Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Arkan, pria yang tidak di harapkan kehadiran nya, kini berdiri tepat di depan Aresha. Menatap Aresha dengan pandangan yang paling Aresha benci.
"Gue yang harusnya tanya sama lo, ngapain lo di rumah gue?" Arkan maju satu langkah mendekati Aresha, membuat Aresha reflek memundurkan langkah nya.
"Rumah lo? Jangan bercanda deh Arkan, gue tau rumah lo bukan di daerah sini," jawab Aresha mencoba untuk tenang, keterkejutan nya melihat Arkan di depan pintu kamar mandi membuat detak jantung Aresha semakin kencang berdetak.
Pria yang bernama Arkan itu tersenyum, tangan nya ingin mengelus wajah Aresha, namun dengan cepat Aresha menepisnya. Aresha tidak sudi di sentuh dengan pria menjijikan seperti Arkan.
"Gue sekarang tinggal di sini, ini rumah Papa sama Mama gue dan juga rumah cowok gila kayak Arsen," jawab Arkan terdengar malas saat menyebut nama Arsen. Mata Aresha terbelalak semakin terkejut kala Arkan menyebut nama Arsen.
"Kenapa lo terkejut?"
Aresha menghela napas nya, kini dia mengerti jika Arkan adalah saudara tiri Arsen, anak dari Aril yang menikah dengan Mama nya Arsen.
"Gue pergi dulu," Aresha melangkah menjauh dari Arkan, namun seketika itu juga Arkan menghalangi langkah Aresha.
"Apa lagi sih Arkan, gue mau balik," ucap Aresha kesal.
"Ngapain harus ikut pembicaraan orang tua, mending temenin gue keliling rumah ini." tanpa persetujuan Aresha, Arkan langsung menarik tangan Aresha dan membawanya naik ke lantai atas.
"Jangan pegang tangan gue *****, gue bisa sendiri." Aresha menghempaskan tangan Arkan dan meninggalkan pria itu di belakang.
Arkan tersenyum meremehkan, ternyata Aresha masih sama, tidak semurahan apa yang Arkan pikirkan, meskipun Aresha termasuk cewek clubbing sama seperti teman teman nya.
Aresha sudah lelah berkekiling tak jelas di mansion milik keluarga Arsen dengan di temani Arkan yang semakin membuat Aresha lelah. Sepanjang Aresha berkeliking Aresha sama sekali tidak melihat adanya foto Arsen, dia hanya melihat foto Mama Arsen dengan suami baru nya. Mansion besar dengan barang barang mahal berkelas ternyata tidak mampu membuat Arsen betah tinggal di rumah nya, dan kini justru Arsen pegi dari rumah nya karena kehadiran Arkan.
Apa Arsen tidak bisa berdamai dengan keadaan di rumahnya, menerima keluarga baru nya dan bahagia bersama? Itulah yang Aresha pikirkan, keinginan untuk membawa kembali Arsen ke dalam rumah nya semakin besar, dan Aresha bertekad dia tidak akan menyerah untuk membuat Arsen kembali, walaupun nantinya Arsen akan semakin membenci dirinya.
📝
Kepulangan Aresha dari kediaman rumah keluarga Arsen membawa banyak perubahan bagi Aresha. Aresha lebih banyak diam dan tak banyak bicara, Nara yang berada di samping nya tentu saja merasa heran dengan prubahan sifat putrinya itu.
"Aresha, kamu baik baik saja Sayang." tanya Nara menyentuh bahu Aresha, hingga Aresha sedikut terkejut karena bundanya.
"Kenapa, Bun?"
"Kamu kenapa, kok tiba tiba jadi aneh gini?
"Aresha capek Bun, Bunda kelamaan di rumah Tante Erin nya," alibi Aresha agar bunda nya tidak banyak tanya lagi.
"Yaudah maafin Bunda ya, sekarang Aresha tidur aja, nanti kalau sampai rumah Bunda bangunin,"
"Laper Bun, Aresha mau makan," rengek Aresha manja.
"Tunggu sampai di rumah ya, Papa udah nungguin kita di rumah," Aresha tidak lagi menjawab ucapan Nara, Aresha memilih diam dengan mata yang menatap ke luar.
Di pagi harinya, Aresha sudah berangkat ke sekolah sebelum jam 7 dengan di antar oleh Papa nya. Aresha berjalan dengan langkah santai seperti biasanya, mengabaikan tatapan kagum dari siswa yang menatapnya.
Di ujung lorong Aresha mempercepat langkah nya karena melihat Arjuna sedang berbicara dengan teman nya, Nino.
"Pagi Arjuna," sapa Aresha langsung tersenyum lebar.
"Pagi juga Aresha," bukan Arjuna yang membalas sapaan Aresha, melainkan Nino yang masih berdiri di samping Arjuna.
