Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 20
Rivaldo menarik nafasnya panjang, kini ia hendak pergi mencari WC Umum yang bisa digunakan untuk mencuci wajahnya dan membuang air kecil.
Tidak butuh waktu yang lama, untuk pria itu telah sampai di salah satu WC Umum terdekat. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana, dilihatnya wajahnya yang kini telah hancur, kulitnya yang sudah hampir membusuk dalam hitungan jam, membuat pria itu menjadi bergidik ngeri sendiri.
Akankah nasibnya harus selalu seperti ini? Sampai maut lah yang akan menjemput dirinya? Akankah begitu? Pikirnya.
"Setelah wajahku hancur seperti ini, akankah masih ada wanita yang ingin bersama denganku? Jika memang ada, aku akan membuatnya menjadi Istriku." ucap Rivaldo bermonolog sambil memegangi wajahnya yang telah hancur sebelah, bagaikan monster berwajah cacat.
Ia menarik nafas panjang, lalu ia kembali berjalan, meninggalkan WC Umum tersebut. Meski tak tahu arah jalan untuk melangkah, ia tetap melanjutkan perjalanannya.
Namun, saat ia berjalan, suara petir dan kilatan menggema di telinganya, tak lama kemudian, hujan turun dengan deras mengenai dirinya. Ia merasa perih karena hujan itu mengenai wajahnya yang hancur. Ia mencari tempat berteduh, tampaklah sebuah rumah kosong tanpa penghuni, rumah itu telah berselimuti rerumputan semua. Tidak ada tempat lain untuk berteduh, selain rumah kosong itu.
Rivaldo segera belari menuju rumah kosong yang ada di seberangan jalan, ia menyeberang dengan begitu hati-hati. Hujan deras membuatnya merasa kedinginan. Percikan air mengenai wajahnya dikit demi sedikit, membuatnya meringis menahan pedih di wajahnya.
Keadaan perut yang lapar, dan kedinginan yang sangat hebat, membuat pria itu memilih untuk meringkukan badan di teras halaman rumah kosong yang terbuat dari papan itu.
Saat sedang meringkukkan tubuhnya ia masih tak kuasa menahan dingin. Pria itu pun memilih merebahkan dirinya di sana. Tetapi ia, masih tetap meringkukkan dirinya.
***
Raynand dengan beberapa anak buahnya telah sampai di sebuah Pulau terpencil. Namun mereka tak mendaratkan ke tanah, Ray membuka pintu helikopter tersebut.
Sebelum mereka membuang pria itu, mereka menancapkan beberapa pisau di tubuh Nathan, membuat pria itu menjadi meringis menahan sakit di bagian perut dan kakinya.
Pria itu sama sekali tidak bisa melawan, setelah menusukan beberapa pisau, Raynand menjatuhkan tubuh Nathan dari atas lalu terjun ke bawah, pria itu tampak menahan sakit yang luar biasa. Namun, tidak ada belas kasih sedikitpun dari Raynand.
Ia akan segera menggantikan posisi Rivaldo, itulah yang ia inginkan selama ini.
Nathan terjatuh dan menancap di tanah, rasanya sangat perih, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain mencoba melepaskan satu-persatu pisau yang menancap di tubuhnya.
Raynand menjatuhkannya saat semua tali rami tidak terikat dengan dirinya, membuat Nathan menjadi mudah melepaskan tusukan pisau tersebut.
Begitu banyak darah segar keluar dari dirinya. Ditatapnya sekeliling, semuanya gelap, ia berada di tengah hutan, yang sama sekali tiada tanda-tanda kehidupan di sini.
Selesai melepaskan tiga pisau tersebut, Nathan menahan perih di bagian kaki dan perutnya. Ia menutup perutnya yang kini tengah mengeluarkan darah segar terus-menerus. Ia berjalan mencari jalan, agar keluar dari hutan ini.
Bagaimanapun, ia harus menemukan Rivaldo secepatnya.
Setelah berjalan dengan lama, tiada tanda-tanda kehidupan di hutan ini. Ia tidak tahu lagi harus melangkahkan kakinya ke arah mana.
Nathan menyenderkan punggungnya ke sebuah Pohon Kelapa, ia masih memegangi perutnya yang kini terasa semakin pedih.
Namun, saat sedang menahan perih, ada beberapa pria berbaju hitam dengan pakaian lengkap sama semua. Pria itu mengelilingi dirinya dan mengerahkan senjata ke arah Nathan. Pria itu merasa aneh, akankah mereka orang jahat? Pikir Nathan menebak.
"Mau apa kau kemari?" tanya salah seorang berbaju hitam itu sambil mengarahkan sebuah senjata ke kepala Nathan.
"Ke ... Kemari?" tanya Nathan dengan gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa, seluruh tubuhnya sudah mulai melemah, mungkin karena kehabisan banyak darah.
Brugh!
Laki-laki itu terjatuh sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah, beberapa pria itu memicingkan mata, menatap heran ada apa, setelah mereka melihat, begitu banyak darah segar keluar.
Akankah pria itu kehabisan darah?
Mereka dengan gerak cepat membawa Nathan ke sebuah markas di dalam hutan. Mereka memasukan Nathan ke dalam ruang kesehatan, akan segera ditangani oleh Dokter pribadi di sana.
Setelah beberapa jam ditangani oleh Dokter, pria itu kini tengah tertidur dengan pulas, akibat suntikan obat tidur yang diberikan oleh Dokter.
Seseorang melangkah masuk ke dalam ruang kesehatan, "Siapa dia, Max?"
Max menatap pria itu dengan dalam, "Kami semua menemukannya pada saat kami hendak menuju markas ini, Boss."
"Kenapa dia bisa seperti itu, Max?" tanya Morgan dengan heran, siapa laki-laki itu.
"Kami semua tidak tahu, Boss. Tapi yang pasti, sepertinya ada seseorang yang sengaja membuangnya ke Pulau terpencil ini," jelas Max dengan serius. Morgan tahu, Max mempunyai keahlian yang berbeda. Ia bisa menebak dengan tepat.
"Jaga dia, jangan sampai dia pergi! Aku akan mengintrogasinya saat dia sudah siuman nanti!" Morgan menegaskan kalimatnya, lalu ia melangkah pergi menjauh dari ruangan.
Max menarik nafas panjang lalu ia beralih menatap Nathan dengan tatapan tidak biasa. Ia menyelidiki apa yang tengah terjadi pada pria itu. Max bisa melihat dari wajah pria itu. Ya, anggap saja bahwa Max mempunyai kemampuan lebih.
***
Denisa tengah berjalan dengan pelan, karena sehabis hujan, ia harus sangat hati-hati dengan jalan licin. Ia harus cepat sampai di rumah, agar ia bisa mengisi perutnya dengan makanan, perutnya dari tadi sudah meronta, meminta diisi oleh makanan.
Namun, saat tengah berjalan kaki menuju rumahnya. Ia menatap ke arah rumah kosong, siapa itu? Pikirnya bertanya-tanya.
Denisa adalah sosok wanita lemah-lembut, ia memiliki hati yang pengasih dan penyayang terhadap sesama. Ia tidak bisa melihat orang kelaparan ataupun lainnya. Ia memilih untuk mendekati seseorang yang tengah meringkuk di sana.
Wanita itu melihat dari dekat, ternyata laki-laki.
"Mas ... Mas ... Bangun, kenapa tidur di sini?" Denisa mencoba membangunkan pria itu.
Rivaldo mengejapkan matanya perlahan, "Maaf, Anda siapa? Apakah saya tidak boleh untuk tidur di sini? Maaf, saya akan pergi, Mbak." Pria itu segera berdiri dan menutup wajahnya dengan satu telapak tangannya.
"Eh, Mas! Bukan gitu, saya bukan pemilik rumah ini," jawab Nisa sambil memberhentikan langkah pria itu.
"Jadi, kenapa Anda menemui saya? Buat apa, Mbak?" Rivaldo bertanya sambil memutar balik tubuhnya menatap wanita itu.
Denisa memicingkan mata, melihat wajah pria itu, kenapa laki-laki iti menutup wajahnya dengan satu telapak tangan? Ada apa? Pikirnya betanya-tanya.
"Mas, itu wajahnya kenapa ditutup gitu?" tanya Denisa penasaran, ada apa sebenarnya?
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...