NovelToon NovelToon
Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh / Playboy
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Osi Oktariska

Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.

Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Ben frustrasi

"Jadi dibatalin ke Latvianya, Jes?" tanya Aira dengan wajah kecewa.

"Bukan dibatalin, tapi ditunda," sahut Jeslin masih sibuk menekan nekan keyboard laptop di harapan.

"Yah, gagal deh kita jalan jalan!" rengek Balqis.

"Lagian kita ke sana kan, bukan buat jalan jalan, tapi kerja," tukas Jeslin terlihat santai. Padahal sebenarnya dia juga sedikit kecewa karena batal pergi. Setidaknya satu hal yang dapat menghibur Jeslin saat ini, karena ini bukan momen pembatalan kontrak kerja tersebut, melainkan hanya penundaan keberangkatan.

"Iya, emang. Tapi kan, Jes ... Berapa lama sih, ditundanya?"

"Belum tau. Kan kamu udah denger berita kan. Kalau pandemi masuk gelombang ketiga. Kita harus tetap di sini dulu, belum boleh ke mana mana."

"Ya udah, sebagai gantinya, kita jalan jalan aja ke Bali sabtu depan? Gimana?"

"Jangankan keluar negeri, ke Dalam negeri aja susah. Ribet banget. Udah deh, tunggu sampai keadaan mereda."

"Padahal aku udah paking loh. Tinggal berangkatnya aja," Aira tampak masih tidak bisa menerima kenyataan. Sampai akhirnya diskusi mereka terhenti karena jam pulang kantor sudah di depan mata.

.

.

.

Astrid sedang tidak mood untuk memasak. Karena masakan nya siang tadi gosong akibat dia terlalu asyik membalas pesan di ponsel pintarnya. Beberapa kawan lama mulai bermunculan, membuat rasa rindu mendadak mengalihkan segalanya.

Ini pertama kalinya mereka berdua keluar apartemen untuk makan malam. Walau bagi Jeslin, setiap hari selalu sama sebelum kedatangan Astrid di apartemennya. Jeslin yang memang malas memasak lebih memilih membeli makanan di luar untuk menambah asupan energinya setiap hari. Walau tak jarang dia lebih memilih makanan pesan antar, daripada harus datang ke cafe atau restoran.

"Makan di mana kita?" tanya Astrid yang kini mengambil alih kemudi mobil Jeslin.

"Makanan Turki aja, Trid."

"Oke, kita menuju restoran Turki. Yang biasa itu, kan?"

"Iya. Kayaknya cuma di sana aja yang enak dan lengkap deh."

"Oke deh."

Astrid dan Jeslin memang sangat kompak. Apalagi urusan perut. Semua tempat makan, baik yang mahal sampai yang murah sudah mereka jelajahi. Tetapi mereka pemilih dalam memilih tempat. Tidak sembarangan. Hanya saja setelah Astrid pergi, Jeslin mulai mengurangi hal tersebut dan lebih memilih makan di rumah dengan memesan makanan lewat daring.

Malam ini Jeslin ini menikmati Baklava.

Baklava adalah sejenis pastry khas Turki yang memiliki ciri khas berupa teksturnya yang berlapis-lapis. Sajian khas Turki satu ini memiliki cita rasa sangat manis yang pas untuk disantap sore hari bersama segelas Teh khas Turki.

Makan malam berlangsung lancar. Perut kenyang terisi makanan, membuat Astrid ingin meregangkan tubuh sejenak. Dia mengajak Jeslin ke sebuah tempat karaoke. Walau awalnya Jeslin menolak, karena tidak terbiasa datang ke tempat seperti itu, tapi dia tetap mengalah dan menuruti permintaan Astrid.

Summercamp's karaoke.

Tempat yang cukup terkenal dan banyak dijadikan tujuan para muda mudi untuk menghabiskan waktu. Namun ternyata tujuan Astrid bukan untuk berkaraoke, melainkan ke tempat yang berada di sisi lain summercamp's.

Astrid terus menggandeng Jeslin masuk. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, terutama para kaum Adam. Astrid berjalan dengan percaya diri, sementara Jeslin tidak berani menatap ke sekitar. Ia lebih memilih menunduk untuk menghindari tatapan orang orang tersebut. Karakter Jeslin dan Astrid bagai dua kutub magnet yang berbeda. Keduanya sama sama cantik, namun dengan cara berbeda.