Aresha tidak memperdulikan kehadiran Nino, Aresha terus saja menatap Arjuna dengan tatapan bahagia.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya Arjuna menyembunyikan senyum di bibir nya.
"Kenapa, nggak boleh? Aku kan pacar kamu," jawab Aresha sedikit merenggut mendengar jawaban Arjuna.
Arjuna beralih menatap Nino.
"Nanti kita bahas lagi, kau pergi aja dulu," ucap Arjuna tanpa sadar telah mengusir Nino, dan itu membuat Aresha merasa senang tak karuan. Kini Arjuna tidak lagi memetingkan urusan sekolah nya, Arjuna kini lebih menghargai kehadiran Aresha.
Sepeninggalan Nino, Arjuna menarik pelan tangan Aresha dan ingin membawanya Ke taman. Namun di pertengahan jalan mereka tak sengaja di tabrak oleh Sakra hingga tautan tangan mereka terlepas.
"Sakra," gumam Aresha sedikit terkejut.
"Bisa nggak kalau jalan itu lihat lihat," tegur Arjuna menatap Sakra tajam.
Sakra berbalik menatap Arjuna, tatapanya tak kalah tajam dari Arjuna.
"Lo berdua ngehalangin jalan gue, lo pikir ini tempat penyebrangan hingga harus gandengan?" sinis Sakra sekilas menatap Aresha yang tampak kesal menatap nya.
Sakra kembali berbalik dan meninggalkan mereka berdua. Aresha hanya menatap kepergian Sakra dengan perasaan dongkol.
"Dasar badboy, percis seperti Arsen gak tahu aturan," desis Arjuna kembali menarik tangan Aresha menuju tempat tujuan awal mereka.
Aresha hanya diam saja saat tangan nya di tarik oleh Arjuna, tanpa sadar Aresha memegang dada nya, tidak ada lagi degup kencang sama seperti dulu saat berdekatan dengan Arjuna, kenapa kini Aresha merasa binggung dengan prasaanya, bukankah Aresha mencintai Arjuna, lalu kenapa dia tidak merasa senang saat Arjuna mengandeng tangan nya.
Aresha menggelengkan kepalanya mencoba menepis pikiran gila nya, namun Aresha tak bisa saat lagi lagi wajah Arsen terlintas di ingatanya.
📝
Seperti biasa kelas XI IPA 3, heboh saat Aresha baru saja masuk ke dalam kelas, tentu saja ketiga sahabat nya yang membuat kehebohan di dalam kelas.
"Sini Sha, cepet ke sini Aresha," teriak Stephany begitu heboh menyuruh Aresha untuk duduk.
"Kalian kenapa sih, heboh banget, brisik tau." dumel Aresha melempar tas nya sedikit kesal.
"Nggak usa kesal, mending lo dengar gosip ini pasti lo bakal terkejut," sahut Veli begitu antusias nya.
"Gosip apaan lagi, gue males denger nya."
"Arkan pindah ke sekolah kita!"
"APA...?" teriakan Aresha membuat seisi kelas menatap nya, namun Aresha tidak memperdulikan itu, Aresha terlalu terkejut dengan apa yang di ucapkan Veli.
"Vel, lo becanda kan? Arkan itu udah kelas 12, mana mungkin dia pindah." Aresha berusaha menyangkal jika berita ini tidaklah benar, entah apa yang akan terjadi jika berita ini adalah benar.
"Mana mungkin kita becanda soal ginian Aresha, Arkan benar benar pindah, tadi gue lihat sendiri Papa nya ada di ruang kepala sekolah," ucap Veli lagi, Aresha menghela nafas berat nya, tanganya mengusap wajah nya dengan kasar.
"Arkan siapa sih? Kok Aresha bisa syok gitu," tanya Diva tiba tiba ikutan nibrung di antara mereka.
Aresha berdiri, dengan cepat dia meninggalkan kelas. Satu tujuanya kini, menemui Arsen.
Aresha ingin tau bagaimana reaksi Arsen begitu mendengar berita ini, dan juga di hati Aresha sedikit ada rasa khawatir untuk pria itu.
Namun kesialan bagi Aresha, niatnya untuk bertemu Arsen pupus begitu saja saat Arkan berdiri dan menghadang jalan nya.
"Pagi Aresha, lo mau kemana? Buru buru amat," ucap Arkan begitu memuakkan di mata Aresha.
"Lo ngapain sih pindah sekolah segala? Tujuan lo apa pindah ke sini, huh?" Aresha menatap Arkan tajam, tersirat kebencian di mata Aresha.
"Harusnya lo seneng dong gue pindah, setidaknya ucapin selamat datang ke gue,"
Aresha segera menepis tangan Arkan yang ingin menyentuh wajah nya.
"Gue akan semakin terbebani dengan kehadiran lo, ngapain juga gue harus ngucapin selamat." sahut Aresha langsung melewati Arkan begitu saja, dan kembali melanjutkan langkah nya untuk mencari Arsen.
