Tiba-tiba menjadi gadis penebus hutang, Aina harus merelakan dirinya dinikahi oleh pria paruh baya, sosok yang lebih pantas menjadi ayahnya.
Namun, siapa sangka, ternyata pria tersebut adalah orang yang terhubung dengan masa lalunya.
Lalu bagaimana Aina keluar dari bayang-bayang itu, sementara masa lalu terus mengejarnya. Bahkan mengikatkan tali tak kasat mata di kakinya.
Salam anu👑
Ig @nitamelia05
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Surat Perjanjian
Setelah gagal untuk menggagahi Aina. Erzan pergi dari rumah. Tetapi saat pagi tiba dia juga tidak pergi ke perusahaan. Satu hari ini Erzan telah menghabiskan waktu di dalam hotel untuk melamun.
Dia masih tak mengerti kenapa dia tak bisa menahan emosinya kepada Aina. Terlebih ketika dia mengingat tentang Margin.
Sedari tadi otak Erzan terus dipenuhi oleh kalimat Aina semalam. Tentang sebuah hak dan kewajiban. Ya, dengan seenaknya dia ingin mengambil hak, sementara kewajibannya sebagai seorang suami tidak terpenuhi.
Aina menolaknya karena sudah tentu memiliki alasan, tetapi dia?
Erzan bahkan tak bisa memberikan jawaban mengapa ia memperlakukan istrinya seperti binatang. Selama ini, Aina selalu patuh dengan semua perintahnya. Gadis itu hanya membantah ketika dia memang sudah sangat keterlaluan.
"Astaga, kenapa hatiku jadi resah seperti ini?! Tidak seharusnya aku memedulikan dia, dia hanya gadis biasa!" gumam Erzan seraya menyugar rambutnya frustasi.
Entah sudah sebanyak apa dia menghabiskan benda bernikotin yang kini terselip di antara kedua jarinya. Karena seluruh sisanya masih berserakan di meja.
Sementara di sisi lain, Aina baru saja keluar rumah untuk membeli pil kontrasepsi di sebuah apotek. Karena semalam Gavin melakukannya tanpa pengaman. Dia takut kalau sampai hamil, tetapi posisinya masih terikat dengan Erzan.
Begitu kembali ke rumah, Aina segera pergi ke kamar. Namun, di ruang tamu dia malah bertemu dengan Naumi.
"Nona sudah membeli obatnya?" tanya Naumi, karena tadi Aina memang meminta izin padanya untuk membeli obat.
Aina yang sedang berbohong tentu terlihat cukup gugup. Akan tetapi dia segera menyembunyikan itu semua dengan mengulum senyum.
"Sudah, Bi. Aku mau minum dulu ya," jawab Aina sekaligus pamit. Sebisa mungkin dia ingin menghindari orang-orang rumah.
Naumi hanya memberi jawaban dengan sebuah anggukan kepala. Lantas setelah itu Aina langsung melanjutkan langkah dan masuk ke dalam kamarnya.
*
*
*
Sore harinya Gavin pulang lebih awal. Namun, sampai saat ini dia tidak melihat mobil Erzan. Itu artinya sang ayah belum pulang, padahal dia ingin memperingati pria paruh baya itu agar tidak menyiksa Aina terlalu berlebihan, sebelum akhirnya dia merebut gadis itu dari tangan ayahnya sendiri.
"Bi, Daddy belum pulang?" tanya Gavin pada Naumi yang mulai sibuk di dapur.
"Belum, Den. Tuan Erzan bilang ingin tidur di hotel selama beberapa hari ke depan," jawab Naumi apa adanya. Karena Erzan sudah memberi kabar pada wanita itu, takut Gavin menanyakan keberadaannya.
Gavin tampak manggut-manggut, dia merasa ini kesempatan bagus untuk menggeledah kamar Erzan. Ya, sampai saat ini dia masih belum menemukan di mana surat perjanjian itu.
"Kalau begitu aku naik dulu ya, Bi. Kalau ada kabar tentang Daddy lagi segera beritahu aku," pamit Gavin.
"Baik, Den."
Gavin melangkah dengan semangat. Karena dia tidak ingin berlama-lama lagi untuk melepaskan Aina dari jeratan ayahnya. Dia ingin semuanya segera selesai. Hingga dia bisa hidup bahagia dengan sang kekasih, Aina.
Tiba di lantai dua, Gavin sontak melihat situasi terlebih dahulu. Saat dia merasa aman, dia langsung masuk ke dalam kamar Erzan. Tempat yang sudah lama tidak dia masuki.
Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah sedikit pun karena barang-barang Margin masih tersimpan rapih di sana. Dan dari sana Gavin mulai paham kenapa Erzan bersikap kasar pada Aina.
"Cih, ternyata Daddy hanya menggunakan Aina sebagai pelampiasan karena sakit hatinya kepada Mommy. Aina tidak salah, Dad!" ucap Gavin dengan perasaan kesal, tidak terima kekasihnya dipermainkan.
Tak ingin berlama-lama Gavin segera menggeledah ruangan itu. Dia membuka semua lemari pakaian, laci dan juga mengacak-acak meja kerja Erzan.
Namun, lagi-lagi dia tidak berhasil menemukan apa yang dia cari. Erzan benar-benar pandai sekali dalam menyembunyikannya.
"Shh, ahh! Sebenarnya di mana Daddy menaruh surat perjanjian itu!?" Gavin meninju udara untuk menguapkan rasa kesalnya.
Namun, tiba-tiba kedua mata Gavin menangkap satu lemari yang berisi brankas. Seketika otak Gavin langsung dipenuhi kecurigaan.
Dia tersenyum smirk.
Lalu dengan cepat melangkah ke arah brankas tersebut. Gavin berpikir apa kode yang Erzan pakai, lalu mencobanya.
Akan tetapi kode yang dia tekan ternyata salah. Dia mencobanya lagi, hingga yang ketiga kali brankas itu akhirnya terbuka. Dan ternyata kodenya adalah tanggal pernikahan Margin dan Erzan.
Tanpa ba bi bu Gavin mengecek semua berkas-berkas yang tersimpan rapih di sana. Dia tersenyum saat berhasil menemukan apa yang dia cari. "Akhirnya, setelah ini Aina benar-benar akan lepas darimu, Dad."
Gavin hendak berdiri untuk segera pergi dari sana. Namun, fokusnya teralihkan pada kertas yang lain. Yaitu tentang surat hak adopsi anak.
Deg!
Gavin langsung tersentak dibuatnya. Dia menarik secarik kertas yang keluar dari map, lalu membacanya dengan seksama. Tentang dia yang bukan anak kandung Erzan dan Margin.
Seketika jantung Gavin seperti diremaas-remass. Dia tersenyum, tapi terlihat sangat miris.
"Oh jadi ini alasan yang membuat Danesh begitu membenciku?" gumam pemuda itu dengan mata yang memanas. Tak menyangka kalau ternyata dia bukan anak dari ayah dan ibunya.
Namun, dibalik itu semua ada perasaan yang lebih menggebu. Yaitu membawa Aina keluar dari rumah utama.
***
Jangan lupa kasih komen-komen dukungan kalian guys supaya aku cemumun😚😚
itu akibat tabur tuai Margin, udh mantan suami di srlingkuhin, boroknya du tinggalin di urus mantan msh aja otak jahat suruh anaknya bunuh PP sambung nya. sadis ngk tuh, kena situ padal berlapis habis itu tinggal Terima karma mu😡