Suara musik yang cukup keras mulai terdengar. Diikuti lampu yang kerlap kerlip dengan warna yang beraneka ragam. Tempat itu mirip sebuah pesta. Karena ternyata tujuan Astrid datang memang untuk menghadiri pesta ulang tahun temannya.

"Kamu kok nggak bilang, kalau mau ke ulang tahunan gini?" tanya Jeslin mendekatkan diri pada sahabatnya.

"Aku lupa, Lin. Kalau Velis ulang tahun. Nggak apa apa, ya? Sebentar aja kok. Aku nggak enak kalau nggak datang," ujar Astrid. Ia segera melingkarkan tangan pada lengan Jeslin.

Astrid paham kalau Astrid tidak begitu suka di tempat seperti ini. Keramaian dan gemerlap kehidupan malam, bukanlah hal yang membuatnya senang.

Walau Jeslin tidak nyaman, dia tetap saja menurut dan pasrah di bawa oleh Astrid ke ulang tahun Velis. Ini bukan kali pertama Jeslin bertemu Velis, tapi tetap saja Jeslin tidak nyaman berada di tengah tengah orang yang tidak terlalu dekat dengannya.

Kue ulang tahun bertingkat tampak mewah di tengah tengah para tamu undangan. Walau Astrid tidak membawa kado, tapi dia tampak percaya diri dan langsung menghampiri Velis. Sementara itu Jeslin hanya terus mengekor pada Astrid. Setelah Astrid memberikan selamat pada Velis, mereka berdua pun mencari makanan dan tempat untuk duduk. Tempat itu sudah dibooking oleh Velis untuk acaranya itu.

Astrid paham, kalau Jeslin tentu tidak mau berbaur dengan kawan kawannya. Sehingga dia membawa Jeslin duduk di kursi yang kosong, dan tidak terlalu banyak orang di dekatnya.

Ruangan tersebut didominasi suasana gelap. Walau banyak lampu warna warni tapi tetap saja tidak terlalu jelas jika melihat ke jarak jauh. Astrid mengambilkan Jeslin mocktail.

Untungnya mocktail yang diminum oleh Jeslin tidak beralkohol. Karena mocktail adalah jenis minuman non-alkohol yang dibuat dengan campuran jus buah dan minuman ringan lainnya. Ini bukan pertama kalinya Jeslin minum minuman tersebut.

Sementara itu, Astrid mengambil Margarita. Minuman ini dibuat dengan pencampuran tequila, triple sec, dan jeruk limau dalam kapasitas yang sama. Juga diberi sedikit garam di pinggirannya untuk menambah cita rasa.

Selain jeruk limau, kadang pencampurannya juga bisa digantikan dengan jus lemon atau jeruk nipis. Yang jelas, karena rasanya yang nikmat.

Beberapa kali Astrid menyapa teman temannya. Jeslin hanya ikut tersenyum jika mendapat perhatian dari orang di sekitar.

"Wah, si Lesan tuh," gumam Astrid yang sedang menikmati Margarita nya sambil menatap ke pintu. Di sudut pintu masuk memang ada beberapa pria yang seumuran dengan mereka, saling sapa dengan yang lain, lalu mendekat ke Velis, selaku tuan rumah acara.

"Eh, bentar, Lin. Aku ke sana sebentar, ya," pinta Astrid menunjuk pria bernama Lesan.

Jeslin hanya mengangguk sambil memakan kacang almond di meja. Perlahan tentu Jeslin mulai terbiasa dengan situasi malam ini, sehingga rasa tidak nyamannya pelan pelan juga ia hilangkan.

Dari kejauhan Jeslin bisa melihat apa yang dilakukan oleh Astrid, dia memang supel sehingga memiliki banyak teman. Jeslin tidak pernah sekalipun merasa cemburu saat Astrid akrab dengan temannya yang lain. Karena Jeslin paham kalau dunia Astrid tidak melulu hanya berkutat dengan Jeslin seorang. Walau teman dekat Jeslin, memang hanya Astrid saja.

Meja yang di duduki Jeslin bersebelahan dengan meja meja lain yang kini mulai terisi. Teman teman Astrid, memang berasal dari keluarga terpandang. Obrolan mereka berkutat dengan kemewahan dunia. Entah membahas tentang perjalanan wisata ke luar negeri, atau barang mewah yang baru dibeli.

Sampa akhirnya Jeslin tertarik pada beberapa orang yang menyebutkan satu nama yang terdengar tidak asing di telinganya.

