan heran, pria ini memang sangat manis dan ku jamin mampu membuat wanita mana pun luluh padanya.
Makan siang kami baru selesai beberapa menit yang lalu. Namun aku dan Pierre masih asyik dengan kegiatan kami berbincang di depan meja makan. Kini kami duduk bersisian, cukup dekat sampai aku bisa bersandar di bahunya.
Zoey dan Zayn yang selalu aktif tentu tak betah berlama-lama duduk di sana. Setelah menyelesaikan makannya, mereka langsung berlarian dan memainkan segala macam permainan yang mereka sukai.
"Kau mengejekku?" tanyaku dengan memicingkan matanya.
Aku bukan seorang yang ahli memasak. Aku hanya bisa menyajikan makanan rumahan yang simple. Tentu saja, dengan keadaanku sebagai seorang ibu dengan dua anak yang super aktif, bisa sempat memasak saja rasanya sudah menakjubkan.
Kriiiing..
Ponsel Pierre berbunyi, ia hendak berdiri namun ku tahan tangannya yang masih menggenggam tanganku. Ku dekatkan telingaku padanya yang sudah mengangkat telepon.
Dari rumah sakit, akan ada operasi caesar untuk seorang perempuan yang sudah memasukin kehamilan lebih dari empat puluh minggu. Tapi di sela-sela panggilan telepon itu aku malah memeluk dan menciumi lehernya.
Bukan aku murahan atau nafsuan yah! Ingat, aku istri sahnya! Aku hanya ingin menggodanya. Melihatnya menahan percikan itu sungguh menyenangkan.
"Bersiap lah.. aku akan melahapmu nanti malam!" ujarnya dengan tegas setelah ia selesai dengan panggilan teleponnya.
"Akan saya tunggu dengan senang hati, tuan Hoffman.." aku semakin menggodanya, wajah Pierre langsung memerah.
"Oh.. jangan biarkan aku membolos sayang.."
"Tidak akan, silakan anda berangkat, tuan Hoffman.." aku tersenyum, bahkan seringaian yang ku tampilkan.
Perbincangan erot*s pun terhenti karena aku benar-benar harus mempersiapkan segala kebutuhan Pierre sebelum ia berangkat bekerja.
Muncul sesosok mungil dengan dress one piece berwarna pink salmon, ketika kami sudah berada di ruang tamu. Dengan kepangan rambut yang dibuat ke samping, Zoey tampil lucu dan menggemaskan.
"Dad, do you really have to go now?" Tanya lirih gadis kecilku, Zoey, sambil mengerucutkan bibirnya.
"Oh my girl, I'm really sorry. But I have to go now" Balas Pierre, ia memeluk dan mengangkat tubuh mungil gadis itu, berjalan menuju pintu keluar rumah.
Walau aku sudah dikatakan cukup fasih dalam berbahasa Jerman, tapi kami mengajarkan kedua anak kembar itu bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut kami, bahasa itu lah yang sepertinya harus kami pakai, karena bahasa Inggris sudah menjadi bahasa dunia. Akan lebih baik bila mereka sudah fasih sejak dini.
Tapi bukan berarti aku tak mengajarkan bahasa Indonesia dan Jerman. Aku justru lebih sering menggunakan bahasa Indonesia di rumah, sedikit demi sedikit mereka mengerti dan faham apa yang ku katakan.
Tapi Pierre yang memang tulen orang Jerman, dia hanya sedikit memahami bahasa Indonesia, alasan itu pula yang membuat kami memutuskan bahasa Inggris sebagai 'bahasa ibu' mereka.
Dan menurutku, bahasa Jerman kan mereka sudah dapatkan dari lingkungan sekitar yang memang rata-rata menggunakan bahasa Jerman. Jadi tidak perlu secara khusus kami mengajarkannya.
"Haaaahhh.. okay.. then.. just go.." Zoey menghela nafas berat dan mengerlingkan matanya.
"Ya ampun, gadis kecil ini.. papa hanya pergi sebentar sayang, ada orang sakit yang harus papa bantu sembuhkan" Pierre mencubit gemas hidung Zoey sambil menurunkannya dari gendongannya.
"Kau tak usah manja, bagaimanapun papa seorang super hero. Tugasnya menolong orang" ketus Zayn, anak lelakiku.
"Ya ya ya.." ucap Zoey dengan nada mengejek, ditambah dengan matanya yang berputar malas kemudian cemberut.
Aku dan Pierre hanya tertawa melihat tingkah laku dua saudara kembar itu. Ku cium tangan Pierre sebagaimana seorang istri melepas suaminya bertugas, Pierre mencium kening dan memelukku erat.
Lalu ia beralih pada gadis dan bujang kecilku. Bahagia sekali rasanya melihat ketiga orang yang ku sayangi itu tersenyum bersama.
"Okay, papa harus benar-benar pergi sekarang" kembali ia memeluk pinggangku dan mengecup kedua pipi dan bibirku sekilas. Dia pun pergi dan segera melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah kami.
Benar kata Zayn, Pierre memang seorang super hero. Bukan hanya untuk para pasiennya, tapi ia juga telah menjadi pahlawan untuk kami yang sampai membuatku berjanji untuk selalu menyayanginya.
Tak akan ku relakan siapa pun menyakitinya, dan aku bertekad akan selalu membuat kebahagiaan ini terus berlanjut. Pierre sangat menyayangi kami, begitu pun aku juga harus menyayangi dan menghormatinya sebagai suami terbaikku.
-----
Hehe.. hayo ngaku siapa yang terkejoet?
Komen di bawah yah 😘
Kritik dan saran juga dibuka lebar-lebar di kolom komentar 🤗
Terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca!