Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.
Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?
Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sepluangnya dari kantor, Bian rutin menjenguk ayahnya di rumah sakit. Pada kunjungannya kemarin sore, Bian akhirnya berjanji akan datang ke kantor ayahnya, namun ia tak berjanji mau ikut mengurus perusahaan itu, ia hanya sekedar datang untuk melihat situasi di sana.
"Ayah sudah memiliki orang kepercayaan baru yang akan mengurus perusahaan, meski dia orang baru namun kelihatannya dia orang jujur dan pandai. Kamu hanya tinggal memantaunya saja, " ucap pak Wijaya pada sore kemarin.
Bian penasaran dengan orang kepercayaan yang ayahnya tunjuk, apakah kali ini ayahnya benar-benar memilih orang yang tepat atau justru orang itu akan mengambil kesempatan di kondisi ayah yang sedang sakit.
Selesai meeting dengan clientnya, Bian bergegas mendatangi kantor ayahnya. Iren sempat terkejut dengan kedatanganya, sebab Bian memang tak memberi tahu siapa pun jika dirinya akan berkunjung ke perusahaan ayahnya. "Apa ada yang bisa saya bantu, mas Bian?" tanya Iren.
"Aku mau bertemu dengan direktur baru di perusahaan ini, apa bisa kau menyuruhnya datang ke ruangan ini?" Bian berjalan menelusuri setiap sudut ruang kerja ayahnya. Tak ada yang berbeda dari 10 tahun yang lalu saat terakhir kalinya ia datang, ayahnya masih memajang foto pernikahannya dengan ibunya.
"Baik, mas Bian. Akan saya panggilkan," Iren keluar dari ruang kerja pak Wijaya, sementara Bian masih terus memandangi foto ibunya. Ibunya memang sangat cantik, kulitnya begitu putih dan bersih, mata birunya yang begitu jernih menunjukan bahwa dia bukan asli keturunan warga negara Indonesia.
Ya kedua orangtua ibunya berasal dari Erpoa, ibunya sempat mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Indonesia dan bertemu dengan cinta pertamanya hingga memutuskan pindah kewarganegaraan dan menikah di usia yang masih sangat muda.
Muda dan cantik, itulah yang membuat ayahnya begitu obsesi terhadap ibunya. Bian menelusuri wajah ibundanya dengan jemarinya. "Apa kau benar-benar telah melupakan anakmu ini, mah?" gumam Bian, rasa rindu yang teramat dalam terpaksa ia pendam, sebab sejak perceraian orang tuanya, ibundanya memutus semua komunikasi dengannya.
Bian menurunkan tangannya dari foto ibundanya, kemudian berbalik saat seorang pria yang merupakan orang kepercayaan ayahnya, menyapanya. "Selamat pagi, pak Bian."
Bian sangat terkejut dengan suara yang tak asing baginya. "Fahri..? Loe kerja di sini?" tanya Bian dengan wajah terkejutnya.
Fahri mengangguk. "Ya, saya bekerja di sini. Hampir dua bulan."
"Kenapa saat kemarin di markas loe sama sekali enggak cerita kalau loe kerja di perusahaan bokap gue?"
Fahri tersenyum sekilas. "Yang pertama pak Bian tidak bertanya di mana saya bekerja, yang kedua saya pun baru tahu hari ini saat Iren meminta saya datang kemari karena anak dari pemilik perusahaan ingin bertemu dengan saya."
Bian menepuk bahu Fahri, dan mengajaknya duduk di sofa. "Bicara seperti biasa saja," ucapnya, rasanya agak ganjil bagi Bian berbicara dengan bahasa resmi dengan teman tongkrongannya sendiri.
"Jadi, apa loe punya bukti yang kuat kalau orang-orang lama di perusahaan ini seperti lintah?" tanya Bian tanpa basa-basi ketika mereka sudah nyaman duduk si sofa.
"Sebagian sudah, tapi ada beberapa yang bermain cantik, mereka bermain seperi penjilat yang terlihat polos di depan."
"Kumpulkan semua buktinya, nanti aku akan pecat mereka semua!!"
Hampir dua jam lamanya mereka membahas tentang kekacauan yang terjadi di perusahaan ayahnya. Fahri banyak mengungkapkan gagasan briliannya dan Bian menyetujuinya, ia hanya menambahkan beberapa masukan saja, ia begitu percaya dengan Fahri bisa mengatasi permasalahan pada perusahaan ayahnya.
"Bukankah kemarin gue udah menggunakan uang kas genk kita, kenapa loe masih percaya sama gue?" tanya Fahri.
"Karena gue tahu siapa loe," Bian beranjak dari tempat duduknya. "Gue masih ada meeting dengan staff kantor gue, besok lusa gue akan datang kemari lagi." ia mengulurkan tangannya, menjabat tangan Fahri sebelum ia keluar dari ruang kerja ayahnya.
...****************...
Lusa Bian kembali datang ke perusahaan ayahnya, kali ini ia datang pagi-pagi sekali sebelum ia datang ke kantornya. Ia memanggil satu persatu karyawan yang di anggap lalai mengemban tanggung jawabnya, atas dasar bukti-bukti yang Fahri temukan, Bian langsung memecat mereka tanpa memberikan pesangon, sebab uang yang sudah mereka keruk dari perusahaan ayahnya sudah melebihi pesangon yang seharusnya mereka terima, sehingga Bian hanya memberikan gaji terakhir mereka di bulan ini.
Karyawan terakhir yang Bian panggil, yang sangat menghebohkan perusahaan adalah Iren, sekretaris ayahnya yang sudah bekerja cukup lama dengan ayahnya. Ironinya, wanita itu justru otak di balik semua kekacauan yang terjadi di perusahaan ayahnya. "Orang yang bisanya memeluk lebih erat itu, dia memiliki tujuan agar pisaunya bisa menancap lebih dalam," ucap Bian, ia mempersilahkan Iren angkat kaki dari perusahaan ayahnya.
Tanpa basa-basi dan menunggu waktu lama, hari itu juga Bian dan Fahri, langsung menyeleksi karyawan baru untuk menggantikan posisi mereka. Mereka berdua mencari anak-anak muda yang jujur dan serius bekerja, Bian tak begitu mempersoalkan kemampuan karena kemapuan bisa di asah sementara kejujuran itu merupakan pondasi utamanya.
Seharian penuh Bian berada di perusahaan ayahnya, ia hampir mengabaikan panggilan masuk dari Widya, yang mintanya untuk segera datang ke kantor sebab meeting interen perusahaannya akan segera di mulai.
"Aku harus balik ke kantorku," ucap Bian pada Fahri. "Semoga dengan formasi yang baru, perusahaan ini bisa semakin berkembang. Gue tunggu progres terbarunya."
Fahri mengangguk."Gue akan laporkan semuanya ke loe."
Bian beranjak dari ruang kerja ayahnya, namun begitu sampai di pintu, ia kembali menoleh ke arah Fahri. "Apa gue boleh menanyakan kabar Nissa?" tanya Bian ragu-ragu. "Maksud gue, apa hubungan kalian baik-baik saja? gue enggak mau, hanya karena gue hubungan persaudaraan kalian jadi terpecah, Nissa begitu menyayangi loe."
Sepintas, Bian menagkap pancaran kegelisahan dan kesedihan dalam mata Fahri. "Nissa sedang sakit, sudah satu minggu ini ia di rawat di rumah sakit. Akhir pekan ini gue balik ke Jogja, apa loe mau menjenguknya?"
Ternyata firasat Bian benar, akhir-akhir ini ia sangat tidak tenang memikirkan Annisa, untuk itulah ia memberanikan diri untuk bertanya mengenai gadis itu. "Tentu, gue pasti akan akan menjenguknya," ia kemudian berbalik dan pergi dari kantor ayahnya.
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
haduh.
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...