"Lidya lagi nggak bisa datang, soalnya pacarnya masuk rumah sakit."

"Pacarnya Lidya bukannya Ian?"

"Iya, Ian."

"Emangnya Ian kenapa? Sakit apa dia?"

"Bukan sakit, tapi habis digebukin orang."

"Hah? Serius? Kok bisa digebukin? Gimana ceritanya?"

"Kejadiannya malah di sini! Di tempat ini. Menurut cerita yang gue denger, pacar Lidya itu digebukin karena udah bikin perempuan lain hamil."

"Eh, bukan! Bukan hamilin perempuan lain, tapi memperkosa perempuan lain. Kayaknya cowok yang mukulin Ian itu, pacar cewek yang diperkosa Ian deh!"

"Ah, masa sih? Gosip dari mana, Hel?"

"Eh, bukan gosip, nih Elma yang lihat, dia saksi mata. Iya, kan, El?"

Wanita yang sedang minum wine di meja itu lantas menoleh sambil mengangguk. "Bener. Pas ribut ribut itu, gue awalnya ngga tau kalau dia itu pacarnya Lidya, tapi lama lama gue perhatiin kok mukanya nggak asing."

"Kejadiannya gimana? Terus kondisi Ian gimana sekarang?"

"Kejadiannya tiba tiba banget pokoknya. Jadi si Ian itu lagi sama temen temennya, terus tiba tiba ada cowok yang samperin dia dan langsung mukul gitu aja. Cuma kalau gue lihat, kayaknya yang nyerang Ian itu pinter bela diri deh, soalnya pukulan dia itu bener bener tepat sasaran. Dia selalu mukul di titik fatal. Untung buru buru dilerai, kalau nggak pasti udah mati itu cowoknya Lidya."

"Terus Lidya gimana? Gosip itu pasti dia juga denger kan?"

"Gosip yang mana?"

"Yang cowoknya perkosa orang!"

"Tau. Tapi kayak lo nggak tau aja Lidya gimana. Kalau lagi bucin, mau itu cowok digosipin pembunuh berantai juga dia nggak akan perduli!"

"Bener juga."

Jeslin diam sambil terus menyimak pembicaraan tersebut. Ia yakin kalau orang yang mereka bicarakan adalah Ian yang telah merenggut kesuciannya, dan sang pemukul yang sudah pasti Ben. Ia mulai menarik benang merah yang terjadi kemarin. Perkataan Ben yang meyakinkan Jeslin, kalau Ian tidak akan mengganggu gadis itu lagi, menjadi meyakinkan dengan adanya cerita ini.

Jeslin pun perlahan mulai teringat Ben. Apalagi saat terakhir kali Ben datang ke rumah, dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan darinya, cukup mengganggu pikiran Jeslin. Dia mulai merasa tidak enak, karena telah memperlakukan Ben dengan semena mena, setelah apa yang Ben lakukan untuknya.

Astrid kembali ke meja, ia heran melihat Jeslin yang tampak diam saja, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa? Ada yang ganggu kamu?" tanya Astrid sambil tengak tengok sekitar.

"Enggak. Bukan itu."

"Terus? Kenapa?"

"Trid, kamu ... Bisa cari tau tentang sesuatu, nggak?"

"Tentang apa, Lin?"

Jeslin akhirnya menceritakan apa yang baru saja ia dengar, namun dengan berbisik pada Astrid. Astrid terus menyimak apa yang Jeslin jelaskan secara rinci.

"Serius? Wah, sebentar, coba aku tanya mereka!" kata Astrid, tapi begitu dia berdiri, Jeslin menahan tangannya agar kembali duduk.

"Jangan. Aneh nanti kalau tiba tiba kamu tanya tentang Ian!"

"Eum, tenang aja. Mereka nggak akan curiga, percaya sama aku." Astrid kembali beranjak dan mendekat ke teman temannya tersebut.

Memang benar, jika Astrid terkenal pintar berbaur. Bahkan hal penting yang ingin ditanyakan, segera terjawab saat dia berpura pura menanyakan kehadiran Lidya yang tidak tampak sejak tadi.

"Emangnya Lidya punya pacar baru? Anak mana sih? Kok gue nggak tau, ya?" tanya Astrid yang pura pura terkejut.

Akhirnya pembicaraan mengenai Ian yang kini statusnya menjadi kekasih Lidya mulai menjadi topik hangat. Astrid bahkan cukup lama berada di meja itu untuk mengorek informasi dari teman temannya.