"Gue pindah karena gue nggak mau lo di rebut sama Arsen,"
Ucapan Arkan seketika menghentikan langkah Aresha.
"Gue tetep suka sama lo meskipun lo benci gue, dan gue ingin memperjuangkan cinta gue ke lo," Arkan tersenyum manis menatap punggung Aresha.
Aresha memutar bola matanya malas, tanpa memperdulikan Arkan lagi, Aresha kembali melangkahkan kakinya menuju kelas Arsen.
"Arsen di mana?" tanya Aresha langsung pada Devan yang kebetulan sedang duduk di depan kelas bersama Refal.
"Kenapa nyari Arsen? Tumben banget," heran Devan
"Cepet Devan, Arsen di mana?" desak Aresha tak suka basa basi.
"Arsen nggak masuk hari ini," jawab Refal.
"Kenapa?"
"Mana kita tahu, Arsen cuma bilang dia nggak maasuk sekolah dan tanpa memberikan alasanya."
Aresha mengembuskan napasnya, sebelum akhirnya meninggal kelas Arsen dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Aresha merasa lingkung, Aresha tidak tahu kemana dan harus bagaimana, langkah nya seakan tak pasti, bahkan kini Aresha telah keluar dari area sekolah, berjalan menyusuri jalan dengan bibir yang tak henti henti nya mengumpat pada Arkan.
"Apa aku samperin ke Apartment nya aja," pikir Aresha.
"Nggak ah, nanti dia geer," ucap Aresha lagi karena gengsi nya terlalu besar.
Aresha mengambil handphone nya, menatap miris pesan nya yang tak kunjung di balas oleh Arsen.
Mendadak Aresha merasa kesal, Aresha tidak mengerti dengan jalan pikiran Arsen, kenapa juga Arsen harus marah karena Aresha tidak menemuinya, padahal mereka adalah musuh.
Namun Aresha juga tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri, kenapa juga Aresha harus memperdulikan Arsen, padahal dari dulu Aresha begitu ingin menyingkirkan Arsen dari hidup nya. Memikirkan itu membuat Aresha pusing sendiri.
Aresha yang masih berjalan terpaksa harus menghentikan jalan nya saat tiba tiba motor terhenti tepat di depan nya.
Si pengendara motor turun dan langsung melepaskam helm fullvice nya. Seketika mata Aresha membulat melihat pria yang di carinya kini berada di depan matanya.
"Ngapain di sini?" tanya Arsen, pria yang memberhentikan motor sport merah nya di depan Aresha.
"Lo bolos lagi?" tanya Arsen saat Aresha masih diam.
"Kok lo bisa ada di sini?" tanya Aresha setelah lama berdiam.
"Ngapain nyariin gue?" bukanya menjawab, Arsen justru balik bertanya hingga membuat Aresha mati kutu.
"Huh... ?"
"Ada apa nyariin gue?"
"Geer, siapa yang nyariin lo," jawab Aresha membuang pandangan nya.
"Devan telepon gue, dia bilang lo tadi nyariin gue di kelas."
Aresha mengumpat dalam hati, merutuki Devan yang sudah berani mengadu pada Arsen.
"Kenapa nyariin gue?" untuk kesekian kalinya Arsen bertanya hal yang sama. Aresha menghela napas nya pelan, tampaknya Aresha tidak akan bisa mengelak lagi dari pertanyaan Arsen.
"Lo udah tahu kalau Arkan pindah ke sekolah kita?"
Arsen terdiam.
"Apa nggak masalahkalau Arkan pindah ke sekolah kita?" tanya Aresha lagi.
"Nggak masalah! Gue jadi enak ada teman berantem tiap hari di sekolah." jawab Arsen tanpa beban.
"Jangan coba coba berantem di sekolah Arsen,"
"Kenapa?"
"Nanti lo dapat masalah di sekolah."
Arsen tersenyum tipis, sangat tipis hingga Aresha tidak menyadari jika Arsen tengah tersenyum.
"Lo khawatir sama gue?"
"Huh?"
"Lo khawatir gue dapat masalah di sekolah karena berantem sama Arkan?"
"Nggak!" jawab Aresha tegas.
"Terus?"
"Gue cuma nggak mau nama sekolah kita tercemar karena lo berntem terus sama Arkan."
"Oke, kita lihat sampai kapan lo berbohong."
"Maksudnya?"
Arsen tidak menjawab ucapan Aresha, Arsen menarik tangan Aresha dan langsung memakaikan helm di kepala Aresha.
"Arsen lo... ?
"Diam dan ikuti saja gue," setelah itu Arsen benar benar membawa Aresha pergi. Mengendarai motornya keliling kota dengan Aresha yang masih memakai seragam sekolah.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu