Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Dosa Yang Tidak Hilang
Melihat itu, Evan disisi lainnya hanya merasa kesal pada Hanna, pantas saja Hanna bisa jadi Artis ternyata aktingnya benar-benar sangat hebat.
Namun dia juga tidak bisa apa-apa, takut Hanna nekat membocorkan hubungan mereka pada Sofia.
"Sofia kamu enggak papa? Yuk kita segera kembali ke Hotel aja,"
"Udah Mas gak papa, cuman basah dikit ini kena Air putih doang kok."
"Udah yuk Mas antar ke Kamar Mandi."
Hal mengejutkan adalah, Evan yang tiba-tiba mengendong Sofia itu.
Bahkan orang-orang disana terkejut, termasuk Hanna apalagi Sofia.
"Eh? Mas enggak perlu gini."
"Kan Kakimu juga lagi sakit."
Dengan itu, Evan segera mengantar Sofia ke Kamar mandi terdekat, sedangkan Hanna masih terus mengikuti mereka.
Begitu Sofia masuk kamar mandi, dia segera menyeret Hanna dengan kesal.
"Hanna! Kamu itu apa-apaan sih! Bisa-bisanya gangguin Sofia kayak gitu!"
"Apa? Bela terus aja itu Istrimu! Aku hanya nggak suka aja dia tiba-tiba ke sini gangguin momen indah kita, padahal kan kamu kesini buat Aku, biar kita berdua senang-senang."
"Cukuplah Hanna, jangan bikin Aku muak lihat kelakuanmu!!"
"Hahal, Mas Evan juga jangan berlaga sok alim deh kayak suami baik aja padahal aslinya munafik!!"
"Hanna!! Jaga mulutmu!"
"Itu kenyataan kan?"
Namun pertengkaran mereka tidak berlangsung lama karena Evan melihat Sofia sudah keluar dari kamar mandi dia langsung mengabaikan Hanna dan mendekati Sofia. Akhirnya Evan berhasil membujuk Sofia kembali ke Hotel.
Tentu saja, kali ini Sofia mulai melepaskan sepatunya, dan di gendong belakang oleh Evan, karena Kakinya sakit.
"Aduh, Hanna Maaf ya malah jadi berantakan gini, Aku sama Mas Evan duluan balik Ke Hotel ya,"
Hanna yang mendengar itu, masih memasang senyumannya dan berkata,
"Enggak, Kak Sofia. Ini semua juga karena kecerobohanku harusnya aku yang minta maaf."
"Enggak apa-apa, Hanna. Mari lain kali jika sempat kita pergi jalan-jalan lagi."
"Tentu saja."
Hanna menatap kepergian keduanya dengan ekspresi penuh kebencian, apalagi melihat Evan menggendong Sofia dengan mesra.
Sisa hari itu, Evan akhirnya mengambil cuti dan tidak memperlihatkan dirinya di Lokasi Syuting menikmati waktunya bersama Sofia.
Di malam hari, mereka berdua menikmati Makan Malam Romantis yang sudah lama tidak mereka berdua lakukan. Sofia senang dengan kejutan kecil yang suaminya itu lakukan.
"Sofia, ini hadiah kalung untukmu."
Evan mulai memakaikan liontin indah yang belum lama ini dia beli, masih merasa bersalah soal sepatu tadi pagi.
"Makasih Mas Evan. Mas Evan baik banget deh."
"Harusnya Aku yang makasih, kamu udah dateng jauh-jauh gini..."
Mungkin karena terbawa suasana ruangan kamar hotel yang sudah di dekor Romantis itu, keduanya mulai berciuman, mulai memadu kasih, hal-hal yang sudah lama tidak mereka lakukan.
Malam itu, dalam pelukan Evan, Sofia berkata,
"Mas Evan, mungkin kita memang butuh waktu cuman berdua kayak gini, liburan di tempat yang jauh... Hanya berdua...."
"Hmm, jadi kamu mau Bulan Madu lagi sama Aku?"
Sofia yang mendengar itu, wajahnya menjadi sedikit memerah karena malu.
"Apa-apaan itu? Pernikahan kita sudah mau tujuh tahun gini, masih Bulan Madu enggak tahu malu banget kamu!"
"Ya, enggak apa-apa Sayang..."
"Tapi enggak kerasa aja ya, udah mau tujuh tahun...."
"Benar sih. Tapi Sofia dalam hidupku, 7 tahun ini merupakan tahun-tahun paling indah dalam hidupku, karena bisa menghabiskannya bersamamu."
"Kamu pinter banget ya gombal."
"Aku serius. Buatku kamu satu-satunya Sofia, sosok yang enggak akan pernah tergantikan di hatiku. Jadi Aku pengen kita terus kayak gini, kamu terus berada di sampingku apapun keadaannya, apapun kata orang, tidak usah di perdulikan."
"Aku juga Mas, Aku harap hubungan kita akan terus langgeng, kita bisa saling setia dan percaya satu sama lain seperti ini, biar langgeng."
Tiba-tiba mendengar kata 'Setia', hati Evan terasa tidak nyaman. Tapi dia hanya tetap memeluk Sofia begitu erat.
'Kalau seperti ini, Aku jadi sadar betapa berharganya kamu... Mungkin Aku akhiri saja apa ya hubunganku sama Hanna? Lagipula, itu hanya hubungan Impusif, yang gegabah, yang Aku sendiri tidak tahu kenapa memulainya... Tapi Hanna itu...'
Sepintas, dalam benak Evan terlintas sosok wanita lain itu, yang telah bersamanya walaupun hanya sesaat.
'Tidak. Apa yang aku pikirkan memikirkan wanita lain dalam pelukan Sofia seperti ini? Aku harus mengakhiri hubungan itu sebelum jatuh terlalu dalam....'
Dengan tekad itu, keduanya menghabiskan malam yang indah bersama-sama.
Juga dalam hari-hari berikutnya, Evan yang memantau tempat syuting di temani oleh Sofia. Keduanya, juga menikmati jalan-jalan dan bersantai bersama di sela waktu Evan.
"Mas Evan maaf ya, Aku enggak bisa nemenin kamu sampai tugasmu selesai. Aku masih harus kembali sih, ada beberapa hal yang harus Aku urus."
"Iya, enggak apa-apa kok. Apakah itu masih soal Konsultasi?"
"Yah... Mungkin benar kata kamu, aku saja yang terlalu khawatir..."
"Enggak, Sofia. Aku yang salah, mungkin karena Aku yang sebenarnya takut kecewa dan berharap..."
"Aku tahu. Ketika ini semua gagal sebenarnya tidak hanya Aku yang kecewa namun juga kamu... Maaf jika selama ini Aku malah sering memaksa,"
"Enggak apa-apa. Kamu tetap boleh hal yang kamu inginkan apapun itu aku tetap mendukungmu."
"Makasih Mas Evan."
Dengan itu, keduanya berciuman singkat dan Sofia segera pergi naik taksi menuju Bandara.
Tepat setelah mobil Taksi Sofia pergi, Evan yang masih di Lobby itu tiba-tiba saja dipeluk oleh seseorang.
"Ukh, Akhirnya Istrimu itu pergi juga. Sekarang sudah tidak ada yang bisa mengganggu kita berdua, Mas Evan."
Itu adalah Suara Hanna yang terlihat sangat senang melihat kepergian Sofia. Namun Evan segera mendorong Hanna menjauh.
"Hanna, jangan seperti ini, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?"
"Ya enggak apa-apa dong."
"Cukuplah, Hanna. Aku lagi enggak pengen diganggu."
"Mas Evan kenapa sih?"
"Aku pikir sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini. Aku akan memberikanmu sponsor dan sumber daya yang cukup dari Perusahaan untuk semua Film yang akan kamu bintangi, dan memastikan kamu mendapatkan apa yang kamu mau."
Mendengar kata-kata itu, seolah Hanna tersambar petir.
"Mas Evan tidak bisa begitu saja mengakhiri hubungan ini!" Kata Hanna sambil kembali memeluk Evan.
Evan sendiri segera membawa Hanna ke tempat yang lebih sepi agar percakapan mereka tidak di dengar orang.
"Hanna! Kamu itu apa-apa sih! Aku kan sudah bilang, akan memberikan Dukungan padamu, lagipula Bukankah dari awal itu yang kamu harapkan? Kamu mendapatkan Dukungan agar Karirmu di Dunia Hiburan bisa sukses."
"Mas Evan pikir Aku wanita bayaran?"
"Hah, bukannya memang begitu? Kamu yang mendekati Pria Kaya sepertiku yang sudah punya Istri, apalagi maksudnya selain itu? Hubungan kita toh Dari awal hanya dimulai secara Implusif."
"Seolah Mas Evan tidak menikmatinya saja. Mas Evan jangan munafik langsung berubah pikiran hanya dengan bertemu sedikit dengan Istrimu itu!"
"Diamlah, Hanna. Sekarang jangan ganggu Aku lagi."
"Mas Evan enggak bisa gitu, aja setelah enam bulan lebih kita menjalin hubungan..."
"Hanna, kamu itu seharusnya sadar tentang posisimu sendiri dalam hubungan ini, Aku yang memutuskan kapan ini berakhir. Jadi sadarilah tempat mu, dan jangan berharap lebih. Aku kira, pikir kamu bisa berpikir lebih rasional."
"Mas Evan..."
"Cukup Hanna! Aku akan pastikan, kamu mendapatkan dukungan dan kompensasi yang cukup jadi jangan hubungi aku lagi!"
Evan segera pergi dari sana meninggalkan Hanna yang saat ini tengah kesal dan hampir menangis.
'Lihat saja, Evan! Aku tidak akan pernah membiarkanmu bisa meninggalkan dan mencampakkanku begitu saja demi Wanita Mandul macam Sofia itu!'
####
Hari-hari berikutnya berjalan dengan damai, Evan juga tidak mengalami masalah karen Hanna juga di sibukkan oleh jatwal Syutingnya. Evan menganggap, setidaknya hubungannya dengan Hanna sudah selesai tanpa harus ketahuan Sofia. Berharap semua masalah sudah selesai sampai di situ.
Hanya saja, masalah baru dimulai ketika Sofia tiba-tiba saja mengajaknya bertemu teman masa kecilnya dan Keluarganya. Sofia bilang, mereka adalah orang-orang yang juga dekat dengan orang tuanya.
"Jadi dia teman masa kecil yang kamu bilang baru pulang dari luar negeri itu?"
"Benar Mas Evan. Aku sudah bilang akan memperkenalkannya padamu bukan? Agar kamu tidak berpikir macam-macam."
"Pfff, tentu saja Aku tahu. Aku jadi penasaran kira-kira temanmu itu seperti apa,"
"Coba tebak?"
Dengan itu, keduanya segera menuju ke Rumah Bastian.
Ketika menatap rumah itu, ada sedikit ingatan lama yang terbesit di pikiran Sofia.
Bastian, yang sudah menunggu kedatangan Sofia dan Evan, jelas segera kedepan untuk menyambut mereka berdua.
Hanya saja tatapan Bastian menjadi kaget ketika melihat wajah Evan, begitu pula dengan Evan.
Bastian teringat, kejadian di Kota B sebelumnya dimana dia jelas melihat Pria yang ada disamping Sofia itu, pernah bermesraan dengan wanita lain sebelumnya.
"Mas Evan, perkenalkan ini Bastian temanku."
Evan yang menatap wajah Bastian menjadi cukup gugup hanya berharap bahwa pria yang ada di depannya itu melupakan kejadian sebelumnya.
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