Setelah 40 menit berlalu, Astrid pamit dan kembali ke meja Jeslin. Jeslin yang juga sudah mendengar informasi mengenai Ian, hanya mengangguk pada Astrid. Ia meyakini kalau Ian yang mereka maksud adalah Ian yang ia kenal. Hanya saja dia belum memastikan kalau Ben memang telah memukuli Ian. Jeslin berniat menanyakan pada Ben esok hari.

_______

"Lah, lo di sini, Nji?" tanya Daniel begitu pintu apartemen Ben terbuka.

"Iya. Tumben Pak CEO nggak ngantor?" tanya Panji sambil menyindir Daniel yang memang jarang sekali bertemu dirinya.

Mereka berdua masuk ke dalam. Pemandangan menyedihkan tampak begitu memasuki ruang tengah. Tv layar datang yang ukurannya setengah dari tembok ruangan itu, sedang menayangkan film barat dengan tema horor. Daniel segera duduk di samping Ben yang sedang menatap layar LED tersebut dengan tatapan kosong. Bahkan keberadaan Daniel tidak mendapat perhatian dari sang empunya rumah.

Dipangkuan Ben ada keripik singkong dengan level pedas yang cukup membuat perut mulas jika memakannya. Tapi Ben dengan santai menyantap camilan itu tanpa terlihat kepedasan.

Daniel menatap Panji yang duduk di sisi lain sofa tersebut. Panji hanya menaikkan kedua bahunya ke atas dan ikut menyambar kue kering yang berada di meja. Bu Cyntia, Mama Ben, memang kerap membawakan makanan untuk putranya itu. Ia paham kalau Ben akan sembarangan menyantap makanan karena tidak terkontrol dari sang ibunda.

"Lo nggak ke kantor? Gue tadi ke kantor lo, tapi katanya lo nggak masuk."

"Iya. Lagi males ke kantor gue."

"Tumben. Papa lo nggak ngamuk emangnya?"

"Ya enggaklah. Kalau gue kasih surat dokter, yang menunjukkan gue lagi sakit."

"Emangnya lo sakit apa?"

"Sakit hati!" tukas Panji dan segera mendapat lirikan tajam dari Ben.

"Sakit hati? Yang bener? Sakit hati sama siapa?" Daniel menatap Ben dan Panji bergantian.

"Tanya kakak lo, Nil. Dia yang udah bikin sahabat kita nggak mau makan, susah tidur, mirip ayam sakit."

"Hah? Kakak gue? Jeslin?" tanya Daniel yang terkejut nama kakaknya masuk dalam daftar orang yang berhasil membuat Ben sedih.

"Iyalah. Emangnya kakak lo ada berapa? Cuma satu, kan?"

"Serius, Ben? Jeslin ngapain lo emangnya?" Daniel duduk menghadap Ben, sambil ikut mencomot keripik singkong di depannya.

"Malas bahas gue." Ben memberikan plastik camilan berwarna merah tersebut ke Daniel. Dia lantas merebahkan tubuhnya di sofa sambil menarik selimut yang sejak tadi ada di pangkuannya.

"Nji? Kenapa sih? Lo tau ceritanya?" tanya Daniel lalu mendekat ke Panji.

"Tau."

"Kok cuma gue yang nggak tau, kalau Ben lagi deketin Kakak gue?"

"Ya lo sibuk banget! Mana sempet lo ngurusin percintaan orang lain!"

Daniel diam sejenak. Ia lantas menanyakan hubungan Ben dan Jeslin pada Panji. Panji pun menceritakan apa yang terjadi malam lalu pada Daniel. Bagaimana sedihnya Ben saat mendapat penolakan dari Jeslin, hingga membuatnya kini tidak bersemangat untuk hidup.

"Anjir! Gue baru tau kalau Ben lagi deketin Jeslin. Kasihan," ucap Daniel lalu menatap sahabatnya yang masih dalam posisi sama.

"Terus solusi dari adik ipar gimana nih? Kakak lo emang sedingin itu, ya, Nil? Masa seorang Ben berhasil ditolak mentah mentah! Ben loh, Nil. Kalau gue yang ditolak mah, wajar."

"Ya gimana, ya. Jeslin memang begitu sih orangnya. Dia nggak pernah deket sama cowok, dia bener bener menutup diri semua cowok. Kecuali gue."

"Masa nggak pernah pacaran atau suka sama cowok gitu? Temen sekolah kek. Atau jangan jangan Jeslin lesbi, ya, Nil? Makanya dia gitu ke Ben?"

"Ngawur lo! Kakak gue normal kali!" omel Daniel sambil melempar Panji dengan keripik singkong.

"Lah tau dari mana lo, kalau dia normal? Dia aja nggak pernah deket sama cowok."

"Gini gini, dulu waktu kami kecil, ada satu cowok yang disukai sama Jeslin. Jadi dia itu tetangga kita. Gue rasa sih Jeslin pernah suka sama itu anak. Cuma kan dulu, pas masih kecil. Setidaknya, itu membuktikan Jeslin normal, kan?"

"Hm, tapi biasanya cewek normal yang tiba tiba jadi menyimpang, biasanya karena trauma disakitin sama cowok."

"Lah siapa yang nyakitin? Orang dia nggak pernah pacaran!" hardik Daniel.

Namun Ben tiba tiba berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya. Panji dan Daniel saling pandang, lalu melanjutkan diskusi tersebut. Untungnya Panji sudah diwanti wanti Ben, agar tidak menceritakan masalah Jeslin dengan Ian pada Daniel. Karena bagaimana pun juga, hal ini memang masih menjadi rahasia. Kalau pun Daniel harus tau, biar Jeslin yang menjelaskan nya sendiri. Begitu kata Ben pada Panji.

_____

"Tumben kamu nginep sini," kata Jeslin saat Daniel masuk ke dalam apartemennya.

"Iya, aku habis dari tempat Ben tadi, mau pulang malas banget, Kak. Jauh. Aku tidur sini ya," pinta Daniel lalu berjalan masuk begitu saja ke dalam.

"Kamu udah makan?" tanya Jeslin sambil mengikuti adiknya ke dapur. Daniel membuka lemari pendingin dan meneguk air mineral. Terlalu banyak makan pedas membuat tenggorokannya mulai sakit.

"Udah, Kak. Tadi di tempat Ben. Eh, kak ... Kemarin Ben ke sini?"

"Eum, iya. Kenapa?"

"Kamu usir dia?"

"Enggak. Cuma bilang kalau aku capek, mau tidur."

"Oh." Daniel segera duduk di depan Jeslin. Melihat wajah adiknya terlihat menyimpan sesuatu, Jeslin pun penasaran.

"Kenapa memangnya?"

"Ben mirip orang stres. Nggak mau makan, nggak ke kantor."

"Kenapa?"

"Ya karena kamu lah, Lin! Masa gitu aja nggak tau," sambar Astrid yang baru saja keluar dari kamar dengan masih memakai masker wajah.

"Kok aku?"

"Lupa? Kemarin kamu apain itu anak orang? Emang kakak lo ini hatinya lebih dingin dari salju, Nil." Kali ini Astrid justru terlihat kompak dengan Daniel memihak Ben.

"Salah, ya?"

Daniel dan Astrid saling pandang lalu memutar bola mata. Mereka cukup jengah dengan sikap Jeslin yang terkadang keterlaluan pada lelaki.

"Aku tidur ah. Capek." Daniel lalu beranjak dan masuk ke kamar tamu yang biasa ia pakai saat menginap di apartemen Jeslin.

Astrid mencuci muka, meninggalkan Jeslin yang tampak tidak terlalu ambil pusing pada apa yang terjadi pada Ben. Padahal sebenarnya dia tau, kalau sikapnya sudah keterlaluan pada Ben, tapi Jeslin tidak mau menunjukkan rasa bersalahnya di depan orang lain.

1
kalea rizuky
lanjut donk
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang pcr sahabat di embat
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang
Asmaiyyah AjjhLah
semangat kak
Asmaiyyah AjjhLah
ceritanya lompat ini gimana kak, kadi gak nyambung🥲
SnowySecret
lanjut Thor seru dan bagus ceritanya SEMANGAT AUTHOR
ruby sunn
akhirnya up juga sekian lama perjuangan ku menunggu .hehehe lanjut ! cemangat
estycatwoman
good job jes 👍
Wajah Boneka
Malesnya aku jadi senyum-senyum sendiri baca ceritanya thor.. daku tunggu nextnya
SoftMambo
Yo ayo thor! aku selalu mendukungmu dalam doa hehehe
skyeandstaghorn
jangan gantung Thorr Cepetan Up ya Thorr Semangat
Prasetya Wibowo
Next thor💕
estycatwoman
ditggu updteya ka makasih 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!