SPIN OFF "SUGAR AUNTY"
Layu sebelum berkembang, mungkin itu istilah yang pas untuk menggambarkan keadaan Amanda.
Belum sempat perasaannya tumbuh berbunga-bunga, ia malah melihat surat undangan pernikahan, di mana ada nama Saga, lelaki yang dicintainya, di sana.
Habis sudah perasaannya harus ia cabut paksa sampai ke akar saat dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan pesta pernikahan pria pujaannya.
Dan tepat pada hari itu juga, dia merasakan sebuah kesialan karena harus bertemu dengan pria menyebalkan. Seorang pria yang ternyata akan menjadi Boss di tempat magangnya.
Bagaimana kisah mereka akan berlanjut, apakah Amanda mampu bertahan dengan Bossnya yang super galak dan melupakan cintanya terhadap Saga si asisten tampan? Cus kepoin ceritanya di FIERCE BOSS OR HANDSOME ASSISTEN 🤗
Follow Ig @nitamelia05
Salam Anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kamu Tidak Bisa Mengelak
Amanda pikir dengan menuruti perintah Dominic suasana akan menjadi lebih kondusif. Akan tetapi perkiraannya salah, karena wanita yang ada di hadapannya terus mengomel dan Dominic tidak memiliki tanggapan sedikit pun, hingga dia sendiri yang merasa jengah.
"Dom, kamu dengar aku tidak sih? Ini Tante Sarah lho yang minta," ujar Sesil untuk yang kesekian kali. Namun, Dominic hanya menanggapinya hanya dengan sebuah deheman, membuat Sesil bertambah kesal. Menaklukkan Dominic memang tidak mudah, tetapi rasa penasaran membuat wanita itu tidak ingin menyerah.
"Eum, sepertinya aku harus keluar, Tuan, jadi lebih baik kalian makan berdua saja," tukas Amanda, rasanya benar-benar tak nyaman berada di antara keduanya yang sedang berselisih paham.
Amanda meletakkan makanannya ke atas meja lalu segera bangkit dari sofa. Sementara Dominic mendesaahkan nafas kasar, tetapi alih-alih membiarkan Amanda keluar dari ruangannya, dia malah mengusir Sesil.
"Aku sudah selesai, jadi sekarang pergilah!"
Sesil langsung mengangkat wajah karena tahu Dominic sedang berbicara dengannya. Sedangkan Amanda urung untuk melangkah. Seperti kerbau kekenyangan dia malah memperhatikan Sesil yang sudah siap meluapkan amarahnya.
"Kamu ini keterlaluan sekali, Dom. Aku datang baik-baik tapi kamu malah memperlakukanku seperti ini! Aku jadi sedih," cetus Sesil, dia berharap setelah mengatakan kalimat itu Dominic bisa iba padanya.
Akan tetapi harapan wanita itu harus pupus, karena Dominic tak tergerak sedikit pun. Dia hanya mengangkat pandangan, lalu kembali mengusir Sesil. "Aku sudah mengatakannya dari awal. Kamu yang keras kepala, jadi apakah itu semua salahku? Pergilah, tugasku di sini bukan hanya untuk meladenimu!"
Sesil langsung mengepalkan tangannya di bawah sana, rasa kesal bercampur malu karena Amanda melihat dirinya yang diperlakukan seperti itu oleh Dominic.
Saat ini Sesil memilih untuk mengalah. Dia meraih tas dengan gerakan kasar, lalu tanpa pamit dia keluar dari ruangan Dominic.
Sementara Amanda menyaksikan perdebatan itu dalam diam. Dia benar-benar tak habis pikir dengan cara kerja otak Dominic, kenapa di saat ada seseorang yang mencoba perhatian pada pria itu, Dominic malah menolak dan bersikap ketus.
Haish, harusnya kamu tidak perlu bertanya Amanda, hobinya kan memang marah-marah. Amanda membatin seraya melirik ke arah Dominic.
Dia dibuat gelagapan karena tepat pada saat itu Dominic pun menatap ke arahnya. Namun, sesegera mungkin Amanda menguasai diri dengan berkata.
"Tolong, lain kali jangan libatkan aku dalam pertengkaran kalian. Aku tidak mau dicap sebagai pengganggu!"
Akan tetapi bukannya mengiyakan Dominic malah menghadang Amanda yang saat itu sudah ingin keluar. "Kenapa? Jangan bilang kamu cemburu dengan wanita itu!"
Mata Amanda langsung melotot lebar. Dia begitu terperangah dengan ucapan Dominic yang terlalu percaya diri.
Astaga, astaga, ada ya pria seperti ini?
"Tidak ada yang cemburu, lagi pula kenapa aku harus memiliki rasa itu? Hih!" cetus Amanda sambil mengerutkan ujung bibirnya ke atas, tanda sinis.
Dominic menyeringai tipis dengan kedua tangan yang melipat di depan dada. "Buktinya kamu marah dan memilih untuk pergi, apa namanya kalau bukan cemburu?"
Amanda tergagap, pertanyaan Dominic benar-benar di luar prediksi BMKG. Dan lihat, sekarang pria itu malah semakin melebarkan senyumnya. Benar-benar sudah gila.
"Kamu tidak bisa mengelak 'kan sekarang?"
"Jangan kepedean! Aku tidak cemburu sama sekali, terserah Tuan mau makan dengan siapa, atau melakukan apapun! Aku tidak peduli!" ketus Amanda, meladeni Dominic lama-lama yang ada dia bisa naik darah.
Tanpa menunggu jawaban pria itu Amanda langsung memilih keluar. Namun, belum sempat tangannya meraih gagang pintu, Dominic kembali memanggilnya.
"Heh, Maman!"
Amanda melirik ke belakang. "Apalagi sih? Sebentar lagi jam istirahatku habis. Jadi jangan menggangguku."
"Kamu melupakan sesuatu. Mejaku berantakan, kamu tidak berniat untuk meninggalkannya begitu saja 'kan?"
Mulut Amanda langsung menganga, dengan salah tingkah dia membalik tubuh dan berjalan ke arah meja. Sementara Dominic terus memperhatikan gadis itu dengan senyum miring.
***
Minta digorokkk ya, Man🤣🤣