NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19_RETAK YANG TAK BISA DITUTUP

Nayla tidak langsung turun dari mobil ketika Azka memarkirkan mobil di halaman rumah Mahendra.

Mesin sudah dimatikan. Pintu sudah terbuka. Tapi Nayla tetap duduk, menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram tas sekolahnya kuat-kuat, seolah itu satu-satunya pegangan yang membuatnya tetap berdiri.

Azka menyadari itu.

“Turun,” katanya singkat.

Nayla tidak bergerak.

Azka menoleh. “Aku capek hari ini.”

“Aku juga,” balas Nayla, tanpa menoleh.

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang. Dan itu justru membuat Azka merasa tidak nyaman.

“Terus kenapa?” tanya Azka.

Nayla akhirnya menoleh. Matanya tajam, berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum bar-bar. Tidak ada nada bercanda.

“Aku mau ngomong,” katanya.

Azka mendesah pelan, lalu keluar dari mobil. Nayla mengikuti, menutup pintu dengan bunyi pelan tapi tegas.

Mereka masuk ke dalam rumah.

Sunyi.

Tidak ada pembantu. Tidak ada suara televisi. Hanya langkah kaki mereka yang menggema di lantai marmer.

Begitu sampai di ruang tengah, Nayla berhenti.

“Aku capek diperlakukan kayak boneka,” ucapnya tiba-tiba.

Azka yang sedang meletakkan kunci mobil berhenti. “Apa maksudmu?”

“Maksudku jelas,” kata Nayla, suaranya mulai bergetar tapi tetap terkontrol. “Kamu atur aku, kamu larang aku, kamu marah seenaknya. Tapi kamu nggak pernah dengerin aku.”

Azka menoleh penuh. “Aku cuma—”

“Jangan potong aku,” potong Nayla tajam. Itu pertama kalinya.

Azka terdiam.

“Aku tahan semua hinaan kamu,” lanjut Nayla. “Di sekolah. Di depan orang lain. Aku diam waktu kamu bikin aku kelihatan rendah. Aku diam waktu kamu seolah malu punya istri kayak aku.”

Azka mengepalkan tangan. “Aku nggak pernah—”

“Kamu PERNAH,” Nayla meninggikan suara. “Kamu lakukan itu tiap hari.”

Napas Nayla mulai tidak beraturan.

“Tapi hari ini kamu kelewatan,” lanjutnya. “Kamu bohong. Kamu marah ke aku karena aku bicara sama orang lain. Dan kamu pikir aku harus terima itu?”

Azka melangkah mendekat. “Aku bilang itu permintaan.”

“Itu tetap pengekangan,” balas Nayla cepat. “Aku bukan properti keluarga Mahendra.”

Kata itu menghantam.

“Kamu lupa posisi kamu?” tanya Azka, nada suaranya ikut meninggi. “Kamu ada di rumah ini karena apa?”

Nayla tertawa kecil, pahit. “Karena perjodohan. Bukan karena cinta. Jangan pakai itu buat nginjek aku.”

Azka membalas tawa itu dengan sinis. “Kamu pikir aku mau nikah sama kamu?”

Kalimat itu meluncur tanpa rem. Dan langsung menghancurkan sesuatu.

Nayla terdiam. Dadanya terasa seperti ditusuk pelan tapi dalam.

“Oh,” katanya lirih. “Akhirnya keluar juga.”

Azka menyadari kesalahannya saat itu juga. Tapi egonya lebih cepat dari penyesalan.

“Ini fakta,” lanjutnya dingin. “Aku hidup terencana. Masa depan aku udah disiapin. Dan kamu… bukan bagian dari rencana itu.”

Nayla mengangguk pelan. Matanya berkilat, tapi ia tidak menangis.

“Kalau begitu,” katanya pelan tapi tegas, “berhenti bertingkah seolah aku milikmu.”

Azka mendengus. “Lo istri gue.”

“Istri rahasia,” balas Nayla. “Yang bahkan kamu nggak banggakan.”

Keheningan jatuh. Berat.

“Aku nggak minta kamu jatuh cinta,” lanjut Nayla. “Aku cuma minta dihargai sebagai manusia.”

Azka melangkah mendekat lagi. Jarak mereka tinggal satu langkah.

“Dan aku bilang kamu jangan dekat sama cowok lain,” ucap Azka keras. “Aku nggak mau reputasi aku kena.”

Nayla mendongak, menatap mata Azka lurus-lurus. “Akhirnya jujur.”

“Aku nggak mau namaku jadi bahan gosip,” lanjut Azka.

“Bukan aku yang bikin itu,” balas Nayla. “Itu kamu. Dengan caramu memperlakukanku.”

Azka menahan napas. “Kamu mau apa sih sebenarnya?”

“Aku mau kamu berhenti menyakitiku,” jawab Nayla. “Kalau kamu nggak bisa peduli, setidaknya jangan kejam.”

Azka tertawa pendek. “Kamu minta terlalu banyak.”

Dan di situlah sesuatu di dalam Nayla benar-benar patah.

“Tidak,” katanya pelan. “Aku cuma minta hal yang paling dasar.”

Ia melangkah mundur satu langkah.

“Mulai sekarang,” lanjut Nayla, “aku nggak akan diam lagi.”

Azka mengernyit. “Apa maksudmu?”

“Aku nggak akan nurut kalau kamu salah,” jawab Nayla. “Aku nggak akan pura-pura kuat kalau kamu nyakitin. Dan aku nggak akan menjauh dari dunia cuma karena kamu nggak bisa ngontrol diri.”

Azka terdiam. “Kamu nantang aku?”

Nayla menggeleng. “Aku membela diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat Azka kehilangan kata.

“Kamu bisa terus jadi Azka Mahendra yang dingin dan kejam,” lanjut Nayla. “Atau kamu bisa belajar jadi suami yang layak. Pilihannya di kamu.”

Azka tertawa pahit. “Kamu pikir gampang?”

“Tidak,” jawab Nayla jujur. “Tapi aku juga nggak bilang aku bakal pergi.”

Azka menatapnya tajam. “Kenapa?”

Nayla menelan ludah. “Karena aku sudah terlanjur ada di sini. Dan aku nggak mau hidupku habis cuma buat diinjak.”

Mata Azka menyipit. “Kamu berubah.”

“Aku lelah,” jawab Nayla. “Itu bedanya.”

Mereka saling menatap lama. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah.

Hanya dua orang yang sama-sama keras kepala, berdiri di antara kemarahan dan rasa yang belum mereka pahami.

Akhirnya Azka membalikkan badan. “Aku ke kamar.”

Nayla tidak menghentikannya.

“Tapi satu hal,” kata Nayla sebelum Azka naik tangga.

Azka berhenti.

“Aku bukan milikmu,” ucap Nayla. “Aku memilih bertahan. Dan itu bisa aku hentikan kapan saja.”

Azka tidak menoleh. Ia melanjutkan langkahnya, rahangnya mengeras.

Di kamarnya, Azka menutup pintu dengan keras. Ia berdiri di sana lama, menatap kosong. Pertengkaran itu tidak ia menangkan. Justru sebaliknya, Nayla melawan.

Pintu kamar Azka tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menekan.

***

Nayla berdiri sendirian di ruang tengah, dadanya masih naik turun. Tangannya bergetar, bukan karena takut, tapi karena terlalu lama menahan semuanya.

Ia tidak menangis. Bukan karena tidak sakit, tapi karena air matanya seakan sudah habis sejak lama.

Nayla berjalan pelan menuju dapur. Ia menuang air ke dalam gelas, meminumnya setengah, lalu berhenti. Tangannya gemetar lebih hebat saat gelas itu ia letakkan kembali.

Ini pertengkaran besar pertama, pikirnya. Dan rasanya… lebih menyakitkan dari semua hinaannya digabung jadi satu.

***

Di lantai atas, Azka menjatuhkan tubuhnya ke kasur tanpa membuka jas. Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut.

Ia mengusap wajah kasar-kasar. Bayangan Nayla yang berdiri tegak, menatapnya tanpa takut, terus terulang di kepalanya. Tidak menangis. Tidak memohon.

Melawan. Itu bukan Nayla yang ia kenal. Dan justru itu yang membuatnya gelisah.

"Kalau dia pergi…"

Pikiran itu muncul begitu saja, membuat Azka langsung duduk.

Ia menggeleng cepat. "Nggak. Dia nggak akan pergi."

Tapi suara Nayla terngiang lagi.

“Aku memilih bertahan. Dan itu bisa aku hentikan kapan saja.”

Azka mengepalkan tangan.

Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa kendali yang selama ini ia pegang… tidak sekuat yang ia kira.

Di bawah, Nayla naik ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sekeliling kamar yang terasa asing. Rumah ini besar, mewah, dan dingin. Sama seperti orang yang tinggal bersamanya.

Nayla berbaring, memunggungi pintu. Ia menarik selimut sampai dagu, menutup mata.

“Kalau aku terus diam,” bisiknya pada diri sendiri, “aku akan hilang.”

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!